Selasa, Oktober 27, 2009

Kembali ke UU Nomor 3/2005

(Catatan untuk Menegpora Andi Mallarangeng)

TAK ada kejutan dalam susunan Kabinet Indonesia Bersatu II. Seperti sudah diduga, Andi Alifian Mallarangeng ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora). “Bang Andi” –begitu ia biasa disapa— menggantikan pejabat sebelumnya, Adhyaksa Dault.

Saya jadi ingat, rasanya kami berdua pernah siaran bersama dalam satu layar pada Piala Dunia 2002. Saat itu, Bang Andi yang namanya sedang berkibar sebagai pengamat politik jadi komentator tamu. Sedangkan saya sebagai komentator reguler dari RCTI.

Dari pertemuan sejenak itu, saya menangkap kesan bahwa Bang Andi lumayan paham sepak bola. Lebih penting lagi, ia juga cukup ramah, egaliter, dan mau mendengar sehingga saya yakin Bang Andi akan mudah masuk ke lingkungan baru di bidang kepemudaan dan keolahragaan.

Berangkat dari sepenggal pertemuan singkat itu, saya merasa terpanggil ikut memberi masukan bagi Bang Andi saat memulai tugas barunya di kementerian dengan anggaran Rp 1,6 triliun itu. Khususnya menyangkut bidang keolahragaan yang niscaya akan lebih banyak menyita waktunya kelak.

Begitu banyak permasalahan keolahragaan bakal dihadapi Menegpora pada periode lima tahun ke depan. Dari keinginan PSSI menjadikan Indonesia tuan rumah Piala Dunia 2022, penyelenggaraan SEA Games 2011, dilema pemakaian dana APBD untuk klub sepak bola, penyusutan lahan dan fasilitas olahraga di perkotaan, anjloknya prestasi Indonesia di pesta olahraga multiajang, rendahnya kesejahteraan atlet, keterlibatan pejabat publik sebagai pengurus olahraga, hingga “dualisme” Menegpora dan Komite Olahraga Nasional/Komite Olimpiade Indonesia (KON/KOI) dalam melaksanakan pembinaan.

Sulit menetapkan mana yang harus diprioritaskan untuk ditangani. Semuanya butuh penanganan segera dan simultan. Padahal, di sisi lain, Menegpora memiliki keterbatasan sumber daya aparatur, anggaran, sarana/prasarana, dan –tentu saja— waktu untuk menangani semuanya. Apalagi urusan Menegpora tak hanya masalah olahraga, tapi juga kepemudaan.

Jelas tak mudah menangani semua itu dan dari mana memulainya. Namun, menurut saya, isu kronis yang butuh prioritas penanganan adalah “dualisme” Menegpora dan KON/KOI dalam melaksanakan pembinaan olahraga. Dan langkah penyelesaiannya bisa dimulai dengan kembali ke Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN). Inilah “warisan penting” Adhyaksa dan jajarannya selama lima tahun menghuni Kantor Menegpora.

Meski diperjuangkan dengan susah payah dan selalu dibanggakan oleh Adhyaksa, sayangnya selama ini UU SKN justru kurang dijadikan pedoman. Sehingga muncullah “persaingan terselubung” antara Kantor Menegpora dan KON/KOI menyangkut pelaksanaan pembinaan olahraga di Tanah Air.

Melalui Program Atlet Andalan yang biasa disingkat PAL (seharusnya PAA atau Pal), Menegpora menerobos jauh ke wilayah yang selama ini ditangani KON. Padahal, KON selama ini punya sistem Pelatnas yang sudah berjalan puluhan tahun. Kehadiran PAL dan Pelatnas membuat pembinaan olahraga seakan berjalan di dua jalur yang tak sinergis dan tidak terintegrasi dengan baik.

Menegpora dan jajarannya mungkin berpatokan pada Pasal 12 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa “Pemerintah mempunyai kewenangan untuk mengatur, membina, mengembangkan, melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan keolahragaan secara nasional”. Selanjutnya, Pasal 21 dan 22 juga memberi ruang sangat besar bagi Menegpora selaku representasi Pemerintah untuk terlibat aktif dalam pembinaan dan pengembangan olahraga. Tak sekadar melalui penetapan kebijakan, tapi juga lewat penataran/pelatihan, kompetisi, hingga pengawasan.

Sementara itu, dalam Bab VIII mengenai Pengelolaan Keolahragaan, Pasal 36 Ayat 4 menyebutkan bahwa KON bertugas membantu Pemerintah dalam membuat kebijakan nasional dalam bidang pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi pada tingkat nasional. KON juga bertugas melaksanakan pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi berdasarkan kewenangannya.

Di situlah titik singgungnya. UU SKN terkesan kurang tegas membagi peran antara Menegpora selaku representasi Pemerintah dan KON sebagai perwujudan pemberdayaan peran serta masyarakat sesuai amanat Pasal 5 mengenai Prinsip Penyelenggaraan Keolahragaan. Akibatnya, terjadilah “dualisme” pembinaan itu.

Namun demikian, “ruh” UU SKN sebetulnya cukup jelas mengamanatkan semangat kebersamaan dan partisipasi. Pemerintah diharapkan jadi motor penggerak dalam membangun industri olahraga, sedangkan KON/KOI sebagai tokoh utama dalam membangun prestasi.

Jadi, semestinya, tak perlu ada tarik-menarik. Apalagi Presiden SBY secara tegas selalu menyebut good governance sebagai pilar dalam membangun Indonesia. Mustahil mewujudkan good governance tanpa partisipasi masyarakat. Jadi, Menegpora seharusnya justru memberi ruang sebesar-besarnya kepada KON/KOI serta unsur masyarakat lainnya untuk berperan aktif dalam pembinaan dan pengembangan olahraga.

Semoga Bang Andi dengan cepat bisa mendalami permasalahan keolahragaan Indonesia secara jernih. Sehingga seluruh unsur dalam keolahragaan kita bisa kembali bergandengan tangan menangani pembinaan, memajukan prestasi, serta membangun industri olahraga yang mandiri. Selamat bekerja! ***

(Tulisan ini pernah dimuat di TopSkor, edisi 24 Oktober 2009)

Rabu, Mei 27, 2009

Ekstremisme Sepak Bola Polandia

BELUM lama ini, saya menonton tayangan yang sangat menarik di saluran BBC Knowledge. Berkisah tentang fenomena budaya geng yang telah merasuki –bahkan mulai merusak— persepakbolaan Polandia. Hasil liputan investigasi yang sangat berani dari aktor sekaligus jurnalis senior BBC, Ross Kemp.
Ada fakta menarik yang saya tangkap dari hasil liputan Kemp tersebut. Ternyata, geng-geng ekstremis sayap kanan kini sudah jauh menginfiltrasi alias menyusup ke jantung kelompok-kelompok suporter klub sepak bola di Ekstraklasa alias Divisi Utama Liga Polandia.
Sebut saja Wisla Krakow. Ternyata, klub elite Ekstraklasa yang konon memiliki suporter terbanyak di Polandia itu juga sudah jauh disusupi kelompok radikal sayap kanan. Mereka bahkan menduduki posisi penting dan sangat disegani di kalangan suporter klub juara Ekstraklasa 2008 itu.
Di Polandia, suporter Wisla mudah dikenali dengan atributnya yang berlambang “Bintang Putih”. Di dalam stadion, mereka kian mudah dikenali karena yel-yelnya yang sangat rasial. “Perang berlanjut setiap hari. Di jalanan, di manapun!” begitu sebagian lirik lagu-lagu mars mereka di Stadion Wisla.
Saat derby menghadapi Cracovia Krakow, tanpa segan mereka menghina suporter lawan dengan kata-kata, “Yahudi bau!” Mereka juga tak segan-segan memakai atribut Neo-Nazi lengkap dengan lambang swastikanya. Ya, para suporter ini umumnya memang sangat membenci kaum Yahudi dan pendatang asal Afrika yang merupakan etnis minoritas di Polandia.
Stylon, kelompok suporter lain di Gorzow, bahkan biasa menyanyikan lagu-lagu mars dengan lirik “mengerikan”. “Mereka harus mengulanginya”, demikian lirik sederhana itu berulang-ulang mereka kumandangkan. Anda tahu maksudnya? Percaya atau tidak, mereka berharap agar Holocaust –pembantaian jutaan orang Yahudi oleh Nazi pada Perang Dunia II— terulang lagi!
Aksi polovania kini jadi kebanggaan baru mereka. Sekelompok pendukung–biasanya 5, 10, atau 12 orang— membentuk geng tersendiri yang sengaja mencari dan menantang suporter tim lain untuk berkelahi. Tidak hanya ketika timnya main di kandang, tapi juga saat tandang ke kota lain.
Dengan cerdik, para pentolan suporter menanamkan nilai-nilai loyalitas dan persaudaraan di kalangan pengikutnya. Setelah identitas kelompok terbentuk, mulailah nilai-nilai ekstremisme sayap kanan yang merupakan gelombang fasisme baru ditanamkan dan jadi “falsafah perjuangan” mereka sebagai suporter.
Setelah menyimak tayangan berdurasi satu jam itu, dua hal terbersit di benak saya. Yang pertama, menurut saya, penyusupan para ekstremis sayap kanan ikut berperan di balik kemunduran prestasi sepak bola Polandia.
Mereka telah membuat kompetisi di “Negeri Solidaritas” itu jadi sarat kerusuhan dan para pemain tak nyaman berkompetisi. Akibatnya, bintang lokal ramai-ramai hengkang ke negara lain dan pemain-pemain asing berkualitas enggan main di Ekstraklasa.
Kalau pada era 1970-an Polandia masih disegani di ajang Piala Dunia dan Piala Eropa, kini mereka bahkan terseok-seok untuk sekadar lolos kualifikasi. Di tingkat klub, tim papan atas Ekstraklasa semacam Wisla atau Lech Poznan pun hanya mampu bersaing di level kualifikasi Liga Champions maupun Piala UEFA.
Yang kedua –dan ini jauh lebih penting, fenomena budaya geng dalam sepak bola Polandia itu membuat saya jadi risau terhadap persepakbolaan Indonesia. Betapa tidak, ciri-ciri awal munculnya fenomena itu kini juga bisa ditemui dalam persepakbolaan kita.
Kelompok-kelompok suporter fanatik bermunculan di berbagai kota basis sepak bola nasional. Sialnya, belum apa-apa mereka sudah terjerumus ke lembah ekstremisme dengan memusuhi kelompok suporter lain yang dianggap rival atau berseberangan.
Kerusuhan antarsuporter jadi “menu sehari-hari” dalam kompetisi kita. Saling serang itu bahkan tak hanya di dalam lapangan, namun sudah meluas ke luar lapangan. Bahkan muncul fenomena saling mengharamkan secara membabi-buta antarkelompok suporter tertentu.Ini sangat menyedihkan.
Polandia masih “beruntung” sempat jadi kekuatan yang disegani di dunia sebelum terjerumus dalam kekalutan ini. Kita belum menikmati masa keemasan itu, tapi sudah terdesak ke tubir jurang ekstremisme. Wahai para suporter, mari saling introspeksi: mau kita bawa ke mana masa depan persepakbolaan Indonesia? ***
(Tulisan ini pernah dimuat TopSkor edisi 25 Mei 2009)

Antara Mourinho dan Guardiola

KOMPETISI liga di Eropa tak lama lagi memasuki “putaran” akhir. Artinya, tak lama lagi kita akan menyaksikan sorak kemenangan beriringan dengan tangis kekalahan. Pekik keberhasilan bersahutan dengan teriakan geram pertanda kekecewaan.
Selalu ada yang menang dan kalah dalam sepak bola. Itulah keindahan olahraga ini. Setiap saat kita dihadapkan pada dua sisi kenyataan yang bertolak belakang. Tapi justru itulah yang mengasah mental setiap pelaku permainan si kulit bundar ini –juga atlet cabang olahraga lain, tentunya— untuk selalu bersikap sportif dan ksatria mengakui kelebihan lawan.
Yang menarik, belum lagi kompetisi berakhir, kita sudah menangkap sejumlah fenomena menarik seputar soal menang-kalah itu. Salah satunya dipertontonkan Jose Mourinho, pelatih Inter Milan yang kini tengah menguasai puncak klasemen Seri A.
Setelah mendengar Juventus ditaklukkan Genoa, Mourinho langsung menunjukkan “taringnya”. Menurutnya, gelar juara Seri A musim ini mungkin sudah bisa diraih Inter saat kedua tim bertemu Sabtu (18/4) mendatang di Stadion Olimpico.
Maklum, kemenangan akan membuat selisih poin Inter dan Juventus melebar jadi 13 angka. Meskipun masih ada 18 angka lagi dipertaruhkan hingga akhir musim, secara logika akan sangat sulit bagi Juventus mengatasi selisih poin sebesar itu.
Benar, sah-sah saja Mourinho sesumbar dan melontarkan komentar yang terdengar angkuh itu. Faktanya, Inter di tangan “The Special One” memang semakin perkasa saja di kancah kompetisi domestik.
Hanya saja, Mourinho melupakan prinsip paling mendasar dari setiap kemenangan. Bahwa kemenangan yang terindah didapat tanpa merendahkan lawan yang dikalahkan. Bahwa kemenangan itu sendiri sesungguhnya awal dari sebuah kekalahan yang akan datang pada suatu saat nanti.
Dengan segala arogansinya itu, tidak mengherankan jika Mourinho tak punya banyak sahabat di Italia. Banyak orang mengakui kehebatannya sebagai pelatih, tapi tidak banyak yang terkesan oleh kepribadiannya sebagai manusia.
Di sisi lain, kita melihat bagaimana Josep Guardiola begitu santun memuji Bayern Muenchen, tim yang akan dihadapinya pada laga kedua Liga Champions, Selasa (14/4) mendatang. Padahal, pada pertemuan pertama, pasukan Guardiola menggilas lawannya empat gol tanpa balas.
Toh, Guardiola tetap memuji keberhasilan Muenchen menang 4-0 atas Eintracht Frankfurt, akhir pekan lalu. Ia menganggap kemenangan itu sebagai pertanda bahwa lawannya tetap punya potensi menggagalkan tekad Barcelona melaju ke semifinal Liga Champions musim ini.
Boleh jadi, Guardiola sekadar bersikap diplomatis di balik rasa hormatnya terhadap Muenchen. Ia tidak seperti Mourinho yang tak pernah ragu menunjukkan karakter pribadinya. Tapi justru karena itulah Guardiola disukai kawan maupun lawan.
Tak bisa diingkari, sosok Mourinho memang tetap diperlukan sebagai “bumbu penyedap” dalam aroma persaingan di panggung sepak bola yang sudah menjadi industri besar ini. Tanpa orang-orang seperti Mourinho, sepak bola mungkin kehilangan gregetnya sebagai permainan paling digemari.
Namun, demi masa depan sepak bola, kesantunan Guardiola mungkin lebih kita butuhkan –bahkan sepatutnya disebarluaskan. Karena sikap arif dan sportivitas seperti itulah yang menjaga sepak bola tetap berada di koridor tradisi dan nilai-nilai universal yang membuatnya jadi olahraga paling populer sejagat raya. ***

(Tulisan ini pernah dimuat di TopSkor edisi 13 April 2009)

Senin, Maret 30, 2009

Mandiri, Tantangan Baru Taufik Hidayat

KABAR menggembirakan datang dari turnamen bulu tangkis India Terbuka di Hyderabad yang berakhir Minggu (29/3) lalu. Setelah “paceklik” di tiga turnamen, akhirnya pemain Indonesia bisa membawa pulang gelar juara. Bahkan, mereka mampu menguasai dua nomor sekaligus di final, yakni tunggal putra dan ganda campuran.

Namun, tentu saja, yang paling menarik adalah keberhasilan Taufik “Golden Boy” Hidayat menjuarai nomor tunggal putra dengan mengalahkan Muhammad Hafiz Hashim 21-18, 21-19. Tak hanya memberi gelar pertama bagi Indonesia pada tahun 2009, putra Pangalengan, Bandung, itu juga menemukan kembali sentuhan juaranya.

Betapa tidak, selama dua tahun terakhir, nama Taufik seolah akrab dengan kekalahan dan penampilan mengecewakan di berbagai turnamen yang diikutinya. Uniknya, setiap kali harus menjalani rubber game, ia sering sekali kalah. Sebuah gambaran nyata betapa buruknya stamina dan kondisi Taufik sebagai pemain elite dunia.

Seingat saya, terakhir kali Taufik naik podium sebagai kampiun pada turnamen di Makao yang berkategori Grand Prix Gold, awal Oktober 2008 lalu. Sebelum itu, ia mencicipi gelar juaranya di Kejuaraan Asia di Johor Baru, Malaysia, April 2007.

Praktis, sejak era Super Series dimulai, Taufik belum sekalipun merasakan nikmatnya gelar juara. Prestasi tertingginya hanya mencapai final Prancis Super Series 2008 dan Jepang Super Series 2007. Plus jadi semifinalis All England Super Series 2009, Hongkong Super Series 2008, dan Indonesia Super Series 2007.

Makanya, secara pribadi, saya sama sekali tidak terkejut ketika Taufik akhirnya keluar dari Pelatnas Cipayung pada akhir Januari lalu. Meski berat dan menyedihkan, menurut saya, itulah jalan keluar terbaik bagi semuanya –terutama Taufik sendiri.

Sejak dulu, saya selalu beranggapan bahwa Taufik adalah pebulu tangkis tunggal putra terbaik yang kita miliki dalam satu dekade terakhir. Bahkan, dari segi bakat dan kualitas teknis, ia mungkin yang terbaik bersama Rudy Hartono dan Liem Swie King.

Di tengah keterpurukan yang dialami Taufik tiga tahun terakhir usai Kejuaraan Dunia 2005, pendapat saya tak pernah berubah. Saya tetap melihatnya sebagai pemain terbaik kita. Kualitas Taufik jauh di atas Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, dan semua pemain lain yang segenerasi.

Hanya saja, terbaik bukan berarti selalu nomor satu. Bakat dan kehebatan Taufik tak serta-merta membuatnya jadi pemain nomor satu dunia. Dalam peringkat BWF sekarang ini pun Taufik hanya di posisi ketujuh –masih di bawah Sony, keenam.

Itulah pangkal soalnya. Taufik seperti kurang melihat –bahkan terkesan tak peduli— peringkat BWF itu sebagai tantangan. Ia hanya terobsesi terhadap turnamen-turnamen tertentu yang memang ingin dia menangkan, semacam Olimpiade, Kejuaraan Dunia, atau All England.

Akibatnya, Taufik tak pernah benar-benar bisa menyaingi Lee Chong Wei dan Lin Dan yang bergantian merajai peringkat BWF. Pamor Indonesia sebagai jawara tunggal putra dunia pun memudar. Wajar jika kemudian PB PBSI tak lagi ngotot mempertahankan Taufik –meski baru berusia 27 tahun— di Cipayung.

Namun, saya optimistis, berada di luar Cipayung justru akan membangkitkan kembali keperkasaan Taufik. Sebab ia mendapatkan tantangan baru yang dibutuhkannya untuk kembali ke jalur juara. Tantangan untuk berkarier secara mandiri, bersikap lebih profesional, dan memperhitungkan segala sesuatunya lebih matang.

Bagi Taufik, kini tak ada lagi istilah berangkat ke sebuah turnamen hanya memenuhi tugas, apalagi sekadar jalan-jalan. Semuanya harus terukur sebab semua biaya kini dia tanggung sendiri. Konon, Taufik butuh Rp 1,3 miliar/tahun untuk biaya latihan dan mengikuti 12 turnamen sepanjang 2009.

Taufik, saya yakin betul, akan bisa menghadapi tantangan itu. Dengan segala pesona dan nilai jualnya, tak sulit menutup angka Rp 1,3 miliar. Apalagi ia juga akan segera memetik hasilnya lewat gelar-gelar juara, seperti sudah dibuktikannya di India Terbuka.

Kadang-kadang, seorang “anak nakal” memang harus cepat “disapih” agar lebih mandiri. Saya yakin, dengan kemandirian yang kini dijalaninya, kita juga akan melihat kembali Taufik dengan sederet kemenangannya. ***

Senin, Februari 09, 2009

Komisi yang Disiplin Sendiri

DI TENGAH hiruk-pikuk pemberitaan mengenai PSSI pascakeluarnya Nurdin Halid dari Rutan Salemba, saya merasa kehilangan “seseorang”. Ada salah satu tokoh sepak bola nasional yang kerap muncul sebagai sumber berita penting namun belakangan seperti “hilang” dari peredaran. Dialah Hinca Panjaitan, Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Boleh jadi, nama Hinca sekadar surut sejenak seiring periode jeda kompetisi Divisi Utama maupun ISL. Maklum, fungsi Komdis memang lebih banyak sebagai “pemadam kebakaran” untuk menjaga agar kompetisi tetap berjalan di atas relnya.

Tapi, yang menarik, suara Hinca juga hanya “lamat-lamat” terdengar saat isu-isu sensitif seputar kedisiplinan muncul ke permukaan. Khususnya, ketika Nurdin bagi-bagi bonus pengampunan –berupa Peninjauan Kembali (PK)— untuk sejumlah pihak yang divonis hukuman berat oleh Komdis. Dari Yoyok Sukawi, Kurnia Meiga, sampai para pemain PSIR Rembang yang secara brutal menganiaya wasit Muzair Usman di Stadion Gelora Ambang, 12 November lalu.

Tak jelas apakah pengampunan itu sepengetahuan atau direkomendasikan oleh Hinca dan Komdisnya. Yang jelas, dengan “bahasa kekuasaan” yang sebenarnya usang dan tak cocok untuk organisasi olahraga seperti PSSI, Nurdin selalu berkilah bahwa pengampunan merupakan hak prerogatif Ketua Umum.

Saya sendiri tak yakin Hinca berperan dalam pengampunan itu. Sebab, sejak memangku jabatannya pada awal Juli 2007, ia sudah menegaskan tekadnya untuk mengubah stigma negatif yang melekat pada Komdis. Ia juga bertekad menjadikan Komdis tak hanya sebagai pemadam kebakaran yang baru bereaksi setelah ada kejadian.

Makanya, Hinca dan Komdisnya kemudian berpayah-payah menyusun Kode Disiplin PSSI sebagai acuan bagi para pelaku kompetisi. Ada tiga aspek paling menonjol dalam Kode Disiplin yang memuat lebih dari 150 pasal itu, yakni perang terhadap rasisme, kerusuhan, dan obat-obatan terlarang.

Meski belum optimal, sebagian usaha Hinca sudah terasa hasilnya. Sepanjang putaran pertama kompetisi Divisi Utama dan ISL 2008/2009, Komdis telah menunjukkan ketegasannya dalam sejumlah kasus yang krusial.

Puluhan vonis berupa denda uang dan atau larangan bertanding sudah mereka keluarkan dan cukup menimbulkan efek jera di kalangan pelaku sepak bola nasional. Lihat saja para pemain asing berkulit hitam yang biasanya suka menghardik wasit secara kasar, kini mereka jadi lebih sopan dan mau mengontrol emosinya.

Pemain lokal yang biasanya “main kaki” sambil mengeroyok saat memprotes wasit, sebagian besar kini juga mau mengikuti prosedur dengan mewakilkan protesnya lewat kapten kesebelasan. Begitu pula pelatih dan ofisial tim, kini mereka tak lagi seenaknya mengambing-hitamkan pihak lain atas kekalahan timnya.

Sayang sekali, kerja keras Komdis itu kini seolah menjadi antiklimaks saat Ketua Umum PSSI kembali berkantor setelah menjalani dua pertiga dari dua tahun masa tahanannya. Alih-alih memperkuat eksistensi dan kewenangan Komdis, ia justru seperti melemahkannya dengan kebijakan pengampunan –atau apapun namanya— yang kontraproduktif.

Saya bisa membayangkan kegalauan hati Hinca dan jajarannya di Komdis saat ini. Kerja keras mereka menegakkan disiplin dalam kompetisi kita kini seperti nyanyian di tengah gurun. Sepi sendiri.

Maka, tak usah terlalu terkejut jika aksi kerusuhan kembali terjadi dalam pertandingan ISL putaran kedua antara Persiwa Wamena lawan Persipura Jayapura, Minggu (1/2) lalu. Tak usah heran juga jika nantinya aksi kekerasan serupa terjadi pada pertandingan lain. Siapa takut –toh, nanti bisa minta pengampunan kepada Ketua Umum?

Syukurlah, Komdis tidak patah arang dalam kekalutan ini. Mereka sudah langsung bereaksi menangani kerusuhan di Wamena itu. Hinca juga tak peduli jika mereka yang divonis bersalah dalam insiden itu nantinya kembali diampuni. “Tugas komdis hanya menghukum atau tidak menghukum. Kami akan menegakkan aturan. Soal nanti ada pengampunan atau tidak, itu bukan urusan kami,” katanya.

Jawaban itu, bagi saya, sangat lugas dan jernih. Semoga saja, Ketua Umum PSSI juga bisa menangkap maknanya yang tersirat dengan hati dan pikiran yang jernih. Jangan biarkan Komdis terpeleset jadi “komisi yang disiplin sendiri”. ***


(Tulisan ini pernah dimuat TopSkor edisi 9 Februari 2009)

Senin, Februari 02, 2009

Fantasi Tuan Rumah Piala Dunia

SATU hal yang “sukai” dari kepengurusan PSSI sekarang ini adalah daya fantasinya yang luar biasa. Mereka punya banyak obsesi yang bagi publik sepak bola Indonesia acapkali terdengar ambisius, bombastis, bahkan terkadang utopis.

Namun sebagian “fantasi” itu nyatanya bisa diwujudkan dan berjalan –dengan segala kekurangannya. Misalnya, kompetisi Liga Super dengan persyaratan yang begitu ketat sehingga sejumlah klub –PSMS, Persita, bahkan Persija— terpaksa jadi “tim musafir” yang pinjam stadion ke sana-sini.

Toh, sebagian lain “fantasi” itu akhirnya kandas. Misalnya, keinginan mengikut-sertakan tim nasional U-23 berkompetisi di Liga Singapura. Sebelumnya, timnas U-23 kita juga sempat dikirim ke Belanda. Namun hanya “sibuk” berlatih di “Negeri Kincir Angin”. Alhasil, saat tampil di kualifikasi Olimpiade 2008 dan SEA Games 2007 mereka tak bisa berbuat banyak.

Kini, PSSI punya “fantasi” baru yang jauh lebih spektakuler. Mereka memberanikan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Indonesia termasuk satu dari delapan negara yang sudah mengirim proposalnya ke FIFA. Adapun tujuh pesaing yang juga telah memasukkan proposal serupa adalah Inggris, Jepang, Qatar, Australia, Rusia, Meksiko, dan dua negara yang mengajukan diri sebagai tuan rumah bersama, Portugal dan Spanyol.

Menurut Sekjen PSSI Nugraha Besoes, ini bagian dari rencana jangka panjang PSSI. “Kami masih punya waktu 13 tahun, jadi mengapa tidak memberanikan diri mencalonkan diri sebagai tuan rumah?” katanya. Apalagi PSSI merasa punya bekal pengalaman jadi –salah satu— tuan rumah Piala Asia 2007.

Yang menarik, fantasi PSSI kali ini didukung oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. Menegpora Adhyaksa Dault sudah menyatakan dukungannya dan yakin Indonesia bisa memenuhi persyaratan utama menyangkut stadion berstandar internasional.

Tampaknya, begitu “sederhana” jalan menjadi tuan rumah ajang sebesar Piala Dunia. Lalu, mengapa negara sebesar Cina atau India tak ikut mengajukan diri? Mengapa pula negara sekelas Portugal dan Spanyol menawarkan diri jadi tuan rumah bersama –sedangkan Indonesia begitu “gagah berani” maju sendirian?

Sesungguhnya, jadi tuan rumah Piala Dunia “tak seindah” yang dipikirkan orang. Pengorbanan untuk menggelar hajatan olahraga terpopuler sejagat ini sungguh besar dan bisa membuat perekonomian negara “berdarah-darah”.

Benar, nama dan martabat bangsa memang terangkat jika Indonesia terpilih jadi tuan rumah. Juga benar, hajatan ini berpotensi mendorong peningkatan pariwisata, investasi, bahkan mungkin angka pertumbuhan. Dari segi penyelenggaraan, saya juga yakin kita akan mampu melaksanakannya sama bagusnya dengan hajatan Piala Asia 2007.

Hanya saja, ongkos Piala Dunia sungguh luar biasa. Maklum, infrastruktur kita jelas masih di bawah standar negara Eropa atau bahkan Jepang dan Korea Selatan. Karena itu, niscaya dibutuhkan pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti kini harus dilakukan Afrika Selatan.

Pemerintah Afrika Selatan menyediakan anggaran sedikitnya 3,7 miliar dolar AS untuk Piala Dunia 2010. Namun harian Prancis, Le Monde, yakin ongkos sebenarnya bisa mencapai 8 miliar dolar AS (sekitar Rp 86 triliun) –dua kali lipat lebih dari plafon anggaran pendidikan dalam APBN Republik Indonesia 2008.

Itu berarti, Indonesia yang taraf hidupnya tak jauh lebih tinggi di atas Afrika Selatan, harus siap pula dengan investasi sebesar itu. Dan itu pasti akan sangat memberatkan APBN. Sekalipun, misalnya, angka sebesar itu bisa dibagi-bagi dalam beberapa tahun anggaran.

Punya ambisi atau “fantasi” sedahsyat itu, tentunya, sah-sah saja. Tapi, menurut saya, jauh lebih penting membenahi dulu realitas yang kasat mata di hadapan kita.Ketimbang mengalokasikan triliunan rupiah untuk Piala Dunia, lebih berguna menginvestasikannya untuk memprofesionalkan Liga Indonesia. Sehingga tak ada lagi pemain yang berbulan-bulan tak dibayar gajinya, panitia kejuaraan berutang ratusan juta kepada pengelola hotel, atau pemain asing mengadu ke FIFA lantaran hak-haknya diabaikan.

Seperti halnya para pengurus PSSI, saya juga punya mimpi melihat tim nasional kita tampil di Piala Dunia. Tapi lewat perjuangan melalui kualifikasi Zona Asia –bukan mencari jalan “gratisan” lewat jalur “tuan rumah” yang kelak akan menyusahkan perekonomian negara. ***
(Tulisan ini pernah dimuat di TopSkor, 2 Februari 2009)

Rabu, Januari 07, 2009

Sudahkah Pemain Kita Sadar Nutrisi?

COBA bikin jajak pendapat kecil-kecilan di kalangan pemain Liga Indonesia –ISL maupun Divisi Utama. Mintalah para pemain menyebutkan tiga jenis makanan yang relatif paling sering mereka santap dalam sepekan?

Jangan kaget kalau Anda akan mendapatkan jawaban yang mengejutkan. Saya yakin sekali nama mi instan, “gorengan”, dan mi bakso kuah akan menempati urutan lumayan tinggi dalam hasil survei tersebut. Nama lain yang ikut terjaring sangat mungkin adalah siomay, es campur, ketoprak, bubur ayam, dan sejumlah “jajanan” lainnya.

Ya, begitulah memang realitas sepak bola kita. Jangan pernah membayangkan dalam kehidupan sehari-harinya para pemain kita terbiasa menyantap makanan dengan standar nutrisi tinggi. Apalagi menjalani menu dengan rujukan diet ketat ala para bintang sepak bola Liga Italia Seri A.

Kesadaran akan pentingnya asupan makanan “berkualitas” memang belum tumbuh di kalangan pesepak bola kita. Bahkan sebagian besar klub juga tak menempatkan ahli gizi yang kompeten untuk menyelia menu makanan selama pemain tinggal di mes, misalnya.

Porsi makan pemain kita umumnya memang besar –bukan rahasia lagi. Sayangnya, baru sekadar besar porsinya namun belum padat nutrisi. Padahal, menyantap makanan yang salah dapat memengaruhi performa pemain.

Menurut sejumlah jurnal ilmiah yang pernah saya baca, dua atau tiga hari menjelang pertandingan, sebaiknya pemain banyak mengonsumsi makanan yang kaya karbohidrat. Lalu, 24 jam sebelum pertandingan, jauhi gorengan dan makanan berlemak lainnya. Hindari juga makanan dengan bumbu yang terlalu menyengat.

Untuk menjaga “kenyamanan” perut, sebaiknya makanan terakhir dikonsumsi pemain 3-4 jam sebelum pertandingan. Juga harus dipastikan bahwa mereka cukup minum supaya tidak mengalami dehidrasi sebelum, selama, dan setelah pertandingan.

Setelah pertandingan, makanan yang kaya karbohidrat boleh sesegera mungkin dikonsumsi. Sekitar 50 gram karbohidrat sebaiknya dikonsumsi dalam dua jam setelah pertandingan guna membantu tubuh memulihkan cadangan glycogen.

Bila seminggu usai pertandingan si pemain tak harus menjalani pertandingan berikutnya disarankan untuk menyantap makanan yang kaya protein (hewani) tapi tetap rendah lemak. Hal in penting agar tubuh bisa menyimpan kalori dari makanan berkabohidrat kompleks. Pemain setidaknya membakar 1.700 kalori per pertandingan sedangkan tubuh hanya mampu menyimpan 600 kalori per harinya.

Makanan kaya karbohidrat adalah sumber utama kalori dalam menu diet pemain. Karbohidrat yang dimaksud adalah karbohidrat kompleks yang harus seimbang dengan protein. Karbohidrat seperti itu mudah didapat dari sayuran dan buah-buahan.

Jangan lupa, cairan yang hilang dari tubuh selama menjalani pertandingan atau latihan keras harus segera digantikan. Sebagai patokan, bila berat tubuh berkurang 1 kg selama masa latihan itu berarti hilangnya cairan dalam tubuh sekitar 1 liter.

Patokan yang kedua adalah bila air seni berwarna lebih gelap itu berarti tubuh sedang kekurangan cairan. Karena itu, saat pemain merasa haus, segeralah minum. Minuman khusus untuk olah raga bisa jadi pilihan yang baik. Di samping itu, jus buah murni tanpa gula juga sangat baik untuk menjadi pengisi cairan tubuh.

Namun pemain tidak disarankan untuk minum sekaligus dalam jumlah banyak karena berpotensi mengakibatkan sakit perut. Lebih baik sedikit demi sedikit tapi sering. Anda yang kebetulan masih jadi pemain aktif, silakan mencobanya! *

Selasa, Januari 06, 2009

APBD untuk Persik: Langkah Berani atau “Bunuh Diri”?

HAMPIR dua pekan saya “lupa” mengurusi blog ini karena menjalani rutinitas “kesibukan” akhir tahun yang padat. Dari urusan pekerjaan di kantor hingga menjalani tur ke Jawa Tengah bersama anak-anak saya yang sedang menikmati liburan sekolah.

Tepat ketika memutuskan harus kembali mengisi blog ini, saya dikejutkan oleh sebuah berita menarik dari Jawa Timur. DPRD Kota Kediri baru saja mengesahkan kucuran dana Rp 12,5 miliar dari APBD tahun anggaran 2009 untuk modal Persik mengarungi sisa musim kompetisi 2008/2009.

Ini sebuah keputusan yang sungguh berani dari para wakil rakyat “Kota Tahu”. Bayangkan, Rp 12,5 miliar! Itu bukan uang sedikit. Apalagi pada tahun anggaran 2008, Persik juga sudah menikmati kucuran dana Rp 7,5 miliar. Bukannya berkurang, justru makin besar anggaran yang tersedot untuk “Tim Macan Putih” itu.

Yang jadi masalah, saat ini Pemerintah masih “melarang” pemanfaatan anggaran dalam APBD untuk pendanaan tim sepak bola. Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13/2006 yang direvisi menjadi Permendagri Nomor 59/2007.

Ketentuan itulah yang membuat sejumlah tim mengalami “sesak napas” pada paruh pertama ISL musim 2008/2009. Tim sebesar Persija Jakarta saja sempat mengalami keterlambatan pembayaran gaji. Apalagi tim dengan modal pas-pasan semacam Persitara, PSIS Semarang, atau Persijap Jepara.

Kalangan DPRD Kota Kediri berargumen bahwa pengucuran dana APBD itu tak menyalahi aturan. Pasalnya pemberiannya dilakukan melalui mekanisme dana hibah, melalui satuan kerja di Lingkungan Pemerintah Kota Kediri. Lebih jelasnya, KONI Kota Kediri yang jadi pelaksana pengucuran dana tersebut.

Bagi saya, ini menarik. Sebab mekanisme dana hibah itu argumen lama yang belakangan diragukan sendiri oleh kalangan Pemerintah Daerah. Atas dasar keragu-raguan itulah sejumlah daerah jadi enggan –atau bermain “kucing-kucingan”— dalam mengucurkan dana APBD untuk tim sepak bolanya.

Dugaan saya, kalangan DPRD Kota Kediri berani menerobos keragu-raguan itu karena melihat celah dalam Permendagri tersebut. Saya masih ingat, dalam “Lokakarya Pembiayaan Sepak Bola” di Surabaya, medio September lalu, muncul keyakinan bahwa Permendagri 59/2007 tidak sepenuhnya melarang sepak bola. Hanya saja, penggunaannya harus memperhatikan asas rasionalitas dan jumlahnya diharapkan semakin mengecil dari tahun ke tahun.

Celah itu terasa makin menganga jika kita mencermati pasal 42 ayat (4a) Permendagri 59/2007 yang mengatur tentang belanja hibah. Klausul itu berbunyi, “Belanja hibah diberikan secara selektif dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah, rasionalitas, dan ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.”

Dari perspektif politik, bunyi ketentuan jelas menguntungkan bagi klub sepak bola. Sebab, klub sepak bola –terutama perserikatan— umumnya dipimpin oleh kepala daerahnya masing-masing. Dan, diakui atau tidak, klub-klub tersebut telah menjadi sayap politik kepala daerah dalam meraih atau mempertahankan dukungan khalayak.

Persoalannya kemudian, ada ketentuan lain yang berkaitan dengan urusan hibah APBD ini. Ada Peraturan Pemerintah Nomor 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang melarang hibah dan bantuan sosial diberikan secara berulang-ulang. Semangat PP Nomor 58/2005 ini jelas sekali: tidak menghendaki pembiayaan klub sepak bola melalui dana APBD.

Publik, kalangan anggota dewan, serta para pejabat Pemda boleh saja bingung terhadap Permendagri 59/2007 yang terkesan ambigu dan bertentangan dengan aturan hukum di atasnya itu. Namun, satu hal yang pasti, secara hirarki PP Nomor 58/2005 lebih tinggi kedudukannya dibanding Permendagri 59/2007.

Jadi, menurut Anda, keberanian DPRD dan Pemkot Kediri itu sebuah terobosan atau pada akhirnya akan menjadi langkah “bunuh diri”? *

Senin, Desember 15, 2008

Mengalahkan Thailand Bukan Beban

MINGGU pagi kemarin, saya diundang hadir di acara Apa Kabar Indonesia (Akhir Pekan) yang ditayangkan stasiun televisi tvOne. Setelah malam sebelumnya tampil dalam siaran langsung Liga Primer, menghadiri acara sepagi ini jelas cukup “menyiksa” mata saya. Tapi, setelah syutingnya berjalan, rasa kantuk itu perlahan hilang dan berganti semangat yang menyala-nyala.

Bagaimana tidak, yang jadi topik adalah laga semifinal pertama Piala AFF di Stadion Utama Gelora Bung Karno, besok malam. Tim nasional Indonesia bakal menjamu musuh bebuyutannya, Thailand, pada leg pertama. Sebelum melakoni laga tandang di Phuket, empat hari kemudian.

Tak dinyana, obrolan yang seperti “preview” pertandingan itu ternyata jadi ajang unjuk optimisme yang menggebu-gebu. Mantan pemain seperti Yeyen Tumena, Venard Hutabarat, hingga para suporter tim nasional semua mengumbar keyakinan bahwa kita bakal mampu menggilas Thailand. Kalau tidak 2-0, minimal 2-1!

Terbawa oleh suasana, saya pun memupuk keyakinan serupa dengan rekan-rekan saya ini. Saya bilang, untuk laga pertama di Jakarta, kita harus yakin bisa menang. Tinggal memikirkan bagaimana caranya menghadapi laga berikutnya di Bangkok.

Moga-moga saja, keyakinan kami semua tidak menjadi beban bagi Charis Yulianto dan kawan-kawan saat memasuki lapangan nanti. Sebab, konon, salah satu “penyakit” pemain kita, semakin diyakini menang justru makin kehilangan kepercayaan diri dan permainan terbaiknya.

Di Senayan, besok malam, saya ingin melihat Charis dan kawan-kawan main lepas seperti saat duel pertama penyisihan Grup A lawan Myanmar, 5 Desember lalu. Bagi saya, itulah penampilan terbaik kita sejauh ini di Piala AFF 2008.

Yang menarik, para pemain kita bisa tampil bagus justru karena beban mental yang lebih ringan. Dua kali kekalahan di ajang “pemanasan” Grand Royal Challenge Cup membuat “Tim Merah Putih” tampil lebih rileks meladeni Myanmar. Hasilnya, mereka menang 3-0 dengan permainan yang meyakinkan.

Pada laga berikutnya, saat semua pihak yakin kita bakal “melumat” Kamboja, pertandingan justru jadi lebih sulit. Kita hanya bisa mencetak satu gol pada babak pertama sebelum menambah tiga lagi pada paruh kedua. Itu pun lebih banyak karena permainan dan kematangan individual para penyerang kita.

Puncaknya adalah perebutan posisi teratas Grup A. Keyakinan dan harapan publik yang sangat menggebu membuat tim asuhan Benny Dollo malah gugup dan akhirnya menyerah 0-2. Menariknya, dua gol Singapura masing-masing dicetak pada awal babak pertama dan kedua saat pemain kita seperti masih sibuk merapatkan barisan.

Saya pun jadi “menyesali” harapan saya yang terlalu menggebu-gebu menjelang laga semifinal ini. Terbayang betapa beratnya beban mental yang kini disandang Firman Utina dan kawan-kawan menghadapi permainan cepat Teerasil Dangda dan kawan-kawan.

Kalau begitu, mungkin sebaiknya saya kembali saja ke “semangat” Piala Asia 2007. Saat itu, saya tak mengharapkan kemenangan dari tim nasional kita. Bukan meremehkan, melainkan karena saya menyadari benar posisi kita di peta persepakbolaan Asia.

Saat itu, saya hanya berharap mereka main penuh semangat, berjuang sampai menit terakhir, sehingga –apapun hasilnya— tidak bikin malu bangsa Indonesia. Hasilnya, mereka tampil dengan permainan terbaik yang pernah kita lihat dalam satu dekade terakhir.

Hanya saja, tak seperti Piala Asia, di ajang sekelas Piala AFF hasil akhir tentunya juga penting. Karena inilah barometer paling pas untuk memetakan posisi kita di tingkat regional. Jadi, apa boleh buat, “terpaksalah” kali ini saya pun menuntut para pemain kita untuk tampil gigih sekaligus menang! Tolong, jangan anggap ini sebagai beban….
(Tulisan ini pernah dimuat di TopSkor, 15 Desember 2008)

Selasa, Desember 02, 2008

Menunggu Hasil “Renungan” Nurdin Selama 14 Bulan di Salemba

MESTINYA, ini menjadi “kabar gembira” bagi seluruh insan sepak bola Indonesia. Hore, PSSI kembali memiliki ketua umum dalam arti yang sebenarnya setelah Nurdin Halid dibebaskan dari Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (27/11) lalu.

Praktis, selama 14 bulan terakhir ini, sepak bola Indonesia seperti kehilangan muka di pentas pergaulan dunia. Betapa tidak, Nurdin yang jadi orang nomor satu di PSSI malah meringkuk di balik terali besi akibat kasus penyelewengan subsidi minyak goreng.

Pada 17 September 2007, Mahkamah Agung memvonis Nurdin dengan hukuman dua tahun penjara dan denda Rp 30 juta subsider enam bulan kurungan. Dia dinyatakan bersalah dalam pendistribusian minyak goreng Bulog senilai Rp 169,7 miliar saat menjabat sebagai Ketua Umum Koperasi Distribusi Indonesia.

Sepanjang masa itu pula, sepak bola Indonesia seperti perahu yang berlayar mengarungi badai. Guncangan dan hantaman ombak silih berganti. Konflik dan polemik tiada henti. Sampai-sampai Menegpora Adhyaksa Dault meminta Nurdin secara ksatria mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PSSI demi kemajuan sepak bola nasional.

Permintaan Adhyaksa kala itu dilontarkan seiring datangnya tekanan dari FIFA terhadap legitimasi kepemimpinan Nurdin. FIFA juga menyoal sejumlah pasal dalam statuta PSSI yang tidak memenuhi Standar Statuta FIFA. Makanya, isu Munaslub sempat menggelinding kencang.

Hebatnya, Nurdin sama tak terusik oleh semua itu. ”Tidak ada munaslub dalam waktu dekat. Komposisi pengurus atau apa pun tidak perlu diubah, kecuali pada Munas 2011. Semuanya tetap berjalan sampai akhir periode,” kata Nurdin menanggapi semua itu (Kompas.com, 27/2/2008).

Dan, sejauh itu pula, Nurdin sanggup membuktikan pernyataannya itu. Tak ada Munaslub, tak ada perubahan komposisi anggota Komite Eksekutif, apalagi pergantian Ketua Umum PSSI!

Kiranya, dengan jujur kita harus mengakui bahwa Nurdin memang sosok yang “luar biasa”. Kesanggupannya mempertahankan jabatan ketua umum dari balik terali besi saja sudah menggambarkan keuletan dan daya cengkeramnya terhadap seluruh jajaran pengurus PSSI di pusat maupun daerah.

Dengan segala keluarbiasaannya itu, saya berharap pengalaman 14 bulan di Rutan Salemba “melewati malam-malam sunyi dan sendiri” memberi Nurdin waktu yang cukup untuk merenung. Ya, merenungkan kembali banyak hal tentang dirinya, keluarga, usaha, karier politik, serta –tentu saja— posisinya di PSSI.

Isyarat awal yang positif sudah dikemukakan Kadir Halid, adik kandung Nurdin. Menurut Kadir, kakaknya tak mau lagi masuk dalam wilayah politik praktis apalagi menjadi anggota DPR.

Jika benar demikian, itu sudah awal yang sangat baik. Selanjutnya, saya berharap Nurdin juga tergerak hatinya untuk tak mau lagi masuk dalam wilayah sepak bola praktis, apalagi menjadi Ketua Umum PSSI. Fokus hanya mengurusi bisnis dan keluarga mungkin akan jauh lebih bermakna bagi dirinya.

Tekad itu, semoga saja, datang dari hati nuraninya yang terdalam –bukan karena tekanan FIFA maupun Menegpora. Sehingga proses penyempurnaan statuta dan kemudian disusul pergantian ketua umum PSSI bisa berjalan lancar, terhormat, dan diakui legitimasinya.

Kita tunggu saja bagaimana hasil perenungan “Puang” selama menjalani hari-hari yang panjang di Salemba. Yang pasti, kita tentunya berharap itu semua membawa kebaikan bagi persepak bolaan nasional. *

Senin, Desember 01, 2008

Ironi Rasionalisasi Gaji Pemain

SALEH Ismail Mukadar akhirnya bertemu Bejo Sugiantoro dan kawan-kawan. Setelah sekian lama, Ketua Umum Persebaya Surabaya itu akhirnya “menemukan” waktu luang yang tepat untuk bertemu para pemainnya sendiri, Jumat (28/11) lalu. Itulah pertemuan yang sudah lama dinantikan para pelatih dan pemain “Tim Bajul Ijo”. Bahkan sempat diwarnai aksi gebrak meja oleh pelatih Freddy Mulli yang kehilangan kesabaran menghadapi persoalan internal timnya.

Sedikit aneh tapi nyata, memang. Tapi begitulah adanya. Keinginan para pemain dan pelatih Persebaya untuk bertemu langsung dengan ketua umumnya sendiri begitu sulit diwujudkan. Bahkan ada kesan para pengurus teras klub asal ibukota Jawa Timur itu ramai-ramai menghindar.

Tapi sikap Saleh dan pengurus Persebaya bisa dimengerti. Memang sulit harus bertemu pemain dan pelatih manakala gaji mereka belum terbayarkan. Lebih sulit lagi karena manajemen tim berseragam hijau-hijau itu harus menjelaskan pula alasan mereka merasionalisasi gaji pemain.

Ya, Persebaya memang menjadi tim kesekian yang menerapkan kebijakan rasionalisasi gaji. Inilah langkah tidak populer yang sedang menjadi “tren” di kalangan klub-klub Liga Indonesia –ISL maupun Divisi Utama— dan pada awalnya diterapkan di Persik Kediri.

Tidak hanya Persebaya dan Persik yang mencanangkan rasionalisasi gaji pemain. Kebijakan serupa juga sudah dijalankan tim-tim lain, seperti PSS Sleman dan PSM Makassar. Bahkan, tak mustahil, Persitara atau tim mapan seperti Persib Bandung pun pada akhirnya mengikuti. Apalagi Badan Liga Sepak Bola Indonesia sudah “merestui” dan menganjurkan langkah ini.

Bukan berarti tim-tim lain yang tak menerapkan rasionalisasi lebih baik kondisinya. Pemain Persibom, contohnya, sudah dua bulan ini gajinya selalu terlambat. “Tim Macan Kemayoran” Persija juga baru bisa melunasi uang panjar dan tunggakan tiga bulan gaji pemainnya pada awal pekan lalu.

Yang agak ekstrem Persikota. Ketua Umum Wahidin Halim bahkan menegaskan bahwa isu pembubaran timnya bukan sekadar wacana, melainkan sudah dipikirkan secara matang. Sebab kebutuhan tim per musim mencapai Rp 12 miliar, sedangkan pendapatan dari sponsor hanya Rp 1,2 miliar. Suntikan dana dari APBD sulit diharapkan karena terganjal Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Begitu pelik, memang, problematika finansial yang dihadapi klub-klub kita. Sebab, jujur saja, saat ini tak ada klub yang bisa menghidupi dirinya secara profesional. Dalam arti, seluruh pengeluarannya bisa dibiayai oleh dana yang masuk hasil pencarian sponsor, penjualan tiket masuk, jual-beli pemain, dan usaha-usaha lain yang sah.

Bagi klub seperti Arema Malang atau PKT Bontang, pembiayaan klub bisa dimasukkan dalam pos anggaran promosi atau biaya sosial yang setiap tahun memang dikeluarkan oleh perusahaan sponsornya. Tapi tidak demikian bagi tim semacam Persik atau Persebaya. Dana APBD masih menjadi “dewa penolong” bagi tim-tim seperti ini.

Maka, ketika keran APBD tersumbat, kucuran gaji dan pembayaran kontrak pemain pun ikut terhambat. Dan ketika kepastian tentang perolehan dana APBD tak kunjung datang, konsekuensinya ya rasionalisasi gaji atau bubar!

Inilah realitas buram sepak bola Indonesia. Dengan bangga kita bisa mengirimkan Sriwijaya FC (SFC) sebagai satu-satunya wakil ASEAN di babak utama Liga Champions Asia 2009. Tampilnya SFC adalah refleksi pengakuan AFC terhadap “kualitas” kompetisi kita –peringkat kedelapan menurut penilaian mereka.

Namun, di sisi lain, kemegahan kompetisi kita sesungguhnya dibangun di atas fondasi yang rapuh. Bahkan untuk sekadar mengarungi satu musim kompetisi, sebagian besar klub tak punya “business plan” yang matang. Sehingga, ketika berhadapan dengan krisis, mereka akhirnya harus berlindung di balik kebijakan semacam rasionalisasi gaji atau pembubaran tim yang sesungguhnya menggambarkan ketidak profesionalan mereka. ***
(Tulisan ini pernah dimuat di TopSkor, 1 Desember 2008)

Senin, November 24, 2008

Kasus Gallas, Ujian Kepemimpinan Wenger

LIGA Primer pekan ini memberi satu pelajaran menarik tentang kepemimpinan dalam manajemen tim. Lebih spesifik lagi, tentang pergulatan menghadapi krisis kepemimpinan di tim sepak bola profesional sekelas Arsenal.

Krisis di Arsenal itu “dipicu” kebiasaan buruk kapten kesebelasan William Gallas bicara terlalu blak-blakan. Tanpa sungkan, ia kerap melontarkan kritik terbuka kepada para juniornya, seperti Theo Walcott, Cesc Fabregas, Nicklas Bendtner, dan belakangan Samir Nasri.

Tanpa tedeng aling-aling, ia juga mencemooh mental dan semangat bertanding rekan-rekannya usai kalah 0-2 dari Aston Villa. Gallas menuding para koleganya kurang berani bertarung di lapangan, khususnya saat menghadapi tim-tim yang secara kualitas sebenarnya di bawah Arsenal. “Kami harus lebih bersikap sebagai pejuang. Hanya dengan cara itulah tim ini bisa bekerja dan menunjukkan karakter serta pengalamannya,” Gallas menyindir.

Di sisi lain, Gallas mengungkapkan pula bahwa sebagian bintang muda Arsenal dinilainya mulai bersikap jemawa. Mereka kurang menghormati posisi dirinya sebagai kapten, bahkan tak menunjukkan respek yang cukup terhadap para pemain senior lainnya.

Puncak kebablasan Gallas ditunjukkan dengan keberaniannya menunjuk hidung pemain yang disebutnya “kurang ajar” kepada dirinya saat jeda laga melawan Tottenham Hotspur. Meski tak menyebut nama, ia memberi isyarat jelas bahwa usia pemain tersebut lima tahun lebih muda ketimbang dirinya. Hanya ada tiga nama dalam kategori itu: Robin van Persie, Bacary Sagna, dan Emmanuel Eboue.

“Tim Gudang Peluru” itu pun “kebakaran jenggot”. Pelatih Arsene Wenger murka, para bintang Arsenal tempo dulu kecewa, dan publik Emirates pun meradang. Dengan berat hati, Wenger harus mencoret nama Gallas dari tim yang dibawanya melawat ke kandang Manchester City.

Sampai di situ, fungsi kepemimpinan masih berjalan sempurna. Wenger tetap mengendalikan tim dengan baik dan “The Gunners” masih berjalan di relnya. Sampai kemudian pukulan telak datang ketika Arsenal tanpa Gallas digilas habis 0-3 oleh Manchester City.

Pada titik inilah problematika kepemimpinan mulai muncul. Keputusan Wenger “memecat” Gallas –meskipun mungkin hanya sementara— memang mampu mengakomodasi harapan para pengikutnya, yakni pemain lain dan publik Emirates. Itulah aplikasi teori (salah satu) sifat kepemimpinan menurut Keith Davis.

Masalahnya kemudian, kebijakan yang akomodatif tak selalu efektif. Seperti tampak dalam kasus Gallas ini. Tanpa bek tangguh asal Prancis itu, lini pertahanan Arsenal jadi rapuh, kurang koordinasi, bahkan jadi titik lemah sistem permainan tim secara keseluruhan.

Di sinilah Wenger menghadapi ujian berat sebagai pemimpin pasukan dari London utara itu. Sebab, lagi-lagi menurut Davis, pemimpin yang baik juga harus bisa menunjukkan satu sifat penting lainnya untuk mencapai keberhasilan. Tak sekadar mengikuti, ia juga harus memiliki kecerdasan lebih dibanding pengikutnya.

Syukurlah, Wenger memiliki sifat-sifat tersebut. Setelah dikalahkan City, ia langsung menyatakan bahwa Gallas masih punya masa depan di Arsenal. Syaratnya, kata Wenger, ia harus berani meminta maaf kepada rekan-rekan setimnya.

Itu keputusan yang sangat cerdas dari pelatih yang memang punya julukan “Profesor” itu. Di satu sisi, Wenger bisa mempertahankan Gallas yang sejujurnya masih sangat dibutuhkan timnya. Di sisi lain, ia juga tak kehilangan muka di mata pemain lain.

Secara tak langsung, Wenger juga memberi pembelajaran yang sangat baik kepada Gallas soal kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin bisa saja membuat kesalahan kecil, namun ia tak perlu “dipancung” karena kesalahan semacam itu. Cukup dengan menyadari kesalahannya sehingga ia bisa menjadi pemimpin yang lebih baik. Kapten Gallas yang jadi lebih bijak dan dewasa jauh lebih menguntungkan Arsenal ketimbang harus kehilangan dia sama sekali. ***
(Tulisan ini pernah dimuat di TopSkor, edisi 24 November 2008)

Selasa, November 18, 2008

Bilardo, Maradona, dan Filosofinya

ADA satu cerita menarik ketika Carlos Bilardo memulai tugasnya sebagai pelatih tim nasional Argentina pada Januari 1983. Anda tahu, apa kegiatan pertama yang dilakukannya saat itu? Ya, benar: menemui Maradona!

Bilardo langsung memesan tiket penerbangan pertama ke Spanyol. Ia kemudian bergegas menuju markas Barcelona, klub tempat Maradona bernaung kala itu.

Tanpa sungkan, Bilardo menyatakan kepada Maradona bahwa ia membutuhkan tenaganya. Ia juga meminta kesediaan Maradona menjadi kapten tim “Argentina baru” yang hendak dia bangun.

Padahal, saat itu, karier Maradona agak terseok-seok di Barcelona. Salah satunya karena problem penyakit hepatitis yang sempat menyerangnya. Belum lagi permainan kasar yang dikembangkan para pemain belakang Spanyol membuatnya berkali-kali cedera.

Pengalaman tampil di Piala Dunia 1982 juga ikut mempengaruhi. Piala Dunia pertama bagi “El Pibe de Oro” itu berakhir cukup tragis. Argentina langsung tersingkir di penyisihan grup dan Maradona diusir wasit karena menendang pemain Brasil, Batista.

Toh, semua itu tak mengubah keyakinan Bilardo terhadap Maradona. Nalurinya mengantarkan dirinya kepada keyakinan yang teguh bahwa Madarona adalah sumber kekuatan yang dia butuhkan untuk membangun kembali “Tim Tango”.

Kepercayaan yang luar biasa itulah yang membuat Maradona terharu. Dengan serta-merta, ia menyambut uluran tangan Bilardo dan mengikrarkan pengabdian sepenuh hati. Dan kisah selebihnya, tinggal sejarah yang sudah kita ketahui bersama.

Satu pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisah Bilardo dan Maradona ini adalah pentingnya kepercayaan. Sebuah sukses besar ternyata bisa dimulai dengan modal utama kepercayaan seorang pelatih terhadap pemainnya.

Kepercayaan itulah yang membuat Maradona selalu tampil habis-habisan –bahkan “gila-gilaan”— untuk Argentina. Sebuah kombinasi yang hampir sempurna antara kemauan, kelicikan, kejeniusan, sekaligus kerja keras.

Saya masih ingat betul bagaimana Maradona menjelaskan filosofi bermainnya untuk tim nasional. “Hal pertama yang saya yakinkan terhadap diri sendiri adalah kesadaran bahwa membela tim nasional merupakan hal terpenting di dunia ini,” kata Maradona dalam otobiografinya. “Jika kami harus menempuh perjalanan ribuan dan ribuan kilometer, lakukan. Jika kami harus melakoni empat pertandingan dalam sepekan, mainkan. Jika kami harus tinggal di hotel kecil sehingga anggota tim harus terpisah-pisah, terimalah… Segalanya, segalanya untuk tim nasional, untuk bendera biru dan putih.”

Saya masih sering merinding setiap kali membaca kembali filosofi Maradona ini. Begitu jelas, lugas, tegas, dan sepenuhnya ia jalani dengan tindakan nyata. Itulah yang membuatnya begitu dicintai publik sepak bola Argentina –bahkan mungkin dunia.

Alangkah indahnya jika para pemain tim nasional Indonesia juga mengetahui dan kemudian mengikuti filosofi Maradona tersebut. Mungkin “Tim Merah Putih” tetap tak bisa sehebat Argentina, tapi saya yakin bisa jauh lebih baik dibanding sekarang. *

Senin, November 17, 2008

“Peran Makelele” untuk Arsenal

ADA ribuan bahkan mungkin jutaan kalimat yang pernah dikutip pers dari Florentino Perez selama era kepemimpinannya di Real Madrid pada 2000-2006. Sebuah era yang akan selalu dikenang sebagai salah satu periode keemasan Madrid dengan konsep “galacticos”-nya.

Namun, bagi saya, ada sejumput kecil pernyataannya yang begitu melekat dan sulit hilang dari ingatan. Kalimat-kalimat itu diutarakannya menanggapi kepergian gelandang Claude Makelele ke Chelsea menjelang musim 2003/2004. Setelah Madrid menampik permohonan kenaikan gaji yang diajukan gelandang asal Prancis itu.

“Kami tak akan kehilangan Makelele. Teknik bermainnya hanya rata-rata, ia juga tak punya kecepatan dan
skill untuk melewati pemain lawan. Hampir 90 persen umpannya hanya terarah ke belakang atau samping. Ia pun tak pernah menyundul bola dan sangat jarang mengirim umpan lebih dari tiga meter. Para pemain muda akan datang dan Makelele akan terlupakan.”

Ya, para pemain muda kemudian memang datang dan menjadi anggota skuat baru “Los Merengues”. Namun benarkah Makelele kemudian terlupakan?

Ternyata, tidak sama sekali. Kepindahan ke London tak membuat karier Makelele terpuruk. Sebaliknya, ia menjadi salah satu kunci kebangkitan Chelsea sebagai kekuatan baru di Eropa. Ia ikut membawa “The Blues” dua kali juara Liga Primer, meraih tiga trofi domestik, dan mencapai final Liga Champions musim lalu.

Sebaliknya, sepeninggal Makelele, Madrid justru mengalami era kemunduran. Kedatangan si ganteng David Beckham hanya memperbanyak penjualan kostum. Tapi gagal membantu Madrid mempertahankan –apalagi meningkatkan— performanya.

Saat itulah, banyak pelaku dan pengamat sepak bola mulai menyadari akan pentingnya peran yang dimainkan Makelele untuk tim. Ia mengemban tugas tak populer –bahkan mungkin membosankan— sebagai orang yang selalu teguh berdiri di batas tipis antara zona serangan dan zona pertahanan.

Saat tim kehilangan bola, para pemain belakang serentak mundur seraya berharap Makelele menahan laju serangan atau bahkan merebut bola dari kaki lawan. Sebaliknya, saat tim berbalik menyerang dan semua pemain berebut memasuki pertahanan lawan, mereka juga berharap Makelele yang menjemput bola dari lini pertahanan dan mengantarkannya ke depan.

Itulah fungsi yang sekarang banyak ditafsirkan secara sederhana sebagai peran gelandang bertahan. Meskipun ada juga yang menyebutnya dengan istilah lain: gelandang jangkar, libero midfielder, atau –menurut Rafael Benitez, pelatih Liverpool— holding midfielder.

Apapun namanya, yang jelas, Makelele telah memberi penafsiran baru tentang keragaman fungsi dalam permainan. Ia begitu sukses melakoni sebuah fungsi yang mulanya dianggap sebelah mata namun kini justru sangat disegani. Fungsi itu oleh banyak pihak kini akrab disebut “peran Makelele”.

Liverpool berani membayar 18,6 juta pound untuk mendapatkan Javier Mascherano yang melakoni peran Makelele di Anfield. John Obi Mikel yang kini menggantikan tugas Makelele di Chelsea, juga harus ditebus 16 juta pound dari Lyn Oslo.

Nah, peran Makelele itulah yang kini jadi “missing link” di Arsenal. Makanya, meski bertabur pemain dengan talenta hebat, permainan “The Gunners” cenderung labil. Bisa main luar biasa untuk membungkam Manchester United, tapi kemudian tak berdaya menghadapi Aston Villa.

Arsenal beruntung punya gelandang brilian Cesc Fabregas. Tapi umpan terobosan dan visi bermainnya yang luar biasa itu kini tersia-siakan oleh kesibukan membantu pertahanan yang tak bisa dijalani dengan baik oleh Denilson atau Alexandre Song Billong. Tanpa bola-bola maut dari Fabregas, ketajaman Emmanuel Adebayor pun jadi berkurang.

Arsene Wenger mungkin tak bermaksud mengulangi arogansi Perez ketika membiarkan Mathieu Flamini dan Gilberto Silva hengkang pada akhir musim lalu. Tapi, jika ia tak cepat menyadari absennya “peran Makelele” dalam timnya, “Sang Profesor” mungkin bisa senasib dengan Perez –terdepak dari Stadion Emirates. ***

(Tulisan ini pernah dimuat TopSkor edisi 17 November 2008)

Jumat, November 14, 2008

Bisakah Villa Menahan Laju Arsenal?

(Big Match Liga Primer Pekan Ini di tvOne)
TAYANGAN Liga Primer di tvOne pekan ini, Sabtu (15/11) mulai pukul 20.30 WIB, tak boleh Anda lewatkan. Sebab yang bakal disiarkan langsung adalah laga bigmatch yang sangat menarik. Arsenal, peringkat ketiga yang pekan lalu sukses menjungkalkan juara bertahan Manchester United (2-1), bakal menjamu Aston Villa.

Penggemar Liga Primer tentu tak sabar menantikan aksi para bintang muda “The Gunners” memainkan kembali orkestra sepak bola indahnya. Apalagi setelah tengah pekan ini “tim lapis kedua” Arsenal sukses menjinakkan Wigan 3-0 di ajang Piala Carling. Sementara “The Villans” baru saja mengalami dua kekalahan beruntun dari Middlesbrough dan Newcastle United.

Namun demikian, meski sekarang hanya menduduki peringkat kelima, saya tetap melihat Villa akan menjadi lawan yang alot bagi tim asuhan Arsene Wenger. Salah satu alasannya karena Villa memainkan sepak bola gaya Inggris tradisional yang “kurang bersahabat” bagi permainan indah Arsenal.

Musim ini, sudah tiga kali Arsenal tumbang di Liga Primer. Semuanya dialami saat menghadapi tim dengan karakter pemainan keras, ngotot, disiplin, dan berani berduel. Mula-mula, “Tim Gudang Peluru” itu menyerah 0-1 kepada Fulham pada 23 Agustus, lalu Hull City 1-2 (27 September), dan paling akhir dikalahkan Stoke City 1-2 pada 1 November lalu.

Nah, Villa juga memainkan sepak bola dengan gaya sama seperti Stoke. Tapi mereka memainkannya lebih canggih karena dukungan materi pemain yang lebih berkualitas. Bahkan saya berani bilang bahwa Villa adalah “the best of the rest” alias tim paling bagus kualitasnya di luar “The Big Four” (MU, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool).

Jika Samir Nasri dan Theo Walcott cukup leluasa mengobrak-abrik pertahanan MU dengan modal kecepatan mereka, hal serupa akan sulit terulang esok malam. Villa punya dua full back cepat (Luke Young dan Nicky Shorey) yang akan sanggup meladeni kegesitan Nasri dan Walcott.

Tanpa dominasi di sayap, Arsenal akan dipaksa lebih berani masuk dari lini tengah melalui aksi dan umpan-umpan terobosan Cesc Fabregas. Tapi Fabregas juga tak akan mendapat banyak ruang karena Villa punya gelandang ulet dalam diri Gareth Barry dan Nigel Reo-Coker. Apalagi kondisi fisik keduanya relatif lebih bugar karena tak menjalani laga tengah pekan.

Jika semua pemain Villa tampil disiplin menjalankan strategi serangan balik dan tak terpancing main terbuka, ruang bagi para pemain Arsenal untuk berkreasi akan terasa sempit. Peluang-peluang akan sangat terbatas dan kesempatan para pemain depannya mencetak gol juga menipis.

Di sinilah faktor lini kedua akan menentukan. Fabregas, Denilson, atau Abou Diaby harus lebih agresif dan berani mengambil inisiatif untuk membongkar pertahanan Villa. Tanpa itu, Nicklas Bendtner atau Emmanuel Adebayor akan “terisolasi” di zona pertahanan lawan.

Hasil akhirnya? Saya tetap menjagokan Arsenal, 1-0 atau 2-0. Dengan syarat, jangan biarkan Villa mencuri gol lebih dulu memanfaatkan kecepatan Gabriel Agbonlahor dan Ashley Young. Kalau itu sampai terjadi, William Gallas dan kawan-kawan boleh jadi bakal dipaksa puas dengan hasil imbang –atau bahkan kalah. *

Kamis, November 13, 2008

PSIR Rembang, Stanley Mamuaya, dan Rasa Ikut Berdosa Itu

SATU lagi insiden memalukan terjadi dalam kompetisi sepak bola kita. Kejadiannya di Stadion Gelora Ambang Kota Mobagu, Rabu (12/11), saat Persibom Bolaang Mongondow menjamu PSIR Rembang dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Esia.

Sejumlah pemain PSIR diduga kuat melakukan penganiayaan terhadap wasit Muzair Usman serta wasit cadangan Jusman R yang memimpin pertandingan itu. Seperti “biasa”, gara-gara tidak puas atas kepemimpinan wasit yang dianggap memihak tuan rumah.

Kejadiannya berawal ketika wasit Muzair yang berasal dari Kendari itu memberikan penalti kepada Persibom setelah salah satu pemainnya ditebas pemain PSIR di kotak terlarang. Tidak terima atas keputusan itu, sejumlah pemain PSIR yang dimotori beberapa pemain asal Sulawesi Utara langsung mengerubuti sang pengadil.

Tak sekadar mengerubuti, Stanley Mamuaya dan kawan-kawan juga menghadiahi “bogem mentah” sampai wasit Muzair tersungkur. Belum puas memukul, para pemain PSIR yang seperti kesetanan itu menginjak-injak aparat pertandingan sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena babak belur. Muzair pun tak mampu melanjutkan tugas dan digantikan wasit cadangan Jusman.

Kejadian serupa nyaris menimpa wasit pengganti. Ia dikejar dan sempat ditelanjangi di tengah lapangan setelah memberikan kartu merah kepada dua pemain PSIR yang melakukan pelanggaran keras, Stanley dan Yongki Rantung. Pertandingan pun sempat terhenti beberapa kali. Sampai akhirnya ditutup dengan keunggulan Persibom 1-0 atas tim asal Jawa Tengah tersebut.

Bukan hasil akhirnya yang penting, namun insiden penganiayaan itu yang kemudian mencuat. Sampai-sampai Menegpora Adhyaksa Dault mengaku geram saat melihat tayangan peristiwa pengeroyokan itu di salah satu televisi swasta.

Adhyaksa meminta agar para pelakunya diseret ke jalur pidana karena aksi mereka dinilainya sudah menjurus kepada penganiayaan dan tindakan brutal. Bahkan ia juga mengharapkan agar pelaku pengeroyokan wasit itu dilarang main bola selamanya, karena mereka telah merusak citra sepak bola Indonesia.

Meskipun terdengar sangat keras, saya kira harapan Menegpora ada benarnya. Aksi Stanley dan kawan-kawan di Stadion Gelora Ambang memang sudah di luar batas kewajaran. Bahkan seperti memutarbalikkan logika akal sehat kita.

Betapa tidak. Mereka main di kandang lawan, tapi perilakunya melebihi kebiasaan para pemain tuan rumah. Stanley itu juga pemain senior yang sarat pengalaman dan pernah masuk tim nasional futsal, tapi tak bisa menjadikan dirinya teladan bagi para juniornya.

Yang menyedihkan, keberanian Stanley dan kawan-kawan ditunjukkan saat Komisi Disiplin PSSI tengah gencar-gencarnya menjatuhkan vonis. Dari Christian Gonzalez, Budi Sudarsono, Manajer PSIS, hingga Ketua Umum Persis Solo semua sudah “tersambar” ketukan palu Komdis. Tapi masih juga Stanley dan kawan-kawan nekat menunjukkan kebrutalannya.

Yang paling menyedihkan, dan ini sangat personal sifatnya, saya mengenal Stanley secara pribadi. Bahkan kami pernah main bola bersama-sama dalam satu tim, pertengahan Mei tahun lalu, di lapangan bola di belakang Kantor Walikota Tomohon, Sulawesi Utara.

Ketika itu, Stanley sempat meminta saya membantu dia mencarikan klub. Tapi saya hanya menjawabnya dengan senyum karena melihat perutnya saat itu mulai membuncit. Kegesitannya di lapangan juga sudah menurun. Belum lagi riwayat cederanya yang lumayan panjang.

Lebih dari itu, saya juga ingat cerita teman saya yang pernah jadi manajer klub tempat Stanley bermain. Menurut teman saya ini, ia nyaris memecat Stanley kala itu karena alasan indisipliner dan perilakunya yang sulit dikendalikan.

“Syukurlah”, saya tak pernah memenuhi permintaan Stanley untuk mendapatkan klub. Jadi, saya tak perlu merasa ikut berdosa kepada wasit Muzair dan Jusman. *

Selasa, November 11, 2008

Laskar Pelangi di Dunia Sepak Bola

ANDA sudah nonton film Laskar Pelangi? Saya kira, kita semua sepakat bahwa film yang bagus sekaligus menghibur ini memberikan pembelajaran yang sangat berharga dalam hal pendidikan.

Tapi sebenarnya pesan moral film ini bisa dimaknai lebih luas lagi. Laskar Pelangi sebenarnya juga memberi pembelajaran bagi dunia sepak bola.

Seorang anak bernama Lintang, yang dikisahkan mempunyai semangat luar biasa untuk belajar, kandas cita-citanya karena terbentur kesulitan hidup. Tak hanya itu, tempat tinggal nun jauh di pelosok pinggiran pantai juga menjadi hambatannya yang lain dalam menuntut ilmu.

Dalam dunia sepak bola, tak mustahil ada berjuta-juta sosok Lintang di berbagai wilayah Indonesia. Seperti Lintang, mereka juga punya cita-cita jadi pemain bola. Bahkan mungkin dikaruniai bakat alam untuk menjadi pemain andal.

Tapi hanya memiliki bakat atau cita-cita, tak cukup untuk mengantar bibit-bibit unggul ini menggapai impiannya. Mereka memerlukan pencari bakat profesional. Namun, sayangnya, pencari bibit pemain di Indonesia masih sangat langka dan belum menjangkau daerah-daerah terpencil.

Padahal, betapa besar peranan pencari bakat dalam mengorbitkan pemain-pemain andal. Pengembangan sepak bola Indonesia juga sangat membutuhkan bibit-bibit unggul yang harus kita cari di berbagai wilayah Tanah Air.

Seorang pencari bakat tak cukup hanya mengandalkan pengetahuan alakadarnya tentang dunia sepak bola. Untuk mencari pemain potensial, ia juga tak bisa sekadar mengandalkan info dari mulut ke mulut. Atau cukup mendatangi sekolah-sekolah sepak bola.

Perlu pengetahuan khusus untuk menjadi pencari bakat profesional. Tidak cukup juga hanya bermodal pengalaman. Di Amerika Serikat bahkan sudah ada pendidikan nonformal khusus untuk belajar tentang pencarian bakat atau scouting talent course yang juga bisa ditempuh lewat pendidikan online delapan minggu. Di antara materi pendidikan yang diberikan adalah metoda untuk memeringkat soccer talent.

Pencarian bakat juga memerlukan sistem jaringan yang sangat kuat di antara berbagai pihak yang terkait. Baik jaringan informasi maupun jaringan sistem scouting sampai perekrutannya. Seperti The Scouting Network di Birmingham, Inggris. Ini jaringan pencarian bakat untuk skala internasional yang menyediakan laporan paling intensif dari seluruh dunia dengan dukungan database lebih dari 30 ribu info tentang pemain dan berbagai penawaran dari tim-tim terkenal.
Agen ini, selain memasok pemain untuk Inggris, juga memasok klub-klub lainnya di Eropa. Mereka pun menerapkan sistem jaringan dengan pembagian wilayah-wilayah pencarian bakat agar setiap kawasan bisa terjangkau secara merata.

Pencarian bakat di negara-negara maju juga memanfaatkan media internet. Di sana, ada semacam bursa untuk mempertemukan talent (pemain), klub, agen, serta pencari bakat itu sendiri.

Sedangkan klub-klub kaya semacam Chelsea, Manchester United, atau AC Milan umumnya membangun jaringan sendiri. Biasanya, mereka memanfaatkan para mantan bintangnya dari kawasan Eropa Timur atau Amerika Latin sebagai “mata” mereka untuk melihat pemain potensial di sana.

Hanya saja, untuk Indonesia, memang agak sulit mengharapkan terbangunnya jaringan pencarian bakat seperti itu. Kendala utamanya, jelas, urusan dana. Nilai kontrak pemain di Indonesia masih terbilang kecil sehingga “bisnis” pencarian bakat belum bisa tumbuh dengan kondisi sekarang ini. “Mengekspor” pemain berbakat ke luar negeri juga belum prospektif karena potensi sepak bola Indonesia belum memiliki pijakan prestasi yang kuat.

Bahkan, banyak para pemain, agen, bahkan pengelola klub yang belum terbiasa memanfaatkan jasa internet. Apalagi untuk pemain yang berasal dari daerah yang belum tersentuh teknologi internet. Akan sulit bagi mereka untuk sekadar mengisi data dan “menjual” diri secara online. Padahal, di banyak negara maju, pencarian bakat melalui internet ini tergolong cukup efektif. *

Minggu, November 09, 2008

Krisis Persebaya, Bukti Kompetisi Kita Semakin Memprihatinkan

MIRIS rasanya mendengar berita seputar Persebaya Surabaya belakangan ini. Tim yang pernah menjadi kutub kekuatan sepak bola nasional namun sekarang hanya berkiprah di Divisi Utama itu seolah tak habis diterjang krisis.

Awal bulan lalu, tim Ibukota Jawa Timur itu sempat melontarkan keinginan mundur dari ajang Copa Dji Sam Soe 2008/2009. Tapi kemudian diurungkan setelah Badan Liga Indonesia (BLI) mengancam akan membatalkan hak mereka ikut kompetisi Liga Super musim depan –jika meraih tiket promosi.

Awal bulan ini, para pemain “Tim Bajul Ijo” juga sempat mengancam mogok latihan. Mereka pun mengancam tak mau mengikuti laga tandang menghadapi PSIM Yogyakarta. Gara-gara pembayaran gaji yang, konon, terus tersendat dalam tiga bulan terakhir ini.

Paling akhir, terbetik kabar bahwa Wali Kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono, menjual salah satu mobil pribadinya untuk membantu pembayaran gaji pemain yang tertunggak. Langkah serupa dilakukan Ketua Umum Persebaya, Saleh Ismail Mukadar, dan tokoh Persebaya lainnya, Paulus Helly Suyanto.

Kabarnya, mobil wali kota yang dilego adalah Jeep Wrangler 2006 dan laku sekitar Rp 140 juta. Sedangkan Mukadar lebih dulu menjual Toyota Altis-nya tahun 2003 dengan harga Rp 129 juta. Paulus yang juga Ketua Panpel Persebaya menitipkan mobilnya Ford Ranger keluaran 2003 yang dihargai hampir Rp 225 juta.

Hasil penjualan ketiga mobil tersebut ditambah pemasukan dari dua laga kandang sebanyak Rp 57 juta menghasilkan dana segar Rp 551 juta. Toh, itu pun belum banyak menolong karena biaya gaji bulanan yang harus ditanggung Persebaya ditaksir mencapai Rp 663 juta.

Yang lebih menyedihkan, di antara elemen pengurus dan pengelola tim sendiri kini mulai saling serang secara terbuka. Pelatih Freddy Muli menyesalkan sikap Ketua Umum Saleh Mukadar yang menyatakan tak gentar terhadap ancaman mogok dan boikot pemain. Di sisi lain, Asisten Manajer H Ismail menyesalkan sikap Manajer Indah Kurnia yang cenderung lepas tangan menghadapi krisis keuangan yang menimpa Persebaya.

Meski bukan arek Suroboyo, saya merasa ikut sedih dan prihatin melihat kondisi Persebaya yang seperti itu. Dengan kondisi separah itu, apa mungkin mereka bisa dengan tenang mengarungi kompetisi Divisi Utama hingga tuntas –sambil tetap menjalani kewajiban tampil di ajang Copa Dji Sam Soe? Padahal, target mereka adalah promosi ke Liga Super.

Jika tim sebesar Persebaya saja bisa menghadapi kondisi internal separah itu, jangan tanya tim-tim kecil semacam Persikad Kota Depok atau Persibat Batang. Bahkan tim seperti Persema Malang yang pada awal musim seolah begitu enteng “memborong” pemain bintang, faktanya kini juga ikut terseok-seok secara finansial.

Ini jelas bukan gambaran ideal yang kita inginkan dari kompetisi sepak bola nasional. Alih-alih bicara peningkatan mutu permainan dan panasnya persaingan, hampir setiap hari kita justru dijejali cerita-cerita pilu seputar beratnya mengarungi kompetisi Divisi Utama maupun Liga Super.

Saya kira, sudah saatnya semua pihak merenungkan kembali kompetisi kita saat libur tengah musim tiba. PSSI, BLI, serta klub-klub peserta perlu duduk bersama dan bicara terbuka sambil mencari solusi terbaik. Jangan malu untuk mengakui kenyataan paling pahit sekalipun ketimbang memaksakan diri terus menggelar kompetisi jika akhirnya tetap kandas di tengah jalan. *

Rabu, November 05, 2008

Gerrard dan Semangat Pantang Menyerah

BATAS antara kemauan dan keberuntungan acapkali sangat tipis. Bahkan mungkin kita sulit memisahkannya. Seperti yang mungkin sempat Anda lihat pada pertandingan Liverpool lawan Atletico Madrid, Selasa (5/11) atau Rabu dini hari WIB. Semata keberuntungan atau berkat kemauan keraskah gol balasan Liverpool itu akhirnya datang?

Ketika pertandingan tersisa 15 menit dan eskpresi wajah Steven Gerrard tampak mulai pasrah, jutaan pemirsa televisi mengira hasil akhir sudah “ditentukan” –0-1 untuk tim tamu. Kekalahan makin terasa sulit dihindari manakala melihat barisan belakang Atletico tampil begitu tenang, taktis, disiplin, dan penuh percaya diri.

Hampir tak ada ruang untuk masuk bagi Gerrard, David N’Gog, atau Ryan Babel. Apalagi peluang yang didapat melalui tandukan-tandukan Daniel Agger juga selalu menyamping atau terbang di atas mistar.

Sampai akhirnya datang bola “aneh” di pojok kiri kotak penalti Atletico. Bola yang sama sekali tak berbahaya. Apalagi di sana ada bek kiri Mariano Pernia yang tampil kokoh mementahkan hampir semua ancaman Liverpool dari sayap kanan.

Entah apa yang mendorong Pernia memaksakan diri berduel berebut bola itu dengan Gerrard. Padahal, menunggu bola jatuh dan sekadar membayangi Gerrard jauh lebih aman dalam situasi kritis itu.

Lalu terjadilah pelanggaran fatal itu. Gerrard terjatuh, Pernia dikartu kuning, dan eksekusi penalti membuahkan hasil imbang 1-1 bagi Liverpool. Tak terbayang momen dramatis dan menentukan itu bakal terjadi pada menit terakhir perpanjangan waktu. Dan, lagi-lagi, Gerrard yang jadi penyelamat Liverpool.

Saya setuju, keputusan wasit soal penalti ini memang mengundang keraguan dan sangat subyektif. Boleh jadi, di tempat lain dengan wasit berbeda, kejadian sama akan dibiarkan saja hingga laga berakhir.

Tapi, ada satu pelajaran penting yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut. Kegigihan Gerrard terus memburu peluang sekecil apapun hingga detik-detik terakhir mengajarkan kepada kita untuk tidak pernah menyerah. Setidaknya, sampai wasit membunyikan peluit panjang tanda akhir pertandingan. *

Senin, November 03, 2008

Argentina Memang Butuh Maradona

JIKA dibuat perumpamaan, tim nasional (timnas) Argentina itu ibarat sedan Rolls Royce. Hampir seluruh bagian mobil ini terbuat dari bahan pilihan yang terbaik dan sudah tentu harganya sangat mahal. Wajar jika gengsinya tinggi dan performanya bikin bangga.

Hanya saja, kata Diego Maradona, kini “Tim Tango” lebih mirip Rolls Royce yang dekil. Debu dan kotoran bertebaran di sekujur tubuhnya. Sebagian komponen mobil mungkin juga tak berfungsi secara maksimal karena jarang dimanfaatkan.

Makanya, performa Argentina dalam lima bulan terakhir ini sangat mencemaskan. Mereka hanya mampu mencatat enam kali hasil imbang sebelum menang atas Uruguay. Itu pun langsung disusul kekalahan dari Cile –pertama kalinya dalam 35 tahun terakhir.

Di ajang kualifikasi Piala Dunia 2010 pun demikian. Setelah melewati 10 partai, Lionel Messi dan kawan-kawan hanya menghuni posisi ketiga klasemen sementara Zona Amerika Selatan – di bawah Paraguay dan rival abadinya, Brasil. Argentina bahkan terpaut tujuh angka dengan Paraguay.

Memang, situasinya belum bisa dibilang gawat untuk ukuran normal. Dengan sisa 10 pertandingan lagi, pelatih Alfio Basile akan sangat mampu membawa Javier Mascherano dan kawan-kawan ke putaran final di Afrika Selatan.

Tapi itu untuk ukuran normal. Masalahnya, ini Argentina. Kita bicara tentang tim dengan standar tersendiri. Bagi publik Argentina, performa “Tim Tango” di bawah Basile sudah sampai pada taraf merisaukan sehingga Basile harus dicopot.

Standarnya memang sangat tinggi. Ekspektasi publik terhadap “Albiceleste” bahkan mungkin melebihi pengharapan publik sepak bola di negeri semacam Jerman atau Inggris terhadap tim nasionalnya.

Dalam kondisi seperti sekarang, ditambah ekspektasi publik yang sama sekali tak berkurang, Argentina memang tak punya pilihan selain Maradona. Dialah satu-satunya “dewa sepak bola” negeri Amerika Latin itu yang tak seorang pun berani membantah pandangannya. Bahkan “si anak emas” Messi saja memilih menghindari konflik ketika Maradona mengkritik permainannya yang dinilainya egois.

Apalagi Maradona juga yang dengan jeli melihat kalau Rolls Royce ini sudah berdebu. Ia bahkan mengaku sudah tahu bagaimana cara membersihkan debu-debu itu agar sang sedan mewah bisa kembali menampakkan kilaunya.

Memang benar, pilihan terhadap Maradona bukan tanpa risiko. Seorang pemain jenius kadang tak cukup sabar melihat tim asuhannya tumbuh dan berkembang secara perlahan. Itu pernah dialami Hristo Stoichkov saat menangangi timnas Bulgaria (2004-2007). Juga terjadi pada Dejan Savicevic saat dipercaya menangani timnas Serbia-Montenegro (2001-2003).

Namun, saya yakin, Maradona akan lebih berhasil ketimbang dua rekannya tersebut. Pasalnya, ia tak sendirian mengurusi Rolls Royce ini. Ada Sergio Baptista dan Jose Luis Brown yang jadi asistennya. Keduanya mantan rekan setimnya di tim nasional.

Ia juga akan “dibimbing” oleh Carlos Billardo –pelatihnya saat Maradona mengangkat trofi Piala Dunia 1986— sebagai tangan kanannya. Tugas utama Billardo kelak berkeliling dunia memantau permainan para bintang Argentina di liga mancanegara. Dengan demikian, secara fisik, Maradona yang punya riwayat sakit jantung itu tak akan terlalu terbebani.

Seorang megabintang tak akan bisa benar-benar bersinar tanpa “pemeran pembantu” yang loyal dan berdedikasi di sekelilingnya. Maradona beruntung memiliki “Trio B” –Billardo, Batista, dan Brown— yang akan membantunya mengelola tim nasional dengan akal sehat dan etos kerja yang benar. Tapi kesediaan Maradona menerima “Trio B” itu sendiri menunjukkan perubahan sikap mentalnya yang sangat positif. ***
(Tulisan ini pernah dimuat di TopSkor, edisi 3 November 2008)