ADA pernyataan menarik dari Presiden Uni Sepak Bola Eropa (UEFA), Michel Platini, Rabu (30/7) lalu. Ia mengimbau semua komponen sepak bola untuk bersatu melindungi olahraga paling populer sejagat ini dari segala ancaman. Sebab, berbagai kejahatan yang ada di masyarakat dengan bermacam cara tengah mencoba masuk ke wilayah sepak bola.
Platini tak main-main atau sekadar mengumbar retorika lewat pernyataannya. Sebab ia menyatakan hal itu kepada televisi lokal di Firenze, Italia, saat menyaksikan pertandingan Fiorentina lawan Barcelona. Pertandingan untuk memperingati 25 tahun meninggalnya legenda sepak bola Fiorentina, Artemio Franchi, itu dimenangkan tim tamu Barcelona 3-1.
“Kita harus waspada dan hati-hati terhadap doping, korupsi, dan kekerasan dalam sepak bola,” Platini mengingatkan dalam pidatonya. “Segala sesuatu yang terjadi di masyarakat juga bisa merasuk ke dunia sepak bola.”
Salah satu ancaman yang diminta Platini untuk diwaspadai adalah keserakahan kaum kapitalis. “Sepak bola merupakan olahraga yang sangat populer. Makanya banyak orang ingin berinvestasi di sepak bola sekadar untuk mendapatkan banyak uang,” katanya lagi.
Pernyataan keras Platini itu segera mengingatkan kita kepada upaya geng mafia Camorra dari Napoli yang ingin menguasai saham Lazio, dua pekan lalu. Tak tanggung-tanggung, Camorra memperalat Giorgio Chinaglia –striker legendaris Lazio era 1970-an— untuk melicinkan usahanya. Namun untunglah pihak berwajib berhasil mencium gelagat buruk itu dan menggagalkannya.
Tak hanya itu, di beberapa negara mulai muncul kecenderungan investor kakap menguasai klub dengan bekal ideologi uang. Sementara nilai-nilai luhur sepak bola dan tradisi klub terabaikan. “Kita harus menjaga nilai-nilai sepak bola dan mempertahankannya dengan cara yang benar. Sehingga sepakbola tidak kehilangan nilai-nilai luhurnya,” Platini menegaskan. “Harus diakui bahwa sepak bola merupakan gairah, tapi sekaligus juga bisnis.”
Untuk itulah Platini meminta semua komponen sepak bola di seluruh dunia bersatu dalam satu visi dan misi: melawan semua praktik jahat itu. Hanya dengan persatuan dan kekompakan, sepak bola bisa kuat dan mampu mencegah masuknya unsur-unsur negatif yang bisa merusak.
Hanya saja, dalam konteks Indonesia, saya kira fokus perhatiannya mungkin sedikit berbeda. Alih-alih memerangi, kita justru mulai lelah menunggu masuknya para pemodal menyuntikkan sebagian hartanya untuk menghidupi klub-klub Liga Indonesia.
Rasanya mulai bosan dari hari ke hari kita terus membaca berita soal penderitaan klub-klub Indonesia. Persita Tangerang tak punya dana untuk sewa stadion, gaji pemain Sriwijaya FC belum terbayar, pengurus Persitara pusing mencari pinjaman untuk beli tiket pesawat, dan seterusnya.
Di Inggris sana, mungkin benar para kapitalis semacam Roman Abramovich bisa disebut sebagai ancaman bagi tradisi sepak bola di negeri monarki itu. Di Tanah Air, justru ketiadaan kapitalis semacam Abramovich itu yang bisa mengancam kelangsungan kompetisi ISL 2008/2009.
Namun Mister Platini tetap benar soal bahaya yang lain: kekerasan! Ini ancaman yang, menurut saya, paling dekat dengan keseharian kita. Bukan sekadar kekerasan secara fisik, tapi juga dalam wujud pelecehan atau penistaan bernuansa ras.
Beberapa hari lalu, Komisi Disiplin PSSI (Komdis) baru saja menjatuhkan denda Rp 200 juta kepada Persik Kediri. Itu gara-gara kelompok suporternya secara sengaja melecehkan Aremania yang dalam beberapa tahun terakhir ini memang jadi seteru mereka.
Sebelumnya, ancaman hukuman serupa diberikan kepada Persib dan suporternya karena tindakan berbau SARA saat menjamu Persija, Minggu (20/7) lalu. Di Stadion Siliwangi, banyak oknum suporter mengenakan atribut yang dinilai Komdis menyebarkan kebencian terhadap suporter Persija, Jakmania. Jika mereka mengulangi perbuatan itu, Komdis mengancam akan menghukum suporter Persib enam bulan dan “Tim Maung Bandung” sendiri dikenai denda Rp 200 juta.
Senin (28/7) malam lalu, kekerasan dalam bentuk lain terjadi di Senayan. Setelah dipastikan partai Persija vs Persita tak jadi digelar, sekelompok oknum Jakmania berulah merusak fasilitas umum di sekitar Gelora Bung Karno. Oknum atau siapapun pelakunya, yang pasti, Persija langsung kena getahnya. Laga lawan Persijap yang rencananya digelar Jumat (1/8) ini di Stadion Utama Gelora Bung Karno, akhirnya tak mendapat izin dari Polda Metro Jaya.
Tiga contoh di atas hanya sebagian kecil dari ancaman kekerasan yang masih menghantui sepak bola kita. Masih banyak lagi ancaman kekerasan lain dengan beragam bentuknya. Seperti dikatakan Mister Platini, itu tak boleh dianggap enteng. Dan kita perlu bersatu dalam satu visi dan misi: melawan semua praktik jahat itu! *
Platini tak main-main atau sekadar mengumbar retorika lewat pernyataannya. Sebab ia menyatakan hal itu kepada televisi lokal di Firenze, Italia, saat menyaksikan pertandingan Fiorentina lawan Barcelona. Pertandingan untuk memperingati 25 tahun meninggalnya legenda sepak bola Fiorentina, Artemio Franchi, itu dimenangkan tim tamu Barcelona 3-1.
“Kita harus waspada dan hati-hati terhadap doping, korupsi, dan kekerasan dalam sepak bola,” Platini mengingatkan dalam pidatonya. “Segala sesuatu yang terjadi di masyarakat juga bisa merasuk ke dunia sepak bola.”
Salah satu ancaman yang diminta Platini untuk diwaspadai adalah keserakahan kaum kapitalis. “Sepak bola merupakan olahraga yang sangat populer. Makanya banyak orang ingin berinvestasi di sepak bola sekadar untuk mendapatkan banyak uang,” katanya lagi.
Pernyataan keras Platini itu segera mengingatkan kita kepada upaya geng mafia Camorra dari Napoli yang ingin menguasai saham Lazio, dua pekan lalu. Tak tanggung-tanggung, Camorra memperalat Giorgio Chinaglia –striker legendaris Lazio era 1970-an— untuk melicinkan usahanya. Namun untunglah pihak berwajib berhasil mencium gelagat buruk itu dan menggagalkannya.
Tak hanya itu, di beberapa negara mulai muncul kecenderungan investor kakap menguasai klub dengan bekal ideologi uang. Sementara nilai-nilai luhur sepak bola dan tradisi klub terabaikan. “Kita harus menjaga nilai-nilai sepak bola dan mempertahankannya dengan cara yang benar. Sehingga sepakbola tidak kehilangan nilai-nilai luhurnya,” Platini menegaskan. “Harus diakui bahwa sepak bola merupakan gairah, tapi sekaligus juga bisnis.”
Untuk itulah Platini meminta semua komponen sepak bola di seluruh dunia bersatu dalam satu visi dan misi: melawan semua praktik jahat itu. Hanya dengan persatuan dan kekompakan, sepak bola bisa kuat dan mampu mencegah masuknya unsur-unsur negatif yang bisa merusak.
Hanya saja, dalam konteks Indonesia, saya kira fokus perhatiannya mungkin sedikit berbeda. Alih-alih memerangi, kita justru mulai lelah menunggu masuknya para pemodal menyuntikkan sebagian hartanya untuk menghidupi klub-klub Liga Indonesia.
Rasanya mulai bosan dari hari ke hari kita terus membaca berita soal penderitaan klub-klub Indonesia. Persita Tangerang tak punya dana untuk sewa stadion, gaji pemain Sriwijaya FC belum terbayar, pengurus Persitara pusing mencari pinjaman untuk beli tiket pesawat, dan seterusnya.
Di Inggris sana, mungkin benar para kapitalis semacam Roman Abramovich bisa disebut sebagai ancaman bagi tradisi sepak bola di negeri monarki itu. Di Tanah Air, justru ketiadaan kapitalis semacam Abramovich itu yang bisa mengancam kelangsungan kompetisi ISL 2008/2009.
Namun Mister Platini tetap benar soal bahaya yang lain: kekerasan! Ini ancaman yang, menurut saya, paling dekat dengan keseharian kita. Bukan sekadar kekerasan secara fisik, tapi juga dalam wujud pelecehan atau penistaan bernuansa ras.
Beberapa hari lalu, Komisi Disiplin PSSI (Komdis) baru saja menjatuhkan denda Rp 200 juta kepada Persik Kediri. Itu gara-gara kelompok suporternya secara sengaja melecehkan Aremania yang dalam beberapa tahun terakhir ini memang jadi seteru mereka.
Sebelumnya, ancaman hukuman serupa diberikan kepada Persib dan suporternya karena tindakan berbau SARA saat menjamu Persija, Minggu (20/7) lalu. Di Stadion Siliwangi, banyak oknum suporter mengenakan atribut yang dinilai Komdis menyebarkan kebencian terhadap suporter Persija, Jakmania. Jika mereka mengulangi perbuatan itu, Komdis mengancam akan menghukum suporter Persib enam bulan dan “Tim Maung Bandung” sendiri dikenai denda Rp 200 juta.
Senin (28/7) malam lalu, kekerasan dalam bentuk lain terjadi di Senayan. Setelah dipastikan partai Persija vs Persita tak jadi digelar, sekelompok oknum Jakmania berulah merusak fasilitas umum di sekitar Gelora Bung Karno. Oknum atau siapapun pelakunya, yang pasti, Persija langsung kena getahnya. Laga lawan Persijap yang rencananya digelar Jumat (1/8) ini di Stadion Utama Gelora Bung Karno, akhirnya tak mendapat izin dari Polda Metro Jaya.
Tiga contoh di atas hanya sebagian kecil dari ancaman kekerasan yang masih menghantui sepak bola kita. Masih banyak lagi ancaman kekerasan lain dengan beragam bentuknya. Seperti dikatakan Mister Platini, itu tak boleh dianggap enteng. Dan kita perlu bersatu dalam satu visi dan misi: melawan semua praktik jahat itu! *