KABAR menggembirakan datang dari turnamen bulu tangkis India Terbuka di Hyderabad yang berakhir Minggu (29/3) lalu. Setelah “paceklik” di tiga turnamen, akhirnya pemain Indonesia bisa membawa pulang gelar juara. Bahkan, mereka mampu menguasai dua nomor sekaligus di final, yakni tunggal putra dan ganda campuran.
Namun, tentu saja, yang paling menarik adalah keberhasilan Taufik “Golden Boy” Hidayat menjuarai nomor tunggal putra dengan mengalahkan Muhammad Hafiz Hashim 21-18, 21-19. Tak hanya memberi gelar pertama bagi Indonesia pada tahun 2009, putra Pangalengan, Bandung, itu juga menemukan kembali sentuhan juaranya.
Betapa tidak, selama dua tahun terakhir, nama Taufik seolah akrab dengan kekalahan dan penampilan mengecewakan di berbagai turnamen yang diikutinya. Uniknya, setiap kali harus menjalani rubber game, ia sering sekali kalah. Sebuah gambaran nyata betapa buruknya stamina dan kondisi Taufik sebagai pemain elite dunia.
Seingat saya, terakhir kali Taufik naik podium sebagai kampiun pada turnamen di Makao yang berkategori Grand Prix Gold, awal Oktober 2008 lalu. Sebelum itu, ia mencicipi gelar juaranya di Kejuaraan Asia di Johor Baru, Malaysia, April 2007.
Praktis, sejak era Super Series dimulai, Taufik belum sekalipun merasakan nikmatnya gelar juara. Prestasi tertingginya hanya mencapai final Prancis Super Series 2008 dan Jepang Super Series 2007. Plus jadi semifinalis All England Super Series 2009, Hongkong Super Series 2008, dan Indonesia Super Series 2007.
Makanya, secara pribadi, saya sama sekali tidak terkejut ketika Taufik akhirnya keluar dari Pelatnas Cipayung pada akhir Januari lalu. Meski berat dan menyedihkan, menurut saya, itulah jalan keluar terbaik bagi semuanya –terutama Taufik sendiri.
Sejak dulu, saya selalu beranggapan bahwa Taufik adalah pebulu tangkis tunggal putra terbaik yang kita miliki dalam satu dekade terakhir. Bahkan, dari segi bakat dan kualitas teknis, ia mungkin yang terbaik bersama Rudy Hartono dan Liem Swie King.
Di tengah keterpurukan yang dialami Taufik tiga tahun terakhir usai Kejuaraan Dunia 2005, pendapat saya tak pernah berubah. Saya tetap melihatnya sebagai pemain terbaik kita. Kualitas Taufik jauh di atas Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, dan semua pemain lain yang segenerasi.
Hanya saja, terbaik bukan berarti selalu nomor satu. Bakat dan kehebatan Taufik tak serta-merta membuatnya jadi pemain nomor satu dunia. Dalam peringkat BWF sekarang ini pun Taufik hanya di posisi ketujuh –masih di bawah Sony, keenam.
Itulah pangkal soalnya. Taufik seperti kurang melihat –bahkan terkesan tak peduli— peringkat BWF itu sebagai tantangan. Ia hanya terobsesi terhadap turnamen-turnamen tertentu yang memang ingin dia menangkan, semacam Olimpiade, Kejuaraan Dunia, atau All England.
Akibatnya, Taufik tak pernah benar-benar bisa menyaingi Lee Chong Wei dan Lin Dan yang bergantian merajai peringkat BWF. Pamor Indonesia sebagai jawara tunggal putra dunia pun memudar. Wajar jika kemudian PB PBSI tak lagi ngotot mempertahankan Taufik –meski baru berusia 27 tahun— di Cipayung.
Namun, saya optimistis, berada di luar Cipayung justru akan membangkitkan kembali keperkasaan Taufik. Sebab ia mendapatkan tantangan baru yang dibutuhkannya untuk kembali ke jalur juara. Tantangan untuk berkarier secara mandiri, bersikap lebih profesional, dan memperhitungkan segala sesuatunya lebih matang.
Bagi Taufik, kini tak ada lagi istilah berangkat ke sebuah turnamen hanya memenuhi tugas, apalagi sekadar jalan-jalan. Semuanya harus terukur sebab semua biaya kini dia tanggung sendiri. Konon, Taufik butuh Rp 1,3 miliar/tahun untuk biaya latihan dan mengikuti 12 turnamen sepanjang 2009.
Taufik, saya yakin betul, akan bisa menghadapi tantangan itu. Dengan segala pesona dan nilai jualnya, tak sulit menutup angka Rp 1,3 miliar. Apalagi ia juga akan segera memetik hasilnya lewat gelar-gelar juara, seperti sudah dibuktikannya di India Terbuka.
Kadang-kadang, seorang “anak nakal” memang harus cepat “disapih” agar lebih mandiri. Saya yakin, dengan kemandirian yang kini dijalaninya, kita juga akan melihat kembali Taufik dengan sederet kemenangannya. ***
Senin, Maret 30, 2009
Senin, Februari 09, 2009
Komisi yang Disiplin Sendiri
DI TENGAH hiruk-pikuk pemberitaan mengenai PSSI pascakeluarnya Nurdin Halid dari Rutan Salemba, saya merasa kehilangan “seseorang”. Ada salah satu tokoh sepak bola nasional yang kerap muncul sebagai sumber berita penting namun belakangan seperti “hilang” dari peredaran. Dialah Hinca Panjaitan, Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.
Boleh jadi, nama Hinca sekadar surut sejenak seiring periode jeda kompetisi Divisi Utama maupun ISL. Maklum, fungsi Komdis memang lebih banyak sebagai “pemadam kebakaran” untuk menjaga agar kompetisi tetap berjalan di atas relnya.
Tapi, yang menarik, suara Hinca juga hanya “lamat-lamat” terdengar saat isu-isu sensitif seputar kedisiplinan muncul ke permukaan. Khususnya, ketika Nurdin bagi-bagi bonus pengampunan –berupa Peninjauan Kembali (PK)— untuk sejumlah pihak yang divonis hukuman berat oleh Komdis. Dari Yoyok Sukawi, Kurnia Meiga, sampai para pemain PSIR Rembang yang secara brutal menganiaya wasit Muzair Usman di Stadion Gelora Ambang, 12 November lalu.
Tak jelas apakah pengampunan itu sepengetahuan atau direkomendasikan oleh Hinca dan Komdisnya. Yang jelas, dengan “bahasa kekuasaan” yang sebenarnya usang dan tak cocok untuk organisasi olahraga seperti PSSI, Nurdin selalu berkilah bahwa pengampunan merupakan hak prerogatif Ketua Umum.
Saya sendiri tak yakin Hinca berperan dalam pengampunan itu. Sebab, sejak memangku jabatannya pada awal Juli 2007, ia sudah menegaskan tekadnya untuk mengubah stigma negatif yang melekat pada Komdis. Ia juga bertekad menjadikan Komdis tak hanya sebagai pemadam kebakaran yang baru bereaksi setelah ada kejadian.
Makanya, Hinca dan Komdisnya kemudian berpayah-payah menyusun Kode Disiplin PSSI sebagai acuan bagi para pelaku kompetisi. Ada tiga aspek paling menonjol dalam Kode Disiplin yang memuat lebih dari 150 pasal itu, yakni perang terhadap rasisme, kerusuhan, dan obat-obatan terlarang.
Meski belum optimal, sebagian usaha Hinca sudah terasa hasilnya. Sepanjang putaran pertama kompetisi Divisi Utama dan ISL 2008/2009, Komdis telah menunjukkan ketegasannya dalam sejumlah kasus yang krusial.
Puluhan vonis berupa denda uang dan atau larangan bertanding sudah mereka keluarkan dan cukup menimbulkan efek jera di kalangan pelaku sepak bola nasional. Lihat saja para pemain asing berkulit hitam yang biasanya suka menghardik wasit secara kasar, kini mereka jadi lebih sopan dan mau mengontrol emosinya.
Pemain lokal yang biasanya “main kaki” sambil mengeroyok saat memprotes wasit, sebagian besar kini juga mau mengikuti prosedur dengan mewakilkan protesnya lewat kapten kesebelasan. Begitu pula pelatih dan ofisial tim, kini mereka tak lagi seenaknya mengambing-hitamkan pihak lain atas kekalahan timnya.
Sayang sekali, kerja keras Komdis itu kini seolah menjadi antiklimaks saat Ketua Umum PSSI kembali berkantor setelah menjalani dua pertiga dari dua tahun masa tahanannya. Alih-alih memperkuat eksistensi dan kewenangan Komdis, ia justru seperti melemahkannya dengan kebijakan pengampunan –atau apapun namanya— yang kontraproduktif.
Saya bisa membayangkan kegalauan hati Hinca dan jajarannya di Komdis saat ini. Kerja keras mereka menegakkan disiplin dalam kompetisi kita kini seperti nyanyian di tengah gurun. Sepi sendiri.
Maka, tak usah terlalu terkejut jika aksi kerusuhan kembali terjadi dalam pertandingan ISL putaran kedua antara Persiwa Wamena lawan Persipura Jayapura, Minggu (1/2) lalu. Tak usah heran juga jika nantinya aksi kekerasan serupa terjadi pada pertandingan lain. Siapa takut –toh, nanti bisa minta pengampunan kepada Ketua Umum?
Syukurlah, Komdis tidak patah arang dalam kekalutan ini. Mereka sudah langsung bereaksi menangani kerusuhan di Wamena itu. Hinca juga tak peduli jika mereka yang divonis bersalah dalam insiden itu nantinya kembali diampuni. “Tugas komdis hanya menghukum atau tidak menghukum. Kami akan menegakkan aturan. Soal nanti ada pengampunan atau tidak, itu bukan urusan kami,” katanya.
Jawaban itu, bagi saya, sangat lugas dan jernih. Semoga saja, Ketua Umum PSSI juga bisa menangkap maknanya yang tersirat dengan hati dan pikiran yang jernih. Jangan biarkan Komdis terpeleset jadi “komisi yang disiplin sendiri”. ***
(Tulisan ini pernah dimuat TopSkor edisi 9 Februari 2009)
Boleh jadi, nama Hinca sekadar surut sejenak seiring periode jeda kompetisi Divisi Utama maupun ISL. Maklum, fungsi Komdis memang lebih banyak sebagai “pemadam kebakaran” untuk menjaga agar kompetisi tetap berjalan di atas relnya.
Tapi, yang menarik, suara Hinca juga hanya “lamat-lamat” terdengar saat isu-isu sensitif seputar kedisiplinan muncul ke permukaan. Khususnya, ketika Nurdin bagi-bagi bonus pengampunan –berupa Peninjauan Kembali (PK)— untuk sejumlah pihak yang divonis hukuman berat oleh Komdis. Dari Yoyok Sukawi, Kurnia Meiga, sampai para pemain PSIR Rembang yang secara brutal menganiaya wasit Muzair Usman di Stadion Gelora Ambang, 12 November lalu.
Tak jelas apakah pengampunan itu sepengetahuan atau direkomendasikan oleh Hinca dan Komdisnya. Yang jelas, dengan “bahasa kekuasaan” yang sebenarnya usang dan tak cocok untuk organisasi olahraga seperti PSSI, Nurdin selalu berkilah bahwa pengampunan merupakan hak prerogatif Ketua Umum.
Saya sendiri tak yakin Hinca berperan dalam pengampunan itu. Sebab, sejak memangku jabatannya pada awal Juli 2007, ia sudah menegaskan tekadnya untuk mengubah stigma negatif yang melekat pada Komdis. Ia juga bertekad menjadikan Komdis tak hanya sebagai pemadam kebakaran yang baru bereaksi setelah ada kejadian.
Makanya, Hinca dan Komdisnya kemudian berpayah-payah menyusun Kode Disiplin PSSI sebagai acuan bagi para pelaku kompetisi. Ada tiga aspek paling menonjol dalam Kode Disiplin yang memuat lebih dari 150 pasal itu, yakni perang terhadap rasisme, kerusuhan, dan obat-obatan terlarang.
Meski belum optimal, sebagian usaha Hinca sudah terasa hasilnya. Sepanjang putaran pertama kompetisi Divisi Utama dan ISL 2008/2009, Komdis telah menunjukkan ketegasannya dalam sejumlah kasus yang krusial.
Puluhan vonis berupa denda uang dan atau larangan bertanding sudah mereka keluarkan dan cukup menimbulkan efek jera di kalangan pelaku sepak bola nasional. Lihat saja para pemain asing berkulit hitam yang biasanya suka menghardik wasit secara kasar, kini mereka jadi lebih sopan dan mau mengontrol emosinya.
Pemain lokal yang biasanya “main kaki” sambil mengeroyok saat memprotes wasit, sebagian besar kini juga mau mengikuti prosedur dengan mewakilkan protesnya lewat kapten kesebelasan. Begitu pula pelatih dan ofisial tim, kini mereka tak lagi seenaknya mengambing-hitamkan pihak lain atas kekalahan timnya.
Sayang sekali, kerja keras Komdis itu kini seolah menjadi antiklimaks saat Ketua Umum PSSI kembali berkantor setelah menjalani dua pertiga dari dua tahun masa tahanannya. Alih-alih memperkuat eksistensi dan kewenangan Komdis, ia justru seperti melemahkannya dengan kebijakan pengampunan –atau apapun namanya— yang kontraproduktif.
Saya bisa membayangkan kegalauan hati Hinca dan jajarannya di Komdis saat ini. Kerja keras mereka menegakkan disiplin dalam kompetisi kita kini seperti nyanyian di tengah gurun. Sepi sendiri.
Maka, tak usah terlalu terkejut jika aksi kerusuhan kembali terjadi dalam pertandingan ISL putaran kedua antara Persiwa Wamena lawan Persipura Jayapura, Minggu (1/2) lalu. Tak usah heran juga jika nantinya aksi kekerasan serupa terjadi pada pertandingan lain. Siapa takut –toh, nanti bisa minta pengampunan kepada Ketua Umum?
Syukurlah, Komdis tidak patah arang dalam kekalutan ini. Mereka sudah langsung bereaksi menangani kerusuhan di Wamena itu. Hinca juga tak peduli jika mereka yang divonis bersalah dalam insiden itu nantinya kembali diampuni. “Tugas komdis hanya menghukum atau tidak menghukum. Kami akan menegakkan aturan. Soal nanti ada pengampunan atau tidak, itu bukan urusan kami,” katanya.
Jawaban itu, bagi saya, sangat lugas dan jernih. Semoga saja, Ketua Umum PSSI juga bisa menangkap maknanya yang tersirat dengan hati dan pikiran yang jernih. Jangan biarkan Komdis terpeleset jadi “komisi yang disiplin sendiri”. ***
(Tulisan ini pernah dimuat TopSkor edisi 9 Februari 2009)
Langganan:
Postingan (Atom)