Selasa, Januari 06, 2009

APBD untuk Persik: Langkah Berani atau “Bunuh Diri”?

HAMPIR dua pekan saya “lupa” mengurusi blog ini karena menjalani rutinitas “kesibukan” akhir tahun yang padat. Dari urusan pekerjaan di kantor hingga menjalani tur ke Jawa Tengah bersama anak-anak saya yang sedang menikmati liburan sekolah.

Tepat ketika memutuskan harus kembali mengisi blog ini, saya dikejutkan oleh sebuah berita menarik dari Jawa Timur. DPRD Kota Kediri baru saja mengesahkan kucuran dana Rp 12,5 miliar dari APBD tahun anggaran 2009 untuk modal Persik mengarungi sisa musim kompetisi 2008/2009.

Ini sebuah keputusan yang sungguh berani dari para wakil rakyat “Kota Tahu”. Bayangkan, Rp 12,5 miliar! Itu bukan uang sedikit. Apalagi pada tahun anggaran 2008, Persik juga sudah menikmati kucuran dana Rp 7,5 miliar. Bukannya berkurang, justru makin besar anggaran yang tersedot untuk “Tim Macan Putih” itu.

Yang jadi masalah, saat ini Pemerintah masih “melarang” pemanfaatan anggaran dalam APBD untuk pendanaan tim sepak bola. Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13/2006 yang direvisi menjadi Permendagri Nomor 59/2007.

Ketentuan itulah yang membuat sejumlah tim mengalami “sesak napas” pada paruh pertama ISL musim 2008/2009. Tim sebesar Persija Jakarta saja sempat mengalami keterlambatan pembayaran gaji. Apalagi tim dengan modal pas-pasan semacam Persitara, PSIS Semarang, atau Persijap Jepara.

Kalangan DPRD Kota Kediri berargumen bahwa pengucuran dana APBD itu tak menyalahi aturan. Pasalnya pemberiannya dilakukan melalui mekanisme dana hibah, melalui satuan kerja di Lingkungan Pemerintah Kota Kediri. Lebih jelasnya, KONI Kota Kediri yang jadi pelaksana pengucuran dana tersebut.

Bagi saya, ini menarik. Sebab mekanisme dana hibah itu argumen lama yang belakangan diragukan sendiri oleh kalangan Pemerintah Daerah. Atas dasar keragu-raguan itulah sejumlah daerah jadi enggan –atau bermain “kucing-kucingan”— dalam mengucurkan dana APBD untuk tim sepak bolanya.

Dugaan saya, kalangan DPRD Kota Kediri berani menerobos keragu-raguan itu karena melihat celah dalam Permendagri tersebut. Saya masih ingat, dalam “Lokakarya Pembiayaan Sepak Bola” di Surabaya, medio September lalu, muncul keyakinan bahwa Permendagri 59/2007 tidak sepenuhnya melarang sepak bola. Hanya saja, penggunaannya harus memperhatikan asas rasionalitas dan jumlahnya diharapkan semakin mengecil dari tahun ke tahun.

Celah itu terasa makin menganga jika kita mencermati pasal 42 ayat (4a) Permendagri 59/2007 yang mengatur tentang belanja hibah. Klausul itu berbunyi, “Belanja hibah diberikan secara selektif dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah, rasionalitas, dan ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.”

Dari perspektif politik, bunyi ketentuan jelas menguntungkan bagi klub sepak bola. Sebab, klub sepak bola –terutama perserikatan— umumnya dipimpin oleh kepala daerahnya masing-masing. Dan, diakui atau tidak, klub-klub tersebut telah menjadi sayap politik kepala daerah dalam meraih atau mempertahankan dukungan khalayak.

Persoalannya kemudian, ada ketentuan lain yang berkaitan dengan urusan hibah APBD ini. Ada Peraturan Pemerintah Nomor 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang melarang hibah dan bantuan sosial diberikan secara berulang-ulang. Semangat PP Nomor 58/2005 ini jelas sekali: tidak menghendaki pembiayaan klub sepak bola melalui dana APBD.

Publik, kalangan anggota dewan, serta para pejabat Pemda boleh saja bingung terhadap Permendagri 59/2007 yang terkesan ambigu dan bertentangan dengan aturan hukum di atasnya itu. Namun, satu hal yang pasti, secara hirarki PP Nomor 58/2005 lebih tinggi kedudukannya dibanding Permendagri 59/2007.

Jadi, menurut Anda, keberanian DPRD dan Pemkot Kediri itu sebuah terobosan atau pada akhirnya akan menjadi langkah “bunuh diri”? *

Senin, Desember 15, 2008

Mengalahkan Thailand Bukan Beban

MINGGU pagi kemarin, saya diundang hadir di acara Apa Kabar Indonesia (Akhir Pekan) yang ditayangkan stasiun televisi tvOne. Setelah malam sebelumnya tampil dalam siaran langsung Liga Primer, menghadiri acara sepagi ini jelas cukup “menyiksa” mata saya. Tapi, setelah syutingnya berjalan, rasa kantuk itu perlahan hilang dan berganti semangat yang menyala-nyala.

Bagaimana tidak, yang jadi topik adalah laga semifinal pertama Piala AFF di Stadion Utama Gelora Bung Karno, besok malam. Tim nasional Indonesia bakal menjamu musuh bebuyutannya, Thailand, pada leg pertama. Sebelum melakoni laga tandang di Phuket, empat hari kemudian.

Tak dinyana, obrolan yang seperti “preview” pertandingan itu ternyata jadi ajang unjuk optimisme yang menggebu-gebu. Mantan pemain seperti Yeyen Tumena, Venard Hutabarat, hingga para suporter tim nasional semua mengumbar keyakinan bahwa kita bakal mampu menggilas Thailand. Kalau tidak 2-0, minimal 2-1!

Terbawa oleh suasana, saya pun memupuk keyakinan serupa dengan rekan-rekan saya ini. Saya bilang, untuk laga pertama di Jakarta, kita harus yakin bisa menang. Tinggal memikirkan bagaimana caranya menghadapi laga berikutnya di Bangkok.

Moga-moga saja, keyakinan kami semua tidak menjadi beban bagi Charis Yulianto dan kawan-kawan saat memasuki lapangan nanti. Sebab, konon, salah satu “penyakit” pemain kita, semakin diyakini menang justru makin kehilangan kepercayaan diri dan permainan terbaiknya.

Di Senayan, besok malam, saya ingin melihat Charis dan kawan-kawan main lepas seperti saat duel pertama penyisihan Grup A lawan Myanmar, 5 Desember lalu. Bagi saya, itulah penampilan terbaik kita sejauh ini di Piala AFF 2008.

Yang menarik, para pemain kita bisa tampil bagus justru karena beban mental yang lebih ringan. Dua kali kekalahan di ajang “pemanasan” Grand Royal Challenge Cup membuat “Tim Merah Putih” tampil lebih rileks meladeni Myanmar. Hasilnya, mereka menang 3-0 dengan permainan yang meyakinkan.

Pada laga berikutnya, saat semua pihak yakin kita bakal “melumat” Kamboja, pertandingan justru jadi lebih sulit. Kita hanya bisa mencetak satu gol pada babak pertama sebelum menambah tiga lagi pada paruh kedua. Itu pun lebih banyak karena permainan dan kematangan individual para penyerang kita.

Puncaknya adalah perebutan posisi teratas Grup A. Keyakinan dan harapan publik yang sangat menggebu membuat tim asuhan Benny Dollo malah gugup dan akhirnya menyerah 0-2. Menariknya, dua gol Singapura masing-masing dicetak pada awal babak pertama dan kedua saat pemain kita seperti masih sibuk merapatkan barisan.

Saya pun jadi “menyesali” harapan saya yang terlalu menggebu-gebu menjelang laga semifinal ini. Terbayang betapa beratnya beban mental yang kini disandang Firman Utina dan kawan-kawan menghadapi permainan cepat Teerasil Dangda dan kawan-kawan.

Kalau begitu, mungkin sebaiknya saya kembali saja ke “semangat” Piala Asia 2007. Saat itu, saya tak mengharapkan kemenangan dari tim nasional kita. Bukan meremehkan, melainkan karena saya menyadari benar posisi kita di peta persepakbolaan Asia.

Saat itu, saya hanya berharap mereka main penuh semangat, berjuang sampai menit terakhir, sehingga –apapun hasilnya— tidak bikin malu bangsa Indonesia. Hasilnya, mereka tampil dengan permainan terbaik yang pernah kita lihat dalam satu dekade terakhir.

Hanya saja, tak seperti Piala Asia, di ajang sekelas Piala AFF hasil akhir tentunya juga penting. Karena inilah barometer paling pas untuk memetakan posisi kita di tingkat regional. Jadi, apa boleh buat, “terpaksalah” kali ini saya pun menuntut para pemain kita untuk tampil gigih sekaligus menang! Tolong, jangan anggap ini sebagai beban….
(Tulisan ini pernah dimuat di TopSkor, 15 Desember 2008)