<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520</id><updated>2011-09-08T23:33:31.150+07:00</updated><title type='text'>BUNG KUSNAENI</title><subtitle type='html'>Blog ini adalah media komunikasi komentator sepak bola MOHAMAD KUSNAENI yang lebih akrab disapa "Bung" Kusnaeni dengan komunitas sepak bola Indonesia. Untuk membangun generasi baru suporter sepak bola Indonesia yang kreatif, progresif, dan cinta damai. No Tawuran, No Anarki!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>71</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7498836844541467607</id><published>2009-10-27T19:06:00.001+07:00</published><updated>2009-10-27T19:11:43.470+07:00</updated><title type='text'>Kembali ke UU Nomor 3/2005</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Catatan untuk Menegpora Andi Mallarangeng)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAK&lt;/strong&gt; ada kejutan dalam susunan Kabinet Indonesia Bersatu II. Seperti sudah diduga, Andi Alifian Mallarangeng ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora). “Bang Andi” –begitu ia biasa disapa— menggantikan pejabat sebelumnya, Adhyaksa Dault.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat, rasanya kami berdua pernah siaran bersama dalam satu layar pada Piala Dunia 2002. Saat itu, Bang Andi yang namanya sedang berkibar sebagai pengamat politik jadi komentator tamu. Sedangkan saya sebagai komentator reguler dari RCTI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertemuan sejenak itu, saya menangkap kesan bahwa Bang Andi lumayan paham sepak bola. Lebih penting lagi, ia juga cukup ramah, egaliter, dan mau mendengar sehingga saya yakin Bang Andi akan mudah masuk ke lingkungan baru di bidang kepemudaan dan keolahragaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari sepenggal pertemuan singkat itu, saya merasa terpanggil ikut memberi masukan bagi Bang Andi saat memulai tugas barunya di kementerian dengan anggaran Rp 1,6 triliun itu. Khususnya menyangkut bidang keolahragaan yang niscaya akan lebih banyak menyita waktunya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak permasalahan keolahragaan bakal dihadapi Menegpora pada periode lima tahun ke depan. Dari keinginan PSSI menjadikan Indonesia tuan rumah Piala Dunia 2022, penyelenggaraan SEA Games 2011, dilema pemakaian dana APBD untuk klub sepak bola, penyusutan lahan dan fasilitas olahraga di perkotaan, anjloknya prestasi Indonesia di pesta olahraga multiajang, rendahnya kesejahteraan atlet, keterlibatan pejabat publik sebagai pengurus olahraga, hingga “dualisme” Menegpora dan Komite Olahraga Nasional/Komite Olimpiade Indonesia (KON/KOI) dalam melaksanakan pembinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit menetapkan mana yang harus diprioritaskan untuk ditangani. Semuanya butuh penanganan segera dan simultan. Padahal, di sisi lain, Menegpora memiliki keterbatasan sumber daya aparatur, anggaran, sarana/prasarana, dan –tentu saja— waktu untuk menangani semuanya. Apalagi urusan Menegpora tak hanya masalah olahraga, tapi juga kepemudaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas tak mudah menangani semua itu dan dari mana memulainya. Namun, menurut saya, isu kronis yang butuh prioritas penanganan adalah “dualisme” Menegpora dan KON/KOI dalam melaksanakan pembinaan olahraga. Dan langkah penyelesaiannya bisa dimulai dengan kembali ke Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN). Inilah “warisan penting” Adhyaksa dan jajarannya selama lima tahun menghuni Kantor Menegpora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski diperjuangkan dengan susah payah dan selalu dibanggakan oleh Adhyaksa, sayangnya selama ini UU SKN justru kurang dijadikan pedoman. Sehingga muncullah “persaingan terselubung” antara Kantor Menegpora dan KON/KOI menyangkut pelaksanaan pembinaan olahraga di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Program Atlet Andalan yang biasa disingkat PAL (seharusnya PAA atau Pal), Menegpora menerobos jauh ke wilayah yang selama ini ditangani KON. Padahal, KON selama ini punya sistem Pelatnas yang sudah berjalan puluhan tahun. Kehadiran PAL dan Pelatnas membuat pembinaan olahraga seakan berjalan di dua jalur yang tak sinergis dan tidak terintegrasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegpora dan jajarannya mungkin berpatokan pada Pasal 12 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa “Pemerintah mempunyai kewenangan untuk mengatur, membina, mengembangkan, melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan keolahragaan secara nasional”. Selanjutnya, Pasal 21 dan 22 juga memberi ruang sangat besar bagi Menegpora selaku representasi Pemerintah untuk terlibat aktif dalam pembinaan dan pengembangan olahraga. Tak sekadar melalui penetapan kebijakan, tapi juga lewat penataran/pelatihan, kompetisi, hingga pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam Bab VIII mengenai Pengelolaan Keolahragaan, Pasal 36 Ayat 4 menyebutkan bahwa KON bertugas membantu Pemerintah dalam membuat kebijakan nasional dalam bidang pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi pada tingkat nasional. KON juga bertugas melaksanakan pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi berdasarkan kewenangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah titik singgungnya. UU SKN terkesan kurang tegas membagi peran antara Menegpora selaku representasi Pemerintah dan KON sebagai perwujudan pemberdayaan peran serta masyarakat sesuai amanat Pasal 5 mengenai Prinsip Penyelenggaraan Keolahragaan. Akibatnya, terjadilah “dualisme” pembinaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, “ruh” UU SKN sebetulnya cukup jelas mengamanatkan semangat kebersamaan dan partisipasi. Pemerintah diharapkan jadi motor penggerak dalam membangun industri olahraga, sedangkan KON/KOI sebagai tokoh utama dalam membangun prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, semestinya, tak perlu ada tarik-menarik. Apalagi Presiden SBY secara tegas selalu menyebut good governance sebagai pilar dalam membangun Indonesia. Mustahil mewujudkan good governance tanpa partisipasi masyarakat. Jadi, Menegpora seharusnya justru memberi ruang sebesar-besarnya kepada KON/KOI serta unsur masyarakat lainnya untuk berperan aktif dalam pembinaan dan pengembangan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Bang Andi dengan cepat bisa mendalami permasalahan keolahragaan Indonesia secara jernih. Sehingga seluruh unsur dalam keolahragaan kita bisa kembali bergandengan tangan menangani pembinaan, memajukan prestasi, serta membangun industri olahraga yang mandiri. Selamat bekerja! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di &lt;em&gt;TopSkor&lt;/em&gt;, edisi 24 Oktober 2009)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7498836844541467607?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7498836844541467607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7498836844541467607' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7498836844541467607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7498836844541467607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2009/10/kembali-ke-uu-nomor-32005.html' title='Kembali ke UU Nomor 3/2005'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2922909683447754668</id><published>2009-05-27T20:01:00.002+07:00</published><updated>2009-05-27T20:07:22.669+07:00</updated><title type='text'>Ekstremisme Sepak Bola Polandia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;BELUM&lt;/strong&gt; lama ini, saya menonton tayangan yang sangat menarik di saluran BBC Knowledge. Berkisah tentang fenomena budaya geng yang telah merasuki –bahkan mulai merusak— persepakbolaan Polandia. Hasil liputan investigasi yang sangat berani dari aktor sekaligus jurnalis senior BBC, Ross Kemp.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada fakta menarik yang saya tangkap dari hasil liputan Kemp tersebut. Ternyata, geng-geng ekstremis sayap kanan kini sudah jauh menginfiltrasi alias menyusup ke jantung kelompok-kelompok suporter klub sepak bola di Ekstraklasa alias Divisi Utama Liga Polandia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebut saja Wisla Krakow. Ternyata, klub elite Ekstraklasa yang konon memiliki suporter terbanyak di Polandia itu juga sudah jauh disusupi kelompok radikal sayap kanan. Mereka bahkan menduduki posisi penting dan sangat disegani di kalangan suporter klub juara Ekstraklasa 2008 itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di Polandia, suporter Wisla mudah dikenali dengan atributnya yang berlambang “Bintang Putih”. Di dalam stadion, mereka kian mudah dikenali karena yel-yelnya yang sangat rasial. “Perang berlanjut setiap hari. Di jalanan, di manapun!” begitu sebagian lirik lagu-lagu mars mereka di Stadion Wisla. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat &lt;em&gt;derby&lt;/em&gt; menghadapi Cracovia Krakow, tanpa segan mereka menghina suporter lawan dengan kata-kata, “Yahudi bau!” Mereka juga tak segan-segan memakai atribut Neo-Nazi lengkap dengan lambang swastikanya. Ya, para suporter ini umumnya memang sangat membenci kaum Yahudi dan pendatang asal Afrika yang merupakan etnis minoritas di Polandia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Stylon, kelompok suporter lain di Gorzow, bahkan biasa menyanyikan lagu-lagu mars dengan lirik “mengerikan”. “Mereka harus mengulanginya”, demikian lirik sederhana itu berulang-ulang mereka kumandangkan. Anda tahu maksudnya? Percaya atau tidak, mereka berharap agar &lt;em&gt;Holocaust&lt;/em&gt; –pembantaian jutaan orang Yahudi oleh Nazi pada Perang Dunia II— terulang lagi!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aksi &lt;em&gt;polovania&lt;/em&gt; kini jadi kebanggaan baru mereka. Sekelompok pendukung–biasanya 5, 10, atau 12 orang— membentuk geng tersendiri yang sengaja mencari dan menantang suporter tim lain untuk berkelahi. Tidak hanya ketika timnya main di kandang, tapi juga saat tandang ke kota lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan cerdik, para pentolan suporter menanamkan nilai-nilai loyalitas dan persaudaraan di kalangan pengikutnya. Setelah identitas kelompok terbentuk, mulailah nilai-nilai ekstremisme sayap kanan yang merupakan gelombang fasisme baru ditanamkan dan jadi “falsafah perjuangan” mereka sebagai suporter.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah menyimak tayangan berdurasi satu jam itu, dua hal terbersit di benak saya. Yang pertama, menurut saya, penyusupan para ekstremis sayap kanan ikut berperan di balik kemunduran prestasi sepak bola Polandia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mereka telah membuat kompetisi di “Negeri Solidaritas” itu jadi sarat kerusuhan dan para pemain tak nyaman berkompetisi. Akibatnya, bintang lokal ramai-ramai hengkang ke negara lain dan pemain-pemain asing berkualitas enggan main di Ekstraklasa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau pada era 1970-an Polandia masih disegani di ajang Piala Dunia dan Piala Eropa, kini mereka bahkan terseok-seok untuk sekadar lolos kualifikasi. Di tingkat klub, tim papan atas Ekstraklasa semacam Wisla atau Lech Poznan pun hanya mampu bersaing di level kualifikasi Liga Champions maupun Piala UEFA.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang kedua –dan ini jauh lebih penting, fenomena budaya geng dalam sepak bola Polandia itu membuat saya jadi risau terhadap persepakbolaan Indonesia. Betapa tidak, ciri-ciri awal munculnya fenomena itu kini juga bisa ditemui dalam persepakbolaan kita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kelompok-kelompok suporter fanatik bermunculan di berbagai kota basis sepak bola nasional. Sialnya, belum apa-apa mereka sudah terjerumus ke lembah ekstremisme dengan memusuhi kelompok suporter lain yang dianggap rival atau berseberangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kerusuhan antarsuporter jadi “menu sehari-hari” dalam kompetisi kita. Saling serang itu bahkan tak hanya di dalam lapangan, namun sudah meluas ke luar lapangan. Bahkan muncul fenomena saling mengharamkan secara membabi-buta antarkelompok suporter tertentu.Ini sangat menyedihkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Polandia masih “beruntung” sempat jadi kekuatan yang disegani di dunia sebelum terjerumus dalam kekalutan ini. Kita belum menikmati masa keemasan itu, tapi sudah terdesak ke tubir jurang ekstremisme. Wahai para suporter, mari saling introspeksi: mau kita bawa ke mana masa depan persepakbolaan Indonesia? ***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Tulisan ini pernah dimuat &lt;em&gt;TopSkor&lt;/em&gt; edisi 25 Mei 2009)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2922909683447754668?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2922909683447754668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2922909683447754668' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2922909683447754668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2922909683447754668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2009/05/ekstremisme-sepak-bola-polandia.html' title='Ekstremisme Sepak Bola Polandia'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-6801019514355133049</id><published>2009-05-27T19:58:00.002+07:00</published><updated>2009-05-27T20:01:08.307+07:00</updated><title type='text'>Antara Mourinho dan Guardiola</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPETISI&lt;/strong&gt; liga di Eropa tak lama lagi memasuki “putaran” akhir. Artinya, tak lama lagi kita akan menyaksikan sorak kemenangan beriringan dengan tangis kekalahan. Pekik keberhasilan bersahutan dengan teriakan geram pertanda kekecewaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selalu ada yang menang dan kalah dalam sepak bola. Itulah keindahan olahraga ini. Setiap saat kita dihadapkan pada dua sisi kenyataan yang bertolak belakang. Tapi justru itulah yang mengasah mental setiap pelaku permainan si kulit bundar ini –juga atlet cabang olahraga lain, tentunya— untuk selalu bersikap sportif dan ksatria mengakui kelebihan lawan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang menarik, belum lagi kompetisi berakhir, kita sudah menangkap sejumlah fenomena menarik seputar soal menang-kalah itu. Salah satunya dipertontonkan Jose Mourinho, pelatih Inter Milan yang kini tengah menguasai puncak klasemen Seri A.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah mendengar Juventus ditaklukkan Genoa, Mourinho langsung menunjukkan “taringnya”. Menurutnya, gelar juara Seri A musim ini mungkin sudah bisa diraih Inter saat kedua tim bertemu Sabtu (18/4) mendatang di Stadion Olimpico.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maklum, kemenangan akan membuat selisih poin Inter dan Juventus melebar jadi 13 angka. Meskipun masih ada 18 angka lagi dipertaruhkan hingga akhir musim, secara logika akan sangat sulit bagi Juventus mengatasi selisih poin sebesar itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Benar, sah-sah saja Mourinho sesumbar dan melontarkan komentar yang terdengar angkuh itu. Faktanya, Inter di tangan “The Special One” memang semakin perkasa saja di kancah kompetisi domestik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hanya saja, Mourinho melupakan prinsip paling mendasar dari setiap kemenangan. Bahwa kemenangan yang terindah didapat tanpa merendahkan lawan yang dikalahkan. Bahwa kemenangan itu sendiri sesungguhnya awal dari sebuah kekalahan yang akan datang pada suatu saat nanti.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan segala arogansinya itu, tidak mengherankan jika Mourinho tak punya banyak sahabat di Italia. Banyak orang mengakui kehebatannya sebagai pelatih, tapi tidak banyak yang terkesan oleh kepribadiannya sebagai manusia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sisi lain, kita melihat bagaimana Josep Guardiola begitu santun memuji Bayern Muenchen, tim yang akan dihadapinya pada laga kedua Liga Champions, Selasa (14/4) mendatang. Padahal, pada pertemuan pertama, pasukan Guardiola menggilas lawannya empat gol tanpa balas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Toh, Guardiola tetap memuji keberhasilan Muenchen menang 4-0 atas Eintracht Frankfurt, akhir pekan lalu. Ia menganggap kemenangan itu sebagai pertanda bahwa lawannya tetap punya potensi menggagalkan tekad Barcelona melaju ke semifinal Liga Champions musim ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Boleh jadi, Guardiola sekadar bersikap diplomatis di balik rasa hormatnya terhadap Muenchen. Ia tidak seperti Mourinho yang tak pernah ragu menunjukkan karakter pribadinya. Tapi justru karena itulah Guardiola disukai kawan maupun lawan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak bisa diingkari, sosok Mourinho memang tetap diperlukan sebagai “bumbu penyedap” dalam aroma persaingan di panggung sepak bola yang sudah menjadi industri besar ini. Tanpa orang-orang seperti Mourinho, sepak bola mungkin kehilangan gregetnya sebagai permainan paling digemari.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun, demi masa depan sepak bola, kesantunan Guardiola mungkin lebih kita butuhkan –bahkan sepatutnya disebarluaskan. Karena sikap arif dan sportivitas seperti itulah yang menjaga sepak bola tetap berada di koridor tradisi dan nilai-nilai universal yang membuatnya jadi olahraga paling populer sejagat raya. ***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di &lt;em&gt;TopSkor&lt;/em&gt; edisi 13 April 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-6801019514355133049?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/6801019514355133049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=6801019514355133049' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6801019514355133049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6801019514355133049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2009/05/antara-mourinho-dan-guardiola.html' title='Antara Mourinho dan Guardiola'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-4251254738352237995</id><published>2009-03-30T21:53:00.001+07:00</published><updated>2009-03-30T21:56:04.531+07:00</updated><title type='text'>Mandiri, Tantangan Baru Taufik Hidayat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;KABAR&lt;/strong&gt; menggembirakan datang dari turnamen bulu tangkis India Terbuka di Hyderabad yang berakhir Minggu (29/3) lalu. Setelah “paceklik” di tiga turnamen, akhirnya pemain Indonesia bisa membawa pulang gelar juara. Bahkan, mereka mampu menguasai dua nomor sekaligus di final, yakni tunggal putra dan ganda campuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tentu saja, yang paling menarik adalah keberhasilan Taufik “Golden Boy” Hidayat menjuarai nomor tunggal putra dengan mengalahkan Muhammad Hafiz Hashim 21-18, 21-19. Tak hanya memberi gelar pertama bagi Indonesia pada tahun 2009, putra Pangalengan, Bandung, itu juga menemukan kembali sentuhan juaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, selama dua tahun terakhir, nama Taufik seolah akrab dengan kekalahan dan penampilan mengecewakan di berbagai turnamen yang diikutinya. Uniknya, setiap kali harus menjalani &lt;em&gt;rubber game&lt;/em&gt;, ia sering sekali kalah. Sebuah gambaran nyata betapa buruknya stamina dan kondisi Taufik sebagai pemain elite dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, terakhir kali Taufik naik podium sebagai kampiun pada turnamen di Makao yang berkategori Grand Prix Gold, awal Oktober 2008 lalu. Sebelum itu, ia mencicipi gelar juaranya di Kejuaraan Asia di Johor Baru, Malaysia, April 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis, sejak era Super Series dimulai, Taufik belum sekalipun merasakan nikmatnya gelar juara. Prestasi tertingginya hanya mencapai final Prancis Super Series 2008 dan Jepang Super Series 2007. Plus jadi semifinalis All England Super Series 2009, Hongkong Super Series 2008, dan Indonesia Super Series 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, secara pribadi, saya sama sekali tidak terkejut ketika Taufik akhirnya keluar dari Pelatnas Cipayung pada akhir Januari lalu. Meski berat dan menyedihkan, menurut saya, itulah jalan keluar terbaik bagi semuanya –terutama Taufik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu, saya selalu beranggapan bahwa Taufik adalah pebulu tangkis tunggal putra terbaik yang kita miliki dalam satu dekade terakhir. Bahkan, dari segi bakat dan kualitas teknis, ia mungkin yang terbaik bersama Rudy Hartono dan Liem Swie King.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keterpurukan yang dialami Taufik tiga tahun terakhir usai Kejuaraan Dunia 2005, pendapat saya tak pernah berubah. Saya tetap melihatnya sebagai pemain terbaik kita. Kualitas Taufik jauh di atas Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, dan semua pemain lain yang segenerasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, terbaik bukan berarti selalu nomor satu. Bakat dan kehebatan Taufik tak serta-merta membuatnya jadi pemain nomor satu dunia. Dalam peringkat BWF sekarang ini pun Taufik hanya di posisi ketujuh –masih di bawah Sony, keenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pangkal soalnya. Taufik seperti kurang melihat –bahkan terkesan tak peduli— peringkat BWF itu sebagai tantangan. Ia hanya terobsesi terhadap turnamen-turnamen tertentu yang memang ingin dia menangkan, semacam Olimpiade, Kejuaraan Dunia, atau All England.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, Taufik tak pernah benar-benar bisa menyaingi Lee Chong Wei dan Lin Dan yang bergantian merajai peringkat BWF. Pamor Indonesia sebagai jawara tunggal putra dunia pun memudar. Wajar jika kemudian PB PBSI tak lagi ngotot mempertahankan Taufik –meski baru berusia 27 tahun— di Cipayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya optimistis, berada di luar Cipayung justru akan membangkitkan kembali keperkasaan Taufik. Sebab ia mendapatkan tantangan baru yang dibutuhkannya untuk kembali ke jalur juara. Tantangan untuk berkarier secara mandiri, bersikap lebih profesional, dan memperhitungkan segala sesuatunya lebih matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Taufik, kini tak ada lagi istilah berangkat ke sebuah turnamen hanya memenuhi tugas, apalagi sekadar jalan-jalan. Semuanya harus terukur sebab semua biaya kini dia tanggung sendiri. Konon, Taufik butuh Rp 1,3 miliar/tahun untuk biaya latihan dan mengikuti 12 turnamen sepanjang 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik, saya yakin betul, akan bisa menghadapi tantangan itu. Dengan segala pesona dan nilai jualnya, tak sulit menutup angka Rp 1,3 miliar. Apalagi ia juga akan segera memetik hasilnya lewat gelar-gelar juara, seperti sudah dibuktikannya di India Terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang, seorang “anak nakal” memang harus cepat “disapih” agar lebih mandiri. Saya yakin, dengan kemandirian yang kini dijalaninya, kita juga akan melihat kembali Taufik dengan sederet kemenangannya. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-4251254738352237995?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/4251254738352237995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=4251254738352237995' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4251254738352237995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4251254738352237995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2009/03/mandiri-tantangan-baru-taufik-hidayat.html' title='Mandiri, Tantangan Baru Taufik Hidayat'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7603992124601678061</id><published>2009-02-09T18:34:00.000+07:00</published><updated>2009-02-09T18:35:44.558+07:00</updated><title type='text'>Komisi yang Disiplin Sendiri</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;DI TENGAH&lt;/strong&gt; hiruk-pikuk pemberitaan mengenai PSSI pascakeluarnya Nurdin Halid dari Rutan Salemba, saya merasa kehilangan “seseorang”. Ada salah satu tokoh sepak bola nasional yang kerap muncul sebagai sumber berita penting namun belakangan seperti “hilang” dari peredaran. Dialah Hinca Panjaitan, Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi, nama Hinca sekadar surut sejenak seiring periode jeda kompetisi Divisi Utama maupun ISL. Maklum, fungsi Komdis memang lebih banyak sebagai “pemadam kebakaran” untuk menjaga agar kompetisi tetap berjalan di atas relnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang menarik, suara Hinca juga hanya “lamat-lamat” terdengar saat isu-isu sensitif seputar kedisiplinan muncul ke permukaan. Khususnya, ketika Nurdin bagi-bagi bonus pengampunan –berupa Peninjauan Kembali (PK)— untuk sejumlah pihak yang divonis hukuman berat oleh Komdis. Dari Yoyok Sukawi, Kurnia Meiga, sampai para pemain PSIR Rembang yang secara brutal menganiaya wasit Muzair Usman di Stadion Gelora Ambang, 12 November lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jelas apakah pengampunan itu sepengetahuan atau direkomendasikan oleh Hinca dan Komdisnya. Yang jelas, dengan “bahasa kekuasaan” yang sebenarnya usang dan tak cocok untuk organisasi olahraga seperti PSSI, Nurdin selalu berkilah bahwa pengampunan merupakan hak prerogatif Ketua Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tak yakin Hinca berperan dalam pengampunan itu. Sebab, sejak memangku jabatannya pada awal Juli 2007, ia sudah menegaskan tekadnya untuk mengubah stigma negatif yang melekat pada Komdis. Ia juga bertekad menjadikan Komdis tak hanya sebagai pemadam kebakaran yang baru bereaksi setelah ada kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, Hinca dan Komdisnya kemudian berpayah-payah menyusun Kode Disiplin PSSI sebagai acuan bagi para pelaku kompetisi. Ada tiga aspek paling menonjol dalam Kode Disiplin yang memuat lebih dari 150 pasal itu, yakni perang terhadap rasisme, kerusuhan, dan obat-obatan terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski belum optimal, sebagian usaha Hinca sudah terasa hasilnya. Sepanjang putaran pertama kompetisi Divisi Utama dan ISL 2008/2009, Komdis telah menunjukkan ketegasannya dalam sejumlah kasus yang krusial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan vonis berupa denda uang dan atau larangan bertanding sudah mereka keluarkan dan cukup menimbulkan efek jera di kalangan pelaku sepak bola nasional. Lihat saja para pemain asing berkulit hitam yang biasanya suka menghardik wasit secara kasar, kini mereka jadi lebih sopan dan mau mengontrol emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemain lokal yang biasanya “main kaki” sambil mengeroyok saat memprotes wasit, sebagian besar kini juga mau mengikuti prosedur dengan mewakilkan protesnya lewat kapten kesebelasan. Begitu pula pelatih dan ofisial tim, kini mereka tak lagi seenaknya mengambing-hitamkan pihak lain atas kekalahan timnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, kerja keras Komdis itu kini seolah menjadi antiklimaks saat Ketua Umum PSSI kembali berkantor setelah menjalani dua pertiga dari dua tahun masa tahanannya. Alih-alih memperkuat eksistensi dan kewenangan Komdis, ia justru seperti melemahkannya dengan kebijakan pengampunan –atau apapun namanya— yang kontraproduktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa membayangkan kegalauan hati Hinca dan jajarannya di Komdis saat ini. Kerja keras mereka menegakkan disiplin dalam kompetisi kita kini seperti nyanyian di tengah gurun. Sepi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tak usah terlalu terkejut jika aksi kerusuhan kembali terjadi dalam pertandingan ISL putaran kedua antara Persiwa Wamena lawan Persipura Jayapura, Minggu (1/2) lalu. Tak usah heran juga jika nantinya aksi kekerasan serupa terjadi pada pertandingan lain. Siapa takut –toh, nanti bisa minta pengampunan kepada Ketua Umum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, Komdis tidak patah arang dalam kekalutan ini. Mereka sudah langsung bereaksi menangani kerusuhan di Wamena itu. Hinca juga tak peduli jika mereka yang divonis bersalah dalam insiden itu nantinya kembali diampuni. “Tugas komdis hanya menghukum atau tidak menghukum. Kami akan menegakkan aturan. Soal nanti ada pengampunan atau tidak, itu bukan urusan kami,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu, bagi saya, sangat lugas dan jernih. Semoga saja, Ketua Umum PSSI juga bisa menangkap maknanya yang tersirat dengan hati dan pikiran yang jernih. Jangan biarkan Komdis terpeleset jadi “komisi yang disiplin sendiri”. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat &lt;/em&gt;TopSkor &lt;em&gt;edisi 9 Februari 2009)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7603992124601678061?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7603992124601678061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7603992124601678061' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7603992124601678061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7603992124601678061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2009/02/komisi-yang-disiplin-sendiri.html' title='Komisi yang Disiplin Sendiri'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-4852466262442033408</id><published>2009-02-02T18:34:00.001+07:00</published><updated>2009-02-02T19:08:36.686+07:00</updated><title type='text'>Fantasi Tuan Rumah Piala Dunia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SATU&lt;/strong&gt; hal yang “sukai” dari kepengurusan PSSI sekarang ini adalah daya fantasinya yang luar biasa. Mereka punya banyak obsesi yang bagi publik sepak bola Indonesia acapkali terdengar ambisius, bombastis, bahkan terkadang utopis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagian “fantasi” itu nyatanya bisa diwujudkan dan berjalan –dengan segala kekurangannya. Misalnya, kompetisi Liga Super dengan persyaratan yang begitu ketat sehingga sejumlah klub –PSMS, Persita, bahkan Persija— terpaksa jadi “tim musafir” yang pinjam stadion ke sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, sebagian lain “fantasi” itu akhirnya kandas. Misalnya, keinginan mengikut-sertakan tim nasional U-23 berkompetisi di Liga Singapura. Sebelumnya, timnas U-23 kita juga sempat dikirim ke Belanda. Namun hanya “sibuk” berlatih di “Negeri Kincir Angin”. Alhasil, saat tampil di kualifikasi Olimpiade 2008 dan SEA Games 2007 mereka tak bisa berbuat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, PSSI punya “fantasi” baru yang jauh lebih spektakuler. Mereka memberanikan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Indonesia termasuk satu dari delapan negara yang sudah mengirim proposalnya ke FIFA. Adapun tujuh pesaing yang juga telah memasukkan proposal serupa adalah Inggris, Jepang, Qatar, Australia, Rusia, Meksiko, dan dua negara yang mengajukan diri sebagai tuan rumah bersama, Portugal dan Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sekjen PSSI Nugraha Besoes, ini bagian dari rencana jangka panjang PSSI. “Kami masih punya waktu 13 tahun, jadi mengapa tidak memberanikan diri mencalonkan diri sebagai tuan rumah?” katanya. Apalagi PSSI merasa punya bekal pengalaman jadi –salah satu— tuan rumah Piala Asia 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, fantasi PSSI kali ini didukung oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. Menegpora Adhyaksa Dault sudah menyatakan dukungannya dan yakin Indonesia bisa memenuhi persyaratan utama menyangkut stadion berstandar internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, begitu “sederhana” jalan menjadi tuan rumah ajang sebesar Piala Dunia. Lalu, mengapa negara sebesar Cina atau India tak ikut mengajukan diri? Mengapa pula negara sekelas Portugal dan Spanyol menawarkan diri jadi tuan rumah bersama –sedangkan Indonesia begitu “gagah berani” maju sendirian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, jadi tuan rumah Piala Dunia “tak seindah” yang dipikirkan orang. Pengorbanan untuk menggelar hajatan olahraga terpopuler sejagat ini sungguh besar dan bisa membuat perekonomian negara “berdarah-darah”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Benar, nama dan martabat bangsa memang terangkat jika Indonesia terpilih jadi tuan rumah. Juga benar, hajatan ini berpotensi mendorong peningkatan pariwisata, investasi, bahkan mungkin angka pertumbuhan. Dari segi penyelenggaraan, saya juga yakin kita akan mampu melaksanakannya sama bagusnya dengan hajatan Piala Asia 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, ongkos Piala Dunia sungguh luar biasa. Maklum, infrastruktur kita jelas masih di bawah standar negara Eropa atau bahkan Jepang dan Korea Selatan. Karena itu, niscaya dibutuhkan pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti kini harus dilakukan Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Afrika Selatan menyediakan anggaran sedikitnya 3,7 miliar dolar AS untuk Piala Dunia 2010. Namun harian Prancis, &lt;em&gt;Le Monde&lt;/em&gt;, yakin ongkos sebenarnya bisa mencapai 8 miliar dolar AS (sekitar Rp 86 triliun) –dua kali lipat lebih dari plafon anggaran pendidikan dalam APBN Republik Indonesia 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti, Indonesia yang taraf hidupnya tak jauh lebih tinggi di atas Afrika Selatan, harus siap pula dengan investasi sebesar itu. Dan itu pasti akan sangat memberatkan APBN. Sekalipun, misalnya, angka sebesar itu bisa dibagi-bagi dalam beberapa tahun anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya ambisi atau “fantasi” sedahsyat itu, tentunya, sah-sah saja. Tapi, menurut saya, jauh lebih penting membenahi dulu realitas yang kasat mata di hadapan kita.Ketimbang mengalokasikan triliunan rupiah untuk Piala Dunia, lebih berguna menginvestasikannya untuk memprofesionalkan Liga Indonesia. Sehingga tak ada lagi pemain yang berbulan-bulan tak dibayar gajinya, panitia kejuaraan berutang ratusan juta kepada pengelola hotel, atau pemain asing mengadu ke FIFA lantaran hak-haknya diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya para pengurus PSSI, saya juga punya mimpi melihat tim nasional kita tampil di Piala Dunia. Tapi lewat perjuangan melalui kualifikasi Zona Asia –bukan mencari jalan “gratisan” lewat jalur “tuan rumah” yang kelak akan menyusahkan perekonomian negara. ***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di &lt;/em&gt;TopSkor&lt;em&gt;, 2 Februari 2009)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-4852466262442033408?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/4852466262442033408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=4852466262442033408' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4852466262442033408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4852466262442033408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2009/02/fantasi-tuan-rumah-piala-dunia.html' title='Fantasi Tuan Rumah Piala Dunia'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7750194093474011659</id><published>2009-01-07T22:29:00.001+07:00</published><updated>2009-01-07T22:30:42.033+07:00</updated><title type='text'>Sudahkah Pemain Kita Sadar Nutrisi?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;COBA&lt;/strong&gt; bikin jajak pendapat kecil-kecilan di kalangan pemain Liga Indonesia –ISL maupun Divisi Utama. Mintalah para pemain menyebutkan tiga jenis makanan yang relatif paling sering mereka santap dalam sepekan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kaget kalau Anda akan mendapatkan jawaban yang mengejutkan. Saya yakin sekali nama mi instan, “gorengan”, dan mi bakso kuah akan menempati urutan lumayan tinggi dalam hasil survei tersebut. Nama lain yang ikut terjaring sangat mungkin adalah siomay, es campur, ketoprak, bubur ayam, dan sejumlah “jajanan” lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah memang realitas sepak bola kita. Jangan pernah membayangkan dalam kehidupan sehari-harinya para pemain kita terbiasa menyantap makanan dengan standar nutrisi tinggi. Apalagi menjalani menu dengan rujukan diet ketat ala para bintang sepak bola Liga Italia Seri A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan pentingnya asupan makanan “berkualitas” memang belum tumbuh di kalangan pesepak bola kita. Bahkan sebagian besar klub juga tak menempatkan ahli gizi yang kompeten untuk menyelia menu makanan selama pemain tinggal di mes, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porsi makan pemain kita umumnya memang besar –bukan rahasia lagi. Sayangnya, baru sekadar besar porsinya namun belum padat nutrisi. Padahal, menyantap makanan yang salah dapat memengaruhi performa pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejumlah jurnal ilmiah yang pernah saya baca, dua atau tiga hari menjelang pertandingan, sebaiknya pemain banyak mengonsumsi makanan yang kaya karbohidrat. Lalu, 24 jam sebelum pertandingan, jauhi gorengan dan makanan berlemak lainnya. Hindari juga makanan dengan bumbu yang terlalu menyengat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga “kenyamanan” perut, sebaiknya makanan terakhir dikonsumsi pemain 3-4 jam sebelum pertandingan. Juga harus dipastikan bahwa mereka cukup minum supaya tidak mengalami dehidrasi sebelum, selama, dan setelah pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pertandingan, makanan yang kaya karbohidrat boleh sesegera mungkin dikonsumsi. Sekitar 50 gram karbohidrat sebaiknya dikonsumsi dalam dua jam setelah pertandingan guna membantu tubuh memulihkan cadangan &lt;em&gt;glycogen&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seminggu usai pertandingan si pemain tak harus menjalani pertandingan berikutnya disarankan untuk menyantap makanan yang kaya protein (hewani) tapi tetap rendah lemak. Hal in penting agar tubuh bisa menyimpan kalori dari makanan berkabohidrat kompleks. Pemain setidaknya membakar 1.700 kalori per pertandingan sedangkan tubuh hanya mampu menyimpan 600 kalori per harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan kaya karbohidrat adalah sumber utama kalori dalam menu diet pemain. Karbohidrat yang dimaksud adalah karbohidrat kompleks yang harus seimbang dengan protein. Karbohidrat seperti itu mudah didapat dari sayuran dan buah-buahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa, cairan yang hilang dari tubuh selama menjalani pertandingan atau latihan keras harus segera digantikan. Sebagai patokan, bila berat tubuh berkurang 1 kg selama masa latihan itu berarti  hilangnya cairan dalam tubuh sekitar 1 liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patokan yang kedua adalah bila air seni berwarna lebih gelap itu berarti tubuh sedang kekurangan cairan. Karena itu, saat pemain merasa haus, segeralah minum. Minuman khusus untuk olah raga bisa jadi pilihan yang baik. Di samping itu, jus buah murni tanpa gula juga sangat baik untuk menjadi pengisi cairan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pemain tidak disarankan untuk minum sekaligus dalam jumlah banyak karena berpotensi mengakibatkan sakit perut. Lebih baik sedikit demi sedikit tapi sering. Anda yang kebetulan masih jadi pemain aktif, silakan mencobanya! *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7750194093474011659?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7750194093474011659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7750194093474011659' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7750194093474011659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7750194093474011659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2009/01/sudahkah-pemain-kita-sadar-nutrisi.html' title='Sudahkah Pemain Kita Sadar Nutrisi?'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-5923665587153187328</id><published>2009-01-06T22:57:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T22:59:15.315+07:00</updated><title type='text'>APBD untuk Persik: Langkah Berani atau “Bunuh Diri”?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;HAMPIR&lt;/strong&gt; dua pekan saya “lupa” mengurusi blog ini karena menjalani rutinitas “kesibukan” akhir tahun yang padat. Dari urusan pekerjaan di kantor hingga menjalani tur ke Jawa Tengah bersama anak-anak saya yang sedang menikmati liburan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat ketika memutuskan harus kembali mengisi blog ini, saya dikejutkan oleh sebuah berita menarik dari Jawa Timur. DPRD Kota Kediri baru saja mengesahkan kucuran dana Rp 12,5 miliar dari APBD tahun anggaran 2009 untuk modal Persik mengarungi sisa musim kompetisi 2008/2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebuah keputusan yang sungguh berani dari para wakil rakyat “Kota Tahu”. Bayangkan, Rp 12,5 miliar! Itu bukan uang sedikit. Apalagi pada tahun anggaran 2008, Persik juga sudah menikmati kucuran dana Rp 7,5 miliar. Bukannya berkurang, justru makin besar anggaran yang tersedot untuk “Tim Macan Putih” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi masalah, saat ini Pemerintah masih “melarang” pemanfaatan anggaran dalam APBD untuk pendanaan tim sepak bola. Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13/2006 yang direvisi menjadi Permendagri Nomor 59/2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan itulah yang membuat sejumlah tim mengalami “sesak napas” pada paruh pertama ISL musim 2008/2009. Tim sebesar Persija Jakarta saja sempat mengalami keterlambatan pembayaran gaji. Apalagi tim dengan modal pas-pasan semacam Persitara, PSIS Semarang, atau Persijap Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan DPRD Kota Kediri berargumen bahwa pengucuran dana APBD itu tak menyalahi aturan. Pasalnya pemberiannya dilakukan melalui mekanisme dana hibah, melalui satuan kerja di Lingkungan Pemerintah Kota Kediri. Lebih jelasnya, KONI Kota Kediri yang jadi pelaksana pengucuran dana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ini menarik. Sebab mekanisme dana hibah itu argumen lama yang belakangan diragukan sendiri oleh kalangan Pemerintah Daerah. Atas dasar keragu-raguan itulah sejumlah daerah jadi enggan –atau bermain “kucing-kucingan”— dalam mengucurkan dana APBD untuk tim sepak bolanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan saya, kalangan DPRD Kota Kediri berani menerobos keragu-raguan itu karena melihat celah dalam Permendagri tersebut. Saya masih ingat, dalam “Lokakarya Pembiayaan Sepak Bola” di Surabaya, medio September lalu, muncul keyakinan bahwa Permendagri 59/2007 tidak sepenuhnya melarang sepak bola. Hanya saja, penggunaannya harus memperhatikan asas rasionalitas dan jumlahnya diharapkan semakin mengecil dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celah itu terasa makin menganga jika kita mencermati pasal 42 ayat (4a) Permendagri 59/2007 yang mengatur tentang belanja hibah. Klausul itu berbunyi, “Belanja hibah diberikan secara selektif dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah, rasionalitas, dan ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perspektif politik, bunyi ketentuan jelas menguntungkan bagi klub sepak bola. Sebab, klub sepak bola –terutama perserikatan— umumnya dipimpin oleh kepala daerahnya masing-masing. Dan, diakui atau tidak, klub-klub tersebut telah menjadi sayap politik kepala daerah dalam meraih atau mempertahankan dukungan khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya kemudian, ada ketentuan lain yang berkaitan dengan urusan hibah APBD ini. Ada Peraturan Pemerintah Nomor 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang melarang hibah dan bantuan sosial diberikan secara berulang-ulang. Semangat PP Nomor 58/2005 ini jelas sekali: tidak menghendaki pembiayaan klub sepak bola melalui dana APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik, kalangan anggota dewan, serta para pejabat Pemda boleh saja bingung terhadap Permendagri 59/2007 yang terkesan ambigu dan bertentangan dengan aturan hukum di atasnya itu. Namun, satu hal yang pasti, secara hirarki PP Nomor 58/2005 lebih tinggi kedudukannya dibanding Permendagri 59/2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menurut Anda, keberanian DPRD dan Pemkot Kediri itu sebuah terobosan atau pada akhirnya akan menjadi langkah “bunuh diri”? *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-5923665587153187328?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/5923665587153187328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=5923665587153187328' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5923665587153187328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5923665587153187328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2009/01/apbd-untuk-persik-langkah-berani-atau.html' title='APBD untuk Persik: Langkah Berani atau “Bunuh Diri”?'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-5782806169256885601</id><published>2008-12-15T22:07:00.001+07:00</published><updated>2008-12-15T22:10:30.593+07:00</updated><title type='text'>Mengalahkan Thailand Bukan Beban</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;MINGGU&lt;/strong&gt; pagi kemarin, saya diundang hadir di acara &lt;em&gt;Apa Kabar Indonesia (Akhir Pekan)&lt;/em&gt; yang ditayangkan stasiun televisi tvOne. Setelah malam sebelumnya tampil dalam siaran langsung Liga Primer, menghadiri acara sepagi ini jelas cukup “menyiksa” mata saya. Tapi, setelah syutingnya berjalan, rasa kantuk itu perlahan hilang dan berganti semangat yang menyala-nyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, yang jadi topik adalah laga semifinal pertama Piala AFF di Stadion Utama Gelora Bung Karno, besok malam. Tim nasional Indonesia bakal menjamu musuh bebuyutannya, Thailand, pada &lt;em&gt;leg&lt;/em&gt; pertama. Sebelum melakoni laga tandang di Phuket, empat hari kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, obrolan yang seperti &lt;em&gt;“preview”&lt;/em&gt; pertandingan itu ternyata jadi ajang unjuk optimisme yang menggebu-gebu. Mantan pemain seperti Yeyen Tumena, Venard Hutabarat, hingga para suporter tim nasional semua mengumbar keyakinan bahwa kita bakal mampu menggilas Thailand. Kalau tidak 2-0, minimal 2-1!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbawa oleh suasana, saya pun memupuk keyakinan serupa dengan rekan-rekan saya ini. Saya bilang, untuk laga pertama di Jakarta, kita harus yakin bisa menang. Tinggal memikirkan bagaimana caranya menghadapi laga berikutnya di Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moga-moga saja, keyakinan kami semua tidak menjadi beban bagi Charis Yulianto dan kawan-kawan saat memasuki lapangan nanti. Sebab, konon, salah satu “penyakit” pemain kita, semakin diyakini menang justru makin kehilangan kepercayaan diri dan permainan terbaiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Senayan, besok malam, saya ingin melihat Charis dan kawan-kawan main lepas seperti saat duel pertama penyisihan Grup A lawan Myanmar, 5 Desember lalu. Bagi saya, itulah penampilan terbaik kita sejauh ini di Piala AFF 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, para pemain kita bisa tampil bagus justru karena beban mental yang lebih ringan. Dua kali kekalahan di ajang “pemanasan” Grand Royal Challenge Cup membuat “Tim Merah Putih” tampil lebih rileks meladeni Myanmar. Hasilnya, mereka menang 3-0 dengan permainan yang meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada laga berikutnya, saat semua pihak yakin kita bakal “melumat” Kamboja, pertandingan justru jadi lebih sulit. Kita hanya bisa mencetak satu gol pada babak pertama sebelum menambah tiga lagi pada paruh kedua. Itu pun lebih banyak karena permainan dan kematangan individual para penyerang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya adalah perebutan posisi teratas Grup A. Keyakinan dan harapan publik yang sangat menggebu membuat tim asuhan Benny Dollo malah gugup dan akhirnya menyerah 0-2. Menariknya, dua gol Singapura masing-masing dicetak pada awal babak pertama dan kedua saat pemain kita seperti masih sibuk merapatkan barisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun jadi “menyesali” harapan saya yang terlalu menggebu-gebu menjelang laga semifinal ini. Terbayang betapa beratnya beban mental yang kini disandang Firman Utina dan kawan-kawan menghadapi permainan cepat Teerasil Dangda dan kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, mungkin sebaiknya saya kembali saja ke “semangat” Piala Asia 2007. Saat itu, saya tak mengharapkan kemenangan dari tim nasional kita. Bukan meremehkan, melainkan karena saya menyadari benar posisi kita di peta persepakbolaan Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, saya hanya berharap mereka main penuh semangat, berjuang sampai menit terakhir, sehingga –apapun hasilnya— tidak bikin malu bangsa Indonesia. Hasilnya, mereka tampil dengan permainan terbaik yang pernah kita lihat dalam satu dekade terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, tak seperti Piala Asia, di ajang sekelas Piala AFF hasil akhir tentunya juga penting. Karena inilah barometer paling pas untuk memetakan posisi kita di tingkat regional. Jadi, apa boleh buat, “terpaksalah” kali ini saya pun menuntut para pemain kita untuk tampil gigih sekaligus menang! Tolong, jangan anggap ini sebagai beban….&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, 15 Desember 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-5782806169256885601?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/5782806169256885601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=5782806169256885601' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5782806169256885601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5782806169256885601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/12/mengalahkan-thailand-bukan-beban.html' title='Mengalahkan Thailand Bukan Beban'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-8421398783547552952</id><published>2008-12-02T19:55:00.000+07:00</published><updated>2008-12-02T19:58:29.316+07:00</updated><title type='text'>Menunggu Hasil “Renungan” Nurdin Selama 14 Bulan di Salemba</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;MESTINYA&lt;/strong&gt;, ini menjadi “kabar gembira” bagi seluruh insan sepak bola Indonesia. Hore, PSSI kembali memiliki ketua umum dalam arti yang sebenarnya setelah Nurdin Halid dibebaskan dari Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (27/11) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis, selama 14 bulan terakhir ini, sepak bola Indonesia seperti kehilangan muka di pentas pergaulan dunia. Betapa tidak, Nurdin yang jadi orang nomor satu di PSSI malah meringkuk di balik terali besi akibat kasus penyelewengan subsidi minyak goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 17 September 2007, Mahkamah Agung memvonis Nurdin dengan hukuman dua tahun penjara dan denda Rp 30 juta subsider enam bulan kurungan. Dia dinyatakan bersalah dalam pendistribusian minyak goreng Bulog senilai Rp 169,7 miliar saat menjabat sebagai Ketua Umum Koperasi Distribusi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang masa itu pula, sepak bola Indonesia seperti perahu yang berlayar mengarungi badai. Guncangan dan hantaman ombak silih berganti. Konflik dan polemik tiada henti. Sampai-sampai Menegpora Adhyaksa Dault meminta Nurdin secara ksatria mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PSSI demi kemajuan sepak bola nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan Adhyaksa kala itu dilontarkan seiring datangnya tekanan dari FIFA terhadap legitimasi kepemimpinan Nurdin. FIFA juga menyoal sejumlah pasal dalam statuta PSSI yang tidak memenuhi Standar Statuta FIFA. Makanya, isu Munaslub sempat menggelinding kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, Nurdin sama tak terusik oleh semua itu. ”Tidak ada munaslub dalam waktu dekat. Komposisi pengurus atau apa pun tidak perlu diubah, kecuali pada Munas 2011. Semuanya tetap berjalan sampai akhir periode,” kata Nurdin menanggapi semua itu (Kompas.com, 27/2/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sejauh itu pula, Nurdin sanggup membuktikan pernyataannya itu. Tak ada Munaslub, tak ada perubahan komposisi anggota Komite Eksekutif, apalagi pergantian Ketua Umum PSSI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, dengan jujur kita harus mengakui bahwa Nurdin memang sosok yang “luar biasa”. Kesanggupannya mempertahankan jabatan ketua umum dari balik terali besi saja sudah menggambarkan keuletan dan daya cengkeramnya terhadap seluruh jajaran pengurus PSSI di pusat maupun daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keluarbiasaannya itu, saya berharap pengalaman 14 bulan di Rutan Salemba “melewati malam-malam sunyi dan sendiri” memberi Nurdin waktu yang cukup untuk merenung. Ya, merenungkan kembali banyak hal tentang dirinya, keluarga, usaha, karier politik, serta –tentu saja— posisinya di PSSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyarat awal yang positif sudah dikemukakan Kadir Halid, adik kandung Nurdin. Menurut Kadir, kakaknya tak mau lagi masuk dalam wilayah politik praktis apalagi menjadi anggota DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar demikian, itu sudah awal yang sangat baik. Selanjutnya, saya berharap Nurdin juga tergerak hatinya untuk tak mau lagi masuk dalam wilayah sepak bola praktis, apalagi menjadi Ketua Umum PSSI. Fokus hanya mengurusi bisnis dan keluarga mungkin akan jauh lebih bermakna bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekad itu, semoga saja, datang dari hati nuraninya yang terdalam –bukan karena tekanan FIFA maupun Menegpora. Sehingga proses penyempurnaan statuta dan kemudian disusul pergantian ketua umum PSSI bisa berjalan lancar, terhormat, dan diakui legitimasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tunggu saja bagaimana hasil perenungan “Puang” selama menjalani hari-hari yang panjang di Salemba. Yang pasti, kita tentunya berharap itu semua membawa kebaikan bagi persepak bolaan nasional. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-8421398783547552952?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/8421398783547552952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=8421398783547552952' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8421398783547552952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8421398783547552952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/12/menunggu-hasil-renungan-nurdin-selama.html' title='Menunggu Hasil “Renungan” Nurdin Selama 14 Bulan di Salemba'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-508728567753170127</id><published>2008-12-01T21:34:00.002+07:00</published><updated>2008-12-01T21:40:09.505+07:00</updated><title type='text'>Ironi Rasionalisasi Gaji Pemain</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SALEH&lt;/strong&gt; Ismail Mukadar akhirnya bertemu Bejo Sugiantoro dan kawan-kawan. Setelah sekian lama, Ketua Umum Persebaya Surabaya itu akhirnya “menemukan” waktu luang yang tepat untuk bertemu para pemainnya sendiri, Jumat (28/11) lalu. Itulah pertemuan yang sudah lama dinantikan para pelatih dan pemain “Tim Bajul Ijo”. Bahkan sempat diwarnai aksi gebrak meja oleh pelatih Freddy Mulli yang kehilangan kesabaran menghadapi persoalan internal timnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit aneh tapi nyata, memang. Tapi begitulah adanya. Keinginan para pemain dan pelatih Persebaya untuk bertemu langsung dengan ketua umumnya sendiri begitu sulit diwujudkan. Bahkan ada kesan para pengurus teras klub asal ibukota Jawa Timur itu ramai-ramai menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sikap Saleh dan pengurus Persebaya bisa dimengerti. Memang sulit harus bertemu pemain dan pelatih manakala gaji mereka belum terbayarkan. Lebih sulit lagi karena manajemen tim berseragam hijau-hijau itu harus menjelaskan pula alasan mereka merasionalisasi gaji pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Persebaya memang menjadi tim kesekian yang menerapkan kebijakan rasionalisasi gaji. Inilah langkah tidak populer yang sedang menjadi “tren” di kalangan klub-klub Liga Indonesia –ISL maupun Divisi Utama— dan pada awalnya diterapkan di Persik Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya Persebaya dan Persik yang mencanangkan rasionalisasi gaji pemain. Kebijakan serupa juga sudah dijalankan tim-tim lain, seperti PSS Sleman dan PSM Makassar. Bahkan, tak mustahil, Persitara atau tim mapan seperti Persib Bandung pun pada akhirnya mengikuti. Apalagi Badan Liga Sepak Bola Indonesia sudah “merestui” dan menganjurkan langkah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti tim-tim lain yang tak menerapkan rasionalisasi lebih baik kondisinya. Pemain Persibom, contohnya, sudah dua bulan ini gajinya selalu terlambat. “Tim Macan Kemayoran” Persija juga baru bisa melunasi uang panjar dan tunggakan tiga bulan gaji pemainnya pada awal pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak ekstrem Persikota. Ketua Umum Wahidin Halim bahkan menegaskan bahwa isu pembubaran timnya bukan sekadar wacana, melainkan sudah dipikirkan secara matang. Sebab kebutuhan tim per musim mencapai Rp 12 miliar, sedangkan pendapatan dari sponsor hanya Rp 1,2 miliar. Suntikan dana dari APBD sulit diharapkan karena terganjal Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pelik, memang, problematika finansial yang dihadapi klub-klub kita. Sebab, jujur saja, saat ini tak ada klub yang bisa menghidupi dirinya secara profesional. Dalam arti, seluruh pengeluarannya bisa dibiayai oleh dana yang masuk hasil pencarian sponsor, penjualan tiket masuk, jual-beli pemain, dan usaha-usaha lain yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi klub seperti Arema Malang atau PKT Bontang, pembiayaan klub bisa dimasukkan dalam pos anggaran promosi atau biaya sosial yang setiap tahun memang dikeluarkan oleh perusahaan sponsornya. Tapi tidak demikian bagi tim semacam Persik atau Persebaya. Dana APBD masih menjadi “dewa penolong” bagi tim-tim seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika keran APBD tersumbat, kucuran gaji dan pembayaran kontrak pemain pun ikut terhambat. Dan ketika kepastian tentang perolehan dana APBD tak kunjung datang, konsekuensinya ya rasionalisasi gaji atau bubar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah realitas buram sepak bola Indonesia. Dengan bangga kita bisa mengirimkan Sriwijaya FC (SFC) sebagai satu-satunya wakil ASEAN di babak utama Liga Champions Asia 2009. Tampilnya SFC adalah refleksi pengakuan AFC terhadap “kualitas” kompetisi kita –peringkat kedelapan menurut penilaian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di sisi lain, kemegahan kompetisi kita sesungguhnya dibangun di atas fondasi yang rapuh. Bahkan untuk sekadar mengarungi satu musim kompetisi, sebagian besar klub tak punya &lt;em&gt;“business plan”&lt;/em&gt; yang matang. Sehingga, ketika berhadapan dengan krisis, mereka akhirnya harus berlindung di balik kebijakan semacam rasionalisasi gaji atau pembubaran tim yang sesungguhnya menggambarkan ketidak profesionalan mereka. ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di &lt;/em&gt;TopSkor&lt;em&gt;, 1 Desember 2008)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-508728567753170127?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/508728567753170127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=508728567753170127' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/508728567753170127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/508728567753170127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/12/ironi-rasionalisasi-gaji-pemain.html' title='Ironi Rasionalisasi Gaji Pemain'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7166976314668854197</id><published>2008-11-24T21:09:00.001+07:00</published><updated>2008-11-24T21:12:41.679+07:00</updated><title type='text'>Kasus Gallas, Ujian Kepemimpinan Wenger</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;LIGA&lt;/strong&gt; Primer pekan ini memberi satu pelajaran menarik tentang kepemimpinan dalam manajemen tim. Lebih spesifik lagi, tentang pergulatan menghadapi krisis kepemimpinan di tim sepak bola profesional sekelas Arsenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis di Arsenal itu “dipicu” kebiasaan buruk kapten kesebelasan William Gallas bicara terlalu blak-blakan. Tanpa sungkan, ia kerap melontarkan kritik terbuka kepada para juniornya, seperti Theo Walcott, Cesc Fabregas, Nicklas Bendtner, dan belakangan Samir Nasri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa tedeng aling-aling, ia juga mencemooh mental dan semangat bertanding rekan-rekannya usai kalah 0-2 dari Aston Villa. Gallas menuding para koleganya kurang berani bertarung di lapangan, khususnya saat menghadapi tim-tim yang secara kualitas sebenarnya di bawah Arsenal. “Kami harus lebih bersikap sebagai pejuang. Hanya dengan cara itulah tim ini bisa bekerja dan menunjukkan karakter serta pengalamannya,” Gallas menyindir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Gallas mengungkapkan pula bahwa sebagian bintang muda Arsenal dinilainya mulai bersikap jemawa. Mereka kurang menghormati posisi dirinya sebagai kapten, bahkan tak menunjukkan respek yang cukup terhadap para pemain senior lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak kebablasan Gallas ditunjukkan dengan keberaniannya menunjuk hidung pemain yang disebutnya “kurang ajar” kepada dirinya saat jeda laga melawan Tottenham Hotspur. Meski tak menyebut nama, ia memberi isyarat jelas bahwa usia pemain tersebut lima tahun lebih muda ketimbang dirinya. Hanya ada tiga nama dalam kategori itu: Robin van Persie, Bacary Sagna, dan Emmanuel Eboue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tim Gudang Peluru” itu pun “kebakaran jenggot”. Pelatih Arsene Wenger murka, para bintang Arsenal tempo dulu kecewa, dan publik Emirates pun meradang. Dengan berat hati, Wenger harus mencoret nama Gallas dari tim yang dibawanya melawat ke kandang Manchester City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ, fungsi kepemimpinan masih berjalan sempurna. Wenger tetap mengendalikan tim dengan baik dan &lt;em&gt;“The Gunners”&lt;/em&gt; masih berjalan di relnya. Sampai kemudian pukulan telak datang ketika Arsenal tanpa Gallas digilas habis 0-3 oleh Manchester City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik inilah problematika kepemimpinan mulai muncul. Keputusan Wenger “memecat” Gallas –meskipun mungkin hanya sementara— memang mampu mengakomodasi harapan para pengikutnya, yakni pemain lain dan publik Emirates. Itulah aplikasi teori (salah satu) sifat kepemimpinan menurut Keith Davis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya kemudian, kebijakan yang akomodatif tak selalu efektif. Seperti tampak dalam kasus Gallas ini. Tanpa bek tangguh asal Prancis itu, lini pertahanan Arsenal jadi rapuh, kurang koordinasi, bahkan jadi titik lemah sistem permainan tim secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah Wenger menghadapi ujian berat sebagai pemimpin pasukan dari London utara itu. Sebab, lagi-lagi menurut Davis, pemimpin yang baik juga harus bisa menunjukkan satu sifat penting lainnya untuk mencapai keberhasilan. Tak sekadar mengikuti, ia juga harus memiliki kecerdasan lebih dibanding pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, Wenger memiliki sifat-sifat tersebut. Setelah dikalahkan City, ia langsung menyatakan bahwa Gallas masih punya masa depan di Arsenal. Syaratnya, kata Wenger, ia harus berani meminta maaf kepada rekan-rekan setimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu keputusan yang sangat cerdas dari pelatih yang memang punya julukan “Profesor” itu. Di satu sisi, Wenger bisa mempertahankan Gallas yang sejujurnya masih sangat dibutuhkan timnya. Di sisi lain, ia juga tak kehilangan muka di mata pemain lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tak langsung, Wenger juga memberi pembelajaran yang sangat baik kepada Gallas soal kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin bisa saja membuat kesalahan kecil, namun ia tak perlu “dipancung” karena kesalahan semacam itu. Cukup dengan menyadari kesalahannya sehingga ia bisa menjadi pemimpin yang lebih baik. Kapten Gallas yang jadi lebih bijak dan dewasa jauh lebih menguntungkan Arsenal ketimbang harus kehilangan dia sama sekali. ***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 24 November 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7166976314668854197?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7166976314668854197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7166976314668854197' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7166976314668854197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7166976314668854197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/11/kasus-gallas-ujian-kepemimpinan-wenger.html' title='Kasus Gallas, Ujian Kepemimpinan Wenger'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-470599340314189786</id><published>2008-11-18T19:47:00.001+07:00</published><updated>2008-11-18T19:51:02.360+07:00</updated><title type='text'>Bilardo, Maradona, dan Filosofinya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ADA&lt;/strong&gt; satu cerita menarik ketika Carlos Bilardo memulai tugasnya sebagai pelatih tim nasional Argentina pada Januari 1983. Anda tahu, apa kegiatan pertama yang dilakukannya saat itu? Ya, benar: menemui Maradona!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilardo langsung memesan tiket penerbangan pertama ke Spanyol. Ia kemudian bergegas menuju markas Barcelona, klub tempat Maradona bernaung kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sungkan, Bilardo menyatakan kepada Maradona bahwa ia membutuhkan tenaganya. Ia juga meminta kesediaan Maradona menjadi kapten tim “Argentina baru” yang hendak dia bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, saat itu, karier Maradona agak terseok-seok di Barcelona. Salah satunya karena problem penyakit hepatitis yang sempat menyerangnya. Belum lagi permainan kasar yang dikembangkan para pemain belakang Spanyol membuatnya berkali-kali cedera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman tampil di Piala Dunia 1982 juga ikut mempengaruhi. Piala Dunia pertama bagi &lt;em&gt;“El Pibe de Oro” &lt;/em&gt;itu berakhir cukup tragis. Argentina langsung tersingkir di penyisihan grup dan Maradona diusir wasit karena menendang pemain Brasil, Batista.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, semua itu tak mengubah keyakinan Bilardo terhadap Maradona. Nalurinya mengantarkan dirinya kepada keyakinan yang teguh bahwa Madarona adalah sumber kekuatan yang dia butuhkan untuk membangun kembali “Tim Tango”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan yang luar biasa itulah yang membuat Maradona terharu. Dengan serta-merta, ia menyambut uluran tangan Bilardo dan mengikrarkan pengabdian sepenuh hati. Dan kisah selebihnya, tinggal sejarah yang sudah kita ketahui bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisah Bilardo dan Maradona ini adalah pentingnya kepercayaan. Sebuah sukses besar ternyata bisa dimulai dengan modal utama kepercayaan seorang pelatih terhadap pemainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan itulah yang membuat Maradona selalu tampil habis-habisan –bahkan “gila-gilaan”— untuk Argentina. Sebuah kombinasi yang hampir sempurna antara kemauan, kelicikan, kejeniusan, sekaligus kerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat betul bagaimana Maradona menjelaskan filosofi bermainnya untuk tim nasional. “Hal pertama yang saya yakinkan terhadap diri sendiri adalah kesadaran bahwa membela tim nasional merupakan hal terpenting di dunia ini,” kata Maradona dalam otobiografinya. “Jika kami harus menempuh perjalanan ribuan dan ribuan kilometer, lakukan. Jika kami harus melakoni empat pertandingan dalam sepekan, mainkan. Jika kami harus tinggal di hotel kecil sehingga anggota tim harus terpisah-pisah, terimalah… Segalanya, segalanya untuk tim nasional, untuk bendera biru dan putih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih sering merinding setiap kali membaca kembali filosofi Maradona ini. Begitu jelas, lugas, tegas, dan sepenuhnya ia jalani dengan tindakan nyata. Itulah yang membuatnya begitu dicintai publik sepak bola Argentina –bahkan mungkin dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indahnya jika para pemain tim nasional Indonesia juga mengetahui dan kemudian mengikuti filosofi Maradona tersebut. Mungkin “Tim Merah Putih” tetap tak bisa sehebat Argentina, tapi saya yakin bisa jauh lebih baik dibanding sekarang. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-470599340314189786?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/470599340314189786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=470599340314189786' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/470599340314189786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/470599340314189786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/11/bilardo-maradona-dan-filosofinya.html' title='Bilardo, Maradona, dan Filosofinya'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2585055070201266886</id><published>2008-11-17T17:58:00.002+07:00</published><updated>2008-11-17T18:02:16.196+07:00</updated><title type='text'>“Peran Makelele” untuk Arsenal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ADA&lt;/strong&gt; ribuan bahkan mungkin jutaan kalimat yang pernah dikutip pers dari Florentino Perez selama era kepemimpinannya di Real Madrid pada 2000-2006. Sebuah era yang akan selalu dikenang sebagai salah satu periode keemasan Madrid dengan konsep &lt;em&gt;“galacticos”-&lt;/em&gt;nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagi saya, ada sejumput kecil pernyataannya yang begitu melekat dan sulit hilang dari ingatan. Kalimat-kalimat itu diutarakannya menanggapi kepergian gelandang Claude Makelele ke Chelsea menjelang musim 2003/2004. Setelah Madrid menampik permohonan kenaikan gaji yang diajukan gelandang asal Prancis itu.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Kami tak akan kehilangan Makelele. Teknik bermainnya hanya rata-rata, ia juga tak punya kecepatan dan&lt;/em&gt; skill &lt;em&gt;untuk melewati pemain lawan. Hampir 90 persen umpannya hanya terarah ke belakang atau samping. Ia pun tak pernah menyundul bola dan sangat jarang mengirim umpan lebih dari tiga meter. Para pemain muda akan datang dan Makelele akan terlupakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ya, para pemain muda kemudian memang datang dan menjadi anggota skuat baru &lt;em&gt;“Los Merengues”&lt;/em&gt;. Namun benarkah Makelele kemudian terlupakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, tidak sama sekali. Kepindahan ke London tak membuat karier Makelele terpuruk. Sebaliknya, ia menjadi salah satu kunci kebangkitan Chelsea sebagai kekuatan baru di Eropa. Ia ikut membawa&lt;em&gt; “The Blues”&lt;/em&gt; dua kali juara Liga Primer, meraih tiga trofi domestik, dan mencapai final Liga Champions musim lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sepeninggal Makelele, Madrid justru mengalami era kemunduran. Kedatangan si ganteng David Beckham hanya memperbanyak penjualan kostum. Tapi gagal membantu Madrid mempertahankan –apalagi meningkatkan— performanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah, banyak pelaku dan pengamat sepak bola mulai menyadari akan pentingnya peran yang dimainkan Makelele untuk tim. Ia mengemban tugas tak populer –bahkan mungkin membosankan— sebagai orang yang selalu teguh berdiri di batas tipis antara zona serangan dan zona pertahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tim kehilangan bola, para pemain belakang serentak mundur seraya berharap Makelele menahan laju serangan atau bahkan merebut bola dari kaki lawan. Sebaliknya, saat tim berbalik menyerang dan semua pemain berebut memasuki pertahanan lawan, mereka juga berharap Makelele yang menjemput bola dari lini pertahanan dan mengantarkannya ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah fungsi yang sekarang banyak ditafsirkan secara sederhana sebagai peran gelandang bertahan. Meskipun ada juga yang menyebutnya dengan istilah lain: gelandang jangkar, &lt;em&gt;libero midfielder&lt;/em&gt;, atau –menurut Rafael Benitez, pelatih Liverpool— &lt;em&gt;holding midfielder&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apapun namanya, yang jelas, Makelele telah memberi penafsiran baru tentang keragaman fungsi dalam permainan. Ia begitu sukses melakoni sebuah fungsi yang mulanya dianggap sebelah mata namun kini justru sangat disegani. Fungsi itu oleh banyak pihak kini akrab disebut “peran Makelele”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liverpool berani membayar 18,6 juta pound untuk mendapatkan Javier Mascherano yang melakoni peran Makelele di Anfield. John Obi Mikel yang kini menggantikan tugas Makelele di Chelsea, juga harus ditebus 16 juta pound dari Lyn Oslo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, peran Makelele itulah yang kini jadi &lt;em&gt;“missing link”&lt;/em&gt; di Arsenal. Makanya, meski bertabur pemain dengan talenta hebat, permainan&lt;em&gt; “The Gunners” &lt;/em&gt;cenderung labil. Bisa main luar biasa untuk membungkam Manchester United, tapi kemudian tak berdaya menghadapi Aston Villa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsenal beruntung punya gelandang brilian Cesc Fabregas. Tapi umpan terobosan dan visi bermainnya yang luar biasa itu kini tersia-siakan oleh kesibukan membantu pertahanan yang tak bisa dijalani dengan baik oleh Denilson atau Alexandre Song Billong. Tanpa bola-bola maut dari Fabregas, ketajaman Emmanuel Adebayor pun jadi berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsene Wenger mungkin tak bermaksud mengulangi arogansi Perez ketika membiarkan Mathieu Flamini dan Gilberto Silva hengkang pada akhir musim lalu. Tapi, jika ia tak cepat menyadari absennya “peran Makelele” dalam timnya, “Sang Profesor” mungkin bisa senasib dengan Perez –terdepak dari Stadion Emirates. ***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat &lt;/em&gt;TopSkor &lt;em&gt;edisi 17 November 2008)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2585055070201266886?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2585055070201266886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2585055070201266886' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2585055070201266886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2585055070201266886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/11/peran-makelele-untuk-arsenal.html' title='“Peran Makelele” untuk Arsenal'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-4157504831720219409</id><published>2008-11-14T20:37:00.003+07:00</published><updated>2008-11-14T20:45:07.298+07:00</updated><title type='text'>Bisakah Villa Menahan Laju Arsenal?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;(&lt;em&gt;Big Match&lt;/em&gt; Liga Primer Pekan Ini di tvOne)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;TAYANGAN&lt;/strong&gt; Liga Primer di tvOne pekan ini, Sabtu (15/11) mulai pukul 20.30 WIB, tak boleh Anda lewatkan. Sebab yang bakal disiarkan langsung adalah laga &lt;em&gt;bigmatch&lt;/em&gt; yang sangat menarik. Arsenal, peringkat ketiga yang pekan lalu sukses menjungkalkan juara bertahan Manchester United (2-1), bakal menjamu Aston Villa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggemar Liga Primer tentu tak sabar menantikan aksi para bintang muda &lt;em&gt;“The Gunners”&lt;/em&gt; memainkan kembali orkestra sepak bola indahnya. Apalagi setelah tengah pekan ini “tim lapis kedua” Arsenal sukses menjinakkan Wigan 3-0 di ajang Piala Carling. Sementara &lt;em&gt;“The Villans”&lt;/em&gt; baru saja mengalami dua kekalahan beruntun dari Middlesbrough dan Newcastle United.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, meski sekarang hanya menduduki peringkat kelima, saya tetap melihat Villa akan menjadi lawan yang alot bagi tim asuhan Arsene Wenger. Salah satu alasannya karena Villa memainkan sepak bola gaya Inggris tradisional yang “kurang bersahabat” bagi permainan indah Arsenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim ini, sudah tiga kali Arsenal tumbang di Liga Primer. Semuanya dialami saat menghadapi tim dengan karakter pemainan keras, ngotot, disiplin, dan berani berduel. Mula-mula, “Tim Gudang Peluru” itu menyerah 0-1 kepada Fulham pada 23 Agustus, lalu Hull City 1-2 (27 September), dan paling akhir dikalahkan Stoke City 1-2 pada 1 November lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Villa juga memainkan sepak bola dengan gaya sama seperti Stoke. Tapi mereka memainkannya lebih canggih karena dukungan materi pemain yang lebih berkualitas. Bahkan saya berani bilang bahwa Villa adalah &lt;em&gt;“the best of the rest” &lt;/em&gt;alias tim paling bagus kualitasnya di luar&lt;em&gt; “The Big Four”&lt;/em&gt; (MU, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Samir Nasri dan Theo Walcott cukup leluasa mengobrak-abrik pertahanan MU dengan modal kecepatan mereka, hal serupa akan sulit terulang esok malam. Villa punya dua &lt;em&gt;full back&lt;/em&gt; cepat (Luke Young dan Nicky Shorey) yang akan sanggup meladeni kegesitan Nasri dan Walcott.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dominasi di sayap, Arsenal akan dipaksa lebih berani masuk dari lini tengah melalui aksi dan umpan-umpan terobosan Cesc Fabregas. Tapi Fabregas juga tak akan mendapat banyak ruang karena Villa punya gelandang ulet dalam diri Gareth Barry dan Nigel Reo-Coker. Apalagi kondisi fisik keduanya relatif lebih bugar karena tak menjalani laga tengah pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua pemain Villa tampil disiplin menjalankan strategi serangan balik dan tak terpancing main terbuka, ruang bagi para pemain Arsenal untuk berkreasi akan terasa sempit. Peluang-peluang akan sangat terbatas dan kesempatan para pemain depannya mencetak gol juga menipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah faktor lini kedua akan menentukan. Fabregas, Denilson, atau Abou Diaby harus lebih agresif dan berani mengambil inisiatif untuk membongkar pertahanan Villa. Tanpa itu, Nicklas Bendtner atau Emmanuel Adebayor akan “terisolasi” di zona pertahanan lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil akhirnya? Saya tetap menjagokan Arsenal, 1-0 atau 2-0. Dengan syarat, jangan biarkan Villa mencuri gol lebih dulu memanfaatkan kecepatan Gabriel Agbonlahor dan Ashley Young. Kalau itu sampai terjadi, William Gallas dan kawan-kawan boleh jadi bakal dipaksa puas dengan hasil imbang –atau bahkan kalah. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-4157504831720219409?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/4157504831720219409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=4157504831720219409' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4157504831720219409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4157504831720219409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/11/bisakah-villa-menahan-laju-arsenal.html' title='Bisakah Villa Menahan Laju Arsenal?'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-6921302474329748183</id><published>2008-11-13T22:00:00.000+07:00</published><updated>2008-11-13T22:04:02.550+07:00</updated><title type='text'>PSIR Rembang, Stanley Mamuaya, dan Rasa Ikut Berdosa Itu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SATU &lt;/strong&gt;lagi insiden memalukan terjadi dalam kompetisi sepak bola kita. Kejadiannya di Stadion Gelora Ambang Kota Mobagu, Rabu (12/11), saat Persibom Bolaang Mongondow menjamu PSIR Rembang dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Esia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pemain PSIR diduga kuat melakukan penganiayaan terhadap wasit Muzair Usman serta wasit cadangan Jusman R yang memimpin pertandingan itu. Seperti “biasa”, gara-gara tidak puas atas kepemimpinan wasit yang dianggap memihak tuan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadiannya berawal ketika wasit Muzair yang berasal dari Kendari itu memberikan penalti kepada Persibom setelah salah satu pemainnya ditebas pemain PSIR di kotak terlarang. Tidak terima atas keputusan itu, sejumlah pemain PSIR yang dimotori beberapa pemain asal Sulawesi Utara langsung mengerubuti sang pengadil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sekadar mengerubuti, Stanley Mamuaya dan kawan-kawan juga menghadiahi “bogem mentah” sampai wasit Muzair tersungkur. Belum puas memukul, para pemain PSIR yang seperti kesetanan itu menginjak-injak aparat pertandingan sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena babak belur. Muzair pun tak mampu melanjutkan tugas dan digantikan wasit cadangan Jusman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian serupa nyaris menimpa wasit pengganti. Ia dikejar dan sempat ditelanjangi di tengah lapangan setelah memberikan kartu merah kepada dua pemain PSIR yang melakukan pelanggaran keras, Stanley dan Yongki Rantung. Pertandingan pun sempat terhenti beberapa kali. Sampai akhirnya ditutup dengan keunggulan Persibom 1-0 atas tim asal Jawa Tengah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hasil akhirnya yang penting, namun insiden penganiayaan itu yang kemudian mencuat. Sampai-sampai Menegpora Adhyaksa Dault mengaku geram saat melihat tayangan peristiwa pengeroyokan itu di salah satu televisi swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adhyaksa meminta agar para pelakunya diseret ke jalur pidana karena aksi mereka dinilainya sudah menjurus kepada penganiayaan dan tindakan brutal. Bahkan ia juga mengharapkan agar pelaku pengeroyokan wasit itu dilarang main bola selamanya, karena mereka telah merusak citra sepak bola Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun terdengar sangat keras, saya kira harapan Menegpora ada benarnya. Aksi Stanley dan kawan-kawan di Stadion Gelora Ambang memang sudah di luar batas kewajaran. Bahkan seperti memutarbalikkan logika akal sehat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak. Mereka main di kandang lawan, tapi perilakunya melebihi kebiasaan para pemain tuan rumah. Stanley itu juga pemain senior yang sarat pengalaman dan pernah masuk tim nasional futsal, tapi tak bisa menjadikan dirinya teladan bagi para juniornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menyedihkan, keberanian Stanley dan kawan-kawan ditunjukkan saat Komisi Disiplin PSSI tengah gencar-gencarnya menjatuhkan vonis. Dari Christian Gonzalez, Budi Sudarsono, Manajer PSIS, hingga Ketua Umum Persis Solo semua sudah “tersambar” ketukan palu Komdis. Tapi masih juga Stanley dan kawan-kawan nekat menunjukkan kebrutalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menyedihkan, dan ini sangat personal sifatnya, saya mengenal Stanley secara pribadi. Bahkan kami pernah main bola bersama-sama dalam satu tim, pertengahan Mei tahun lalu, di lapangan bola di belakang Kantor Walikota Tomohon, Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, Stanley sempat meminta saya membantu dia mencarikan klub. Tapi saya hanya menjawabnya dengan senyum karena melihat perutnya saat itu mulai membuncit. Kegesitannya di lapangan juga sudah menurun. Belum lagi riwayat cederanya yang lumayan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, saya juga ingat cerita teman saya yang pernah jadi manajer klub tempat Stanley bermain. Menurut teman saya ini, ia nyaris memecat Stanley kala itu karena alasan indisipliner dan perilakunya yang sulit dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah”, saya tak pernah memenuhi permintaan Stanley untuk mendapatkan klub. Jadi, saya tak perlu merasa ikut berdosa kepada wasit Muzair dan  Jusman. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-6921302474329748183?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/6921302474329748183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=6921302474329748183' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6921302474329748183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6921302474329748183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/11/psir-rembang-stanley-mamuaya-dan-rasa.html' title='PSIR Rembang, Stanley Mamuaya, dan Rasa Ikut Berdosa Itu'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7152411022908304312</id><published>2008-11-11T22:25:00.002+07:00</published><updated>2008-11-11T22:30:29.998+07:00</updated><title type='text'>Laskar Pelangi di Dunia Sepak Bola</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ANDA&lt;/strong&gt; sudah nonton film &lt;em&gt;Laskar Pelangi&lt;/em&gt;? Saya kira, kita semua sepakat bahwa film yang bagus sekaligus menghibur ini memberikan pembelajaran yang sangat berharga dalam hal pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebenarnya pesan moral film ini bisa dimaknai lebih luas lagi. &lt;em&gt;Laskar Pelangi&lt;/em&gt; sebenarnya juga memberi pembelajaran bagi dunia sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak bernama Lintang, yang dikisahkan mempunyai semangat luar biasa untuk belajar, kandas cita-citanya karena terbentur kesulitan hidup. Tak hanya itu, tempat tinggal nun jauh di pelosok pinggiran pantai juga menjadi hambatannya yang lain dalam menuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia sepak bola, tak mustahil ada berjuta-juta sosok Lintang di berbagai wilayah Indonesia. Seperti Lintang, mereka juga punya cita-cita jadi pemain bola. Bahkan mungkin dikaruniai bakat alam untuk menjadi pemain andal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hanya memiliki bakat atau cita-cita, tak cukup untuk mengantar bibit-bibit unggul ini  menggapai impiannya. Mereka memerlukan pencari bakat profesional. Namun, sayangnya, pencari bibit pemain di Indonesia masih sangat langka dan belum menjangkau daerah-daerah terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, betapa besar peranan pencari bakat dalam mengorbitkan pemain-pemain andal. Pengembangan sepak bola Indonesia juga sangat membutuhkan bibit-bibit unggul yang harus kita cari di berbagai wilayah Tanah Air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pencari bakat tak cukup hanya mengandalkan pengetahuan alakadarnya tentang dunia sepak bola. Untuk mencari pemain potensial, ia juga tak bisa sekadar mengandalkan info dari mulut ke mulut. Atau cukup mendatangi sekolah-sekolah sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pengetahuan khusus untuk menjadi pencari bakat profesional. Tidak cukup juga hanya bermodal pengalaman. Di Amerika Serikat bahkan sudah ada pendidikan nonformal khusus untuk belajar tentang pencarian bakat atau &lt;em&gt;scouting talent course&lt;/em&gt; yang juga bisa ditempuh lewat pendidikan &lt;em&gt;online&lt;/em&gt; delapan minggu. Di antara materi pendidikan yang diberikan adalah metoda untuk memeringkat &lt;em&gt;soccer talent&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pencarian bakat juga memerlukan sistem jaringan yang sangat kuat di antara berbagai pihak yang terkait. Baik jaringan informasi maupun jaringan sistem &lt;em&gt;scouting&lt;/em&gt; sampai perekrutannya. Seperti The Scouting Network di Birmingham, Inggris. Ini jaringan pencarian bakat untuk skala internasional yang menyediakan laporan paling intensif dari seluruh dunia dengan dukungan &lt;em&gt;database&lt;/em&gt; lebih dari 30 ribu info tentang pemain dan berbagai penawaran dari tim-tim terkenal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Agen ini, selain memasok pemain untuk Inggris, juga memasok klub-klub lainnya di Eropa. Mereka pun menerapkan sistem jaringan dengan pembagian wilayah-wilayah pencarian bakat agar setiap kawasan bisa terjangkau secara merata.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pencarian bakat di negara-negara maju juga memanfaatkan media internet. Di sana, ada semacam bursa untuk mempertemukan &lt;em&gt;talent&lt;/em&gt; (pemain), klub, agen, serta pencari bakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan klub-klub kaya semacam Chelsea, Manchester United, atau AC Milan umumnya membangun jaringan sendiri. Biasanya, mereka memanfaatkan para mantan bintangnya dari kawasan Eropa Timur atau Amerika Latin sebagai “mata” mereka untuk melihat pemain potensial di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, untuk Indonesia, memang agak sulit mengharapkan terbangunnya jaringan pencarian bakat seperti itu. Kendala utamanya, jelas, urusan dana. Nilai kontrak pemain di Indonesia masih terbilang kecil sehingga “bisnis” pencarian bakat belum bisa tumbuh dengan kondisi sekarang ini. “Mengekspor” pemain berbakat ke luar negeri juga belum prospektif karena potensi sepak bola Indonesia belum memiliki pijakan prestasi yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, banyak para  pemain, agen, bahkan pengelola klub yang belum terbiasa memanfaatkan jasa internet. Apalagi untuk pemain yang berasal dari daerah yang belum tersentuh teknologi internet. Akan sulit bagi mereka untuk sekadar mengisi data dan “menjual” diri secara &lt;em&gt;online&lt;/em&gt;. Padahal, di banyak negara maju, pencarian bakat  melalui internet ini tergolong cukup efektif. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7152411022908304312?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7152411022908304312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7152411022908304312' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7152411022908304312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7152411022908304312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/11/laskar-pelangi-di-dunia-sepak-bola.html' title='Laskar Pelangi di Dunia Sepak Bola'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7414705342916591559</id><published>2008-11-09T22:58:00.001+07:00</published><updated>2008-11-09T23:02:12.738+07:00</updated><title type='text'>Krisis Persebaya, Bukti Kompetisi Kita Semakin Memprihatinkan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;MIRIS&lt;/strong&gt; rasanya mendengar berita seputar Persebaya Surabaya belakangan ini. Tim yang pernah menjadi kutub kekuatan sepak bola nasional namun sekarang hanya berkiprah di Divisi Utama itu seolah tak habis diterjang krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal bulan lalu, tim Ibukota Jawa Timur itu sempat melontarkan keinginan mundur dari ajang Copa Dji Sam Soe 2008/2009. Tapi kemudian diurungkan setelah Badan Liga Indonesia (BLI) mengancam akan membatalkan hak mereka ikut kompetisi Liga Super musim depan –jika meraih tiket promosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal bulan ini, para pemain “Tim Bajul Ijo” juga sempat mengancam mogok latihan. Mereka pun mengancam tak mau mengikuti laga tandang menghadapi PSIM Yogyakarta. Gara-gara pembayaran gaji yang, konon, terus tersendat dalam tiga bulan terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling akhir, terbetik kabar bahwa Wali Kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono, menjual salah satu mobil pribadinya untuk membantu pembayaran gaji pemain yang tertunggak. Langkah serupa dilakukan Ketua Umum Persebaya, Saleh Ismail Mukadar, dan tokoh Persebaya lainnya, Paulus Helly Suyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya, mobil wali kota yang dilego adalah Jeep Wrangler 2006 dan laku sekitar Rp 140 juta. Sedangkan  Mukadar lebih dulu menjual Toyota Altis-nya tahun 2003 dengan harga Rp 129 juta. Paulus yang juga Ketua Panpel Persebaya menitipkan mobilnya Ford Ranger keluaran 2003 yang dihargai hampir Rp 225 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penjualan ketiga mobil tersebut ditambah pemasukan dari dua laga kandang sebanyak Rp 57  juta menghasilkan dana segar Rp 551 juta. Toh, itu pun belum banyak menolong karena biaya gaji bulanan yang harus ditanggung Persebaya ditaksir mencapai Rp 663 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menyedihkan, di antara elemen pengurus dan pengelola tim sendiri kini mulai saling serang secara terbuka. Pelatih Freddy Muli menyesalkan sikap Ketua Umum Saleh Mukadar yang menyatakan tak gentar terhadap ancaman mogok dan boikot pemain. Di sisi lain, Asisten Manajer H Ismail menyesalkan sikap Manajer Indah Kurnia yang cenderung lepas tangan menghadapi krisis keuangan yang menimpa Persebaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan &lt;em&gt;arek Suroboyo&lt;/em&gt;, saya merasa ikut sedih dan prihatin melihat kondisi Persebaya yang seperti itu. Dengan kondisi separah itu, apa mungkin mereka bisa dengan tenang mengarungi kompetisi Divisi Utama hingga tuntas –sambil tetap menjalani kewajiban tampil di ajang Copa Dji Sam Soe? Padahal, target mereka adalah promosi ke Liga Super.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tim sebesar Persebaya saja bisa menghadapi kondisi internal separah itu, jangan tanya tim-tim kecil semacam Persikad Kota Depok atau Persibat Batang. Bahkan tim seperti Persema Malang yang pada awal musim seolah begitu enteng “memborong” pemain bintang, faktanya kini juga ikut terseok-seok secara finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jelas bukan gambaran ideal yang kita inginkan dari kompetisi sepak bola nasional. Alih-alih bicara peningkatan mutu permainan dan panasnya persaingan, hampir setiap hari kita justru dijejali cerita-cerita pilu seputar beratnya mengarungi kompetisi Divisi Utama maupun Liga Super.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, sudah saatnya semua pihak merenungkan kembali kompetisi kita saat libur tengah musim tiba. PSSI, BLI, serta klub-klub peserta perlu duduk bersama dan bicara terbuka sambil mencari solusi terbaik. Jangan malu untuk mengakui kenyataan paling pahit sekalipun ketimbang memaksakan diri terus menggelar kompetisi jika akhirnya tetap kandas di tengah jalan. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7414705342916591559?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7414705342916591559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7414705342916591559' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7414705342916591559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7414705342916591559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/11/krisis-persebaya-bukti-kompetisi-kita.html' title='Krisis Persebaya, Bukti Kompetisi Kita Semakin Memprihatinkan'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-6917484928555360429</id><published>2008-11-05T21:24:00.000+07:00</published><updated>2008-11-05T21:26:12.765+07:00</updated><title type='text'>Gerrard dan Semangat Pantang Menyerah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;BATAS &lt;/strong&gt;antara kemauan dan keberuntungan acapkali sangat tipis. Bahkan mungkin kita sulit memisahkannya. Seperti yang mungkin sempat Anda lihat pada pertandingan Liverpool lawan Atletico Madrid, Selasa (5/11) atau Rabu dini hari WIB. Semata keberuntungan atau berkat kemauan keraskah gol balasan Liverpool itu akhirnya datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertandingan tersisa 15 menit dan eskpresi wajah Steven Gerrard tampak mulai pasrah, jutaan pemirsa televisi mengira hasil akhir sudah “ditentukan” –0-1 untuk tim tamu. Kekalahan makin terasa sulit dihindari manakala melihat barisan belakang Atletico tampil begitu tenang, taktis, disiplin, dan penuh percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tak ada ruang untuk masuk bagi Gerrard, David N’Gog, atau Ryan Babel. Apalagi peluang yang didapat melalui tandukan-tandukan Daniel Agger juga selalu menyamping atau terbang di atas mistar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya datang bola “aneh” di pojok kiri kotak penalti Atletico. Bola yang sama sekali tak berbahaya. Apalagi di sana ada bek kiri Mariano Pernia yang tampil kokoh mementahkan hampir semua ancaman Liverpool dari sayap kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang mendorong Pernia memaksakan diri berduel berebut bola itu dengan Gerrard. Padahal, menunggu bola jatuh dan sekadar membayangi Gerrard jauh lebih aman dalam situasi kritis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terjadilah pelanggaran fatal itu. Gerrard terjatuh, Pernia dikartu kuning, dan eksekusi penalti membuahkan hasil imbang 1-1 bagi Liverpool. Tak terbayang momen dramatis dan menentukan itu bakal terjadi pada menit terakhir perpanjangan waktu. Dan, lagi-lagi, Gerrard yang jadi penyelamat Liverpool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju, keputusan wasit soal penalti ini memang mengundang keraguan dan sangat subyektif. Boleh jadi, di tempat lain dengan wasit berbeda, kejadian sama akan dibiarkan saja hingga laga berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ada satu pelajaran penting yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut. Kegigihan Gerrard terus memburu peluang sekecil apapun hingga detik-detik terakhir mengajarkan kepada kita untuk tidak pernah menyerah. Setidaknya, sampai wasit membunyikan peluit panjang tanda akhir pertandingan. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-6917484928555360429?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/6917484928555360429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=6917484928555360429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6917484928555360429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6917484928555360429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/11/gerrard-dan-semangat-pantang-menyerah.html' title='Gerrard dan Semangat Pantang Menyerah'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-8880987874704976485</id><published>2008-11-03T20:49:00.001+07:00</published><updated>2008-11-03T20:53:15.793+07:00</updated><title type='text'>Argentina Memang Butuh Maradona</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;JIKA &lt;/strong&gt;dibuat perumpamaan, tim nasional (timnas) Argentina itu ibarat sedan Rolls Royce. Hampir seluruh bagian mobil ini terbuat dari bahan pilihan yang terbaik dan sudah tentu harganya sangat mahal. Wajar jika gengsinya tinggi dan performanya bikin bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, kata Diego Maradona, kini “Tim Tango” lebih mirip Rolls Royce yang dekil. Debu dan kotoran bertebaran di sekujur tubuhnya. Sebagian komponen mobil mungkin juga tak berfungsi secara maksimal karena jarang dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, performa Argentina dalam lima bulan terakhir ini sangat mencemaskan. Mereka hanya mampu mencatat enam kali hasil imbang sebelum menang atas Uruguay. Itu pun langsung disusul kekalahan dari Cile –pertama kalinya dalam 35 tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ajang kualifikasi Piala Dunia 2010 pun demikian. Setelah melewati 10 partai, Lionel Messi dan kawan-kawan hanya menghuni posisi ketiga klasemen sementara Zona Amerika Selatan – di bawah Paraguay dan rival abadinya, Brasil. Argentina bahkan terpaut tujuh angka dengan Paraguay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, situasinya belum bisa dibilang gawat untuk ukuran normal. Dengan sisa 10 pertandingan lagi, pelatih Alfio Basile akan sangat mampu membawa Javier Mascherano dan kawan-kawan ke putaran final di Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu untuk ukuran normal. Masalahnya, ini Argentina. Kita bicara tentang tim dengan standar tersendiri. Bagi publik Argentina, performa “Tim Tango” di bawah Basile sudah sampai pada taraf merisaukan sehingga Basile harus dicopot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standarnya memang sangat tinggi. Ekspektasi publik terhadap&lt;em&gt; “Albiceleste”&lt;/em&gt; bahkan mungkin melebihi pengharapan publik sepak bola di negeri semacam Jerman atau Inggris terhadap tim nasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti sekarang, ditambah ekspektasi publik yang sama sekali tak berkurang, Argentina memang tak punya pilihan selain Maradona. Dialah satu-satunya “dewa sepak bola” negeri Amerika Latin itu yang tak seorang pun berani membantah pandangannya. Bahkan “si anak emas” Messi saja memilih menghindari konflik ketika Maradona mengkritik permainannya yang dinilainya egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Maradona juga yang dengan jeli melihat kalau Rolls Royce ini sudah berdebu. Ia bahkan mengaku sudah tahu bagaimana cara membersihkan debu-debu itu agar sang sedan mewah bisa kembali menampakkan kilaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, pilihan terhadap Maradona bukan tanpa risiko. Seorang pemain jenius kadang tak cukup sabar melihat tim asuhannya tumbuh dan berkembang secara perlahan. Itu pernah dialami Hristo Stoichkov saat menangangi timnas Bulgaria (2004-2007). Juga terjadi pada Dejan Savicevic saat dipercaya menangani timnas Serbia-Montenegro (2001-2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya yakin, Maradona akan lebih berhasil ketimbang dua rekannya tersebut. Pasalnya, ia tak sendirian mengurusi Rolls Royce ini. Ada Sergio Baptista dan Jose Luis Brown yang jadi asistennya. Keduanya mantan rekan setimnya di tim nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga akan “dibimbing” oleh Carlos Billardo –pelatihnya saat Maradona mengangkat trofi Piala Dunia 1986— sebagai tangan kanannya. Tugas utama Billardo kelak berkeliling dunia memantau permainan para bintang Argentina di liga mancanegara. Dengan demikian, secara fisik, Maradona yang punya riwayat sakit jantung itu tak akan terlalu terbebani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang megabintang tak akan bisa benar-benar bersinar tanpa “pemeran pembantu” yang loyal dan berdedikasi di sekelilingnya. Maradona beruntung memiliki “Trio B” –Billardo, Batista, dan Brown— yang akan membantunya mengelola tim nasional dengan akal sehat dan etos kerja yang benar. Tapi kesediaan Maradona menerima “Trio B” itu sendiri menunjukkan perubahan sikap mentalnya yang sangat positif. ***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 3 November 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-8880987874704976485?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/8880987874704976485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=8880987874704976485' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8880987874704976485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8880987874704976485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/11/argentina-memang-butuh-maradona.html' title='Argentina Memang Butuh Maradona'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3950434905024710545</id><published>2008-10-27T20:59:00.002+07:00</published><updated>2008-10-27T21:04:45.910+07:00</updated><title type='text'>Ketika Rooney Lupa Kulitnya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ADA&lt;/strong&gt; insiden kecil yang sangat menarik saat Manchester United (MU) bertandang ke Stadion Goodison Park, Sabtu (25/10) lalu. Lawatan ke kandang Everton itu, selalu jadi acara “pulang kampung” yang tak ramah bagi Wayne Rooney, striker andalan “Tim Setan Merah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Sepanjang pertandingan, ejekan publik tuan rumah terus mengiringi Rooney setiap kali ia memegang bola. Provokasi suporter&lt;em&gt; “The Toffees”&lt;/em&gt; memuncak pada menit ke-69 ketika Rooney menjatuhkan Mikel Arteta –salah satu pemain kesayangan pendukung Everton— dan akibatnya ia diganjar kartu kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya dan mungkin banyak penonton lain, itu sebenarnya pelanggaran biasa. Tapi, ketika wasit Alan Wiley melihatnya berbeda dan menganggapnya layak diberi kartu kuning, itu juga hal biasa. Itulah “wilayah” kekuasaan wasit yang tak bisa kita campuri selama pertandingan bergulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa Rooney juga mengerti hal itu. Bahwa wasit memiliki otoritas dalam membuat penafsiran yang acapkali sangat subjektif terhadap sebuah pelanggaran atau insiden dalam satu pertandingan. Dalam posisi sebagai pemain tim tamu dan bermain di depan suporter mantan timnya, saya mengira Rooney akan menerima kartu kuning itu dengan legawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi Rooney sungguh di luar dugaan. Dalam “iringan” riuh-rendah cemoohan publik Goodison Park, Rooney justru kehilangan kontrol. Tak kalah sengit, ia merespons reaksi publik dengan mencium kaos MU tepat di bagian logo klub juara bertahan Liga Primer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insiden kecil itu nyaris membawa “malapetakan” bagi Rooney maupun timnya. Wasit langsung mendekati striker berusia 23 tahun itu dan memberinya peringatan. Tentu saja, peringatan itu sama sekali tak dihiraukan oleh Rooney.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah pelatih MU, Alex Ferguson, cepat tanggap dan tak mau ambil risiko. Dua menit berselang, ia menarik Rooney keluar dan menggantikannya dengan Nani. Sebuah keputusan yang tepat dan bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibiarkan meneruskan pertandingan, kartu merah bukan tak mungkin keluar dari saku wasit. Sekarang ini saja kasus Rooney bisa dipastikan masuk agenda Komisi Disiplin FA setelah wasit Wiley memberikan laporannya. Setelah membahas laporan itu, FA akan memutuskan apakah insiden itu cukup serius untuk ditindaklanjuti atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Rooney berpotensi “merusak” dirinya lebih jauh lagi jika dibiarkan terus main. Seperti pernah dilakukannya terhadap wasit Kim Milton Nielsen pada pertandingan Liga Champions lawan Villarreal, 14 September 2005 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironis, dilema elementer seperti ini masih menimpa pemain sekaliber Rooney. Selaku bintang tim sebesar MU dan juga anggota skuat inti tim nasional Inggris, mestinya Rooney sudah “selesai” dari ujian mental seperti ini. Bahkan mestinya sejak pertama kali meninggalkan Everton dan berlabuh di Old Trafford pada awal September 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, dulu ia begitu menggebu-gebu menunjukkan kecintaannya terhadap Everton, klub yang membesarkannya. “Sekali biru, akan selalu biru”, begitulah ia menggambarkan fanatismenya terhadap Everton yang memang menjadikan biru sebagai warna kebesarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era industri sekarang ini, terbukti fanatisme terhadap satu klub tak berlaku lagi bagi seorang pemain. Setiap saat ia harus siap pindah dan beralih ke tim lain –bahkan yang tergolong musuh bebuyutan tim idolanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, itu bukan masalah besar jika pemain bisa menyikapinya secara dewasa. Rooney mungkin bisa belajar dari Raul Gonzalez. Sebagai bintang yang “dibuang” Atletico Madrid, ia membayar kepercayaan Real Madrid dengan gol-golnya dalam &lt;em&gt;“El Derbi Madrileno”.&lt;/em&gt; Atau Rooney bisa belajar dari cara Luis Figo menghadapi hujatan suporter Barcelona yang tak rela ia menyeberang ke Real Madrid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemoohan dari suporter tim lama adalah risiko bagi setiap pemain yang pindah ke klub lain atas kemauan sendiri. Entah untuk meningkatkan karier atau demi penghasilan lebih baik. Cemoohan itu mestinya disikapi sebagai ungkapan rasa cinta yang tak berbalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rooney sepatutnya menikmati saja cemoohan itu, bahkan melihatnya sebagai pujian dalam bentuk lain. Meladeninya dengan sikap provokatif justru hanya akan membuatnya semakin dibenci. Sekaligus membuatnya seperti “kacang yang lupa kulitnya”. ***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, 27 Oktober 2008)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3950434905024710545?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3950434905024710545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3950434905024710545' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3950434905024710545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3950434905024710545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/10/ketika-rooney-lupa-kulitnya.html' title='Ketika Rooney Lupa Kulitnya'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-1321267522529682234</id><published>2008-10-23T20:41:00.001+07:00</published><updated>2008-10-23T20:45:55.142+07:00</updated><title type='text'>Sepak Bola Indonesia Butuh Anger Management?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SEPANJANG&lt;/strong&gt; tahun 2008 ini setidaknya kita mencatat beberapa kasus pemukulan terjadi  di pentas sepak bola Indonesia. Ada yang dilakukan oleh ketua umum, manajer tim, asisten manajer, pelatih, asisten pelatih, wasit, hingga penonton yang mestinya duduk manis di tribun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya, kasus pemukulan wasit Yandri kepada Asisten Manajer PSM Makassar Faizal Minang, Minggu (12/10) lalu. Ketika itu, Faizal yang sebenarnya bermaksud memukul. Tapi Yandri ternyata lebih gesit dan mampu berbalik meng-KO Faizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, ada upaya pemukulan Manajer PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, terhadap wasit Sunaryo Joko, Kamis (9/10). Di kompetisi Divisi Utama, pelatih Persikab, Deny Syamsudin, juga diserang oknum penonton yang menerobos hingga ke pinggir lapangan saat bertandang ke Mitra Kukar, Selasa (7/10) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi kasus pemukulan terhadap pelatih tim nasional Libya, Gamal Adeen M Abu Nowara. Ia “mengaku” dipukul oleh salah seorang asisten pelatih Indonesia, Jumat (29/8), pada turnamen Piala Kemerdekaan. Meskipun kubu timnas Indonesia kemudian membantah tuduhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling “spektakuler”, tentunya,  tindak kekerasan terhadap Raja Isa saat masih menjadi pelatih Persipura, medio Agustus lalu. Saat tengah memimpin timnya menjamu Persijap di Stadion Mandala, Raja Isa malah diserang sejumlah pengurus “Tim Mutiara Hitam” yang dipimpin Ketua Umum M.R. Kambu. Bahkan Odniel Marauce, salah seorang pengurus klub Persipura, sempat melayangkan pukulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Isa sampai harus lari lintang-pukang menghindari serangan itu. Sementara di tribun, pendukung Persipura balas mengecam aksi brutal para pengurusnya. Kebrutalan yang kemudian berbuah denda Rp 50 juta bagi Marauce dan Rp 25 juta untuk Kambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari deretan contoh peristiwa tersebut, kita mendapatkan fakta yang menarik. Tindak kekerasan selama petandingan ternyata tak hanya dilakukan pemain, tapi juga dilakukan oleh pengurus, bahkan wasit dan pelatih. Emosi tak terkendali tidak hanya meluap pada diri pihak-pihak yang terkait langsung dalam pertandingan, tapi juga dialami pihak-pihak pendukungnya seperti pelatih maupun pengurus yang selama pertandingan posisinya di “pinggir lapangan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu kepada berbagai kasus tersebut, mungkin sepak bola Indonesia sudah saatnya memikirkan sebuah format pelatihan &lt;em&gt;“Anger Management”&lt;/em&gt; untuk jajarannya. Karena bila kekerasan ini kerap terjadi dan kemudian dianggap hal biasa, banyak pihak yang akan dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya pihak yang terlibat dalam kekerasan itu yang merugi. Perkembangan sepak bola nasional pun akan terkena imbasnya. Belum lagi sanksi dari AFC atau FIFA bila insiden tersebut terjadi dalam pertandingan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Anger Management”&lt;/em&gt; adalah bentuk terapi untuk membantu mengatasi berbagai rasa marah yang bisa mempengaruhi kesehatan seseorang, pekerjaan, perilaku sosial, atau hubungan personal. Tujuan utamanya, mengajarkan seseorang untuk mampu mengenali dan mengelola  kemarahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mancanegara, &lt;em&gt;“Anger Management”&lt;/em&gt; sudah banyak direkomendasikan oleh hakim dalam kasus kekerasan di pertandingan olah raga yang kasusnya sampai ke meja hijau. Seperti kasus pemukulan yang dilakukan seorang pemain futsal di Amerika Serikat. Sang pelaku diminta hakim mengikuti &lt;em&gt;“Anger Management”&lt;/em&gt; sebagai persyaratan atas hukuman percobaan yang dijatuhkan padanya.  Bintang basket NBA, Ron Artest, tahun lalu juga harus menghabiskan liburan musim panas di kelas&lt;em&gt; “Anger Management”&lt;/em&gt; karena perilaku brutalnya di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman yang dijatuhkan pada pelaku tindak kekerasan dalam olah raga apapun umumnya berat. Apalagi  kalau kasusnya sampai ke meja hijau. Betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk sebuah kemarahan terlihat dalam jumlah denda yang harus dibayar Marauce dan Kambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sayangnya dana APBD yang disalurkan ke klub terbuang hanya untuk membayar denda atas amarah seperti ini. Jadi, mengapa tidak mulai berpikir tentang &lt;em&gt;“Anger Management”?&lt;/em&gt; *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-1321267522529682234?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/1321267522529682234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=1321267522529682234' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1321267522529682234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1321267522529682234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/10/sepak-bola-indonesia-butuh-anger.html' title='Sepak Bola Indonesia Butuh Anger Management?'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7564579769923625459</id><published>2008-10-20T18:05:00.001+07:00</published><updated>2008-10-20T18:20:34.302+07:00</updated><title type='text'>“Sport Jantung” Bersama Liverpool</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PEMEO&lt;/strong&gt; bahwa bola itu bundar seperti menemukan pembenarannya dalam lanjutan kompetisi Liga Primer putaran kedelapan, pekan lalu. Khususnya pertandingan Liverpool lawan Wigan yang ditayangkan langsung oleh stasiun televisi tvOne. Sepanjang pertandingan, entah berapa kali hati kecil kita dipaksa “keliru” memprediksi seperti apa jadinya akhir duel nan seru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang mungkin yakin Liverpool bisa menang karena rekor kandang mereka sepanjang tahun 2008 lumayan dahsyat. &lt;em&gt;“The Reds”&lt;/em&gt; tidak terkalahkan dari 13 pertandingan di Stadion Anfield –10 di antaranya berbuah kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keyakinan itu menjadi berkurang karena lini belakang Liverpool tak diperkuat bek kiri Fabio Aurelio dan bek tengah Martin Skrtel. Aurelio sudah biasa diganti Andrea Dossena. Tapi Daniel Agger yang mengisi posisi Skrtel sudah 13 bulan tak mencicipi ketatnya pertandingan Liga Primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin berkurang karena absennya striker andalan Fernando Torres. Seperti halnya kapten Steven Gerrard, Torres ibarat sebelah kaki bagi Liverpool. Tanpa Torres atau Gerrard, permainan Liverpool jadi pincang. Tanpa keduanya sekaligus, mungkin malah “lumpuh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan suporter Liverpool juga sangat terganggu oleh faktor pelatih Wigan, Steve Bruce. Empat kali tandang ke Anfield membawa dua tim berbeda, Birmingham dan Wigan, Bruce tetap bisa pulang dengan kepala tegak. Latar belakang sebagai bek tengah Manchester United (MU) era 1980-an tampaknya sangat menolong Bruce dalam memahami cara menjinakkan Liverpool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, benar saja. Tak sampai 30 menit, Liverpool sudah dibuat tertinggal oleh gol striker maut Wigan, Amr Zaki. Mudah diduga, gol itu berawal dari kesalahan Agger saat menguasai bola di depan gawang Jose Reina. Kesalahan yang ironisnya justru berawal dari kepercayaan diri yang kelewat besar di sebuah laga perdana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, Agger kemudian membayar lunas kesalahan itu dengan &lt;em&gt;assist&lt;/em&gt; kepada Dirk Kuyt. Tapi magis Bruce kembali menemukan jalannya lewat “gol ala Widodo C. Putro” yang dilesakkan Zaki dengan aksi akrobatik menjelang akhir babak pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ, kebanyakan orang mulai meragukan kesanggupan Liverpool merealisasikan predikat barunya sebagai &lt;em&gt;“King of Comeback”. &lt;/em&gt;Meski musim ini mereka sudah tiga kali membuktikannya saat menghadapi MU, Middlesbrough, dan Manchester City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pertengahan babak kedua, juga tak ada tanda-randa drama itu bakal berulang. Pertahanan berlapis Wigan seperti “sarang burung” yang penuh liku dan memerangkap para pemain Liverpool. Tak ada tanda-tanda bakal bisa ditembus.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun “bola yang bundar” itu akhirnya menggelinding ke sisi yang lain setelah Antonio Valencia diganjar kartu merah. Inilah momentum yang ditunggu-tunggu Steven Gerrard dan kawan-kawan untuk menemukan pintu masuk ke “sarang burung” pertahanan Wigan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan lawan yang bergelombang dan cepat membuat kaki Mario Melchiot dan kawan-kawan mulai gontai, kelelahan. Mereka tak kuat lagi mengikuti pergerakan Jermaine Pennant dan Albert Riera yang terus meneror dari dua sisi lapangan. Gol Riera dan kemudian tendangan voli indah Kuyt pun seperti tinggal soal waktu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenikmatan menonton sepak bola yang sebenarnya. Ada kombinasi yang sempurna antara keraguan dan keyakinan, kelelahan dan kegigihan, kegagalan dan keberuntungan, kekecewaan dan kebanggaan, serta –tentu saja— kekalahan dan kemenangan. Semuanya tak bisa diprediksi kehadirannya. Sehingga penggemar Liverpool dipaksa terus “sport jantung” saat menyaksikan tim favoritnya beraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, jantung termasuk organ tubuh yang rapuh. “Sport jantung” yang kelewat sering hanya akan membawa penyakit, bahkan mungkin kematian –berupa kekalahan, tentunya. Dan, jika Liverpool tak segera membenahi kebiasaan tampil buruk pada babak pertama, “kematian” itu bisa saja terjadi saat Liverpool bertandang ke markas Atletico Madrid atau Chelsea pada pekan mendatang. Atau sebaliknya? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 20 Oktober 2008)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7564579769923625459?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7564579769923625459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7564579769923625459' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7564579769923625459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7564579769923625459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/10/sport-jantung-bersama-liverpool.html' title='“Sport Jantung” Bersama Liverpool'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-1931057660451002867</id><published>2008-10-20T17:52:00.000+07:00</published><updated>2008-10-20T17:58:56.447+07:00</updated><title type='text'>Say No To Alcohol</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KITA&lt;/strong&gt; sering tak sadar kalau bahaya pernah begitu dekat dalam kehidupan kita. Dan kita baru menyadarinya setelah marabahaya itu berlalu dan kita masih baik-baik saja. Seperti yang saya alami di Manchester saat berlangsungnya final Piala UEFA, Rabu (14/5) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pagi hingga siang hari itu, saya berada di Piccadilly Gardens –sekitar 10 menit jalan kaki dari hotel tempat saya menginap. Sambil menunggu keberangkatan ke Stadion City of Manchester, saya berbaur dengan ratusan dan kemudian jadi ribuan suporter yang memenuhi kawasan niaga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, saya menyaksikan bagaimana suporter Glasgow Rangers “menduduki” kawasan itu. Sebagian bertelanjang dada, main bola, nyanyi-nyanyi, dan ada pula yang cari tambahan dengan jual kaos atau “ngamen” memakai alat musik tiup tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga melihat dengan mata kepala sendiri bahwa layar raksasa yang dipasang memunggungi Hotel Ramada masih berfungsi siang itu. Dan, yang tak terlupakan, saya melihat dengan jelas betapa kuatnya orang-orang Skotlandia itu menenggak bir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda melihat orang bepergian, barang bawaan mereka umumnya makanan dan pakaian di dalam ransel. Sulit dipercaya, di Stasiun Manchester Piccadilly, saya melihat puluhan suporter Rangers turun menenteng tas besar yang isinya berkaleng-kaleng bir. Bahkan ada yang memanggul satu kerat berisi –mungkin— 20 atau 24 botol bir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, siang itu, saya langsung punya firasat tak enak. Makanya, saat melaporkan situasi lapangan dan rencana tulisan, saya berkirim &lt;em&gt;sms&lt;/em&gt; kepada salah seorang rekan di kantor: “Du, kayaknya bakal rusuh nih &lt;em&gt;ntar malem&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ternyata benar. Malam itu, saat saya duduk manis di Stadion City of Manchester, Piccadilly dilanda kerusuhan. Marah karena layar raksasa gagal berfungsi menjelang&lt;em&gt; kick-off&lt;/em&gt;, puluhan pria mengamuk dan menyerang petugas. Situasi di Piccadilly Gardens malam itu digambarkan media massa Inggris dengan kata-kata yang menyeramkan: &lt;em&gt;War Zone&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu (17/5) lalu, giliran 90 ribu pendukung Portsmouth dan Cardiff City menyerbu Wembley. Aneh, saya tak punya firasat buruk. Bahkan, sekalipun sempat terjepit di antara puluhan pendukung kedua tim di kereta subway Jubilee Line dari Bond Street menuju Wembley Park, saya juga tak merasa terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncinya sederhana: alkohol. Tak ada pesta alkohol di Wembley, Piccadilly Circus, Waterloo, atau kawasan lain yang jadi titik persinggahan suporter. Di dalam Stadion Wembley, pemeriksaan juga ekstraketat untuk mencegah kemungkinan lolosnya suporter teler. Bahkan di ruangan pers yang lumayan mewah itu pun tercantum jelas tulisan: &lt;em&gt;“No Alcohol”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, Piala FA berlangsung aman dan lancar meski suporter Portsmouth dan Cardiff sempat saling ejek saat lagu kebangsaan &lt;em&gt;God Save The Queen&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Hen Wlad Fy Nhadau&lt;/em&gt; (Tanah Kelahiran Ayahku) bergantian dikumandangkan. Rasanya benar kata Bang Haji (Rhoma Irama), minuman keras itu memang lebih banyak mudaratnya. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 19 Mei 2008)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-1931057660451002867?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/1931057660451002867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=1931057660451002867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1931057660451002867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1931057660451002867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/10/say-no-to-alcohol.html' title='Say No To Alcohol'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-8425187688333506720</id><published>2008-10-14T22:00:00.002+07:00</published><updated>2008-10-14T22:16:45.939+07:00</updated><title type='text'>Ayo Mampir di Portal Vivanews.com</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SATU&lt;/strong&gt; lagi pendatang baru hadir di jagat media Indonesia. Kali ini, masuk melalui dunia maya. Namanya simpel dan mudah diingat: &lt;strong&gt;vivanews.com&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai sebuah portal berita, saya melihat &lt;strong&gt;vivanews.com&lt;/strong&gt; bisa jadi alternatif menarik. Ia menawarkan ragam pilihan yang lebih kaya dibanding portal-portal lain yang lebih dulu hadir.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya suka sekali masuk ke halaman teknologinya. Meskipun menu sainsnya, menurut saya, masih agak kurang digarap. Saya juga suka mengintip foto-fotonya yang lumayan wah. Bahkan saya juga terkejut karena ada halaman khusus mengenai korupsi. Cukup mengasyikkan berita-beritanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi, tentu saja, saya paling sering buka-buka halaman bolanya. Itu kan memang dunia saya. Dan isinya boleh juga, meski jelas masih bisa lebih ditingkatkan --sesuai tekad &lt;strong&gt;vivanews.com&lt;/strong&gt; untuk mengutamakan kecepatan serta kedalaman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya merasa perlu berbagi informasi soal portal baru ini. Soalnya, saya sedikit ikut "terlibat" di sana lewat rubrik Analisis yang dipasang di pojok kiri bawah halaman Bola.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Minggu ini, saya ber-Celoteh soal ancaman krisis keuangan global terhadap persepakbolaan dunia, khususnya Eropa. Silakan Anda baca dan jangan lupa mengomentarinya. Di blog saya ini pun boleh. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-8425187688333506720?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/8425187688333506720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=8425187688333506720' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8425187688333506720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8425187688333506720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/10/ayo-mampir-di-portal-vivanewscom.html' title='Ayo Mampir di Portal Vivanews.com'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2590191166878558204</id><published>2008-10-13T21:09:00.003+07:00</published><updated>2008-10-13T21:14:03.411+07:00</updated><title type='text'>Capello Harus Berhenti Bereksperimen</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;HASIL&lt;/strong&gt; fantastis dibukukan tim nasional Inggris saat menjamu Kazakhstan di Stadion Wembley, Sabtu (11/10) atau Minggu dini hari WIB. Tak tanggung-tanggung, Inggis membantai tim pecahan Uni Soviet itu dengan skor sangat telak: 5-1!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Inilah kemenangan terbesar yang diraih&lt;em&gt; “The Three Lions”&lt;/em&gt; sejak ditangani Fabio Capello, 14 Desember 2007. Ditambah kemenangan 4-1 atas Kroasia, bulan lalu, Inggris pun kian menunjukkan potensinya sebagai salah satu tim paling “panas” di Eropa saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, dalam pertandingan di Stadion Wembley ini, Capello menurunkan formasi baku 4-4-2. Bukan pola eksperimen 4-3-3 seperti yang sempat dicobanya dalam beberapa kali latihan prapertandingan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wayne Rooney dan Emile Heskey diturunkan sebagai duet di lini depan. Pembagian tugas di antara mereka jelas dan simpel. Heskey membuka ruang dan menjadi “tembok” pemantul aliran umpan dari sayap kanan maupun kiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rooney yang kemudian memanfaatkan bola-bola “pantulan” dari Heskey tersebut. Dengan postur Heskey yang tinggi-kekar dan keuletannya dalam perebutan bola, pasokan bola bagi Rooney bisa dibilang cukup terjamin. Tinggal pintar-pintarnya Rooney memanfaatkan peluang yang tercipta.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya pun nyata. Rooney mencetak dua gol kemenangan Inggris. Ia sekaligus meneruskan tren positif produktivitas golnya dalam sebulan ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah menarik, dalam laga ini, Capello juga menduetkan Steven Gerrard dan Frank Lampard di pusat lini tengah. Sebuah keputusan yang sangat berpotensi menjadi sumber polemik sekaligus amunisi bagi para kritikus seandainya Inggris gagal memetik kemenangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Toh, keberanian Capello –yang memang didukung data statistik— berbuah manis. Duet Gerrard-Lampard mampu memperlihatkan kematangan bermain sebagaimana sudah mereka tunjukkan selama bertahun-tahun di Liverpool dan Chelsea.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bermain 4-4-2 dengan dua pemain sayap –Theo Walcott di kanan dan Gareth Barry di kiri— memang tak mudah bagi Gerrard dan Lampard. Di klubnya, mereka terbiasa mendapat ruang gerak sangat besar untuk merangsek ke kotak penalti dan mencetak gol.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya saat bermain dengan pola 4-4-2 racikan Capello. Suka-tak suka, Gerrard dan Lampard harus memberi perhatian lebih banyak terhadap pertahanan. Mereka harus lebih ikhlas membiarkan Walcott dan Barry yang bermanuver dan mendapat peluang bikin gol.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena faktor usia dan karakter bermainnya, Gerrard tampak lebih optimal menjalanlan tugasnya saat menghadapi Kazakhstan. Padahal, dengan komitmen seperti itu, ia sebenarnya “mengabaikan” kelebihannya sebagai penembak jitu dari lini kedua.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitulah permainan tim. Setiap pemain harus siap mendedikasikan dirinya untuk tim dan melupakan ambisi pribadinya. Itulah yang sudah dilakukan Gerrard untuk&lt;em&gt; “The Three Lions”.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Benar, Kazakhstan memang bukan tim papan atas Eropa dan mungkin bukan barometer yang tepat untuk mengukur kemampuan tim Inggris yang sebenarnya. Bahkan permainan Inggris sendiri pun belum bisa dibilang sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun memang tak ada yang sempurna di dunia. Dan Capello tak perlu mencari-cari kesempurnaan itu. Yang harus dia lakukan hanyalah membuka mata dan hati untuk menerima kenyataan bahwa kerangka tim dan pola permainan ideal untuk timnya sudah didapatkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Capello tinggal konsisten mempertahankan kerangka tim dan pola 4-4-2 ini saat menjalani laga tandang di Belarus, Rabu (15/10) nanti. Ia juga harus gigih mempertahankan duet Gerrard-Lampard sebagai tulang punggung lini tengah. Seperti halnya ia juga harus berani terus mempercayai Rooney sebagai mesin golnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsistensi dan kepercayaan penuh dari Capello, saya yakin Gerrard, Lampard, Rooney, bersama kapten John Terry akan membawa Inggris kembali jadi kekuatan yang disegani di Eropa. Bahkan mungkin di putaran final Piala Dunia 2010 nanti. ***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di &lt;/em&gt;TopSkor&lt;em&gt;, 13 Oktober 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2590191166878558204?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2590191166878558204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2590191166878558204' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2590191166878558204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2590191166878558204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/10/capello-harus-berhenti-bereksperimen.html' title='Capello Harus Berhenti Bereksperimen'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-918895493554061716</id><published>2008-10-07T20:13:00.000+07:00</published><updated>2008-10-07T20:16:06.395+07:00</updated><title type='text'>Mourinho dan Mulut Besarnya Itu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KEHADIRAN&lt;/strong&gt; Jose Mourinho di panggung kompetisi Seri A benar-benar membawa warna baru. Kebiasaannya mengumbar kata-kata pedas telah menjadikan kompetisi paling bergengsi di Italia itu terasa lebih hidup, bergairah, sekaligus “makin panas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kompetisi baru seumur jagung, Mourinho sudah buka front di sejumlah “medan pertempuran”. Dengan Direktur Sport Catania, Pietro Lo Monaco, ia terlibat perang kata-kata yang menjurus kasar. Lo Monaco bahkan sampai menyatakan “sumpal saja mulut Mourinho” saking kesalnya terhadap arogansi pelatih baru Inter Milan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah seru perang kata-katanya dengan Claudio Ranieri. Inilah pelatih yang tergusur dari kursi kepelatihan Chelsea saat Mourinho datang dengan predikat juara antarklub Eropa yang diraihnya bersama FC Porto musim 2003/2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranieri mengecam Mourinho sebagai pribadi yang tidak terpuji dan bakal segera “termakan” oleh omongannya sendiri. Tanpa basa-basi, &lt;em&gt;“The Special One” &lt;/em&gt;balas mengejek Ranieri yang tak becus mengucapkan kalimat sederhana semacam “good morning” padahal pernah empat tahun menangani Chelsea. Mourinho juga mengkritik Ranieri sebagai sosok pelatih kuno dan sulit mengubah cara berpikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi sejumlah front lain yang dibangun Mourinho pada awal kehadirannya di “Negeri Pizza”. Ia menyerang Carlo Ancelotti, pelatih AC Milan yang pernah meledeknya karena tak punya latar belakang sebagai pemain hebat. “Mungkin ia lupa, permainan terbaik Milan justru saat ditangani Arrigo Sacchi,” katanya, menyindir. “Dan, seperti saya, Sacchi juga tak pernah jadi pemain hebat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gagah berani, Mourinho juga menantang pers Italia dengan hanya mengirim asisten pelatih Giuseppe Baresi saat jumpa pers usai mengalahkan Lecce. Sebuah sikap yang jamak terjadi di Liga Primer, namun jarang sekali dilakukan para pelatih klub Seri A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet pertempuran yang dilancarkan Mourinho pada awal musim 2008/2009 ini membuat kompetisi Seri A langsung “panas”. Tak lagi adem-ayem dan menjemukan seperti pada musim-musim sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, Mourinho tampak tenang-tenang saja menghadapi situasi bergejolak itu. Ia tetap tenang, percaya diri, bahkan terus mengendalikan permainan –kalau perlu dengan melancarkan taktik mengaku “kalah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja caranya menyudahi perseteruan dengan Ranieri yang dirasanya mulai menguras energi. “Dia bicara sekali dan dia senang, dia bicara dua kali dan dia lebih senang. Dia bicara tiga kali dan senyum di wajahnya mengembang. Saya bicara sekali saja dan dia sedih,” katanya, menyindir. “Cukup sampai di sini. Skor 3-1 untuknya namun gol saya sangat indah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika menghadapi tekanan dari pers Italia soal ketidakhadirannya dalam jumpa pers. Mourinho tak kehabisan akal untuk membalikkan keadaan. “Dalam karier saya yang pendek, saya sudah 20 kali mengirim asisten ke konferensi pers. Dan di kesempatan ke-21, disebut tidak menghormati pers. Apa masalahnya?” katanya, sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun kemudian membeberkan fakta bahwa Baresi sengaja dipilih karena dinilai mengerti betul sejarah Inter. “Saya memilih orang-orang yang bisa mewakili klub dengan martabat dan berkelas. Masalahnya, Anda tidak menghormati orang seperti Baresi,” katanya, menyerang balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah cantiknya “serangan balik” Mourinho itu. Dari perspektif komunikasi, ia tak hanya membuat kalangan pers Italia mati kutu. Lebih dari itu, ia sukses membangun pencitraan yang sangat positif bagi dirinya, Baresi, bahkan Inter Milan sebagai institusi yang mempekerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kasus perang kata-kata Mourinho dan pers Italia ini, kita mulai bisa menyelami pola pikir pelatih asal Portugal itu dengan perspektif yang lebih positif. Kuncinya adalah tidak terjebak dalam pemaknaan verbal semata terhadap setiap kata-kata pedas yang dilontarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan dan sikap Mourinho memang mudah bikin jengkel –apalagi bagi para pesaingnya. Tapi, jika ditelisik lebih jauh, sepertinya ia memang sengaja membangun kejengkelan publik itu untuk tujuan lain yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus Inter, saya “curiga” ia sengaja menempatkan diri sebagai sasaran tembak bagi pers dan “barisan anti-Inter”. Dengan demikian, ia bisa menjauhkan Adriano dan kawan-kawan dari sorotan pers Italia yang terkenal “kejam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers pun jadi lupa terhadap problem gaya hidup Adriano. Mereka juga tak terlalu cermat mengamati performa Ricardo Quaresma yang kurang mengesankan. Bahkan kekalahan dalam derby Milan pun “terlupakan” karena fokus perhatian publik lebih tertuju kepada sang pelatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mourinho mungkin bukan tipe pelatih yang gaya manajemennya bisa ditiru. Namun, setidaknya, ia bisa jadi alternatif yang menarik sekaligus memberi warna tersendiri. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 6 Oktober 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-918895493554061716?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/918895493554061716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=918895493554061716' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/918895493554061716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/918895493554061716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/10/mourinho-dan-mulut-besarnya-itu.html' title='Mourinho dan Mulut Besarnya Itu'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3563526586760646718</id><published>2008-09-24T22:37:00.001+07:00</published><updated>2008-09-24T22:40:21.744+07:00</updated><title type='text'>Setelah Fathul dan Dian, Apa Masih Perlu Korban Berikutnya?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SAYA &lt;/strong&gt;pikir tewasnya Fathul Mulyadin yang dianiaya oknum suporter Persipura Jayapura di kawasan Senayan, 6 Februari lalu, akan menjadi musibah maut terakhir dalam persepakbolaan Indonesia. Maklum, kejadian tersebut sudah membawa dampak yang lumayan hebat terhadap kelangsungan kompetisi sepak bola nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, Menegpora Adhyaksa Dault sampai melarang Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) digunakan untuk menggelar pertandingan tingkat nasional. “Stadion ini hanya untuk pertandingan internasional dan tidak boleh digunakan PSSI untuk pertandingan tingkat nasional, baik itu Liga Indonesia maupun Copa Indonesia,” Adhyaksa menegaskan, kala itu. “Sayang ‘kan dana Rp 90 miliar yang sudah dikeluarkan untuk membenahi stadion itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek bola saljunya pun lumayan merepotkan. Persija Jakarta sempat tak boleh menggelar pertandingan di SUGBK. Alhasil, tim Ibukota ini sampai harus numpang “sana-sini” untuk menggelar laga kandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan itu baru saja dicabut, awal bulan ini. Senin (22/9) lalu, “Tim Macan Kemayoran” sukses menggelar partai kandang versus Arema Malang di SUGBK –tak ada keributan dan tim tuan rumah menang 1-0. Dua pekan sebelumnya, Persija juga menjamu PSIS di SUGBK dan menuai kemenangan besar 5-0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, kita dikejutkan lagi oleh berita tewasnya seorang pendukung Persitara Jakarta Utara atau akrab disapa NJ Mania. Pendukung bernama Dian Rusdiana ini tewas pada Minggu petang setelah menjalani perawatan di RSCM, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya, remaja warga Pademangan Barat, Jakarta Utara, itu menjadi korban penyerangan sekelompok “orang tak dikenal” usai laga Persitara melawan Pelita Jaya di Stadion Lebak Bulus, Sabtu (20/9) malam. Dian dan kawan-kawannya diserang sekelompok pemuda di depan pintu tol Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dalam perjalanan pulang dari stadion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat pengeroyokan itu, Dian mengalami luka di belakang kepala. Semula, luka itu dianggap tak begitu parah sehingga Dian masih diizinkan pulang. Namun, kondisinya kemudian memburuk keesokan harinya sehingga harus dilarikan ke RSCM. Di sanalah, akhirnya, Dian dijemput malaikat maut dalam usia baru 16 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun nyaris kehilangan kata-kata untuk menyikapi peristiwa tragis ini. Sebab, bagi saya, selembar nyawa manusia jauh lebih berharga di atas segalanya –kemenangan, gelar juara, solidaritas, fanatisme suporter, atau apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu, kasus ini tak boleh dibiarkan begitu saja. Polisi harus mengusutnya secara tuntas –tak peduli pelakunya dari kelompok mana dan siapa di belakang mereka. Jangan biarkan kasus Dian “berlalu” begitu saja seperti kasus tewasnya Fathul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepak bola dan kompetisi Liga Indonesia digelar untuk tujuan-tujuan yang jauh dari sifat kekerasan. Jika niat yang mulia itu tak bisa diwujudkan dan justru dampak negatifnya yang lebih menonjol, jangan salahkan jika publik semakin alergi terhadap pertandingan sepak bola di Tanah Air. Sepak bola memang penting, tapi nyawa manusia jauh lebih penting! *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3563526586760646718?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3563526586760646718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3563526586760646718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3563526586760646718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3563526586760646718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/setelah-fathul-dan-dian-apa-masih-perlu.html' title='Setelah Fathul dan Dian, Apa Masih Perlu Korban Berikutnya?'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-1258531181235567995</id><published>2008-09-23T18:59:00.002+07:00</published><updated>2008-09-23T19:03:51.192+07:00</updated><title type='text'>Ketika Manajer Jadi “Boneka”</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;NELANGSA&lt;/strong&gt; rasanya melihat tim sekelas Newcastle United dipermalukan West Ham 1-3, Sabtu (20/9) lalu. Tak sekadar kalah, Newcastle bisa dibilang tampil “menyedihkan” dalam laga tersebut. Tanpa determinasi, miskin koordinasi, dan nyaris tanpa konsep bermain yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak faktor, tentunya, yang membuat Newcastle tampil seburuk itu. Namun, penyebab utamanya jelas ketiadaan sang pelatih di pinggir lapangan. Kevin Keegan sudah angkat kaki sejak 4 September lalu, namun Newcastle tak kunjung mendapatkan penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, siapa pula pelatih bagus mau menerima tawaran Newcastle sekarang ini? Khususnya, setelah misteri ketidakbetahan Keegan sedikit demi sedikit mulai tersingkap. Jabatan manajer –sebutan untuk posisi yang di sini biasa kita sebut “pelatih”— di Newcastle ternyata tak sementereng namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Keegan adalah&lt;em&gt; “The Geordie Messiah”.&lt;/em&gt; Dialah yang mengangkat Newcastle kembali ke Liga Primer dengan menjuarai Divisi Satu 1992/1993. Karena polesannya pula Newcastle sempat jadi kekuatan yang disegani pada periode 1992-1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan reputasi sehebat itu –ditambah lagi ia pernah menangani tim nasional Inggris, rasanya sulit dipercaya jika Keegan hanya dijadikan “boneka” di Newcastle. Diberi jabatan sebagai manajer, tapi terus “direcoki” oleh Denis Wise selaku direktur sport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitulah realitas Liga Primer saat ini. Zaman baru telah datang ketika kewenangan manajer sebagai penguasa tunggal tim pelan-pelan mulai dielaborasi oleh para pemilik klub yang datang dari antah-berantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keegan bukanlah satu-satunya korban. Pada saat hampir berbarengan, Liga Primer juga kehilangan Alan Curbishley. Salah satu pelatih lokal Inggris paling sukses itu juga terpental dari West Ham karena alasan yang sama. Curbishley tak sudi kewenangannya –terutama dalam operasi transfer— terlalu banyak dikebiri oleh dewan direksi klub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keduanya bukan korban pertama. Sebelum mereka, ada Jose Mourinho yang lebih dulu merasakan panasnya kursi manajer Chelsea di bawah kendali pemilik klub superkaya seperti Roman Abramovich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa tedeng aling-aling, Abramovich menempatkan Frank Arnesen sebagai direktur sport yang membuat peran Mourinho dalam urusan pembelian pemain jadi sangat minimal. Ia juga menempatkan Piet de Visser sebagai penasihat pribadi dengan kewenangan dan akses informasi yang acapkali melebihi sang manajer. Belakangan muncul pula Avram Grant sebagai pengganti Arnesen. Bahkan Grant pula yang akhirnya menggusur posisi Mourinho.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pun posisi Rafael Benitez di Liverpool sebenarnya bisa dibilang setali tiga uang dengan Mourinho dulu. Ia memang masih memangku jabatan manajer&lt;em&gt; “The Reds”,&lt;/em&gt; namun kewenangannya praktis sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti dalam kasus Gareth Barry. Benitez sangat menginginkan gelandang Aston Villa itu bergabung ke Anfield. Namun duet pemilik Tom Hicks dan George N. Gillett tak memberi lampu hijau. Belakangan Kepala Eksekutif Liverpool, Rick Parry, malah menyebut harga 18 juta pound yang “disepakati” Benitez dan manajemen Aston Villa kelewat mahal. Makanya, operasi transfer itu tak pernah direalisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam struktur manajemen puncak Liverpool memang tak ada posisi direktur sport. Tapi, pada prakteknya, fungsi itu ada dan dijalankan oleh Parry sebagai kepala eksekutif. Maka, fungsi Benitez sebagai manajer sesungguhnya kini tak lebih luas ketimbang &lt;em&gt;allenatore&lt;/em&gt; --para sejawatnya di Seri A— atau &lt;em&gt;entrenador&lt;/em&gt;, rekan-rekan seprofesinya di La Liga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keegan dan Curbishley kini mungkin tak henti mengutuk perubahan sistem manajemen klub Liga Primer yang jauh berubah dibanding semasa meraka masih bermain. Namun mereka mungkin hanya bisa sebatas mengutuk dan meratapi. Tanpa bisa mencegah perubahan ini semakin meluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, klub-klub di Inggris –bukan sekadar Liga Primer— kini semakin banyak jatuh ke tangan para miliarder lokal maupun asing. Sialnya, acapkali mereka tak kenal kultur dan sejarah klub yang jadi miliknya. Demi mengamankan uang yang sudah ditanamkan, mereka pun kemudian menempatkan orang kepercayaannya dengan fungsi dan kewenangan yang akhirnya lebih banyak jadi masalah baru ketimbang solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja kasus Mike Ashley. Ia sama sekali tak paham kalau Keegan adalah “jiwa dan hati” para &lt;em&gt;geordie&lt;/em&gt; sejati. Maka, sungguh tak masuk akal ketika Ashley lebih banyak memberi kewenangan kepada Wise ketimbang Keegan sebagai manajer klub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ashley juga gemar memamerkan hobinya berpesta dan foya-foya, bahkan nonton di St James’ Park sambil menenteng botol sampanye bersama gadis-gadis muda. Padahal, puluhan ribu pemilik tiket terusan St James’ Park hidup pas-pasan, namun begitu loyal mendedikasikan hidup mereka untuk kejayaan &lt;em&gt;“The Magpies”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, mungkin giliran pelatih klub-klub Inggris lainnya yang menghadapi persoalan seperti ini. Dari Manchester United, Arsenal, Manchester City, hingga Queen's Park Rangers kini juga sudah jatuh ke tangan “pengusaha balap” Flavio Briatore dan Bernie Ecclestone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nantinya, mungkin hanya akan tersedia dua pilihan bagi Keegan dan kawan-kawan. Mereka harus bersedia berkompromi dengan realitas baru ini atau –seperti sekarang— memilih berhenti saja ketimbang jadi “boneka” yang sama sekali tidak lucu. ***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, 22 September 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-1258531181235567995?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/1258531181235567995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=1258531181235567995' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1258531181235567995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1258531181235567995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/ketika-manajer-jadi-boneka.html' title='Ketika Manajer Jadi “Boneka”'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-9104967659951462731</id><published>2008-09-19T17:47:00.000+07:00</published><updated>2008-09-19T17:48:33.622+07:00</updated><title type='text'>Kita Kehilangan “Karakter” Bang Ronny</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SEPAK&lt;/strong&gt; bola Indonesia berduka. Siang ini, Indonesia kehilangan mantan pemain nasional era 1970 dan 1980-an, Ronny Pattinasarany. Ia  meninggal dunia dalam usia 58 tahun di Omni Medical Centre, Jakarta Timur, pukul 13.30 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian Bang Ronny –demikian sapaan akrab saya kepadanya— mungkin tak terlalu mengagetkan para sahabat dan kenalannya. Pasalnya, ia sudah cukup lama menderita kanker hati, paru-paru, dan tulang belakang. Bahkan sempat menjalani pengobatan di Cina, sebelum kembali ke Jakarta, 31 Agustus lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanker ganas itu semula hanya menggerogoti pankreas Bang Ronny. Namun kemudian menjalar ke lever sebelum dipastikan ikut menghancurkan tulang belakang dan paru-parunya. Makanya, saat dibawa ke Omni Medical Centre, kondisi Bang Ronny terlihat sudah sangat lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapat kabar bahwa jenasah Bang Ronny akan dikebumikan pada Minggu (21/9) nanti. Rencananya, ia bakal dimakamkan di San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, saya ikut merasa kehilangan atas kepergian lelaki jangkung yang simpatik itu. Meski bukan tergolong sahabat dekatnya, setidaknya saya pernah cukup sering bertemu dan berinteraksi dengan Bang Ronny selama bergabung di tim RCTI Sports.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tujuh tahun, 1995-2002, kami sama-sama jadi komentator di stasiun televisi yang dulu dimiliki Grup Bimantara itu. Kadang kami sekadar berpapasan saat bergantian masuk studio, tapi tak jarang pula duduk semeja sebagai sesama komentator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang selalu saya ingat tentang sosok Bang Ronny sebagai komentator. Yang pertama, Bang Ronny sering sekali melontarkan pernyataan ini: “siapa yang menguasai lini tengah, dialah yang akan menguasai pertandingan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk yang kurang setuju terhadap hipotesis tersebut. Tapi cukup banyak komentator lain yang sempat mengikuti arus pemikiran Bang Ronny. Meski, belakangan, hipotesis ini mulai ditinggalkan karena fakta di lapangan sering menunjukkan hal yang justru bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya sangat memahami mengapa Bang Ronny punya pandangan seperti itu terhadap permainan. Sebab beliau menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pemain lini tengah –bahkan pengatur serangan alias playmaker— yang disegani kawan maupun lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur beberapa kali pernah main bola dalam satu lapangan dengan Bang Ronny. Dan selalu berada di tim yang jadi lawannya. Selama itu pula, tim saya selalu kalah dan saya dibuat terpukau oleh sentuhan-sentuhan Bang Ronny yang tetap luar biasa hingga masa tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang selalu mengingatkan saya kepada Bang Ronny adalah kata “karakter”. Boleh percaya atau tidak, dalam setiap ulasannya Bang Ronny nyaris tak pernah alpa menyisipkan kata “karakter” tersebut beserta konteksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan teman-teman sering tersenyum simpul setiap kali kata “karakter” itu terlontar dari mulut Bang Ronny. Itulah ciri khas beliau. Itu sekaligus pula menggambarkan pandangan Bang Ronny mengenai permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Ronny begitu peduli dan mementingkan aspek karakter itu. Dan, kepada saya, beberapa kali ia mengutarakan keprihatinannya terhadap para pemain Indonesia masa kini yang dinilainya kurang berkarakter. Mungkin karena itulah ia kemudian memilih menceburkan diri dalam pembinaan pemain usia dini lewat SSB AS-IOP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah agak lama saya tak mendengar kata “karakter” itu meluncur dalam ulasan-ulasan Bang Ronny di televisi –khususnya setelah ia divonis menderita kanker hati sejak Desember 2007. Sekarang, saya bahkan kehilangan kesempatan mendengarkannya lagi untuk selama-lamanya. Selamat jalan, Bang! *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-9104967659951462731?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/9104967659951462731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=9104967659951462731' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/9104967659951462731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/9104967659951462731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/kita-kehilangan-karakter-bang-ronny.html' title='Kita Kehilangan “Karakter” Bang Ronny'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2059304527748220399</id><published>2008-09-17T22:41:00.001+07:00</published><updated>2008-09-17T22:43:10.678+07:00</updated><title type='text'>Salut untuk Ketegasan Komdis dan Pengurus PSM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;AKHIRNYA&lt;/strong&gt;, hari ini, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan hukuman atas kasus kerusuhan di Stadion Mattoanging Andi Mattalatta, Senin (15/9) malam lalu. Komdis menjatuhkan hukuman lumayan berat kepada suporter PSM Makassar berupa larangan memasuki stadion-stadion di seluruh Indonesia dengan menggunakan atribut perkumpulan mereka selama satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu. Tim PSM sendiri juga dihukum menggelar dua laga berikutnya tanpa penonton. Mereka masih harus membayar denda Rp 20 juta dan berkewajiban memperbaiki fasilitas-fasilitas stadion yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman itu, menurut Ketua Komdis PSSI Hinca Pandjaitan, terkait kerusuhan pada laga PSM versus Persela Lamongan dalam lanjutan Liga Super Indonesia. Merujuk Pasal 73 dan 74 Ayat 1 Kode Disiplin, panitia pelaksana di Makassar dianggap gagal melakukan tugasnya menjaga ketertiban dan keamanan sehingga layak dijatuhi hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tak hanya kasus PSM versus Persela yang disidangkan oleh Komdis kali ini. Masih ada lagi kasus kerusuhan pada laga Arema Malang versus PKT Bontang di Malang, 13 September lalu. Juga kasus kekerasan yang dilakukan kiper Persiwa, Timotius Mote, saat menghadapi Pelita Jaya di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Mote terbukti menanduk kepala striker Pelita Jaya, Rudi Widodo, pada laga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak bisa dimungkiri, kerusuhan di Makassar yang paling menyedot perhatian. Tak hanya karena skala kerusuhannya yang tergolong serius. Antara lain, diwarnai aksi saling lempar antara petugas pertandingan dan aparat keamanan melawan para perusuh. Bahkan, kabarnya, aksi pengejaran terhadap para perusuh dilakukan hingga keluar kawasan stadion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, kasus ini juga terbilang “sensitif” karena melibat PSM. Selama ini, ada anggapan kuat bahwa “Tim Ayam Jantan” mendapat perlakuan dan perlindungan khusus karena sejumlah pengurus teras PSSI dan BLI punya ikatan emosional yang kental dengan tim asal Sulawesi Selatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komdis telah memupus stigma negatif itu dengan keputusannya yang terbilang tegas dan berani terhadap PSM dan suporternya. Untuk itu, rasanya kita perlu angkat jempol untuk ketegasan sikap Komdis kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya juga merasa perlu angkat jempol untuk pengurus PSM. Bayangkan, sebelum Komdis menjatuhkan vonisnya, pengurus PSM bahkan sudah menyiapkan diri untuk terusir dari Mattoanging. Mereka langsung menunjuk Stadion Sempaja di Samarinda sebagai kandang usirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tegas, pengurus PSM juga menyatakan tak akan menentang vonis Komdis terhadap para pendukungnya. “Kami tidak akan membela. Kalaupun BLI menghukum suporter, biarlah. Hukuman itu juga sebagai bagian dari tindakan anarkis mereka,” kata Nurmal Idrus, Asisten Manajer PSM Bidang Humas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indahnya jika semua pelaku sepak bola Indonesia bisa sebijak Nurmal dalam menyikapi persoalan seperti ini. Ketimbang “kasak-kusuk” melobi pengurus PSSI atau membela diri sekenanya, ia memilih bersikap legawa dan melihat sisi positif sanksi dari Komdis untuk masa depan PSM yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Nurmal –mewakili pengurus PSM lainnya, tentu— itulah yang membuat Komdis lebih leluasa mengadili kerusuhan di Makassar. Secara tak langsung, itu juga membuka ruang bagi terciptanya konsistensi penegakan hukum dan aturan main di jagat sepak bola Indonesia yang biasanya penuh nuansa abu-abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salut buat Anda, Bung Nurmal, dan para pengurus teras PSM lainnya! Terus tumbuhkan sikap profesional seperti ini agar sepak bola Indonesia lebih cepat maju dan dewasa. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2059304527748220399?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2059304527748220399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2059304527748220399' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2059304527748220399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2059304527748220399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/salut-untuk-ketegasan-komdis-dan.html' title='Salut untuk Ketegasan Komdis dan Pengurus PSM'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7615451619062883288</id><published>2008-09-15T20:29:00.001+07:00</published><updated>2008-09-15T20:34:42.232+07:00</updated><title type='text'>Biarkan Uang Al Fahim Bicara</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;DUA&lt;/strong&gt; pekan terakhir, Liga Primer seperti terseret mesin waktu. Kembali ke masa lalu dan terjebak dalam polemik klasik yang mungkin tak ada habisnya. Perlukah Liga Primer dilindungi dari cengkeraman investor asing yang datang dengan kekuatan finansial luar biasa –semacam Dr Sulaiman Al Fahim di Manchester City?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu ini menggelinding kencang sejak Al Fahim mengambil-alih saham City dari tangan Thaksin Shinawatra, akhir Agustus lalu. Pasalnya, Al Fahim seperti enteng saja saat menggelontorkan dana 150 juta pound untuk jadi penguasa baru &lt;em&gt;“The Citizens”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Al Fahim segera meruntuhkan “kebesaran” Chelsea yang mengandalkan kekuatan dana miliarder Rusia, Roman Abramovich. Dan mata dunia semakin terbelalak saat mengetahui bahwa kekayaan keluarga Al Fahim, konon, 20-30 kali lipat lebih besar dibanding Abramovich!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam hitungan hari, Al Fahim meneruskan gebrakannya dengan langsung “meneror” klub-klub raksasa. Ia mencoba membeli Kaka dari AC Milan, Fernando Torres dari Liverpool, Cristiano Ronaldo dari Manchester United, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pada akhirnya, hampir semua tawaran itu kandas. Hanya Robinho yang sukses diboyong dari Real Madrid dengan rekor transfer Liga Primer sebesar 32,5 juta pound. Tapi, masalahnya, siapa bisa menjamin Al Fahim tak akan “lebih mengamuk” pada bursa transfer kedua, Januari mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang bikin risau para petinggi klub besar yang kadung menikmati kemapanan situasi saat ini. Dengan sinis, Arsene Wenger meminta agar sepak bola dilindungi sehingga tidak menjadi “supermarket” bagi para investor superkaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Wenger bak gayung bersambut dengan suara dua orang penting di dunia olahraga Inggris. Menteri Kebudayaan Andy Burnham dan Ketua FA Lord Triesman sama-sama meminta perhatian publik akan meningkatkan kepemilikan klub-klub Liga Primer oleh investor asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar imbauan untuk membangun wacana, tentu sah-sah saja. Namun saya meragukan efektivitasnya. Lebih dari itu, rasanya kita malah perlu balik bertanya. Mengapa harus merisaukan kehadiran para investor baru hanya karena mereka lebih padat modal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Liga Primer membuka diri terhadap investor asing sejak awal milenium baru ini, sesungguhnya mereka telah membuat keputusan besar yang sangat berani. Pasalnya, Liga Primer adalah salah satu kompetisi paling atraktif dan disiarkan di berbagai belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan jika terbukanya keran kepemilikan itu seperti madu yang segera memikat para kumbang. Orang-orang seperti Abramovich, Malcolm Glazer, Stan Kroenke, Tom Hicks, hingga Al Fahim kemudian berduyun-duyung datang membawa harta karunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liga Primer bukannya tak menikmati berkah kemewahan modal berlimpah itu. Chelsea bisa jadi kekuatan baru di Inggris dan Eropa berkat uang minyak dari Rusia. MU jadi klub terkaya sedunia –menggantikan Real Madrid—  juga terjadi pada era Glazer. Maka, terasa naif dan ironis jika Inggris kini meributkan kedatangan Al Fahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, di dunia sepak bola, masih berlaku “teori” bahwa uang tak bisa membeli gelar juara. Kalaupun bisa, itu hanya sementara. Selanjutnya, bakat dan kualitas juga yang pada akhirnya lebih berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah melihat bagaimana Real Madrid menggelontorkan triliunan rupiah untuk membeli hampir semua bintang terbaik dunia pada kurun waktu 2000-2006. Hasilnya, mereka memang sukses dua kali meraih gelar juara La Liga, Liga Champions, dan Piala Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, begitu era Zidane –primadonanya &lt;em&gt;“Los Galacticos”&lt;/em&gt;— berakhir, usai pula kejayaan Madrid. Takhta sepak bola Eropa kini beralih ke tangan klub-klub Liga Primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama telah dialami Chelsea. Setelah menguasai Liga Primer dua musim beruntun pada 2005-2006, kini &lt;em&gt;“The Blues”&lt;/em&gt; harus merelakan kembalinya “Tim Setan Merah” sebagai penguasa Liga Primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hikayat” Al Fahim di City pun rasanya tak akan jauh berbeda. Mungkin benar ia bisa mendatangkan 18 pemain megabintang untuk musim 2009/2010. Mungkin juga benar, dengan modal 18 bintang hebat itu, City akhirnya sukses menjuarai Liga Primer. Bahkan mungkin Liga Champions pada musim selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak ada jaminan sukses itu akan bertahan lama. Bisa dua musim seperti Chelsea sudah bagus, namun untuk bertahan hingga enam musim seperti Madrid akan sangat sulit. Sebab fondasi tim City tak sekuat Madrid maupun Chelsea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi ancaman datangnya konglomerat lain yang –siapa tahu— lebih kaya lagi dibanding Al Fahim. Ini bukan mimpi atau utopia karena publik Inggris juga pernah berpikir seperti itu saat Abramovich pertama kali mendarat di London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, biarkan uang Al Fahim bicara. Biarkan ia mendatangkan Kaka, Gianluigi Buffon, David Villa, atau entah siapa lagi. Biarkan juga ia mengubah peta persaingan Liga Primer tak lagi sebatas &lt;em&gt;“The Big Four”,&lt;/em&gt; tapi meluas jadi&lt;em&gt; “The Big Five”, “The Big Six”,&lt;/em&gt; atau apapun namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor kunci yang membuat permainan sepak bola jadi menarik adalah elemen kejutannya. Nah, orang-orang seperti Al Fahim punya kuasa menciptakan elemen-elemen kejutan itu. ***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di &lt;/em&gt;TopSkor&lt;em&gt;, 15 September 2008)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7615451619062883288?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7615451619062883288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7615451619062883288' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7615451619062883288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7615451619062883288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/biarkan-uang-al-fahim-bicara.html' title='Biarkan Uang Al Fahim Bicara'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3644884874384384129</id><published>2008-09-09T19:11:00.002+07:00</published><updated>2008-09-09T19:18:35.136+07:00</updated><title type='text'>“Alhamdulillah, Saya Lolos Verifikasi Faktual”</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;AKHIRNYA&lt;/strong&gt;, saya lolos verifikasi faktual sebagai bakal calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) 2009-2014 di Daerah Pemilihan Jawa Barat. Setelah menjalani proses verifikasi yang panjang oleh KPU Provinsi Jabar selama hampir dua bulan, saya dinyatakan lolos bersama 25 bakal calon lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan lalu, saya sudah ditelepon salah seorang staf KPU Provinsi Jabar yang mengabarkan bahwa saya lolos verifikasi faktual. Saya tak bisa menyatakan lain, kecuali mengucap syukur alhamdulillah. Maklum, proses verifikasi ini sungguh sangat menguras konsentrasi saya dan teman-teman pendukung saya di daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, untuk sekadar memenuhi persyaratan sebagai bakal calon anggota DPD RI, saya harus melampirkan dukungan dari minimal lima ribu pendukung. Dan mereka harus tersebar di 50 persen kabupaten dan kota di Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, berkat bantuan teman-teman, dukungan bagi saya bisa mencapai sekitar 5.500 suara. Sebagian besar berasal dari Kota dan Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kabupaten Bogor, serta Kabupaten Cirebon. Simpatisan di daerah-daerah lain tidak sempat tergarap karena keterbatasan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 10 persen dari total pendukung saya itulah yang diverifikasi oleh KPU Provinsi Jabar untuk membuktikan kebenaran dukungan mereka. Di situlah kesulitannya. Sebab tidak mudah menyesuaikan jadwal kedatangan petugas verifikasi dengan aktivitas harian para pendukung saya yang mayoritas pekerja swasta, pelajar-mahasiswa, dan kalangan muda penggemar olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, semua kesulitan itu kini sudah terlewati. Selanjutnya nama saya dan 25 bakal calon lainnya dikirim ke KPU Pusat di Jakarta untuk menjalani verifikasi lanjutan. Setelah itu, nama-nama bakal calon anggota DPD RI Dapil Jabar ini bakal dicantumkan dalam Daftar Calon Sementara (DCS) untuk mendapat tanggapan dari masyarakat. Sebelum akhirnya masuk Daftar Calon Tetap (DCT) yang akan dipilih pada Pemilu Legislatif, 9 April tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan bantuan dari para simpatisan dan pendukung saya selama ini. Semoga saya bisa mengemban kepercayaan Anda semua. Yang jelas, jika terpilih mewakili Jawa Barat, sebagai wakil generasi muda saya berharap bisa memberikan “warna baru” di DPD RI nanti. Saya juga berharap bisa ikut mendorong percepatan pembangunan di Jawa Barat dan pemerataan hasil-hasilnya. Amien. *&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3644884874384384129?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3644884874384384129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3644884874384384129' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3644884874384384129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3644884874384384129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/alhamdulillah-saya-lolos-verifikasi.html' title='“Alhamdulillah, Saya Lolos Verifikasi Faktual”'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-1558374197849235803</id><published>2008-09-09T18:55:00.001+07:00</published><updated>2008-09-09T19:00:08.041+07:00</updated><title type='text'>Capello Mulai Menghitung Mundur</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;BARCELONA&lt;/strong&gt; mestinya tempat yang ideal untuk memulai sebuah perhelatan besar pada September ini. Puncak cuaca panas sudah berlalu, tapi aroma musim liburan masih terasa di sana. Ditandai dengan suasana kota yang semarak dan pantainya yang masih dipadati para pelancong mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Barcelona tampaknya bukan kota yang cukup bersahabat bagi tim nasional Inggris. Pada laga pertama kualifikasi Piala Dunia 2010 Zona Eropa Grup 6, &lt;em&gt;“The Three Lions”&lt;/em&gt; ternyata harus berjuang keras untuk sekadar menang 2-0 atas tim lemah Andorra –negeri terkecil kelima di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, laga ini seharusnya sekadar “pemanasan” bagi tim asuhan Fabio Capello. Pertarungan sebenarnya baru akan mereka hadapi pada laga kedua lawan Kroasia. Inilah partai balas dendam terhadap tim yang memupus harapan Inggris lolos ke putaran final Piala Eropa 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, tak ada yang bisa dibanggakan oleh Andorra –negeri dengan penduduk hanya 72 ribu jiwa. Sebagian besar para pemainnya hanya main di klub semiamatir dan sehari-hari menekuni profesi lain di luar lapangan hijau. Bisa dihitung dengan jari pemain Andorra yang sepenuhnya berkarier sebagai pesepak bola profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa, 28 Maret 2007, Inggris juga pernah membungkam Andorra dengan skor telak 3-0. Padahal, saat itu, Inggris tengah mengalami periode sulit semasa ditangani Steve McClaren. Toh masih bisa menang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat wajar jika kemenangan 2-0 kali ini diterima publik Inggris dengan penuh tanda tanya. Mengapa tim ini tidak bisa tampil lebih baik di tangan Capello? Dengan performa seperti ini, masih bisakah mereka lolos ke Afrika Selatan 2010?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan memang wajar mengemuka. Pasalnya, Capello datang dengan reputasi harum berkat deretan suksesnya bersama Real Madrid, AS Roma, hingga AC Milan. Namun, di tangannya, penampilan Inggris tak lebih bagus dibanding era McClaren maupun Sven Goran Eriksson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar jika pelatih Andorra, David Rodrigo, justru merasa bangga terhadap timnya. “Sekalipun papan skor menunjukkan kami kalah 0-2, tapi kami bangga. Kami menampilkan sebuah permainan yang sangat terorganisasi dalam bertahan,” katanya, penuh semangat. “Kami melawan Inggris, sebuah tim besar dan penting, dan kami hanya kalah dua gol. Kami merasa menang secara moral malam ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar pula jika suara-suara skeptis terhadap kepemimpinan Capello mulai bermunculan. Bahkan disuarakan langsung oleh para pelatih klub Liga Primer –salah satunya Harry Redknapp dari Portsmouth— yang biasanya cukup “sopan” terhadap arsitek tim nasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaan, Capello menanggapi “serangan” itu dengan sikap defensif khas Italia. Ia meminta para koleganya di Liga Primer agar menaruh respek terhadap posisinya di tim nasional. Seperti halnya ia mengaku menghormati posisi mereka di klubnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi Capello itu sungguh di luar perkiraan. Meski sudah beberapa bulan memasuki sepak bola Inggris, ternyata ia masih terlalu kental dengan kultur sepak bola negeri asalnya. Ia masih alergi terhadap kritik, terkesan selalu menjaga jarak, dan tetap menjadikan hasil akhir sebagai tujuan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, Capello seperti tak hirau akan mandulnya Wayne Rooney. Padahal, tim nasional Inggris punya tradisi sukses bersama para penyerang suburnya, dari era Bobby Charlton, Gary Lineker, Alan Shearer, hingga Michael Owen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tak ambil pusing terhadap buruknya kinerja lini tengah Inggris sekarang ini. Padahal, seperti halnya Eriksson dan McClaren, ia juga belum mampu menemukan formula yang tepat atas keberadaan Steven Gerrard, Frank Lampard, dan Gareth Barry di lini tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cederanya Gerrard yang berbuntut operasi pangkal paha –menjelang laga lawan Andorra dan Kroasia— mungkin hanya sebuah kebetulan. Namun, jika Gerrard tak kecewa dimainkan di sayap kiri saat menghadapi Republik Ceko, sangat mungkin ia akan memilih menunda operasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu, Capello memang mulai mengecewakan orang-orang di sekelilingnya. Mereka yang semula mengagumi reputasinya dan berharap banyak akan tuah “tangan dinginnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa jawaban Capello tentang hal ini? “Saya percaya penuh terhadap tim ini. Kami baru saja memulai perjalanan menuju Afrika Selatan,” katanya, mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, Capello menunjukkan sisi ke-italia-annya yang kental. Namun, kali ini, ia memang membutuhkannya. Karena mungkin tinggal itulah modal terbesarnya untuk membangun sukses bersama tim nasional Inggris. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 8 September 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-1558374197849235803?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/1558374197849235803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=1558374197849235803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1558374197849235803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1558374197849235803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/capello-mulai-menghitung-mundur.html' title='Capello Mulai Menghitung Mundur'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7042978770219308395</id><published>2008-09-04T18:49:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T18:55:13.029+07:00</updated><title type='text'>“Bulan Madu” Inter Milan Berakhir</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;HASIL &lt;/strong&gt;mengecewakan diraih juara bertahan Inter Milan di kandang Sampdoria, Sabtu (30/8) atau Minggu dini hari WIB. Mereka dipaksa pulang hanya membawa satu angka pada partai perdana kompetisi Seri A Italia musim 2008/2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inter bahkan bisa dibilang cukup beruntung mampu memaksakan hasil imbang. Pasalnya, meski bikin gol lebih dulu melalui Zlatan Ibrahimovic, permainan Inter hanya bagus pada babak pertama. Babak selanjutnya, Sampdoria menekan balik dan mengendalikan permainan sebelum akhirnya menyamakan kedudukan lewat gol Gennaro Delvecchio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pelatih Jose Mourinho mengaku tak terlalu kecewa atas hasil tersebut. Imbang di kandang lawan sekelas Sampdoria, menurutnya, bukan “musibah”. Lagipula, ia menambahkan, Seri A itu lebih mirip lomba maraton, bukan adu sprint. Artinya, bukan start awal yang terpenting, melainkan hasil akhir di pengujung musim nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak bisa dimungkiri bahwa hasil imbang ini tetap mengecewakan. Setidaknya, gagal memenuhi harapan pecinta sepak bola Seri A yang memperkirakan &lt;em&gt;“Nerazzurri”&lt;/em&gt; akan makin superior dengan kehadiran Mourinho yang dikenal bertangan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, bagi saya, hasil imbang ini sebenarnya tak terlalu mengejutkan. Ada banyak faktor yang membuat Inter kesulitan mengembangkan “kecepatan” pada awal musim kompetisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, jelas faktor Mourinho sendiri. Kehadiran pelatih baru selalu membawa konsekuensi perubahan bagi timnya. Tak hanya strategi permainan, tapi juga metoda latihan, strategi transfer, hingga sistem komunikasi internal di dalam tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Mourinho dikenal sebagai pelatih yang kuat pendirian dan selalu gigih mempertahankan konsepnya. Benturan-benturan kecil tak bisa dihindari dengan Presiden Massimo Moratti maupun Direktur Teknik Marco Branca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kecilnya terlihat dalam kasus Ricardo Quaresma. Mourinho sangat menginginkan Quaresma sebab Inter tak punya pemain sayap yang cepat dan bisa menusuk. Namun Moratti maupun Branca tak terlalu antusias menyikapinya –meskipun akhirnya didatangkan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, situasi internal Inter juga tak terlalu kondusif. Mourinho merasa skuatnya terlalu besar dan butuh perampingan. Hanya saja, perampingan itu berjalan lamban karena pemain yang hendak dilepas –seperti Olivier Dacourt, Dejan Stankovic, Pele, atau Nelson Rivas— tak terlalu diminati klub lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, skuat Inter saat ini dihuni banyak “pasien” –sebagian bahkan sudah lumayan lama berkutat dengan cederanya. Akibatnya, pada laga lawan Sampdoria maupun partai-partai lain selama pramusim, gelandang Esteban Cambiasso terpaksa dimainkan sebagai stopper. Maklum, Walter Samuel, Nicolas Burdisso, Ivan Cordoba, Christian Chivu, hingga Rivas masih menjalani perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor ketiga sekaligus yang terpenting, persaingan kini semakin ketat. Tiga musim setelah skandal Calciopoli berlalu, para pesaing Inter tampaknya mulai bangkit membenahi skuatnya secara lebih serius. Lazio, Fiorentina, dan Juventus sudah melakukannya meski masih “setengah hati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim ini, giliran AC Milan melakukannya dan “sepenuh hati”. Tak tanggung-tanggung, mereka mendatangkan kembali Andriy Shevchenko dan merekrut Ronaldinho. Milan juga memperkuat lini pertahanan dengan memboyong Philippe Senderos dan gelandang bertahan Mathieu Flamini. Bisa dibilang, kini Milan sama kuatnya dengan Inter di semua lini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua musim terakhir ini, klub-klub Seri A seperti berkompetisi sekadar untuk jadi runner-up di bawah Inter. Musim ini, untuk pertama kalinya sesudah “gempa” Calciopoli, publik Seri A bisa merasakan kembali makna kompetisi yang sebenarnya. Setidaknya, tak ada lagi istilah Inter “sudah pasti juara” sebelum kompetisinya itu sendiri dimulai. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 1 September 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7042978770219308395?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7042978770219308395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7042978770219308395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7042978770219308395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7042978770219308395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/bulan-madu-inter-milan-berakhir.html' title='“Bulan Madu” Inter Milan Berakhir'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-4505105740547624827</id><published>2008-09-03T23:03:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T23:07:12.835+07:00</updated><title type='text'>Bursa Transfer Pemain Kembali Bergairah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;DRAMA &lt;/strong&gt;di bursa transfer pemain musim kompetisi 2008/2009 mencapai puncaknya. Menjelang batas akhir, Senin (1/9) tengah malam, kesibukan melanda hampir semua liga besar di Eropa. Puncaknya ditandai dengan tumbangnya rekor pembelian pemain temahal di Liga Primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Robinho yang menumbangkan rekor transfer Andriy Shevchenko yang bernilai 46,5 juta euro –saat dibeli Chelsea dari AC Milan, dua musim lalu. Dari Real Madrid, ia terbang ke Manchester City dengan rekor baru transfer Liga Primer sebesar 49 juta euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja rekor Shevchenko ditumbangkan oleh dua pemain sekaligus. “Sayang”, negosiasi antara Tottenham Hotspur dan Manchester United soal Dimitar Berbatov akhirnya mentok di angka 46,4 juta euro saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegairahan itu tak hanya terjadi di Inggris. Di Italia, setelah empat tahun tiarap usai “gempa” Calciopoli, transaksi jual-beli pemain di Seri A mencatat total angka yang cukup spektakuler, hampir 450 juta euro. Angka itu setara dengan total belanja klub-klub Seri A selama empat musim sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AC Milan yang jadi “bintang” dengan operasi transfernya yang fenomenal. Mereka membuat persaingan di Seri A semakin menarik dengan merekrut megabintang Ronaldinho dari Barcelona dan Shevchenko dari Chelsea. Sebuah isyarat kuat bahwa Milan ingin “balas dendam” setelah terpuruk di urutan kelima pada musim lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi La Liga pun tak kalah semarak. Barca merogoh kocek 36 juta euro untuk menggiring Daniel Alves serta Seydou Keita dari Sevilla, Aleksandr Hleb dari Arsenal, dan Martin Caceres dari Villarreal. Ini juga menggambarkan keseriusan Barca mencegah saingan berat mereka, Real Madrid, menjuarai La Liga untuk ketiga kalinya secara beruntun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perspektif kita sebagai penggemar siaran langsung sepak bola Eropa, fenomena bergairahnya kembali bursa transfer pemain ini jelas sesuatu yang positif. Bergairahnya bursa transfer membuat perputaran pemain bintang jadi lebih aktif sehingga kompetisi pun jadi semakin menarik untuk diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar menarik dan mengundang minat publik, kompetisi sebaiknya memang bersifat dinamis. Ia tak boleh statis, apalagi kaku. Kalau juaranya itu-itu saja, kompetisi akan cepat membosankan. Apalagi kalau pemainnya juga itu-itu terus, maka penonton akan semakin enggan datang ke stadion atau sekadar nonton melalui layar kaca. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-4505105740547624827?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/4505105740547624827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=4505105740547624827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4505105740547624827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4505105740547624827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/bursa-transfer-pemain-kembali-bergairah.html' title='Bursa Transfer Pemain Kembali Bergairah'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7431259729920626937</id><published>2008-09-02T20:31:00.000+07:00</published><updated>2008-09-02T20:37:34.163+07:00</updated><title type='text'>Awal yang Sulit bagi Tim-tim Favorit</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PEKAN &lt;/strong&gt;perdana kompetisi Seri A dan La Liga, akhir pekan lalu, menghadirkan nuansa yang seragam. Di luar dugaan, tim-tim unggulan seolah “kompak” bertumbangan. Hanya juara bertahan Seri A, Inter Milan, yang bisa dibilang “selamat” dengan menahan imbang tuan rumah Sampdoria, 1-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AC Milan yang dianggap sebagai pesaing terberat Inter di kancah Seri A musim ini baru bisa sekadar tampil atraktif. Kegagalan memanfaatkan banyak peluang yang mereka peroleh akhirnya harus dibayar mahal dengan menyerah 1-2 kepada tim tamu Bologna yang baru promosi dari Seri B. Sangat memalukan bagi Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi –pemilik saham mayoritas Milan— yang sengaja nonton langsung di Stadion San Siro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ajang La Liga, juara bertahan Real Madrid yang tampil cukup mengesankan selama pramusim juga langsung keok. &lt;em&gt;“Los Blancos”&lt;/em&gt; kalah 1-2 di kandang Deportivo La Coruna, Stadion Riazor, yang memang sering jadi “momok” bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Thierry Henry dan kawan-kawan yang merupakan pesaing abadi Madrid. Setelah dikalahkan Wisla Krakow di kualifikasi Liga Champions, Barcelona kembali kalah dari tim gurem Numancia. Sungguh debut yang tidak mengenakkan bagi pelatih baru Josep Guardiola. Apalagi Numancia tampil sebagai tim promosi musim ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan fakta mengejutkan ini membuat kita bertanya-tanya. Ada apa dengan para favorit itu? Mengapa mereka tak bisa langsung “panas” pada partai pembuka musim ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata cukup beragam problematika yang dihadapi masing-masing tim unggulan itu. Jika Milan mengeluhkan kurangnya keberuntungan, pasukan Barca dianggap belum sepenuhnya padu, maka pelatih Madrid merasa terganggu oleh operasi transfer –terutama kepindahan Robinho— yang tak kunjung tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, satu hal yang pasti, terlalu gegabah menghapus tim-tim ini dari daftar kandidat juara hanya karena kalah pada laga pertama. Seperti dikatakan Jose Mourinho, pelatih Inter, kompetisi ini seperti maraton –bukan adu sprint. Awal yang baik jelas dibutuhkan untuk mengangkat moral dan kepercayaan diri. Namun, lebih dari itu, dibutuhkan stamina yang panjang untuk mengarungi kompetisi hingga sembilan bulan ke depan. Selain itu, juga dibutuhkan performa yang konsisten dari pekan ke pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tim sekelas Milan, Barca, atau Madrid punya kesanggupan memenuhi persyaratan itu dengan skuatnya yang besar dan materi pemain di atas rata-rata. Itulah kelebihan paling signifikan yang membedakan mereka dengan tim-tim kecil dan medioker. Sehingga, pada akhir musim nanti, jangan kaget jika tim-tim favorit itu tetap mendominasi posisi-posisi terhormat. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7431259729920626937?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7431259729920626937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7431259729920626937' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7431259729920626937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7431259729920626937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/awal-yang-sulit-bagi-tim-tim-favorit.html' title='Awal yang Sulit bagi Tim-tim Favorit'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-5865531357901395835</id><published>2008-09-01T21:00:00.000+07:00</published><updated>2008-09-01T21:02:13.842+07:00</updated><title type='text'>Problem Dana Klub Bisa Jadi “Bom Waktu”</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SATU&lt;/strong&gt; per satu klub Liga Super Indonesa dan Divisi Utama mulai menekan tombol “lampu kuning”. Paling akhir, kemarin, Persema Malang melontarkan kemungkinan tidak mulusnya perjalanan mereka mengikuti kompetisi Divisi Utama 2008/2009 karena terbentur masalah keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Asisten Manajer Persema, Asmuri, persoalan ini mengemuka karena “Laskar Ken Arok” belum bisa memastikan cairnya dana hibah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Malang tahun 2008. Padahal, pasokan dari APBD melalui pos KONI itulah sumber pendanaan utama untuk kesebelasan yang berlatar belakang Perserikatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, Persema mengaku digelontori dana APBD sebesar Rp 17 miliar. Pada 2008 ini, “direncanakan” Persema memperoleh bagian Rp 15 miliar dari total Rp 18 miliar dana hibah yang masuk pos KONI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan plafon sebesar itu, tak heran jika Persema termasuk tim yang lumayan “gagah perkasa” memborong 29 pemain pada masa persiapannya. Tercatat nama-nama seperti I Komang Putra, Harry Saputra, Aris Budi Prasetyo, Christian Lenglolo, hingga Mbom-Mbom Julien berlabuh di Stadion Gajayana Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemain sekelas Lenglolo, contohnya, Persema menyediakan plafon Rp 800-900 juta/musim. Sedangkan pemain lokal yang punya nama seperti Harry nilai kontraknya berkisar Rp 500-800 juta. Pemain lokal yang kualitasnya di bawah itu mendapatkan Rp 100-400 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kemudian muncul saat pengucuran dana itu dihadapkan pada ketentuan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan keuangan daerah. UU No 17/2003 tentang Keuangan Daerah maupun Permendagri No 59 Tahun 2007 dengan tegas melarang APBD dijadikan “mesin ATM” bagi klub sepak bola di daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, Persema –juga tim-tim lain eks Perserikatan— sama sekali tak siap menghadapi situasi ini. Mereka juga tak punya alternatif pendanaan lain, entah itu lewat pola kemitraan, kerjasama operasional, atau swastanisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, yang terjadi kemudian, Persema dan tim-tim lain yang senasib seperti “menunggu Godot” saja. Entah apa yang ditunggu karena uang sebetulnya sudah ada di kas APBD tapi tak ada yang berani mencairkan karena takut berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika situasi ini dibiarkan terus berjalan tanpa pemecahan masalah, tim-tim itu tinggal menghitung hari saja untuk kolaps. Dan itu akan menjadi “bom waktu” yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup kompetisi sepak bola di Tanah Air. *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-5865531357901395835?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/5865531357901395835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=5865531357901395835' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5865531357901395835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5865531357901395835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/09/problem-dana-klub-bisa-jadi-bom-waktu.html' title='Problem Dana Klub Bisa Jadi “Bom Waktu”'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7408794954610696183</id><published>2008-08-29T20:29:00.001+07:00</published><updated>2008-08-29T20:31:23.482+07:00</updated><title type='text'>Menggugat Rasa Merdeka di Piala Kemerdekaan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;TURNAMEN&lt;/strong&gt; sepak bola Piala Kemerdekaan berakhir, semalam. Kejuaraan yang nama resminya “Pertamina Independence Cup 2008” itu berakhir dengan meninggalkan sejumlah kesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang terbiasa nonton tim nasional Indonesia, kesan paling melekat mungkin soal kuatnya “rasa merdeka” selama kejuaraan ini. Bukan karena nama turnamennya atau lantaran digelar menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-63.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa “merdeka” yang saya maksud adalah keleluasaan yang begitu besar untuk menikmati semua pertandingannya. Bayangkan, semua pertandingannya ditayangkan oleh dua stasiun televisi yang “kebetulan sekali” masih satu grup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton yang datang langsung ke Stadion Utama Senayan pun sangat “merdeka” menonton semua pertandingan itu. Mereka bisa duduk santai sambil mengangkat kaki, tidur-tiduran, atau bahkan pindah-pindah kursi untuk mencari posisi nonton yang paling pas. Wong stadionnya memang kosong melompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana turnamen kali ini membuat rekan-rekan saya dari kalangan pers merasakan betul arti “kemerdekaan” dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. Jauh berbeda dengan suasana saat kita jadi salah satu tuan rumah Piala Asia 2007. Waktu itu, sebagai wartawan, rasanya kami betul-betul “dijajah” oleh aturan ekstraketat yang ditetapkan staf panitia dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang sok galak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di balik “kemerdekaan” yang luar biasa kali ini, terselip kesedihan mendalam jauh di lubuk hati saya. Cuma sesedikit inikah para pendukung “Tim Merah Putih” –hanya dua ribuan orang per pertandingan? Ke mana lautan suporter kita yang begitu mengharu-biru seperti pada Piala Asia lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mulai bosan, lagi-lagi saya harus menyebut bahwa semua ini tanggung jawab PSSI. Kenyataan tragis ini adalah buah kegagalan PSSI sendiri –terutama Badan Liga Sepak Bola Indonesia— dalam membangun kekompakan dan semangat persaudaraan sesama suporter lewat kompetisi Liga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, saat tim nasional Indonesia bertanding di Jakarta, komunitas suporter asal kota lain yang punya riwayat permusuhan dengan pendukung Persija jadi enggan datang. Meski sangat ingin menonton langsung, mereka merasa lebih aman menikmatinya lewat layar kaca saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula sebaliknya. Bila tim nasional bertanding di Bandung, misalnya, Jakmania pun niscaya berpikir puluhan kali untuk datang ke “Kota Kembang”. Sama halnya jika main di Malang, suporter Persik Kediri atau Persebaya Surabaya niscaya akan ragu juga untuk datang ke Stadion Gajayana atau Kanjuruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sungguh suasana yang tidak sehat bagi tim nasional kita. Dengan situasi seperti ini, “Tim Merah Putih” seperti dikerdilkan jadi milik sesaat kelompok suporter tertentu yang belum tentu siap mendukung Bambang Pamungkas dan kawan-kawan sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seperti di banyak negara lain, mestinya semua pecinta sepak bola Indonesia bisa “merdeka” mendukung tim nasional di mana pun tim itu bertanding. Mau main di Jakarta, Bandung, Malang, atau Jayapura toh mereka mengangkat bendera yang sama: Merah Putih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tragis manakala kenyataannya jadi seperti sekarang ini. Jakmania sedang merasa diperlakukan kurang adil oleh BLI dan PSSI karena Persija tak kunjung mendapat izin tampil di Stadion Utama Senayan. Mereka pun memilih “menarik diri”. Sementara itu, mereka yang punya latar belakang Persib, Persita, atau mungkin Persikabo ragu untuk “merapat”. Akibatnya, Stadion Utama Senayan pun jadi lautan bangku kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan kita akan hidup dalam kepicikan seperti ini? Hanya Anda semua –suporter sepak bola Indonesia— yang bisa menjawab dan mengakhirinya. Saya hanya bisa berharap. ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7408794954610696183?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7408794954610696183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7408794954610696183' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7408794954610696183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7408794954610696183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/menggugat-rasa-merdeka-di-piala.html' title='Menggugat Rasa Merdeka di Piala Kemerdekaan'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3847100009552927950</id><published>2008-08-28T16:33:00.000+07:00</published><updated>2008-08-28T16:39:38.937+07:00</updated><title type='text'>“Los Galacticos” Tinggal Cerita</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SEBUAH &lt;/strong&gt;peristiwa menarik terjadi awal pekan ini di Liga Inggris. Pelatih Liverpool, Rafael Benitez, akhirnya menegaskan komitmennya untuk bertahan di Anfield hingga empat tahun ke depan. Di sisi lain, Benitez sekaligus menegaskan bahwa ia mengambil keputusan itu seraya menolak tawaran Real Madrid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, penegasan Benitez menunjukkan loyalitasnya kepada Liverpool, klub yang musim lalu dibawanya menjuarai Liga Champions. “Saya senang di sini dan saya akan tetap di sini. Target saya adalah tetap tinggal di sini dan terus berjuang bersama tim,” ujar Benitez, mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sesungguhnya, bukan penegasan soal kesetiaan Benitez itu yang paling menarik. Bagi saya, yang lebih menarik justru sikap Benitez terhadap tawaran Madrid –mantan klubnya sebagai pemain junior maupun asisten pelatih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa tedeng aling-aling, Benitez menegaskan bahwa ia telah menolak pinangan Madrid. Meskipun, secara jujur, ia mengakui tawaran tersebut –seperti halnya pinangan Inter Milan— membuatnya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, siapa yang tidak bangga diminta jadi pelatih atau pemain Madrid. Begitu banyak nama besar telah menyatakan “ya” begitu kesempatan emas itu tiba. Dari Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo, David Beckham, Michael Owen, Robinho, hingga pelatih Fabio Capello.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ada Benitez yang ternyata “berani” menolak pinangan Madrid. Padahal, Madrid bukanlah tantangan yang terlalu menakutkan baginya. Sebab Benitez punya pengalaman memulihkan kekuatan Valencia hingga akhirnya menguasai La Liga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FENOMENA&lt;/strong&gt; melemahnya daya tarik Madrid sebenarnya bukan baru muncul sekarang ini. Dan Benitez bukanlah “nama besar” pertama yang cukup berani mengatakan “tidak” kepada klub terkaya sejagat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim lalu, kita sudah mendengar bagaimana Madrid begitu serius berupaya mendatangkan penyerang Arsenal, Thierry Henry. Mereka menggoda Henry dengan berbagai cara –bahkan hingga sekarang, menjelang akhir masa kontraknya di Arsenal. Sayangnya, sejauh ini, semua upaya tersebut tak membuahkan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum itu, Madrid juga pernah ditampik oleh Samuel Eto’o. Penyerang lincah asal Kamerun itu lebih memilih pindah dari Real Mallorca ke Barcelona. Meskipun ada motif pribadi di balik sikapnya, penolakan Eto’o tetap merupakan “penghinaan” tersendiri terhadap panji-panji kebesaran Madrid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada sejumlah nama lain yang diketahui pernah menepis ajakan pindah ke Madrid pada akhir era kepemimpinan Presiden Florentino Perez. Sebut saja Francesco Totti (AS Roma) atau pelatih Arsene Wenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jelas tamparan tersendiri bagi Perez dan Madrid. Pasalnya, pada era kepresidenannya, Perez sukses membangun Madrid jadi klub yang paling beken sejagat dan identik dengan julukan &lt;em&gt;“Los Galacticos”.&lt;/em&gt; Sebab mereka hanya mendatangkan pemain dengan kategori megabintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama enam tahun era Perez inilah kita melihat Madrid membangun citra kebesarannya melebihi rival-rival abadinya di Eropa, seperti Barcelona, AC Milan, Juventus, dan Manchester United. Mereka membuktikannya lewat gelar Liga Champions 2001/2002 dan dua kali kampiun La Liga pada 2001 serta 2003. Masih harus ditambah lagi sukses menjuarai Piala Toyota, Piala Super Eropa, dan Piala Super Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keberhasilan itu harus ditebus mahal dengan hengkangnya sejumlah talenta muda, seperti Ivan Riki, Javier Portillo, dan lain-lain. Keberhasilan itu juga makan korban, setidaknya, tujuh orang pelatih dan empat direktur sport. Keberhasilan yang juga menelan biaya pembelian pemain 285 juta pound (sekitar Rp 4,6 triliun) plus 4 juta pound/tahun untuk membayar gaji masing-masing&lt;em&gt; “galacticos”&lt;/em&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KINI&lt;/strong&gt;, era &lt;em&gt;“Los Galacticos”&lt;/em&gt; itu telah berakhir. Saat Perez turun dari takhtanya, mereka tertinggal 10 poin dari Barcelona di klasemen sementara. Mereka juga tersingkir di ajang Liga Champions dan &lt;em&gt;Copa del Rey&lt;/em&gt;. Dan, jika kembali gagal menuai satu gelar pun musim ini, Madrid akan menyamai periode terburuknya pada 1950-1953.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim lain di Spanyol sah-sah saja dua tahun berurutan mengakhiri musim tanpa gelar. Bahkan Barcelona pernah hampa gelar selama enam tahun beruntun. Tapi tidak bagi Madrid. Itulah sebabnya Perez buru-buru mengambil “pensiun dini” begitu harapan akan memetik gelar juara pada musim 2005/2006 mulai meredup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronaldo tak pernah membawa Madrid menjuarai Liga Champions sejak bergabung empat tahun lalu. Beckham bahkan tak mencicipi satu gelar pun bersama Madrid sejak datang pada tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perez boleh menepuk dada sanggup mendatangkan pemain-pemain impian semua klub di dunia. Tapi, yang tak dia sadari, Perez sekaligus telah membesarkan “monster raksasa” yang kemudian tak sanggup dia kendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu para megabintang itu menua dan menurun kontribusinya. Mereka pun mulai jadi beban bagi bibit-bibit muda lokal yang merasa harus bekerja lebih keras, lebih serius, lebih mati-matian –tapi dengan apresiasi yang jauh lebih seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah muncul friksi di antara kumpulan para bintang itu dan rekan lokalnya. Pertentangan muncul, konflik menajam, pengelompokan mengkristal, dan &lt;em&gt;“boom”!&lt;/em&gt; Madrid tenggelam dalam kebesarannya sendiri. “Klub ini telah kehilangan jiwanya,” demikian dikatakan Ivan Helguera, usai dikalahkan Barcelona, November tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Madrid tak hanya kehilangan jiwanya. Sesungguhnya mereka juga kehilangan semangat, karakter, sekaligus jati dirinya sebagai tim Spanyol dengan tradisi permainan cepat, ngotot, dan pantang menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tersisa bagi Fernando Martin –pengganti Perez— kini tinggal puing-puing kejayaan era &lt;em&gt;“Los Galacticos”&lt;/em&gt; itu. Maka, bersiap-siaplah melihat sebuah perubahan besar terjadi di Madrid musim mendatang. Ronaldo akan pergi, disusul Roberto Carlos, Thomas Gravesen, Julio Baptista, Ivan Helguera, Zidane, bahkan mungkin Raul Gonzalez.&lt;em&gt; “Los Galacticos”&lt;/em&gt; akan tinggal sebagai kisah romantis belaka dalam sejarah persepakbolaan  dunia. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, Maret 2006)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3847100009552927950?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3847100009552927950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3847100009552927950' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3847100009552927950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3847100009552927950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/los-galacticos-tinggal-cerita.html' title='“Los Galacticos” Tinggal Cerita'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-6102039657821908906</id><published>2008-08-27T15:55:00.001+07:00</published><updated>2008-08-27T16:00:16.789+07:00</updated><title type='text'>Beban Warisan Olimpiade Beijing</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PESTA&lt;/strong&gt; olahraga yang spektakuler itu mencapai puncaknya, semalam. Lewat upacara penutupan yang sama meriah dengan pembukaannya, Olimpiade Beijing 2008 berakhir dan memunculkan tuan rumah Cina sebagai juara umum.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pesta empat tahunan itu bakal menyeberang ke Inggris, Olimpiade London 2012. Namun, meskipun hajatan berikutnya masih setengah windu lagi, setidaknya ada satu hal yang sudah bisa dipastikan, yakni soal skala kemegahannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tokoh kunci panitia penyelenggara Olimpiade 2012, Sebastian Coe, menegaskan bahwa Olimpiade Beijing akan jadi olimpiade terakhir dengan skala besar. Bahkan “warisan” Olimpiade Beijing atau olimpiade-olimpiade sebelumnya kemungkinan besar tak akan pernah dihidupkan lagi pada masa yang akan datang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lord Coe yang meninjau langsung ke Beijing, kesejahteraan masyarakat akan lebih menjadi agenda dibanding mencoba menyaingi apa yang telah dicapai Beijing. “Olimpiade bukanlah sekadar 16 hari penyelenggaraan yang spektakuler. Komite Olimpiade Internasional sendiri mengakui Olimpiade Beijing akan menjadi yang terakhir dengan penampilan dan suasana sebesar ini,” ia menegaskan. “Sebuah kesalahan jika berpikir olimpiade selanjutnya harus mencontoh olimpiade sebelumnya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penekanan pada frasa “kesejahteraan rakyat” agaknya sengaja dilontarkan oleh Lord Coe. Ia bermaksud  menenangkan publik Inggris bahwa Olimpiade London 2012 kelak tak akan menimbulkan “bencana ekonomi” seperti halnya Olimpiade 1976 di Montreal, Kanada.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, menurut sebuah laporan yang pernah saya baca, total biaya yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan hajatan tersebut mencapai 1,6 miliar dolar Kanada. Sialnya, angka penerimaannya ternyata jauh di bawah itu. Alhasil, penduduk Montreal harus menanggung biaya hajatan olimpiade tersebut lewat pajak khusus hingga 30 tahun kemudian.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;                                                          ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PESTA&lt;/strong&gt; olahraga multicabang –apalagi sekelas olimpiade— memang sering meninggalkan warisan persoalan bagi tuan rumahnya. Itu tak hanya dialami Montreal. Tercatat, sejak 1956, hampir semua tuan rumah olimpiade mengalami dua hal kontradiktif. Pertumbuhan ekonominya naik menjelang penyelenggaraan olimpiade. Lalu, merosot hingga setahun setelah olimpiade. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perlambatan ekonomi terbesar bagi negara tuan rumah, terjadi di Australia (1956), disusul Jepang (1964), Amerika Serikat (AS, 1984), dan Korea Selatan (1988). Dari sebelas kali penyelenggaraan sejak 1956, hanya Olimpiade Atlanta 1996 yang tidak menjerumuskan tuan rumahnya dalam perlambatan ekonomi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Spanyol malah terjerat resesi pada 1993, setelah sukses menyelenggarakan Olimpiade Barcelona 1992. Olimpiade Athena 2004 dan Sydney 2000 juga membuat Yunani maupun Australia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi 1,5-2% antara sebelum dan sesudah olimpiade.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Olimpiade Beijing tampaknya juga akan mewariskan persoalan serupa. Apalagi perekonomian global saat ini tengah diombang-ambing persoalan harga minyak yang jauh di atas kewajaran.  Bila sebelumnya Cina menikmati keajaiban ekonomi dengan angka pertumbuhan jauh di atas 10 persen per tahun, tahun ini diperkirakan sekitar 10 persen saja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri Cina, Wen Jia Bao, bahkan pernah menyebut tahun 2008 akan menjadi “periode yang sangat sulit” bagi Cina. Pasalnya, mitra dagang utama “Negeri Tirai Bambu” itu, seperti AS, Jepang, dan Uni Eropa kini dalam cengkeraman resesi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa, Olimpiade Beijing itu sendiri hasil akumulasi tujuh tahun masa persiapan dengan total biaya 60-70 miliar dolar AS –enam kali lipat ongkos Olimpiade Athena 2004. Itu merupakan angka terbesar yang pernah dikeluarkan untuk penyelenggaraan sebuah olimpiade. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Liu Zhi, juru bicara Dewan Kota Beijing, mayoritas biaya dikeluarkan untuk pembangunan fisik. “Sekitar 40,9 miliar dolar AS untuk pembangunan infrastruktur, energi, dan transportasi sepanjang 2001-2007,” Liu Zhi memaparkan. Hasilnya, Olimpiade XXIX ini memang terkesan mewah dalam segala hal dan mungkin akan sulit ditandingi sampai kapan pun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;                                                          ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;MASALAHNYA&lt;/strong&gt; sekarang, bagaimana Cina memanfaatkan semua fasilitas itu pasca-Olimpiade Beijing? Misalnya, dimanfaatkan untuk apa 20 set alat metal detector tangan, metal detector badan, dan pemindai Sinar X –total harganya mencapai Rp 60 miliar— yang kini terpasang di Gerbang 5 komplek Stadion Nasional?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya salah satu contoh. Belum lagi kalau kita berpikir tentang nasib Stadion Sarang Burung yang spektakuler itu. Atau Stadion Tianjin yang khusus dibangun sebagai pendampiing Beijing –padahal aktivitas olahraga di sana sebenarnya tak terlalu semarak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sulit membayangkan bagaimana Cina kelak memanfaatkan dan merawat semua fasilitas mewah itu.  Dan itulah yang kini jadi perhatian Lord Coe. “Hari-hari mengabaikan stadion berkapasitas 90 ribu tempat duduk telah berakhir,” katanya, menyindir. “Kami harus menyediakan sesuatu bagi masyarakat setempat lebih dari sekadar menyombongkannya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja, kesadaran itu tak hanya milik Lord Coe. Tapi juga tumbuh di kalangan pembina olahraga kita –khususnya di Pekanbaru, Riau, selaku tuan rumah PON XVIII/2012. Jangan sampai stigma olimpiade sebagai mercusuar yang palsu kelak juga dialami pula di pesta olahraga nasional sekelas PON.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jadikan PON sebagai ajang “seleksi” menuju pesta olahraga multicabang yang lebih tinggi: SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade. Sehingga warisan yang ditinggalkannya kelak bukan lagi beban dan utang, melainkan “modal” untuk kemajuan olahraga nasional. ***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 25 Agustus 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-6102039657821908906?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/6102039657821908906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=6102039657821908906' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6102039657821908906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6102039657821908906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/beban-warisan-olimpiade-beijing.html' title='Beban Warisan Olimpiade Beijing'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7569031341674937001</id><published>2008-08-25T22:20:00.001+07:00</published><updated>2008-08-25T22:23:03.490+07:00</updated><title type='text'>Antara Kurang Gizi dan Profesionalisme Pemain Kita</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;APA&lt;/strong&gt; kesan Anda tentang para pemain Liga Indonesia? Sebagian mungkin menjawab posturnya “terlalu subur” jika yang teringat adalah Christian Gonzalez atau Danilo Fernando. Sebagian lagi mungkin memilih jawaban “kurang mantap” jika yang jadi patokan adalah pemain semacam Arif Suyono, Eka Ramdani, atau Kurniawan Dwi Yulianto.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semuanya sah-sah saja dan ada benarnya. Tapi mungkin Anda sulit menerima jika ada yang menyebut pesepak bola kita secara umum kurang gizi. Ya, kurang gizi!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Percaya atau tidak, begitulah hasil penelitian yang mengambil sampel tiga klub sepak bola di Bantul, Yogyakarta,  dan Pasuruan. Ternyata, penelitian ini menyimpulkan bahwa klub-klub sepak bola kita belum sepenuhnya memperhatikan pemenuhan gizi para pemainnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fakta menarik itu diungkapkan oleh pakar gizi Mirza Hapsari dalam sosialisasi kegiatan Lustrum prodi Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), akhir pekan lalu. “Meski didanai APBD setiap tahunnya, namun kebanyakan manajemen klub belum memerhatikan pengelolaan makanan secara mandiri dan profesional,” kata Mirza.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang paling mengejutkan, jumlah makanan yang diberikan setiap harinya ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan gizi pemain. Padahal seorang pesepak bola memerlukan status dan asupan gizi yang baik dan seimbang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian itu, Mirza menyimpulkan bahwa belum ada komitmen dan niat baik dari Pemerintah Daerah ataupun manajemen klub untuk mengalokasikan dana secara proporsional guna memenuhi gizi para pemain. Rata-rata pemenuhan gizi yang diberikan kepada pemain dari tiga klub yang diteliti hanya 2.500-2.800 kalori per hari. Itu berarti hanya sedikit lebih tinggi di atas kebutuhan orang normal yang mencapai 2.400 kalori/hari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemenuhan gizi sebesar itu jelas jauh dari cukup. “Idealnya, untuk ukuran atlet dan olahragawan indonesia sekitar 3.000-3.500 kalori," kata Mirza, menegaskan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya  –mungkin juga Anda—jadi senyum-senyum sendiri membaca laporan ini. Bayangkan, pada era sepak bola profesional yang sedang digalakkan oleh BLI, kita ternyata masih berurusan dengan masalah laten yang sudah lumayan tua umurnya: kurang gizi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Padahal, klub-klub Liga Super Indonesia dibiayai oleh Pemda masing-masing dengan anggaran belasan –bahkan di atas 20-an— miliar rupiah. Jika tiga klub yang dijadikan sampel itu adalah Persiba Bantul, PSIM Yogyakarta, dan Persekabpas Pasuruan, anggarannya memang tak sebesar Persija atau Persik Kediri. Tapi miliarannya masih dekat dengan kisaran dua digit. Masih lebih dari cukup –mestinya— untuk menjamin ketercukupan gizi para pemainnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, masalahnya memang bukan soal kurangnya dana. Bisa jadi, plafonnya sudah cukup tapi “mengucur” ke seksi dapurnya agak tersumbat karena berbagai “kendala” dan “kutipan”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi sangat mungkin juga masalahnya ada pada diri para pemain itu sendiri. Makanan dengan gizi yang cukup tersedia, tapi pemain enggan menyantapnya secara cukup dan teratur. Mereka memilih makan sekadarnya dan “melengkapinya” dengan jajan di luar mes yang sifatnya serabutan. Ada tukang bakso ya beli, ada tukang somay ya pesan, dan ada tukang gorengan pun dipanggil.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka mungkin menganggap kebiasaan buruk itu sebagai masalah selera belaka. Sehingga merasa tak punya tanggung jawab profesional untuk menerapkan pola konsumsi yang sadar gizi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seperti ditengarai ahli gizi UGM, Prof Dr Hamam Hadi, kurangnya perhatian terhadap pemenuhan gizi para olahragawan dan atlet itulah yang menyebabkan merosotnya prestasi olahraga Indonesia. Sementara di negara maju perhatian terhadap masalah gizi para atlet sangat besar demi menunjang prestasi mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Makanya, jangan kaget kalau pemain bola kita sering tidak konsisten penampilannya. Kadang tampil begitu lincah dan cekatan, tapi 1-2 hari kemudian mainnya lesu dan kurang bertenaga. Jangan-jangan si pemain memang kekurangan gizi atau bahkan menderita anemia. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7569031341674937001?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7569031341674937001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7569031341674937001' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7569031341674937001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7569031341674937001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/antara-kurang-gizi-dan-profesionalisme.html' title='Antara Kurang Gizi dan Profesionalisme Pemain Kita'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7593853643255781189</id><published>2008-08-25T19:43:00.000+07:00</published><updated>2008-08-25T19:46:22.741+07:00</updated><title type='text'>Arsenal, Sindrom Pasca-Vieira</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;SULIT&lt;/strong&gt; bagi saya untuk tak tersenyum saat membaca komentar Arsene Wenger mengenai keinginan Thierry Henry bertahan di Arsenal. “Bersama Henry, kami akan menjadi tim terbaik di dunia,” kata Wenger, penuh percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, sah-sah saja Wenger punya prediksi dan harapan seperti itu. Henry memang salah satu penyerang terbaik di Eropa saat ini. Dari kedua kaki dan kepalanya, sudah ratusan gol tercipta untuk Arsenal, Juventus, Monaco, maupun tim nasional Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagi saya, menjadikan Henry sebagai alasan Wenger memprediksi Arsenal bakal jadi tim terbaik dunia tetap kurang masuk akal. Setidaknya, Henry sudah bersama Arsenal enam tahun, toh belum sekalipun mampu membawa timnya berjaya di Eropa –apalagi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, pujian berlebihan Wenger terhadap Henry semata menunjukkan kegembiraan yang meluap-luap atas keputusan sang penyerang ulung itu. Maklum, bukan rahasia lagi, Barcelona sangat meminati Henry dan –jika tertarik— ia bisa terbang ke Spanyol pada akhir musim ini. Ternyata, Henry lebih memilih loyal terhadap Arsenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebenarnya, bukan sekali itu saja kita melihat Wenger kehilangan konteks dan rasionalitas dalam menyikapi persaingan terkini di kancah Liga Primer. Pekan lalu, yang lebih sensasional, kita malah mendengar kabar bahwa pelatih asal Prancis itu mencoba merekrut kembali gelandang Patrick Vieira. Padahal, akhir musim lalu, Wenger pula yang memberi lampu hijau penjualan Vieira ke Juventus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ARSENAL&lt;/strong&gt; memang seperti kapal yang tengah limbung terombang-ambing di tengah samudra yang bergolak. Peta persaingan yang memanas dengan Chelsea, Manchester United (MU), dan Liverpool membuat Arsenal kehilangan posisinya sebagai klub terdepan di Liga Primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi belum lagi separuh jalan. Namun, usai pertandingan lawan MU, Wenger sudah melempar handuk. Ia menilai Chelsea tak mungkin lagi terbendung merebut mahkota juara musim 2005/2006 karena penampilan mereka memang “terlalu konsisten”. Bahkan Arsenal sampai ketinggalan 24 poin di belakang sang juara bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah bagi tim sebesar Arsenal mengakui kehebatan Chelsea –tetangga sekaligus musuh bebuyutannya. Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi Wenger sekarang. Padahal, semusim lalu, pengakuan kalah semacam ini rasanya mustahil meluncur dari mulut Wenger –pria separuh baya yang flamboyan tapi juga tinggi gengsinya. Lalu, apa yang salah dengan Wenger dan Arsenal sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tak ada yang salah. Yang ada hanya perbedaan. Chelsea makin konsisten, sedangkan Arsenal justru kian labil. Mereka bisa tampil bagus di Liga Champions, tapi kedodoran di Liga Primer dan Piala FA. Bahkan melawan tim seperti Cardiff saja hampir kalah di putaran ketiga Piala FA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu lagi perbedaan yang lebih signifikan. Musim-musim sebelumnya, Arsenal masih punya dan dipimpin Vieira. Sekarang tak ada lagi. Yang ada, tinggal Fredrik Ljungberg, Robert Pires, Alexander Hleb, serta sederet gelandang muda semacam Cesc Fabregas dan Mathieu Flamini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, memang, tak terlalu banyak perbedaan itu. Arsenal praktis hanya kehilangan Vieira dan Edu –pindah ke Valencia. Tapi, saya kira, justru di situlah inti permasalahannya. Bagi Arsenal, ditinggalkan Vieira tak bisa dibaca sekadar kehilangan seorang pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vieira adalah kapten, jenderal lapangan tengah, sekaligus inspirator permainan Arsenal selama satu dekade terakhir. Khususnya, sejak Arsenal ditinggalkan generasi emas sebelumnya, seperti Tony Adams, Ian Wright, atau David Seaman. Sejak itu, praktis Vieira yang jadi panutan baru seluruh awak tim “The Gunners”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, Arsenal masih punya banyak bintang lain dalam skuadnya. Ada Henry yang produktivitas golnya bahkan telah menjadi legenda baru di Highbury. Ada pula Dennis Bergkamp yang koleksi gol dan loyalitasnya hampir bisa disejajarkan dengan Wright. Bahkan juga masih ada pemain pilar lain semacam bek sentral Sol Campbell atau gelandang Pires.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak satu pun dari mereka bisa menggantikan peran dan posisi –apalagi kharisma— Vieira. Benar, mereka kini jadi bintang-bintang andalan Arsenal. Tapi mereka tak mampu menginspirasi pemain lain seperti dulu telah dilakukan Vieira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pemain hebat di dunia ini. Bahkan sebuah tim mungkin bisa punya lebih dari seorang bintang besar. Tapi belum tentu bintang besar itu bisa menjadi inspirator permainan timnya. Apalagi sampai ke level yang biasa disebut para pengamat “ruh permainan tim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vieira adalah salah satunya. Dialah ruh permainan Arsenal lewat kualitas skill, wibawa, kepemimpinan, dan kerja keras yang selalu dia tunjukkan di lapangan hijau. Ia mungkin tak banyak cakap seperti Roy Keane di MU. Ia mungkin juga tak banyak bikin gol seperti Steven Gerrard di Liverpool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Vieira tetap punya posisi istimewa di lapangan maupun di kamar ganti tim Arsenal. Saat ia bicara, pemain lain mendengarkan. Saat ia memberi perintah, bintang sekelas Bergkamp dan Pires pun menuruti. Dan saat ia memberi wejangan, pemain badung semacam Robin van Persie juga mematuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar jika kini Henry terus-terang mengaku sangat kehilangan Vieira. Perasaan yang tak cuma dirasakannya di lapangan hijau, tapi juga di kamar ganti dan saat menjalani latihan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TENTU&lt;/strong&gt; saja, tak berarti bahwa pemain seperti Vieira tak boleh pergi atau pensiun dari timnya. Toh, kita tak bisa menolak hukum alam. Proses menjadi tua dan keinginan mencari tantangan baru juga termasuk hukum alam yang tak terhindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebuah tim sebetulnya bisa meminimalkan pengaruh negatif hukum alam itu. Caranya, dengan mempersiapkan diri untuk kehilangan “ruh tim” itu secara bijaksana dan jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sebuah tim mempersiapkan diri untuk kehilangan “sang inspirator” bisa kita pelajari dari kasus Josep Guardiola di Barcelona. Sama seperti Vieira, pada era 1990-an, peran dan posisi Guardiola di Barcelona juga sulit dicari tandingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, Barcelona mampu melewati “sindrom pasca-Guardiola” –mulai musim 2001/2002— itu dengan baik. Jauh-jauh hari mereka mempersiapkan bintang lokal Xavi Hernandez sebagai pewarisnya. Kebetulan gaya permainan keduanya agak serupa. Tapi, karena jarak usia antara Guardiola dan Xavi lumayan jauh, maka disiapkanlah Luis Enrique sebagai “jembatan penghubung” kesenjangan generasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun setelah Guardiola pergi, barulah Enrique gantung sepatu. Tapi ia mundur saat Xavi sudah sangat siap menggantikannya –mulai musim 2004/2005. Bahkan, Xavi juga sudah mendapat pendamping yang lebih dari sekadar cukup dalam diri Ronaldinho, Deco, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wenger sesungguhnya bukan tak mencoba melakukan hal serupa. Ia sudah lama menyiapkan Fabregas dan Flamini sebagai pewaris Vieira. Hanya saja, sayangnya, ia terlalu berani melepas Vieira saat pewarisnya belum cukup matang. Lebih sial lagi, ia tak punya “jembatan penghubung” antargenerasi itu karena Edu juga ikut pergi dan Gilberto Silva belakangan terlalu sering cedera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpuruknya Arsenal pasca Vieira jelas bukan sebuah kesengajaan –bisa dibilang kombinasi antara ketidakberuntungan dan sedikit salah perhitungan. Namun, disengaja atau tidak, Arsenal kini merasakan langsung dampaknya. Percaya atau tidak, dalam permainan sepak bola, pemain berkualitas “ruh” atau “inspirator permainan” itu memang ada –meski tak semua tim memilikinya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, Januari 2006)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7593853643255781189?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7593853643255781189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7593853643255781189' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7593853643255781189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7593853643255781189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/arsenal-sindrom-pasca-vieira.html' title='Arsenal, Sindrom Pasca-Vieira'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3930846349206021030</id><published>2008-08-22T18:46:00.002+07:00</published><updated>2008-08-22T18:49:00.113+07:00</updated><title type='text'>“Tragedi Suryadi”, Titik Tolak Menuju Transparansi Dana APBD untuk Sepak Bola</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;KABAR&lt;/strong&gt; mengagetkan datang dari Kediri, Jawa Timur, Kamis (21/8) lalu. Sekitar pukul 07.00 WIB, Bendahara Persik Kediri, Suryadi, ditemukan tergeletak tak sadarkan diri di mes timnya. Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Syukurlah, nyawanya terselamatkan. Namun hingga sore hari korban belum dapat dimintai keterangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hasil “olah TKP” pihak berwajib menunjukkan fakta mengejutkan. Di samping tubuh korban ditemukan barang bukti berupa cairan antinyamuk serta sisa muntahan di sprei. Dari temuan tersebut, muncul indikasi kuat bahwa korban minum racun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Polisi tak mau buru-buru memastikan penyebab kejadian di Jalan Diponegoro Nomor 7 –ada juga yang bilang kejadiannya di Kantor Badan Pengawas Kota Kediri di Jalan Ir Sutami— itu. Apalagi korban hingga sore harinya belum bisa dikonfirmasi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, sebelum insiden itu, Suryadi baru saja dipanggil pihak Kejaksaan. Malam sebelumnya, korban juga sempat mengikuti rapat koordinasi membahas persoalan korupsi di Sekretariat Persik bersama Ketua Umum H.A. Maschut, Iwan Budianto, dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Isu korupsi kini memang tengah jadi “bola panas” di “Tim Macan Putih”. Ketua Harian Persik, Antonius Rahman, sudah diperiksa Kejati Jatim. Tokoh penting Persik itu diperiksa terkait keberadaan dana sebesar Rp 4 miliar dari APBD Kota Kediri tahun 2008. Diduga dana Poltek tersebut sudah “salah jalan”, dialihkan ke kas Persik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang tahu banyak permasalahan ini, Suryadi tampaknya jadi stres dan depresi. Apalagi dugaan penyimpangan dana itu saat ini sudah ditangani Kejati Jatim. Makanya, ia mencoba bunuh diri dengan menenggak racun serangga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SEBAGAI&lt;/strong&gt; sesama “insan sepak bola”, tentunya kita patut merasa prihatin terhadap Suryadi. Jika bukan karena beban persoalan yang kelewat berat, niscaya ia tak akan memilih jalan pintas itu. Apalagi Suryadi bukan orang baru di lingkungan sepak bola. Ia sudah hampir sepuluh tahun ikut membesarkan Persik sejak masih di Divisi Tiga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kenekatan Suryadi itu membuat kita bertanya-tanya. Mengapa ia harus takut berurusan dengan Kejati Jatim? Mengapa pula Suryadi yang juga menjabat Asisten Manajer Persik itu merasa tak ada pilihan lain kecuali bunuh diri?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ini sungguh situasi yang tak mudah dipahami. Sebab, bagaimanapun, Suryadi hanya salah satu unsur dalam kepengurusan Persik. Apapun yang berkaitan dengan pengelolaan tim –termasuk urusan dana, mestinya jadi tanggung jawab bersama para pengurus. Terutama jajaran pengambil keputusan, seperti ketua umum dan manajer tim.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak pada tempatnya Suryadi lari dari persoalan ini dan membiarkan masalahnya ikut terkubur. Akan lebih bijak jika ia berani menghadapi persoalan ini dan membeberkannya secara transparan –tanpa ditambah atau dikurangi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bukan apa-apa. Sudah lama anggaran tim eks Perserikatan dicurigai sebagai “harta karun” bagi segelintir orang yang mendapat kesempatan jadi pengelola tim. Sudah jumlahnya besar, pertanggungjawabannya sering tak jelas. Bahkan meninggalkan tunggakan pajak miliaran rupiah, seperti terjadi sekarang di PSIS Semarang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, banyak daerah kini tak berani lagi mengucurkan dana untuk timnya. Apalagi setelah munculnya Permendagri No 13/2006 yang kemudian diubah dengan Permendagri No 59/2007.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Demi kemajuan sepak bola nasional, situasi gamang dan samar-samar ini harus segera dijernihkan. Suryadi bisa jadi “pionir” atau mungkin “martir” dalam hal ini. Itu tadi, dengan cara membeberkan secara gamblang sehingga masalahnya bisa dituntaskan dan jadi pembelajaran bagi semua pihak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sehingga nantinya kita boleh berharap tak ada lagi dana APBD yang diselewengkan atas nama sepak bola. Dan tak ada lagi tatap mata curiga dari Pemerintah maupun masyarakat terhadap keberadaan tim-tim sepak bola di daerahnya. Semoga saja, “tragedi Suryadi” bisa jadi titik tolak bagi transparansi dan akuntabilitas pemakaian dana APBD untuk sepak bola. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3930846349206021030?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3930846349206021030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3930846349206021030' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3930846349206021030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3930846349206021030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/tragedi-suryadi-titik-tolak-menuju.html' title='“Tragedi Suryadi”, Titik Tolak Menuju Transparansi Dana APBD untuk Sepak Bola'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3158362209353311692</id><published>2008-08-22T18:22:00.001+07:00</published><updated>2008-08-22T18:25:41.178+07:00</updated><title type='text'>Argentina Paling Memesona</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;JIKA&lt;/strong&gt; bicara soal gaya permainan, sepak bola Amerika Latin selalu diidentikkan dengan permainan yang imajinatif dan berteknik tinggi. Sedangkan, di sisi lain, sepak bola Eropa biasa dibaca sebagai permainan yang lebih kental dengan kecepatan dan kekuatan stamina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa lalu, saat bertemu Brasil atau Argentina, tim-tim Eropa biasanya takut dipermalukan oleh gocekan maut dan permainan satu-dua bintang sekelas Maradona, Pele, atau Socrates. Sebaliknya, para pemain Amerika Latin selalu risau menghadapi kekuatan dan penjagaan disiplin ala Hans Peter Briegel, Terry Butcher, atau Manuel Amoros.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah gambaran semacam itu masih kita lihat di panggung Piala Dunia 2006? Setidaknya, masihkah karakteristik semacam itu melekat dalam penampilan 32 tim finalis setelah sama-sama memainkan satu petandingan di penyisihan grupnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk yang meragukan. Meskipun, memang, satu pertandingan saja jelas belum cukup untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang kekuatan dan karakter sebenarnya ke-32 tim peserta putaran final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spanyol berpesta gol, tapi lawannya tim debutan. Jerman memang atraktif, tapi belum sepenuhnya teruji. Inggris sama sekali belum menunjukkan dirinya sebagai sebuah tim dengan barisan gelandang yang mungkin terbaik di dunia. Apalagi Prancis, masih jauh dari gambaran sebagai tim yang pernah juara Eropa dan dunia. Adapun Brasil belum bisa menaikkan level permainannya dari partai uji coba ke pertandingan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, menurut saya, praktis baru tiga tim yang penampilannya tergolong sudah teruji dan memuaskan. Republik Ceko dengan kemampuannya memeragakan serangan balik cepat yang menusuk dan mematikan. Italia dengan keuletan barisan belakang dan potensi kedahsyatan lini depannya. Dan Argentina dengan kerapihan kerjasama antarunit, antarlini, serta keseimbangan timnya yang sangat mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di antara tim-tim yang mampu menyajikan start cukup memuaskan itu, saya paling terkesan oleh Argentina. Meskipun, perlu diingat, bahwa kesan positif ini sama sekali bukanlah sebuah isyarat bahwa “Tim Tango” akan menjadi favorit terkuat untuk menjuarai Piala Dunia 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impresi saya terhadap Argentina mulanya justru dibangun oleh pesimisme yang lumayan kental. Betapa tidak, musim lalu, kita hanya melihat Lionel Messi yang jadi pemain Argentina paling menonjol. Sedangkan Hernan Crespo, Javier Saviola, Pablo Aimar, Juan Pablo Sorin, hingga Walter Samuel semua menunjukkan grafik penampilan yang datar-datar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, Messi sendiri belum termasuk pemain penting di tim senior Argentina asuhan Jose Pekerman. Apalagi pemain jenius itu belakangan sibuk berurusan dengan problem cedera yang didapat semasa memperkuat Barcelona. Sulit bagi saya membayangkan sebuah tim bisa jadi juara dunia dengan komposisi dan situasi pemain seperti itu. Apalagi hasil-hasil uji coba Argentina pun terbilang biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada laga perdana lawan Pantai Gading, penampilan Argentina membuat saya terkejut sekaligus terpesona. Saya begitu kagum melihat bagaimana rapih dan disiplinnya kerjasama mereka menghadapi lawan yang punya stamina dan kekuatan fisik sangat dahsyat. Jika lawannya bukan Argentina, saya kira, Pantai Gading mungkin layak mendapatkan tiga angka dari petandingan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun materi pemainnya terbilang tak istimewa, barisan belakang Argentina tampil sangat kokoh. Roberto Ayala mampu menjadi komandan yang sangat berwibawa bagi Nicolas Burdisso, Gabriel Heinze, dan Sorin. Ayala sendiri tak pernah kehilangan nyali menghadapi penyerang bertipe “pembunuh” semacam Didier Drogba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duet Crespo-Saviola mungkin pula bukan pilihan paling ideal di lini depan. Tapi kedua pemain ini mampu memborong dua gol ke gawang Pantai Gading. Crespo dan Saviola juga terus merepotkan pertahanan lawan dengan kegigihan dan kejeliannya menempatkan diri di kotak penalti lawan. Saviola bahkan makin bersinar ketika Argentina membungkam Serbia-Montenegro pada pertandingan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling mengesankan saya adalah kinerja lini tengahnya yang dipimpin playmaker Juan Roman Riquelme. Saya kira, performa barisan gelandang Argentina –juga Spanyol— paling menonjol di antara semua tim yang tampil pada pertandingan pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, saya harus memberi kredit tersendiri bagi Riquelme. Ia bermain sangat dinamis, percaya diri, dan kreatif. Gol yang diciptakan Saviola ke gawang Pantai Gading adalah contoh nyata hebatnya visi bermain Riquelme. Ia mampu membaca rencana pergerakan pemain belakang lawan dan “menghukumnya” dengan umpan mematikan yang meloloskan Saviola dari jebakan offside.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riquelme sering dikritik banyak orang sebagai pemain jenius yang angin-anginan. Bahkan ia dianggap tipe pemain “kolam kecil” yang hanya pas membela tim sekelas Villarreal atau Boca Juniors, tapi tak cukup layak bagi Barcelona dan tim nasional Argentina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riuelme juga sering dikritik terlalu lama dan lamban mengalirkan bola. Sehingga pemain cepat semacam Saviola atau Crespo kerap kehilangan momentum dan peluang. Salah satu yang sering mengkritiknya soal kecepatan ini adalah Mario Kempes, pahlawan Argentina pada Piala Dunia 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika melihat penampilannya saat menghadapi Pantai Gading, saya kira, tudingan itu salah alamat. Riquelme justru sangat percaya diri mengorkestrasi arus serangan Argentina. Ia juga berani membuat keputusan-keputusan yang berisiko tinggi. Salah satunya umpan jitu kepada Saviola yang bisa menjadi sia-sia saja jika timing dan arahnya tak cukup akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita masih percaya tentang dikotomi sepak bola Eropa dan Amerika Latin, maka Argentina adalah paduan yang sempurna dari kedua aliran permainan si kulit bundar itu. Ada unsur kekuatan dan keuletan Eropa dalam penampilan Ayala, Burdisso, atau Maxi Rodriguez. Tapi juga sarat sentuhan magis dalam liukan dan operan cantik Riquelme, Saviola, dan Crespo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argentina mungkin tak sekuat Inggris pertahanannya, tak seulet Spanyol lini tengahnya, dan tak setajam Brasil barisan penyerangnya. Tapi Argentina punya perpaduan ketiganya sekaligus. Mereka kuat, ulet, juga tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, yang mereka butuhkan sekarang tinggal kekompakan tim, konsistensi, dan mental juara yang harus terus dipupuk mengingat kejuaraan berlangsung sebulan penuh. Dan satu lagi yang mungkin tak kalah menentukan: keberuntungan! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, Juni 2006)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3158362209353311692?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3158362209353311692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3158362209353311692' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3158362209353311692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3158362209353311692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/argentina-paling-memesona.html' title='Argentina Paling Memesona'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-6997009791487400556</id><published>2008-08-20T21:47:00.001+07:00</published><updated>2008-08-20T21:53:40.966+07:00</updated><title type='text'>Terry, Kapten Baru Inggris dengan Pertimbangan Nonteknis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;BAN&lt;/strong&gt; kapten tim nasional Inggris akhirnya tetap melekat di lengan John Terry. Laga uji coba Inggris menjamu Republik Ceko di Wembley, Rabu (20/8) atau Kamis dini hari WIB, jadi ajang penahbisan kapten definitif &lt;em&gt;“The Three Lions”&lt;/em&gt; pada era Fabio Capello.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan demikian, Terry membalikkan prediksi banyak orang yang menduga Capello akan lebih memilih Rio Ferdinand, &lt;em&gt;stopper&lt;/em&gt; Manchester United (MU). Faktanya, Capello menempatkan Ferdinand hanya sebagai wakil kapten.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terry sekaligus memperpanjang kepemimpinannya sebagai &lt;em&gt;skipper&lt;/em&gt; Inggris. Maklum, ia memang sudah menjabat kapten sejak mundurnya David Beckham dari jabatan itu pasca-Piala Dunia 2006. Selama Inggris ditangani Steve McClaren sepanjang 2006-2007, ban kapten itu pun tak lepas dari lengannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Toh, tetap saja, keraguan sempat muncul ketika era Capello dimulai. Apalagi Capello kemudian sempat menggilir jabatan kapten itu kepada Terry, Ferdinand, Steven Gerrard, Beckham, bahkan Gareth Barry. Lalu, apa yang membuat Capello akhirnya lebih percaya kepada Terry?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Capello menjelaskan bahwa kepribadian Terry menjadi faktor penting di balik penunjukannya sebagai kapten. “Saya kira, kepribadian yang kuat adalah alasan saya memilih John. Kapten sangat penting karena dia mengarahkan tim,” ia menjelaskan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya kira, pemikiran Capello mengenai jabatan kapten ini cukup menarik. Tak sekadar karena  ini menyangkut tim besar sekelas Inggris. Lebih dari itu, ia juga membuat keputusan yang sangat berani dengan menempatkan kepribadian –baca: karakter pemain— sebagai faktor paling utama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Padahal, kita tahu, bahwa kepribadian hanya salah satu pertimbangan yang bersifat nonteknis. Di luar itu, masih cukup banyak faktor teknis yang biasanya lebih dipertimbangkan dalam pemilihan kapten. Sebut saja soal jam terbang di tim nasional &lt;em&gt;(caps), &lt;/em&gt;status dalam tim (inti/cadangan), posisi bermain, &lt;em&gt;skill&lt;/em&gt; individu, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kita ambil contoh tim nasional Argentina di Olimpiade Beijing. Jika pertimbangannya dominan faktor teknis, saya rasa Sergio Batista akan menunjuk Lionel Messi sebagai kapten. Atau mungkin Javier Mascherano karena karakternya yang sangat kuat. Toh, ia lebih memilih Juan Riquelme karena faktor senioritasnya. Sejauh ini, keputusan Batista terbukti cukup efektif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bahwa Capello lebih memilih Terry karena alasan karakter, itu juga bukan tanpa alasan. Maklum, timnas Inggris saat ini masih terpuruk setelah gagal lolos ke putaran final Piala Eropa 2008. Tim seperti ini memang butuh pemimpin yang kuat dan berkaraker –tak hanya di pinggir, tapi juga di dalam lapangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selain itu, gaya permainan Inggris sendiri memang cenderung keras, cepat, langsung, dan ofensif. Nah, Terry termasuk pemain yang mewakili kecenderungan permainan seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yang tak kalah penting, timnas Inggris sendiri merupakan kumpulan para kapten dan wakil kapten dari klub-klub besar. Ada Terry (Chelsea), Gerrard (Liverpool), Beckham (LA Galaxy), Barry (Aston Villa), David James (Portsmouth), dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Sialnya”, Ferdinand sendiri cuma kapten ketiga di hirarki kepemimpinan “Tim Setan Merah”. Tentu, akan sedikit lucu jika Ferdinand yang justru memimpin para kapten sebenarnya saat mereka tampil di level antarnegara. Sedikit-banyak, hambatan psikologis akan muncul.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Itulah yang ingin dihindari Capello. Ia tak mau timnas Inggris yang masih terseok-seok ini terlalu banyak direcoki persoalan yang sifatnya nonteknis. Makanya, dengan pendekatan yang sebenarnya juga nonteknis, ia mantap menunjuk Terry sebagai “penyambung lidahnya” di lapangan hijau. *&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-6997009791487400556?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/6997009791487400556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=6997009791487400556' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6997009791487400556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/6997009791487400556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/terry-kapten-baru-inggris-dengan.html' title='Terry, Kapten Baru Inggris dengan Pertimbangan Nonteknis'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-84680329245253772</id><published>2008-08-20T21:42:00.001+07:00</published><updated>2008-08-20T21:46:26.623+07:00</updated><title type='text'>Lin Dan, Penguasa Tunggal Putra</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;MENYAKSIKAN &lt;/strong&gt;final tunggal putra Kejuaraan Bulu Tangkis All England 2006 sungguh membuat kita miris. Terlihat jelas betapa dominannya Lin Dan menguasai nomor paling bergengsi di cabang olahraga bulu tangkis ini. Padahal, usianya kini baru 22 tahun –tak beda jauh dengan bintang Indonesia, Sony Dwi Kuncoro, yang tersingkir di putaran pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja bagaimana ia menaklukkan Lee Hyun Il pada final yang digelar di National Indoor Arena, Birmingham, Minggu malam (22/1) lalu. Lin Dan seolah tak punya rasa takut atau gentar sedikit pun menghadapi permainan ulet Hyun Il yang terkenal sulit ditembus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Lin Dan tidak tampil dalam kondisi terbaiknya malam itu. Pemain yang punya julukan “Super Dan” itu memaksakan diri tampil dalam keadaan kurang fit. Bahkan, pada set kedua saat memimpin 8-5, lutut kirinya terasa nyeri akibat salah jatuh setelah melepaskan smes sambil loncat. Toh, semua itu bukan halangan baginya untuk merebut gelar juara tunggal putra. Hanya dalam 50 menit, ia membungkam bintang asal Korea Selatan itu dengan 15-7, 15-7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pertandingan, tak banyak yang bisa diungkapkan Hyun Il tentang kekalahannya. Secara terus-terang, ia mengakui dirinya tak mampu mengimbangi standar permainan yang dikembangkan lawannya. Bahkan, katanya, “Meskipun sedang cedera, permainan Lin Dan masih sangat bertenaga dan tak terbendung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan kali ini membuat Lin Dan sukses merebut kembali gelar yang direbutnya pertama kali pada 2004. Ini sekaligus ketiga kalinya berturut-turut pemuda yang gemar memberi hormat ala tentara itu lolos ke partai puncak All England.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, Lin Dan gagal di Olimpiade Athena 2004 yang dijuarai Taufik Hidayat. Benar, ia juga tak mampu merebut gelar prestisius tunggal putra Kejuaraan Dunia 2005. Tapi, tiga tahun terakhir ini, posisi sebagai pemain nomor satu IBF tak lepas dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun terus memenangkan berbagai kejuaraan penting. Sebelum All England 2006, ia lebih dulu menjuarai Piala Dunia 2005 yang digelar akhir tahun lalu di negerinya dengan mengalahkan Boonsak Ponsana 21-13, 21-11 di final. Daftar kemenangannya tahun lalu masih harus ditambah dengan sukses di Jerman, Hongkong, Jepang Terbuka, dan China Masters. Plus jadi finalis di Malaysia Terbuka, All England, dan Kejuaraan Dunia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KOMENTAR&lt;/strong&gt; Hyun Il tentang permainan Lin Dan merupakan pengakuan jujur akan kehebatan pemain nomor satu dunia itu. Pengakuan yang tak cuma meluncur dari mulut Hyun Il, tapi juga semua lawan yang disingkirkan Lin Dan di All England 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja komentar Lee Chong Wei yang hampir bisa mengalahkannya di semifinal. “Sulit sekali mengembangkan permainan saat menghadapi Lin Dan,” kata pemain andalan Malaysia yang kalah 9-15, 15-10, 14-17 itu. “Terakhir kali kalah lawan dia, saya menyerah terlalu mudah. Jadi, saya tetap senang karena kali ini bisa memberi perlawanan sengit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Hyun Il dan Chong Wei saja mengakui betapa sulitnya meladeni permainan Lin Dan, bisa dibayangkan kesulitan yang harus dihadapi para pemain tunggal lainnya. Sebab, saat ini, Hyun Il dan Chong Wei justru paling berpotensi menghentikan keperkasaan Lin Dan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyun Il belakangan memang sangat menanjak prestasinya dan jadi ujung tombak Korea Selatan di berbagai kejuaraan besar. Lolos ke final All England 2006 adalah prestasi tertinggi dalam kariernya –melebihi keberhasilan masuk final Asia Games 2002 dan kalah 7-15, 9-15 dari Taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chong Wei juga termasuk “meteor baru” di percaturan tunggal putra dunia. Bintang asal Malaysia itu kini sudah melewati seniornya, Mohammad Hafiz Hashim dan Wong Choong Hann. Bahkan sudah jauh meninggalkan pemain seangkatannya, seperti Kuan Beng Hong, Lee Tsuen Seng, Yeoh Kay Bin, Sairul Amar Ayob, dan Pei Wei Chung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talenta besar Chong Wei ditunjukkannya saat menjuarai kejuaraan Swiss Terbuka, awal bulan ini. Ia hanya butuh 35 menit untuk menaklukkan mantan juara dunia asal Cina, Xia Xuanze, dengan skor 15-8, 15-0. Bahkan Chong Wei juga pernah mengalahkan Lin Dan di final Malaysia Terbuka 2005 dengan skor ketat 17-15, 9-15, dan 15-9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal teknik bagus, permainan cepat, dan kemampuan bermain menyerang, tak terlalu mengherankan jika Chong Wei telah menaklukkan hampir semua pemain terkuat dunia saat ini. Termasuk Taufik yang dikalahkannya pada perempat final Malaysia Terbuka 2005, Juli tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chong Wei juga sudah lebih dulu mengalahkan Peter Gade pada kejuaraan Singapura Terbuka 2004. Saat itu, sebagai pemain urutan ke-17 IBF, ia sanggup menumbangkan Gade yang masih menduduki peringkat kedua dunia dengan 15-5, 15-13 pada babak kuarter final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling spektakuler saat ia mempertahankan gelarnya di Malaysia Terbuka 2005. Sebelum menumbangkan Lin Dan di final, ia lebih dulu membungkam Bao Chunlai di semifinal dan Taufik di perempat final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, pada kejuaraan yang “lebih serius” seperti All England ini, terbukti Chong Wei –juara Denmark Terbuka 2005— belum mampu menghentikan laju kemenangan Lin Dan. Lalu, siapa kiranya yang bisa menghentikan dominasi Lin Dan di percaturan tunggal putra dunia?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BELAKANGAN&lt;/strong&gt; ini, publik bulu tangkis dunia mulai mengelu-elukan nama Chen Jin sebagai calon bintang baru. Potensi anak muda berumur 20 tahun itu terlihat saat menjuarai Jerman Terbuka pada pertengahan Januari lalu. Di final, ia mengalahkan seniornya yang dua kali juara All England, Chen Hong, dengan skor 15-3, 15-7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di All England 2006, penampilan Chen Jin juga tak mengecewakan. Ia mampu menembus perempat final sebelum dikalahkan Peter Gade 6-15, 13-15. Jauh lebih lumayan dibanding Sony.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya kira, Chen Jin bukanlah tandingan Lin Dan. Secara teknis, ia tak memiliki kecepatan dan kelincahan untuk mengimbangi permainan menyerang ala Lin Dan. Kualitas pertahanannya pun tak cukup solid untuk membendung smes-smes menghunjam yang jadi andalan Lin Dan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, mungkin, Chen Jin bisa jadi pemain nomor satu dunia. Tapi tidak saat ini. Setidaknya, bukan pada saat Lin Dan sedang menikmati masa jayanya sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya pemain masa kini yang paling mungkin mematahkan dominasi Lin Dan justru Taufik. Ya, dialah bintang bulu tangkis asal Pangalengan yang kini sedang sibuk mempersiapkan diri untuk naik pelaminan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik sudah beberapa kali membuktikan dirinya sebagai “jawaban” atas permainan speed and powerfull game ala Lin Dan. Salah satunya ketika mereka bertemu di final Kejuaraan Dunia tahun lalu. Di luar dugaan, Lin Dan ternyata kalah mudah, 3-15 dan 7-15. Kekalahan itu membuatnya begitu “mendendam” terhadap Taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi pemain dengan gaya main dan kemampuan seperti Lin Dan memang tak mudah. Sebelum bicara soal teknis, pertama-tama sang lawan harus punya kekuatan mental. Tanpa kekuatan mental dan rasa percaya diri yang tinggi, lawan niscaya langsung ciut saat menghadapi smes Lin Dan yang bertubi-tubi dan sangat bertenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik termasuk satu dari sedikit pemain yang mentalnya sangat kuat. Makanya, ia tak pernah terlihat gentar saat bertemu Lin Dan. Sebaliknya, ia terlihat sangat yakin bisa meredam senjata andalan lawannya itu. Makanya, saat smes-smesnya terbukti bisa dimentahkan, gantian Lin Dan yang kehilangan kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, dibutuhkan pula dukungan kesempurnaan teknik, pertahanan rapat, dan stamina luar biasa untuk meredam keperkasaan Lin Dan. Deretan persyaratan itu sangat berat tapi semuanya bisa dipenuhi Taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, keistimewaan Taufik tak dibarengi ketekunan, kedisiplinan, dan ambisi yang sepadan. Taufik terlalu pilih-pilih turnamen dan acapkali kurang serius mempersiapkan diri jika yang dihadapi hanya kejuaraan “kelas dua” –menurut kriterianya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya posisi Taufik di daftar peringkat IBF –kini di urutan ke-10— tak pernah bisa mendekati Lin Dan. Itu pula sebabnya Lin Dan bisa terus mendominasi peta persaingan tunggal putra dunia, seolah tanpa rival yang sepadan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 25 Januari 2006)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-84680329245253772?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/84680329245253772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=84680329245253772' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/84680329245253772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/84680329245253772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/lin-dan-penguasa-tunggal-putra.html' title='Lin Dan, Penguasa Tunggal Putra'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-5152277823087280932</id><published>2008-08-18T22:16:00.004+07:00</published><updated>2008-08-18T22:30:17.802+07:00</updated><title type='text'>Chelsea Meyakinkan, MU Butuh Striker Baru</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(Menyorot Pekan Pertama BPL yang Lenyap dari Layar Kaca)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;SUDAH&lt;/strong&gt; nonton Liga Primer Inggris (BPL) pekan perdana, Sabtu-Minggu kemarin? Sebagian besar mungkin belum cukup beruntung. Menunggu siaran TV &lt;em&gt;free to air&lt;/em&gt; tak kunjung datang, berlangganan lewat TV berbayar pun kecele.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Maklum, Astro TV ternyata cuma kuat bertahan semusim menyiarkan BPL. Tanpa basa-basi dan pemberitahuan yang memadai sejak jauh-jauh hari, mereka “dengan santai” melepaskan siaran BPL musim 2008/2009. Seolah lupa bahwa puluhan ribu pelanggan memilih mereka justru karena faktor BPL tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa boleh buat. Mungkin memang begitulah mentalitas lembaga penyiaran kita. Yang &lt;em&gt;free to air&lt;/em&gt; maupun yang berbayar tetap saja seenaknya kalau sudah menyangkut program dan komitmen.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kabar baiknya, kini datang Aora TV menawarkan alternatif. Kabarnya, TV berbayar yang dimotori Rini Soewandi –Menteri Perindustrian dan Perdagangan era Megawati— itu bakal menyiarkan BPL mulai pekan kedua, tepatnya Sabtu mendatang. Entah untuk berapa musim.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lepas dari rasa dongkol yang belum sepenuhnya hilang, melalui cuplikan pertandingan yang saya lihat “dari berbagai sumber”, ada banyak hal menarik dari persaingan pekan pertama BPL musim ini. Salah satunya, penampilan gemilang Chelsea yang jadi primadona pekan pertama dengan menggilas Portsmouth 4-0.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penampilan tajam Chelsea seakan meneruskan tren positif yang mereka tunjukkan selama tur pramusim ke Asia Timur, Kuala Lumpur, dan Amerika Utara. Apalagi deretan pencetak gol ke gawang Portsmouth –Joe Cole, Nicolas Anelka, Frank Lampard, dan Deco— adalah pemain-pemain yang juga tampil mengesankan selama tur.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Itu menunjukkan bahwa tur pramusim yang dijalani Chelsea sangat efektif dalam menyatukan pemain lama dan baru, meningkatkan kebugaran pemain, sekaligus menerjemahkan konsep baru yang dibawa pelatih. Yang paling penting, menyiapkan Chelsea agar bisa langsung “panas” saat kompetisi dimulai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Luiz Felipe Scolari memang datang ke Stamford Bridge tidak dengan tangan hampa. Ia membawa sistem permainan yang baru untuk Chelsea, meski basisnya tetap 4-4-2 atau 4-5-1 dan kerangka timnya masih skuat inti warisan Jose Mourinho dan Avram Grant.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Secara umum, Chelsea yang diinginkan Scolari adalah seperti Brasil pada Piala Dunia 2002. Mereka sangat kokoh di lini tengah dengan sederet gelandang serang yang haus gol menopang pergerakan striker utama –di Brasil, fungsi ini dimainkan Ronaldo pada era Scolari.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sedangkan untuk memanfaatkan lebar lapangan, ia memberi mandat penuh kepada bek kanan dan kiri untuk naik-turun secara agresif. Dan fungsi itu kemarin dilakoni dengan sangat baik oleh Jose Bosingwa dan Ashley Cole.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan performa seperti ini, ditambah fakta bahwa mereka belum menurunkan striker utama Didier Drogba, saya tak ragu menyebut Chelsea sebagai salah satu kandidat juara paling serius musim ini. Beratnya jadwal pertandingan tak akan jadi beban bagi mereka karena skuatnya besar dan barisan pemain pelapisnya sangat berbobot. Itulah enaknya punya bos kaya dan royal seperti Roman Abramovich.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sementara itu, sang juara bertahan Manchester United (MU) jadi satu-satunya anggota &lt;em&gt;“The Big Four”&lt;/em&gt; yang gagal memetik tiga angka pada pekan perdana. MU hanya bisa bermain imbang 1-1 melawan Newcastle United yang tampil gagah berani di Old Trafford.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seperti sudah saya sampaikan dalam tulisan-tulisan saya di Harian &lt;em&gt;TopSkor&lt;/em&gt;, problem terbesar MU saat ini ada di lini depan. Kegagalan menembus gawang Portsmouth pada laga Community Shield adalah sinyal paling kuat akan tumpulnya lini depan “Tim Setan Merah” tanpa Cristiano Ronaldo.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kompetisi memang baru satu putaran, masih jauh dari “kiamat” bagi tim asuhan Alex Ferguson. Tapi, jangan lupa, Ronaldo baru bisa tampil lagi paling cepat awal Oktober. Itu berarti akan ada 5-6 pertandingan tanpa kehadiran gelandang jenius asal Portugal itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selama kurun waktu itu, Ferguson betul-betul diuji kejeliannya untuk meramu kombinasi yang efektif di lini depan. Jika selama ini ia kelihatan yakin terhadap konsep striker tunggal, boleh jadi sekarang ia lebih sering menampilkan Carlos Tevez dan Wayne Rooney sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tapi, sekalipun duet Tevez-Rooney nantinya bisa “jalan”, saya tetap melihat perlunya MU membeli satu striker lagi sebelum batas pendaftaran 31 Agustus. Striker tersebut harus beda karakter maupun posturnya dengan Tevez maupun Rooney. Ia juga harus lebih bernaluri sebagai &lt;em&gt;target man&lt;/em&gt; dan “betah” berlama-lama di kotak penalti menunggu pasokan bola dari rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Itulah tipe striker yang tak dipunyai MU saat ini. Dan karena itu pula Ferguson ngotot mengejar Dimitar Berbatov dari Tottenham Hotspur. Ya, Berbatov memang memenuhi persyaratan itu. Tapi seandainya “proyek” Berbatov kandas, saya kira tak ada salahnya Ferguson berpaling kepada striker Ajax, Klaas Jan Huntelaar. Menurut saya, ia bahkan lebih memenuhi persyaratan dibanding Berbatov. Kita tunggu saja. *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-5152277823087280932?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/5152277823087280932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=5152277823087280932' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5152277823087280932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5152277823087280932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/chelsea-meyakinkan-mu-butuh-striker.html' title='Chelsea Meyakinkan, MU Butuh Striker Baru'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7015437270926814454</id><published>2008-08-15T22:36:00.002+07:00</published><updated>2008-08-15T22:41:25.071+07:00</updated><title type='text'>Menyedihkan, Pengurus PSIS Tidak Paham soal Pajak Penghasilan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ADA&lt;/strong&gt; kabar menyedihkan datang dari Semarang, Jawa Tengah, Kamis (14/8) lalu. Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Ahmadi, mengkritik Manajemen PSIS Semarang karena hingga saat ini belum menyetor pembayaran pajak kepada negara sebesar Rp 2,147 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai tunggakan pajak sebesar itu merupakan laporan hasil pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sepanjang 2007. Dan tunggakan tersebut merupakan kewajiban tahun 2007 yang berasal dari kontrak pemain, gaji pemain, gaji ofisial, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan laporan BPK, sepanjang 2007, PSIS mendapat bantuan Rp 14,4 miliar. Dari total bantuan yang dicairkan dalam tiga termin itu, Rp10,756 miliar dialokasikan untuk kontrak pemain, gaji pemain, dan gaji ofisial. Berarti semuanya dikenakan pajak sesuai PPH pasal 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggakan itu, kabarnya, bisa terjadi karena mekanisme pengucurannya yang “tersendiri”. Di instansi lain, jika mendapat pembayaran dari Pemkot langsung dipotong pajak saat dana dikucurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal ini tidak berlaku bagi PSIS sehingga terkumpul pajak Rp 2,147 miliar yang belum disetor ke kas negara. Bahkan, Pemkot Semarang sendiri belum melakukan verifikasi atas penggunaan dana PSIS sepanjang 2007. Sehingga angka tunggakan Rp 2,147 miliar itu bisa saja membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih memprihatinkan di balik kasus tunggakan ini adalah jawaban Manajemen PSIS yang dilontarkan Manajer Yoyok Sukawi. Ia mengaku tidak mengetahui kalau para pesepak bola wajib membayar pajak penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yoyok, ketidaktahuan itu karena kewajiban membayar pajak penghasilan merupakan urusan pemain dan Pemerintah. Ia menyesalkan tidak ada pemberitahuan sejak awal dari Pemerintah mengenai hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoyok juga mengatakan bahwa pihaknya telah mengirim surat pemberitahuan kepada seluruh pemain lokalnya. “Tagihan” yang dikirimkannya itu berlaku pula untuk pemain lokal PSIS yang musim ini pindah membela klub lain. Konon, ada sekitar 30 pemain lokal yang terkena kewajiban ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski respons Manajemen PSIS terhadap kritik DPRD Kota Semarang cukup sigap, saya tetap prihatin terhadap kasus ini. Bayangkan, Manajemen PSIS yang terdiri atas sejumlah tokoh terkenal –Yoyok bahkan putra Walikota Semarang, Sukawi Sutarip, yang sedang "dibidik" KPK— itu ternyata tak paham soal pajak penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya sungguh ironis, menyedihkan, sekaligus tak masuk akal. Apa iya Manajemen PSIS benar-benar tak paham soal pajak penghasilan? Bukankah mereka juga sudah diverifikasi Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) dari segi finansial saat mengajukan diri sebagai peserta Liga Super Indonesia 2008/2009?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya sedikit pengalaman jadi konsultan bagi beberapa pemain sepak bola kita saat mereka bergabung dengan sebuah klub. Entah itu klub Liga Super, Divisi Utama, atau Divisi Satu. Entah itu klub di kota besar di Jawa, pedalaman Kalimatan Timur, hingga nun jauh di Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anehnya”, setiap kali terjadi pembicaraan kontrak, soal pajak itu tak pernah luput diagendakan. Dan setiap kali itu pula solusinya seragam: pemain terima bersih! Maksudnya, angka yang disepakati sebagai hak pemain kemudian ditambah nilai pajaknya. Total jumlahnya itulah yang tercantum sebagai nilai kontrak resmi yang dilaporkan. Sehingga tak ada masalah tunggakan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar, setiap daerah memang punya “keunikan” sendiri. Boleh jadi, sistem kontrak pemain yang diberlakukan di PSIS itu juga “unik” dan berbeda dengan kebanyakan tim lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sah-sah saja. Tapi, kalau pajak penghasilannya sampai terlupakan saking “uniknya”, ya siap-siap saja menanggung risikonya. *&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7015437270926814454?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7015437270926814454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7015437270926814454' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7015437270926814454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7015437270926814454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/menyedihkan-pengurus-psis-tidak-paham.html' title='Menyedihkan, Pengurus PSIS Tidak Paham soal Pajak Penghasilan'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3711592783200506229</id><published>2008-08-15T22:31:00.001+07:00</published><updated>2008-08-15T22:35:28.947+07:00</updated><title type='text'>Ketika Angka Delapan Jadi Sempurna</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;MELIHAT&lt;/strong&gt; pesta pembukaan Olimpiade Beijing, Sabtu (9/8) lalu, sulit untuk tidak merasa kagum. Acaranya begitu meriah, semarak, dan kolosal dengan pesta kembang api yang sangat spektakuler sebagai puncaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebuah (angka) delapan menjadi 10 yang sempurna,” koran &lt;em&gt;Sydney Morning Herald&lt;/em&gt; yang terbit di Australia memberikan pujian. “Dunia mungkin tak akan pernah lagi menyaksikan sebuah upacara dengan gema dan kreativitas seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran terbitan London yang sangat berpengaruh di Inggris, &lt;em&gt;Evening Standard News&lt;/em&gt;, menyebut upacara tersebut “Keajaiban Cina” di halaman mukanya. Mereka menilai bahwa ini akan menjadi olimpiade paling ambisius dalam sejarah olahraga yang dibuka dengan pertunjukan paling spektakuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian dari Italia tak kalah hiperbolis. “Menakjubkan. Terlalu menakjubkan,” jurnalis Leonardo Coen memberikan sanjungan dalam situs harian yang berbasis di Roma, &lt;em&gt;La Republicca&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikatakan bahwa Olimpiade Beijing, melalui upacara pembukaannya saja, sudah berhasil mengikis citra negatif yang sempat mengganggu Cina. Bukan lagi masalah hak asasi manusia, intimidari terhadap kebebasan pers, atau pemerintahannya yang otokratis yang jadi perhatian dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, dunia melihat Cina secara berbeda. Seperti dengan pas diungkapkan oleh media Jerman, &lt;em&gt;Frankfurter Allgemeine Zeitung&lt;/em&gt;:  “Ini bukan buah kekejaman rezim yang diktator, melainkan sebuah pencapaian yang diraih dengan upaya tak terbatas dari sebuah negeri yang diorganisasi secara ketat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SULIT&lt;/strong&gt; membayangkan bahwa olimpiade ini dibuka hanya tiga bulan setelah gempa besar di Provinsi Sichuan yang merenggut lebih dari 70 ribu jiwa. Sebuah bencana dahsyat yang memaksa mata dunia saat itu sepenuhnya tertuju kepada Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, hanya beberapa hari sebelum tanggal keramat “08-08-08” saat olimpiade dibuka, Cina masih juga diusik persoalan gempa. Dalam skala yang lebih kecil, gempa kembali mengguncang Sichuan dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat gempa besar itu melanda, dunia sempat khawatir Cina tak akan punya cukup energi untuk meneruskan pesta olahraga sejagat itu. Kalaupun olimpiade itu tetap digelar di “Negeri Tirai Bambu”, publik dunia sangat bisa memahami jika segala sesuatunya berjalan secara bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Sabtu lalu, tak tampak lagi sisa-sisa duka akibat gempa besar itu. Yang tampak hanya kegairahan dan semangat luar biasa dari rakyat Cina untuk menjadikan olimpiade kali ini yang termegah dalam sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan olimpiade kali ini membawa pesan lebih dari sekadar pembukaan pesta olahraga dunia. Ini sebuah isyarat tentang bangkitnya Cina, sebuah negara dengan tradisi peradaban yang panjang untuk menjadi negara terkemuka di jagat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DARI&lt;/strong&gt; pembukaan yang dahsyat itu, pelajaran paling penting yang bisa kita petik adalah soal kemauan. Cina seolah membuktikan bahwa tak ada yang mustahil untuk diraih selagi ada kemauan kuat untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, gempa besar Sichuan sempat menggoyahkan kepercayaan diri Pemerintah dan rakyat Cina untuk terus menggelar olimpiade ini. Juga benar bahwa dampak sosial dan ekonomi akibat gempa tersebut belum sepenuhnya bisa dipulihkan dalam tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap menggelar olimpiade, bahkan dengan pembukaan yang spektakuler, sama sekali tak menunjukkan bahwa Pemerintah Cina tak peka terhadap penderitaan rakyatnya. Justru harus dipahami sebagai bukti kuatnya komitmen Pemerintah Cina terhadap olahraga dan citra negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat kesemarakan Olimpiade Beijing, mereka justru “melampaui dua-tiga pulau sekaligus”. Mereka sukses memperbaiki citra negatif Cina di mata dunia sekaligus berhasil mengetuk hati jutaan warga dunia untuk ikut memperhatikan nasib para korban gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti, salah satu perusahaan elektronik raksasa negeri itu menyiapkan paket bonus istimewa. Untuk setiap emas yang diraih atlet Cina, satu sekolah akan dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bangunan sekolah memang tak cukup untuk menghibur jutaan warga Sichuan yang jadi korban. Namun itu adalah simbol kemauan kuat rakyat Cina untuk bangkit dari keterpurukan dan menjadi raksasa baru di dunia olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun jadi teringat pesan Rasul, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina. Semoga saja para pengambil kebijakan di negeri kita belajar dari Olimpiade Beijing ini. Sehingga kelak mereka pun memiliki komitmen dan kemauan politik yang kuat terhadap kemajuan olahraga kita. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 11 Agustus 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3711592783200506229?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3711592783200506229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3711592783200506229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3711592783200506229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3711592783200506229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/ketika-angka-delapan-jadi-sempurna.html' title='Ketika Angka Delapan Jadi Sempurna'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-5407752324605236352</id><published>2008-08-13T22:23:00.001+07:00</published><updated>2008-08-13T22:27:37.801+07:00</updated><title type='text'>Saatnya Bobotoh Mendukung Persib dengan Hati</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;“TIM&lt;/strong&gt; Maung Bandung” akhirnya bisa bernapas lega. Kepolisian Daerah Jawa Barat mengizinkan penyelenggaraan pertandingan Persib Bandung melawan Persitara Jakarta Utara, Sabtu (16/8) mendatang, di Stadion Siliwangi. Pertandingan yang akan dimulai pukul 15.30 WIB itu bakal digelar tanpa penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izin itu sendiri diperoleh dengan susah-payah. Konon, Manajemen Persib mengurusnya sejak dua pekan lalu dengan mengajukan surat permohonan. Mereka juga bertemu langsung dengan Kapolda Jabar Inspektur Jenderal (Pol) Susno Duadji. Padahal, biasanya, permohonan izin “cukup” diajukan oleh panitia pelaksana pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diungkapkan Ketua Harian Persib Bandung, Edi Siswadi, masalah perizinan ini memang dilematis. Sebagai pengurus teras Persib, ia khawatir “Tim Maung Bandung” terkena sanksi lebih berat dari Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) jika gagal menggelar laga lawan Persitara. Di sisi lain, ia mendukung ketegasan Polda terkait aksi anarkis &lt;em&gt;bobotoh&lt;/em&gt; saat Persib menjamu Persija, bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, pada akhirnya Edi yang saat ini menjadi pejabat sementara wali kota Bandung itu tetap mensyukuri terbitnya izin dari Polda Jabar. Meski tanpa penonton, ia beranggapan tampil di Bandung tetap lebih menguntungkan bagi stamina dan psikologi pemain dibanding jika harus bermain di luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edi tak lupa mengingatkan, pertandingan ini merupakan uji coba bagi &lt;em&gt;bobotoh&lt;/em&gt;. ”Kalau terjadi kerusuhan lagi, bisa-bisa Persib tak akan diizinkan bertanding di Bandung hingga akhir kompetisi,” ia menegaskan. “Sekalipun tanpa penonton, bobotoh bisa saja rusuh di luar stadion.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BENAR&lt;/strong&gt; kata Edi, izin dari Polda Jabar memang lebih pas disebut sebagai ujian bagi para pendukung fanatik Persib yang biasa disebut &lt;em&gt;bobotoh&lt;/em&gt;. Bahkan mungkin bisa disebut juga sebagai “remedial” –kesempatan belajar dan mengikuti ujian ulang bagi siswa yang nilainya kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas, remedial terkesan lebih mudah dibanding ujian terdahulu. Tapi, sesungguhnya, bisa jadi lebih berat. Maklum, secara psikologis ada tekanan lebih besar untuk membuktikan diri bisa lebih baik. Dan kegagalan dalam remedial bisa membawa akibat yang lebih serius dibanding ujian biasa. Inilah aspek psikologis yang perlu dipahami betul oleh pemain, pengurus, dan seluruh konstituen Persib menyongsong laga lawan Persitara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tegangnya suasana batin para pengurus teras Persib sampai-sampai mereka cenderung bersikap ekstrem. Untuk menonton di Siliwangi sudah jelas mustahil. Bahkan untuk sekadar datang ke Siliwangi pun mereka akan “ditolak” oleh para pengurus Persib. Apa kata dunia –suporter ditolak oleh timnya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kehadiran &lt;em&gt;bobotoh&lt;/em&gt; di Siliwangi memang tidak tepat dalam suasana sekarang ini. Nonton melalui siaran langsung Anteve mungkin lebih pas. Sekaligus bisa jadi pemuas kerinduan &lt;em&gt;bobotoh&lt;/em&gt; terhadap aksi-aksi para idolanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pengurus Persib ternyata juga dihinggapi ketakutan berlebihan terhadap urusan nonton bareng ini. Buktinya, seperti dikutip Harian &lt;em&gt;Galamedia&lt;/em&gt;, Edi mengimbau &lt;em&gt;bobotoh&lt;/em&gt; agar mereka tidak melakukannya di tempat terbuka. Karena, menurutnya, jika dilaksanakan di tempat terbuka, bisa mengundang kerawanan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu masa nanti, kita semua mungkin akan tertawa geli membaca kembali kisah ini. Nonton bareng saja kok diatur-atur! Memangnya bisa diatur-atur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua itu memang demi kebaikan Persib sendiri. Kepada para pendukung Persib, saya malah punya imbauan yang lebih ekstrem. Ini saatnya mendukung Persib dengan hati dan dalam hati saja! &lt;em&gt;(Dukungan dari dalam hati justru lebih murni dan bebas dari ancaman sanksi BLI maupun Komdis PSSI)&lt;/em&gt; *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-5407752324605236352?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/5407752324605236352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=5407752324605236352' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5407752324605236352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5407752324605236352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/saatnya-bobotoh-mendukung-persib-dengan.html' title='Saatnya Bobotoh Mendukung Persib dengan Hati'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-5631947260345847997</id><published>2008-08-13T22:20:00.001+07:00</published><updated>2008-08-13T22:23:21.783+07:00</updated><title type='text'>Sekali Lagi, Ganda Campuran</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;SENANG&lt;/strong&gt; rasanya melihat dinamika perkembangan berita bulu tangkis Indonesia dalam sebulan terakhir ini. Setelah babak-belur di Kejuaraan Dunia di Madrid, para pendekar Cipayung di luar dugaan menuai sukses lumayan mengesankan di turnamen bergengsi Jepang Terbuka, pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, hanya satu gelar yang bisa dibawa pulang dari Tokyo –lagi-lagi dari nomor ganda campuran. Taufik Hidayat yang tampil cukup spektakuler di Yoyogi National Gymnasium rupanya masih perlu meningkatkan ketahanan fisiknya untuk mengimbangi superioritas Lin Dan. Adapun gelar di nomor ganda putra harus kita bagi dengan Amerika Serikat –tempat tinggal Tony Gunawan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, bagi saya, penampilan pasukan Cipayung di Jepang Terbuka tetap bisa dibilang sukses. Mewakilkan tujuh atlet di partai puncak setelah babak-belur di Kejuaraan Dunia adalah sebuah lompatan sekaligus kebangkitan yang cukup berarti –paling tidak, secara psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, pujian harus diberikan kepada para atlet dan pembina nomor ganda campuran. Bayangkan, di Jepang, mereka sukses menyajikan &lt;em&gt;“All Indonesian Final”&lt;/em&gt; yang sangat membanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, terakhir kali para pemain kita mampu menyajikan final sesama mereka di sebuah turnamen besar terjadi pada Indonesia Terbuka 2005 saat ganda putra Candra Wijaya/Sigit Budiarto dikalahkan Markis Kido/Hendra Setiawan. Namun, kalau Tony masih dianggap pemain Indonesia, maka final sesama pemain kita paling akhir terjadi di nomor ganda putra Indonesia Terbuka 2006, awal Mei lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lumayan lama, memang. Apalagi kalau dibandingkan dengan keberhasilan Cina menyajikan &lt;em&gt;“All China Final” &lt;/em&gt;secara rutin di nomor tunggal dan ganda putri berbagai kejuaraan internasional dalam kalender IBF.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LOLOSNYA&lt;/strong&gt; Nova Widianto/Lilyana Natsir ke final Jepang Terbuka jelas membanggakan. Tapi sama sekali tak mengejutkan. Sepanjang 2006, ini partai final ketujuh bagi mereka. Dan empat di antaranya sudah membuahkan gelar juara di Kejuaraan Asia, Singapura, Cina Taipei, dan Korea Terbuka 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengejutkan adalah ikut lolosnya pasangan campuran baru –tapi stok lama— Flandy Limpele/Vita Marissa ke partai puncak. Apalagi mereka kemudian sukses memetik gelar juara pada turnamen internasionalnya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, belum saatnya PB PBSI menepuk dada atas sukses mereka “menjodohkan” Flandy/Vita. Setidaknya, kita masih perlu menguji mereka lebih jauh di sederet turnamen yang sudah menunggu dalam waktu dekat ini: Cina Terbuka, Invitasi Piala Dunia, Denmark Terbuka, dan kemudian Asian Games di Qatar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa, di Jepang lalu, Flandy/Vita juga belum merasakan ketangguhan pasangan juara dunia Nathan Robertson/Gail Emms. Pasangan ini absen karena Robertson memilih konsentrasi ke kejuaraan Denmark Terbuka yang waktunya memang agak berdekatan dengan Jepang Terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, karena ini penampilan perdana mereka sebagai pasangan, unsur kejutan juga banyak membantu mereka. Hampir semua ganda campuran terbaik dunia saat ini sudah kadung terbiasa dengan gaya permainan ulet Nova/Lilyana. Saya rasa, mereka cukup kaget menghadapi gaya permainan Flandy/Vita yang lebih cepat dan agresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa, saya kira tak sedikit juga lawan-lawan mereka yang mungkin sedikit meremehkan pasangan baru ini. Maklum, akhir-akhir ini, Flandy agak jeblok prestasinya saat berduet dengan Eng Hian maupun Sigit Budiarto di nomor ganda putra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vita juga tak pernah merasakan manisnya juara saat berpasangan dengan Devin Lahardi maupun Anggun Nugroho. Prestasi terbaik bersama Anggun hanya masuk semifinal Malaysia Terbuka 2006 yang berbintang empat. Berpasangan dengan Devin malah hanya bisa mencapai kuarter final Kejuaraan Asia dan Indonesia Terbuka 2005. Sekali menembus final tapi hanya turnamen bintang tiga Cina Taipei Terbuka 2005.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NAMUN&lt;/strong&gt;, apapun dalihnya, sukses Flandy/Vita di Jepang Terbuka tetap layak disambut hangat. Rasanya tak keliru jika saya pernah berharap PB PBSI mau lebih serius memperhatikan nomor yang selama ini sering terkesan “dianaktirikan” ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang melihat ganda campuran sebagai nomor yang cukup ideal bagi para pemain Indonesia. Sebab nomor ini bisa mereduksi kelemahan kita di sektor putri, sebaliknya memaksimalkan potensi para pemain putra kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau main di tunggal dan ganda putri nyaris mustahil untuk mengimbangi para pemain Cina, lain soal di ganda campuran. Sebab, secara tradisional, Indonesia selalu melahirkan para pemain putra yang punya kemampuan menguasai lapangan sangat baik. Tipe pemain seperti inilah yang biasanya kemudian berkembang pesat saat main di nomor ganda campuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah bulu tangkis Indonesia, kita pernah mengenal sederet nama pemain putra yang berprestasi di nomor ganda campuran. Dari Christian Hadinata, Edi Hartono, Trikus Haryanto, Bambang Suprianto, hingga generasi terkini seperti Nova, Anggun, dan Flandy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Main ganda campuran itu unik, teristimewa bagi pemain putranya. Lebih dari sekadar butuh smes kuat, kelincahan, dan daya jelajah lapangan yang luas, main ganda campuran juga butuh kecerdasan dan naluri yang kuat dalam menempatkan bola. Sebab, salah menempatkan bola –misalnya saat melepaskan servis atau mengirim lob— akan jadi bumerang yang membahayakan pertahanan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, sosok pemain ganda campuran itu agak khas. Ia harus punya kombinasi kemampuan sebagai pemain tunggal sekaligus ganda putra. Makanya, sosok pemain ganda campuran yang sukses biasanya juga khas: smesnya mungkin tak terlalu dashyat, tapi kemampuan bertahan, variasi pukulan, dan penempatan bolanya sangat prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kebiasaan bermain sejak kecil plus kultur budaya masyarakatnya, Indonesia sebetulnya punya banyak pemain yang memenuhi “kriteria” seperti itu. Sebagian masih bermain di ganda putra dan sebagian lagi pernah berkutat di tunggal namun kurang sukses. Sekadar menyebut nama, saya berani menyebut nama Luluk Hadiyanto, Hendra Setiawan, atau Tony Gunawan sebagai contoh pemain yang cukup potensial sekiranya mau menekuni nomor ganda campuran –secara serius ataupun sekadar “sambilan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di sinilah pentingnya peran jajaran pembina di lingkungan PB PBSI untuk lebih jeli mencermati potensi para atlet di Cipayung. Jika memang sukses sulit digapai di tunggal dan ganda putra –maupun putri, mengarahkan mereka ke nomor ganda campuran mungkin bisa jadi alternatif yang lebih prospektif. Tentu saja, tanpa mengorbankan pembinaan sektor tunggal dan ganda putranya itu sendiri. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, 17 Oktober 2006)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-5631947260345847997?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/5631947260345847997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=5631947260345847997' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5631947260345847997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/5631947260345847997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/sekali-lagi-ganda-campuran.html' title='Sekali Lagi, Ganda Campuran'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3069861130286779378</id><published>2008-08-11T22:07:00.000+07:00</published><updated>2008-08-11T22:10:06.929+07:00</updated><title type='text'>Kegagalan Taufik Sudah Bisa Ditebak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;NASIB &lt;/strong&gt;tragis dialami pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Taufik Hidayat. Hari ini, ia gagal mempertahankan medali emas tunggal putra di Olimpiade Beijing 2008. Taufik disingkirkan pemain veteran Malaysia, Wong Choong Hann, dengan dua set langsung 19-21 dan 16-21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan ini tentu menyedihkan. Sebab Taufik satu-satunya peraih medali emas di Olimpiade Athena 2004 lalu. Selain itu, ia juga masih diunggulkan di posisi ketujuh dalam olimpiade kali ini. Tapi, baru memasuki putaran kedua, harapan itu langsung terkubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih sudah tentu, namun sejujurnya kegagalan Taufik telah diperkirakan banyak orang. Maklum, belakangan ini prestasinya memang terus merosot. Persiapannya ke Beijing pun bisa dibilang berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, 23 Juli lalu, Taufik masih menjalani perawatan di rumah sakit Pondok Indah. Saat itu, ia diduga mengalami gejala demam berdarah dengue. Toh, ia tetap nekat memaksakan diri tampil di Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya? Lapangan badminton Beijing University of Technology Gymnasium jadi saksi bisu sisa-sisa kejayaan Taufik yang nyaris tak berbekas. Setelah kalah di set pertama 19-21, ia tetap tak mampu memulihkan kondisinya. Dari posisi tertinggal 8-12, Taufik sempat mengejar jadi 13-12. Namun Choong Hann membalikkan keadaan jadi 15-13, 18-14, dan akhirnya 21-16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan ini bukan kesalahan Taufik. Adalah PB PBSI dan Komite Olimpiade Indonesia yang terlalu gegabah memaksakan diri tetap menerjunkan Taufik. Boleh jadi, mereka berharap ia bisa bikin kejutan dengan mengeluarkan seluruh sisa kehebatan pada olimpiade terakhirnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagi saya, harapan itu palsu belaka. Sebab, dalam era bulu tangkis modern ini, nyaris tak ada lagi kejutan itu. “Hukumnya” sudah sangat jelas: siapa paling siap, dialah yang terbaik. Hampir mustahil mengharapkan seorang pemain yang sama sekali tak diunggulkan atau datang dengan persiapan ala kadarnya tiba-tiba menguasai turnamen sekelas olimpiade atau kejuaraan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja simak, siapa penghuni posisi pertama peringkat BWF dalam empat tahun terakhir? Jawabannya: Lin Dan. Coba lihat juga siapa-siapa saja pemenang kejuaraan besar dalam dua tahun terakhir. Tak akan jauh dari nama Lin Dan, Lee Chong Wei, Bao Chunlai, atau mungkin Lee Hyun Il –para penguasa peringkat BWF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah para pemain tunggal putra terbaik dunia sekarang ini. Dan mereka secara tekun dan konsisten terus menjaga kondisinya agar selalu siap menghadapi berbagai kejuaraan. Sangat berbeda dengan Taufik yang belakangan ini terlalu disibukkan oleh aneka persoalan di luar lapangan bulu tangkis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun lalu, Taufik memang berjaya di Athena –meskipun tidak diunggulkan. Tapi, saat itu, ia datang dengan persiapan jauh lebih matang dibanding sekarang. Bahkan kondisi fisik dan staminanya pun jauh lebih baik. Saat itu, boleh jadi pula, Taufik punya motivasi khusus karena belum pernah merasakan kemewahan jadi peraih medali emas olimpiade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik memang masih termasuk salah satu pemain dengan teknik permainan paling lengkap saat ini. Tapi itu saja tak akan cukup untuk membuatnya jadi yang terbaik. Permainan bulu tangkis modern juga menuntut kedisiplinan dan kesiapan secara fisik maupun mental. Itulah yang sekarang tak ada lagi dalam diri Taufik. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3069861130286779378?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3069861130286779378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3069861130286779378' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3069861130286779378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3069861130286779378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/kegagalan-taufik-sudah-bisa-ditebak.html' title='Kegagalan Taufik Sudah Bisa Ditebak'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2340132666027731382</id><published>2008-08-08T20:21:00.002+07:00</published><updated>2008-08-08T20:28:55.238+07:00</updated><title type='text'>Terapi Istimewa Ferguson untuk Ronaldo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;“OPERA&lt;/strong&gt; sabun” kepindahan Cristiano Ronaldo ke Real Madrid berakhir antiklimaks. Penyerang sayap asal Portugal itu akhirnya memutuskan bertahan di Manchester United (MU). Minimal semusim lagi dari empat tahun sisa kontraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, hingga pekan lalu, Ronaldo masih bersikeras ingin pindah ke Madrid –klub idolanya sejak masa kanak-kanak. Bahkan Ronaldo sempat bilang tak sudi kembali ke Old Trafford, kandang “Tim Setan Merah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, semua kekerasan hati pemain berusia 23 tahun itu kini mencair. Terhitung mulai hari ini, Ronaldo menapakkan kembali kakinya di Carrington, markas latihan MU, dan bergabung dengan rekan-rekan setimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling menarik bagi saya adalah alasan Ronaldo di balik perubahan sikapnya. Ia menyebut bagaimana Alex Ferguson begitu sabar dan telaten membujuknya untuk tetap di Old Trafford. Itu sangat berperan di balik keputusannya tidak hijrah ke Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar dan telaten? Dua kata itu mungkin terasa asing bagi kebanyakan pemain MU. Bagi mereka, Ferguson mungkin lebih identik dengan tekanan dan sumpah-serapah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua pemain MU pernah merasakan tak enaknya “diceramahi” Ferguson dengan rentetan kalimat penuh tekanan yang dia lontarkan tepat di depan wajah si pemain. Itulah &lt;em&gt;“hairdryer treatment”&lt;/em&gt; ala Ferguson saat ia kesal melihat penampilan seorang pemain. Atau saat ia memacu motivasi pemain yang dilihatnya main di bawah standar keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferguson nyaris tak pandang bulu dalam hal memperlakukan pemain. Hampir semua bintang MU pernah merasakan terapi khasnya itu. Dari Steve Bruce pada era 1980-an, Dennis Irwin pada 1990-an, hingga generasi Wayne Rooney sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, semua itu bukan tanpa perkecualian. Konon, ada beberapa pemain yang luput dari siksaan “terapi alat pengering rambut” itu. Di antara mereka, tercatat nama-nama seperti Bryan Robson, Eric Cantona, Roy Keane, dan kini Ronaldo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, di situlah cerdiknya Ferguson. Ia mendasarkan perlakuan terhadap pemain tak asal pukul rata atau sekadar diukur dari kemampuannya. Tapi ia juga mempertimbangkan karakter pribadi dan kontribusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemain keras kepala semacam Cantona dan Keane tak akan mempan diceramahi panjang-lebar. Jadi, Ferguson memilih memberi mereka keleluasaan dan kepercayaan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronaldo mungkin tak sekeras Cantona. Tapi ia aset terbesar MU dalam dekade terakhir ini. Ia ibarat mutiara yang butuh perlakuan khusus. Maka, Ferguson pun menyikapi keinginan Ronaldo untuk pergi sebagai kebandelan ketimbang pemberontakan. Dan, sebagai “ayah”, Ferguson tahu betul bahwa sebuah bujukan akan lebih berdayaguna ketimbang hukuman. Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suka-tak suka, kita harus mengakui bahwa Ferguson memang pelatih brilian. Dan para pelatih Indonesia perlu banyak belajar dari kakek berumur 66 tahun ini. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2340132666027731382?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2340132666027731382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2340132666027731382' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2340132666027731382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2340132666027731382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/terapi-istimewa-ferguson-untuk-ronaldo.html' title='Terapi Istimewa Ferguson untuk Ronaldo'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-9014100067389048149</id><published>2008-08-08T20:18:00.000+07:00</published><updated>2008-08-08T20:20:35.091+07:00</updated><title type='text'>Pelajaran Pahit Liga Super Malaysia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;SEBUAH&lt;/strong&gt; berita mengejutkan datang dari Malaysia. Negeri jiran itu berencana mendepak semua pemain asingnya dari Liga Super Malaysia (MSL) mulai musim mendatang. Keputusan drastis ini diambil sebagai upaya menyelamatkan keuangan serta perkembangan sepak bola nasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan para petinggi sepak bola negara itu, akhir pekan lalu, disimpulkan bahwa pemakaian pemain impor tak banyak membawa manfaat. Mereka justru telah mematikan bakat pemain lokal dan berdampak negatif terhadap tim nasional (timnas) Malaysia. Terbukti posisi Malaysia di peringkat FIFA kini terpuruk di urutan ke-166.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bukanlah Liga Primer Inggris. Bisa dikatakan liga kami belum mendunia, makanya sebelum semakin terpuruk itu harus diperbaiki,” Wakil Presiden FAM, Khairy Jamaluddin, menjelaskan. “Kehadiran pemain asing membuat pemain lokal tidak punya kesempatan untuk berkembang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jamaluddin lagi, para pemain asing dengan bayaran tinggi itu juga cukup menyusahkan klub dari segi finansial. “Klub tidak sanggup lagi. Jalan terbaiknya mempersilakan mereka pergi sampai ada jalan keluar dari masalah ini,” tokoh sepak bola lainnya menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menyedihkan, FAM mendapatkan laporan bahwa beberapa pemain asing diduga terlibat dalam kasus pengaturan pertandingan di MSL. Lebih spesifik lagi, biang keroknya konon beberapa pemain hitam asal Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAGI&lt;/strong&gt; sebagian orang, ini mungkin bukan kabar yang terlalu mengagetkan. Pasalnya, bukan pertama kalinya FAM melarang pemain asing di kompetisi mereka. Pada musim 2001/2002, larangan serupa juga diberlakukan. Pemain asing kembali diizinkan seiring bergulirnya MSL yang mulai diluncurkan pada 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, kehadiran MSL dianggap sebagai babak baru dalam sejarah persepakbolaan Malaysia. MSL menggantikan Semi-Pro League –biasa disebut M-League— yang sejak diluncurkan pada 1989 gagal mengangkat derajat kompetisi di negeri jiran itu. Bahkan, meski sudah diikrarkan sebagai kompetisi yang profesional pada 1994, M-League dianggap masih dikelola secara amatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, MSL juga tak membawa hasil. Perubahan dari M-League menjadi MSL dianggap sekadar “ganti baju” tanpa perubahan mendasar dari segi manajemen klub, pengelolaan kompetisi, serta kualitas permainannya itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dibuktikan oleh semakin terpuruknya prestasi timnas Malaysia di ajang regional. Pada SEA Games 2007, Malaysia bahkan langsung tersingkir di penyisihan grup –sama seperti Indonesia. Dan posisi Malaysia di peringkat FIFA kini di bawah negeri liliput semacam Seychelles dan Mauritius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sebelum era M-League dan kemudian MSL, Malaysia termasuk kekuatan yang terpandang di Asia Tenggara maupun Asia. Terbukti, mereka pernah lolos mewakili Asia ke Olimpiade 1980 di Moskow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CERITA&lt;/strong&gt; kelabu yang dialami MSL tiba-tiba membuat saya teringat kepada kompetisi sepak bola kita sendiri, Indonesia Super League (ISL). Tak sekadar karena namanya sama-sama menyelipkan kata “super” di tengah-tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian perjalanan yang dialami oleh Malaysia sampai terbentuknya MSL hasil pemikiran Tengku Abdullah Sultan Ahmad Shah itu kok mirip dengan perjalanan ISL. Dulu kita juga punya liga semiprofesional yang disebut Galatama. Karena tak kunjung membuahkan prestasi, kemudian dilebur dengan kompetisi Perserikatan jadi Liga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, Liga Indonesia juga dianggap tak memuaskan perkembangannya. Maka digagaslah kelahiran ISL dengan titik berat pembenahan di sektor infrastruktur, organisasi dan manajemen tim, serta pembenahan sikap mental pemain dan ofisial tim secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit dipercaya, desain besar &lt;em&gt;(grand design)&lt;/em&gt; yang melatarbelakangi kelahiran ISL ternyata begitu mirip dengan lahirnya MSL, empat tahun lalu. Bahkan, perjalanan awalnya pun serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dialami ISL sekarang, kritik juga tak henti menerpa MSL yang dianggap tak lebih baik dibanding M-League. Bedanya hanya jumlah peserta yang lebih dibatasi. Sementara dari aspek manajemen klub, pengelolaan kompetisi, dan kualitas pemain sama saja. Sampai akhirnya lahirlah keputusan drastis soal “pengusiran” pemain asing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud menggurui, saya sangat berharap para petinggi BLI dan pengelola klub ISL bisa belajar banyak serta mengambil hikmah dari kegagalan MSL. Masih ada waktu setidaknya empat tahun ke depan untuk memastikan bahwa ISL kelak tak akan senasib dengan MSL. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 4 Agustus 2008)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-9014100067389048149?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/9014100067389048149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=9014100067389048149' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/9014100067389048149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/9014100067389048149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/pelajaran-pahit-liga-super-malaysia.html' title='Pelajaran Pahit Liga Super Malaysia'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-8764995224065719628</id><published>2008-08-06T21:05:00.001+07:00</published><updated>2008-08-06T21:10:32.376+07:00</updated><title type='text'>Ortega, Maradona, dan Alkohol</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;LEGENDA&lt;/strong&gt; hidup sepak bola Argentina, Diego Maradona, tiba-tiba bicara tentang Ariel Ortega. Kemarin, Maradona mengimbau kepada semua pihak untuk bersama-sama menolong Ortega yang menurutnya kini tengah “sekarat” karena pengaruh alkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maradona menggambarkan, ibaratnya Ortega kini dalam keadaan “sekarat” karena pengaruh kuat alkohol. Dia sudah pada tingkat kecanduan berat. “&lt;em&gt;’El Burrito’&lt;/em&gt; Ortega akan menghadapi masa-masa sulit,” kata pemain legendaris Napoli dan Boca Juniors itu. “Jika kita tak menolongnya sebagai manusia, maka kita semua akan melakukan kesalahan besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbauan dan keprihatinan Maradona itu jelas menarik. Pertama, karena beberapa waktu lalu nama Ortega yang sekarang berumur 34 tahun itu sempat disebut-sebut bakal direkrut Persija untuk berkiprah di Liga Indonesia. Meski kemudian kabar itu menguap begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, imbauan itu juga menarik karena dilontarkan oleh Maradona. Ini sungguh kontradiktif sebab semua orang tahu bahwa alkohol dan narkoba itulah yang dulu telah merusak karier gemilang “Si Bogel”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, Maradona telah sampai pada titik balik yang sangat positif dalam pergulatannya melawan alkohol dan narkoba. Kita semua tahu bagaimana ia juga pernah “sekarat” karena pengaruh alkohol. Bahkan beberapa kali Maradona jatuh sakit dan pernah hampir meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat perjuangan yang sungguh-sungguh –termasuk menjalani perawatan khusus di Kuba dan Prancis— ternyata Maradona bisa diselamatkan. Bahkan sekarang ia bisa bersalin peran jadi penganjur gerakan antialkohol dan narkoba di dunia olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mulia perhatian yang ditunjukkannya terhadap Ortega. Sebab, secara “ideologi” sepak bola, Ortega yang dibesarkan River Plate itu mestinya merupakan musuh abadi bagi Maradona yang besar bersama Boca Juniors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semangat kemanusiaan Maradona telah mengalahkan batas-batas fanatisme yang sempit itu. Ia lebih memilih membantu Ortega ketimbang memusuhinya. Kontras dengan sikap Direktur River Plate dan pelatih Diego Simeone yang melarangnya bergabung dengan tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maradona adalah “malaikat penolong” yang tepat bagi Ortega. Dengan riwayat kecanduannya yang lebih parah, setiap kalimat dukungan dan dorongan semangat dari Maradona akan menjadi obat paling mujarab untuk menuntun kembali Ortega ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah, seharusnya, tak hanya Ortega yang mendapatkan “pencerahan” dari imbauan Maradona itu. Puluhan, bahkan mungkin ratusan pesepak bola di seluruh dunia sepatutnya juga merasakan hal yang sama. Termasuk sebagian pemain Liga Indonesia yang masih sering menganggap enteng bahaya alkohol –juga narkoba— terhadap karier dan masa depan mereka. *&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-8764995224065719628?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/8764995224065719628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=8764995224065719628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8764995224065719628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8764995224065719628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/ortega-maradona-dan-alkohol.html' title='Ortega, Maradona, dan Alkohol'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3249435834748685789</id><published>2008-08-06T21:00:00.001+07:00</published><updated>2008-08-06T21:03:59.070+07:00</updated><title type='text'>Sony Belum Siap Terbebani</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;PEKAN&lt;/strong&gt; lalu, sebelum berangkat ke Inggris untuk mengikuti turnamen bulu tangkis All England 2006, Sony Dwi Kuncoro menjadi incaran pers. Maklum, ia satu-satunya tunggal putra Indonesia di kejuaraan tertua itu. Yang bikin publik penasaran, seberapa jauh Sony bisa melangkah di All England tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, seperti biasa, pemuda asal Surabaya ini mencoba menanggapinya dengan kalem. Ia mengaku sadar betul bahwa dirinya sangat diharapkan bisa berprestasi. Kalau target menjadi juara dianggap kelewat tinggi, keinginan lolos ke semifinal ia rasakan masih masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya tidak ingin beban itu menjadi penghalang. Sebaliknya, sebagai satu-satunya pemain di nomor tunggal, itu akan menjadi penambah motivasi saya,” ujar Sony, kala itu. “Tentu malu kalau saya pada babak awal langsung tumbang. Apalagi tidak ada pemain Indonesia lagi yang tampil di nomor tunggal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang dirasakan Sony sekarang setelah Rabu (18/1) lalu ternyata benar-benar tumbang di putaran pertama kejuaraan bintang empat itu. Di luar dugaan, Sony kalah mudah 5-15 dan 8-15 dari pemain Malaysia, Lee Tsuen Tseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, menurut perhitungan di atas kertas, Tsuen Tseng seharusnya bisa dilewati Sony. Kasubid Pelatnas Cipayung, Lius Pongoh, sempat meramalkan Sony bisa mencapai putaran ketiga dan bertemu salah satu andalan Cina, Bao Chunlai. Di titik ini, peluang Sony untuk lolos ke babak berikutnya 50:50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merujuk ambisi Sony sendiri melaju ke semifinal, artinya ia optimistis bisa melewati hadangan Chunlai. Setelah tiba di babak empat besar dan –kemungkinan besar— menghadapi Peter Gade, barulah Sony agak ragu bisa meneruskan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rencana tinggal rencana. Sony ternyata tumbang begitu cepat. Jangankan menjungkalkan Chunlai yang tergolong trio tunggal putra terkuat Cina saat ini, bahkan melewati Tsuen Tseng pun ternyata Sony tak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEGAGALAN&lt;/strong&gt; Sony di All England kali ini sebenarnya bukan tanpa latar belakang. Kalau mau jujur, sepanjang tahun 2005 pun sebetulnya prestasi pemuda pendiam ini tak terlalu mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, praktis Sony hanya dapat mengoleksi dua gelar juara. Itu pun didapatnya dari turnamen yang bisa dibilang “kelas dua”, yakni Kejuaraan Asia dan SEA Games XXIII/Filipina. Tak mengherankan jika pada akhir tahun lalu peringkatnya melorot cukup jauh. Pada akhir 2003, Sony sempat nangkring di posisi 10 besar, tapi sekarang dia berada di peringkat 20-an dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan di SEA Games XXIII pun tak sepenuhnya mulus. Ia memang juara di nomor perorangan tunggal putra. Namun, di nomor beregu, Sony gagal memotori “Tim Merah Putih” untuk mematahkan perlawanan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu fakta menarik di balik keberhasilan Sony menjuarai tunggal putra SEA Games lalu. Kala itu, ia datang ke Filipina bukan sebagai favorit. Sony hanya unggulan ketiga bersama Boonsak Ponsana (Thailand). Yang lebih difavoritkan justru duet Malaysia, Lee Chong Wei dan Muhd Hafiz Hashim. Maklum, Chong Wei menempati peringkat kedua IBF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah Sony membuktikan kemampuan terbaiknya. Tanpa banyak gembar-gembor, ia melaju terus hingga ke partai puncak. Dan, di final, ia merebut emas setelah mengalahkan Simon Santoso 17-16 dan 15-3. Hal serupa terjadi pada Olimpiade Athena 2004. Saat itu, ketika namanya tak diperhitungkan, Sony malah melenggang hingga akhirnya merebut perunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta lain yang tak kalah menarik terlihat pada kejuaraan Indonesia Terbuka 2005, akhir September lalu. Kala itu, Sony juga sangat diharapkan merebut gelar tunggal putra yang sejak 1999 selalu diraih tuan rumah. Apalagi juara bertahan Taufik Hidayat sengaja “mengalah” kepada Simon di putaran ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat diharapkan seperti itu, kita bisa melihat betapa tak berkembangnya permainan Sony. Sempat merebut set pertama, ia kemudian kehilangan momentum dan menyerah kepada unggulan ketujuh Lee Hyun Il (6-15, 15-7, 15-7) pada semifinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua fakta ini, kita bisa memetik satu kesimpulan menarik tentang Sony. Arek Jawa Timur ini ternyata tipe pemain yang punya potensi berkembang bila tak merasa terbebani harapan atau bukan sebagai tulang punggung timnya. Sebaliknya, jika menjadi tumpuan harapan, ia cenderung tak bisa konsentrasi dan kemudian gagal menunjukkan performa terbaiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di All England ini, tampaknya, perasaan terbebani itu begitu menghantui Sony saat meladeni Tsuen Tseng. Makanya, Lius Pongoh pun sampai tak habis pikir melihat jeleknya penampilan Sony.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, harus diakui, materi tunggal putra kita memang memprihatinkan. Ada Taufik yang prestasinya tinggi, tapi komitmennya sulit dipegang. Di bawahnya, ada Sony yang potensial tapi labil mental dan kepercayaan dirinya. Di bawahnya lagi, ada Simon yang masih sulit diharapkan prestasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan situasi seperti ini, suka-tak suka, kita jadi banyak berharap kepada Sony. Padahal, harapan besar justru jadi beban yang belum sanggup dipikul Sony. Dilematis, memang. Hanya Sony sendiri yang bisa mengatasi problem ini. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, Januari 2006)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3249435834748685789?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3249435834748685789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3249435834748685789' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3249435834748685789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3249435834748685789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/sony-belum-siap-terbebani.html' title='Sony Belum Siap Terbebani'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7001955083389120729</id><published>2008-08-04T22:22:00.002+07:00</published><updated>2008-08-04T22:25:40.259+07:00</updated><title type='text'>Messi dan Ronaldinho Menjadikan Olimpiade Lebih Bermakna</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;ADA&lt;/strong&gt; pemandangan baru di Cina pada hari-hari belakangan. Warga setempat mulai sibuk menyapa dan menyambut para atlet yang mulai berdatangan untuk mengikuti Olimpiade Beijing, 8-24 Agustus mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, di antara mereka yang paling disambut meriah adalah dua bintang sepak bola, Lionel Messi dan Ronaldinho. Keduanya akan tampil memperkuat tim nasional Argentina dan Brasil di cabang sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Messi di Shanghai, sejak Jumat pekan lalu, disambut ratusan orang dan belasan juru foto. Sambutan serupa diterima Ronaldinho saat tiba di Shenyang, kota tempat  tim Brasil U-23 akan menghadapi Belgia, 7 Agustus mendatang. Para penyambut tak henti-henti meneriakkan nama Ronaldinho seraya mengambil gambarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambutan meriah itu seolah menenggelamkan permasalahan yang mengiringi keberangkatan mereka ke Beijing. Messi masih dibayangi ancaman dari Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang saat ini tengah mempelajari banding dari klub tempatnya bernaung, Barcelona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ronaldinho menghadapi kemungkinan ancaman lain, yaitu cedera yang membuat debutnya bersama AC Milan bisa tertunda. Padahal, Milan bisa dibilang telah “menyelamat kariernya” dari keterpurukan lebih dalam di Barcelona. Dan Milan pun telah begitu murah hati mengizinkannya pergi ke Beijing ketimbang beradaptasi dengan Paolo Maldini dan kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Messi bahkan bisa saja harus mundur dari keikutsertaannya di Olimpiade Beijing. Begitu CAS mengabulkan banding yang diajukan Barcelona, saat itu juga Messi harus segera pulang ke Spanyol. Dan CAS kemungkinan akan mengeluarkan keputusannya pada Rabu esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika melihat antusiasme dan kegairahan publik Cina menyambut kedatangan Messi, CAS mestinya bisa melihat persoalan ini secara lebih bijak. Kepulangan Messi akan menjadi kekecewaan besar bagi publik Shanghai, tempat Argentina memainkan dua pertandingan awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Argentina adalah juara bertahan cabang  sepak bola di Olimpiade Beijing. Mereka berada di Grup A bersama  Serbia, Australia, dan Pantai Gading. Adapun Ronaldinho membawa impian jutaan rakyat Brasil yang berharap medali emas sepak bola Olimpiade akhirnya bisa dibawa pulang ke “Negeri Samba”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak syak lagi, kehadiran Messi dan Ronaldinho telah membuat cabang sepak bola di Olimpiade Beijing jadi menarik, makin semarak, dan lebih bermakna. Bahkan pesonanya mungkin jadi tak kalah dibanding gemerlap cabang basket yang menghadirkan para bintang NBA-nya. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7001955083389120729?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7001955083389120729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7001955083389120729' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7001955083389120729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7001955083389120729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/messi-dan-ronaldinho-menjadikan.html' title='Messi dan Ronaldinho Menjadikan Olimpiade Lebih Bermakna'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2554177484400740669</id><published>2008-08-04T22:11:00.002+07:00</published><updated>2008-08-04T22:21:36.532+07:00</updated><title type='text'>Nasionalisme Ala Tony Gunawan dan Maria Sharapova</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;ADA&lt;/strong&gt; dua peristiwa olahraga menarik yang terjadi pada awal pekan ini. Yang menarik, kedua peristiwa tersebut terjadi bedekatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus –saat kita biasanya diingatkan kembalitentang arti nasionalisme. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Peristiwa pertama terjadi di Anaheim, Amerika Serikat (AS). Seorang putra Indonesia mencatat sejarah unik di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2005. Dialah Tony Gunawan yang tampil sebagai juara dunia baru ganda putra. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bukan soal gelar juaranya yang istimewa. Pasangan Candra Wijaya/Sigit Budiarto sudah pernah meraihnya pada 1997. Sebelum itu, kita juga memiliki pasangan putra lainnya yang pernah menyabet predikat juara dunia: Ricky A. Subagja/ Rudy Gunawan (1993) dan Ricky/Rexy Mainaky (1995). Bahkan masih ada dua ganda putra kita yang juga pernah juara dunia, yakni Christian/Ade Chandra (1980) dan Tjun Tjun/Johan Wahyudi (1977). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yang berbeda adalah benderanya. Tony, putra kelahiran Surabaya dan logat Jawanya masih kental itu, kini tampil dengan bendera AS. Bahkan juga berpasangan dengan Howard Bach, pemuda AS keturunan Vietnam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada perasaan kurang nyaman saat melihat Tony merayakan kemenangannya bersama Howard. Dan semakin terasa kurang nyaman manakala lagu &lt;em&gt;Star-Spangled Banner&lt;/em&gt; yang berkumandang, bukannya &lt;em&gt;Indonesia Raya&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kejadian kedua terjadi pada Senin lalu ketika Asosiasi Tenis Wanita (WTA) mengumumkan peringkat terbarunya. Peringkat pemain yang disusun komputer berdasarkan prestasi pemain di berbagai turnamen itu memunculkan “juara” baru. Dialah Maria Sharapova. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lagi-lagi bukan soal Sharapova atau parasnya yang menawan itu. Toh, ia cuma wanita ke-15 yang pernah berada di posisi nomor satu dunia. Jadi, tidak terlalu istimewa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yang membuatnya jadi unik dan mungkin fenomenal adalah latar belakangnya. Mengingat dalam lima tahun terakhir ini kita melihat munculnya gelombang besar petenis putri Rusia menyerbu dan menguasai serangkaian turnamen WTA di berbagai belahan dunia. Dan mereka semua mengusung ambisi jadi wanita Rusia pertama yang sampai di posisi puncak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari Svetlana Kuznetsova hingga Anastasia Myskina gagal meraih predikat itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Si jelita Anna Kournikova pernah sangat dekat dengan posisi itu, dua tahun lalu. Tapi ia juga gagal dan hanya mentok di peringkat kedua. Belakangan, ia malah berhenti dan lebih menikmati kehidupan sebagai pesohor. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Justru Sharapova yang kini meraih impian itu. Padahal, ia baru empat tahun meniti karier profesional. Padahal, ia juga yang paling encer latar belakang kerusiaannya –sejak umur sembilan tahun tinggal di AS. Bahkan juga dianggap yang paling tidak patriotis karena enggan tampil membela Rusia di ajang Piala Federasi.                                      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;***            &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;MEMANG&lt;/strong&gt;, tak semua orang mudah berlapang dada melihat Tony berdiri tegak di podium juara dalam iringan lagu yang terasa asing di telinga kita. Seperti halnya Myskina tak sudi lagi berada satu tim dengan Sharapova di ajang Piala Federasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada rasa nasionalisme yang terusik di sana. Apalagi jika nasionalisme tersebut diterjemahkan secara verbal berupa sikap-sikap patriotis seperti yang ditunjukkan para pendukung Indonesia di Annaheim–mengibar-ngibarkan Sang Merah Putih dan ikut menyanyikan &lt;em&gt;Indonesia Raya&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Namun, saya kira, nasionalisme dalam dunia olahraga kini harus dipahami lebih luas lagi. Sikap Tony yang membisu saat lagu &lt;em&gt;Star-Spangled Banner&lt;/em&gt; berkumandang, bagi saya, adalah sebentuk kecil semangat nasionalismenya terhadap Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Keteguhan hatinya tak mau melepaskan status sebagai Warga Negara Indonesia juga bentuk lain rasa nasionalisme yang masih mengalir di dadanya. Padahal, dalam posisi sebagai idola baru saat ini, mendapatkan kartu hijau atau bahkan status kewarganegaraan Amerika mungkin jauh lebih mudah bagi Tony. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akan halnya sikap Sharapova yang enggan membela tim Piala Federasi Rusia, juga terlalu dangkal jika segera diterjemahkan sebagai sikap kurang nasionalis. Setidaknya, kita perlu memahami alasan dara berumur 18 tahun ini bersikap seperti itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menurut pengakuan Sharapova, ia merasa kehadirannya tak penting-penting amat bagi tim Rusia. Toh, sudah banyak petenis bagus di tim itu: Kuznetsova, Myskina, Elena Dementieva, dan banyak lagi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sharapova sendiri merasa punya obsesi yang tak kalah penting: jadi petenis nomor satu. Dan itu impian semua petenis Rusia, termasuk mereka yang tak menyukainya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan keberhasilan Sharapova meraih impian itu, sesungguhnya juga membawa dampak positif bagi Rusia. "Negeri Beruang Merah" itu masuk deretan kelompok kecil negara-negara yang pernah menempatkan putra-putrinya di posisi nomor satu dunia. Lebih dari itu, eksistensi Rusia sebagai salah satu kiblat tenis dunia juga makin diakui. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Secara tak langsung, Sharapova sesungguhnya sudah menumbuhkan kebanggaan sebagai orang Rusia –itu nasionalisme juga, ‘kan?— melalui prestasinya di olahraga tenis. Apalagi ia juga tegas-tegas sudah menyatakan tak akan menukar kebangsaannya jadi Amerika atau Inggris. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dunia olahraga memang telah memasuki zaman yang sangat modern. Dalam balutan semangat bersaing dan berbisnis yang amat kental, acapkali ia telah menerobos batas-batas lama geografi, demografi, bahkan psikografi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Untuk itu, kita perlu memperluas cakrawala pemikiran dan pemahaman kita tentang makna nasionalisme maupun patriotisme. Sehingga kita tak lagi mudah tersinggung melihat Tony –atau Ronald Susilo, Halim Haryanto, dan lain-lain— jadi juara di bawah bendera negara lain. Sebaliknya, kita justru harus bangga, kalau bukan karena Tony yang asal Surabaya itu, mana mugkin AS jadi juara dunia bulu tangkis. Setidaknya, untuk saat ini. *** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, Agustus 2005)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2554177484400740669?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2554177484400740669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2554177484400740669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2554177484400740669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2554177484400740669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/nasionalisme-ala-tony-gunawan-dan-maria.html' title='Nasionalisme Ala Tony Gunawan dan Maria Sharapova'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-8095539420752512543</id><published>2008-08-01T14:37:00.003+07:00</published><updated>2008-08-01T14:48:17.449+07:00</updated><title type='text'>Mister Platini Benar, Sepak Bola Sedang Terancam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;ADA&lt;/strong&gt; pernyataan menarik dari Presiden Uni Sepak Bola Eropa (UEFA), Michel Platini, Rabu (30/7) lalu. Ia mengimbau semua komponen sepak bola untuk bersatu melindungi olahraga paling populer sejagat ini dari segala ancaman. Sebab, berbagai kejahatan yang ada di masyarakat dengan bermacam cara tengah mencoba masuk ke wilayah sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Platini tak main-main atau sekadar mengumbar retorika lewat pernyataannya. Sebab ia menyatakan hal itu kepada televisi lokal di Firenze, Italia, saat menyaksikan pertandingan Fiorentina lawan Barcelona. Pertandingan untuk memperingati 25 tahun meninggalnya legenda sepak bola Fiorentina, Artemio Franchi, itu dimenangkan tim tamu Barcelona 3-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus waspada dan hati-hati terhadap doping, korupsi, dan kekerasan dalam sepak bola,” Platini mengingatkan dalam pidatonya. “Segala sesuatu yang terjadi di masyarakat juga bisa merasuk ke dunia sepak bola.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ancaman yang diminta Platini untuk diwaspadai adalah keserakahan kaum kapitalis. “Sepak bola merupakan olahraga yang sangat populer. Makanya banyak orang ingin berinvestasi di sepak bola sekadar untuk mendapatkan banyak uang,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan keras Platini itu segera mengingatkan kita kepada upaya geng mafia Camorra dari Napoli yang ingin menguasai saham Lazio, dua pekan lalu. Tak tanggung-tanggung, Camorra memperalat Giorgio Chinaglia –striker legendaris Lazio era 1970-an— untuk melicinkan usahanya. Namun untunglah pihak berwajib berhasil mencium gelagat buruk itu dan menggagalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, di beberapa negara mulai muncul kecenderungan investor kakap menguasai klub dengan bekal ideologi uang. Sementara nilai-nilai luhur sepak bola dan tradisi klub terabaikan. “Kita harus menjaga nilai-nilai sepak bola dan mempertahankannya dengan cara yang benar. Sehingga sepakbola tidak kehilangan nilai-nilai luhurnya,” Platini menegaskan. “Harus diakui bahwa sepak bola merupakan gairah, tapi sekaligus juga bisnis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah Platini meminta semua komponen sepak bola di seluruh dunia bersatu dalam satu visi dan misi: melawan semua praktik jahat itu. Hanya dengan persatuan dan kekompakan, sepak bola bisa kuat dan mampu mencegah masuknya unsur-unsur negatif yang bisa merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, dalam konteks Indonesia, saya kira fokus perhatiannya mungkin sedikit berbeda. Alih-alih memerangi, kita justru mulai lelah menunggu masuknya para pemodal menyuntikkan sebagian hartanya untuk menghidupi klub-klub Liga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya mulai bosan dari hari ke hari kita terus membaca berita soal penderitaan klub-klub Indonesia. Persita Tangerang tak punya dana untuk sewa stadion, gaji pemain Sriwijaya FC belum terbayar, pengurus Persitara pusing mencari pinjaman untuk beli tiket pesawat, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Inggris sana, mungkin benar para kapitalis semacam Roman Abramovich bisa disebut sebagai ancaman bagi tradisi sepak bola di negeri monarki itu. Di Tanah Air, justru ketiadaan kapitalis semacam Abramovich itu yang bisa mengancam kelangsungan kompetisi ISL 2008/2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mister Platini tetap benar soal bahaya yang lain: kekerasan! Ini ancaman yang, menurut saya, paling dekat dengan keseharian kita. Bukan sekadar kekerasan secara fisik, tapi juga dalam wujud pelecehan atau penistaan bernuansa ras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, Komisi Disiplin PSSI (Komdis) baru saja menjatuhkan denda Rp 200 juta kepada Persik Kediri. Itu gara-gara kelompok suporternya secara sengaja melecehkan Aremania yang dalam beberapa tahun terakhir ini memang jadi seteru mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, ancaman hukuman serupa diberikan kepada Persib dan suporternya karena tindakan berbau SARA saat menjamu Persija, Minggu (20/7) lalu. Di Stadion Siliwangi, banyak oknum suporter mengenakan atribut yang dinilai Komdis menyebarkan kebencian terhadap suporter Persija, Jakmania. Jika mereka mengulangi perbuatan itu, Komdis mengancam akan menghukum suporter Persib enam bulan dan “Tim Maung Bandung” sendiri dikenai denda Rp 200 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin (28/7) malam lalu, kekerasan dalam bentuk lain terjadi di Senayan. Setelah dipastikan partai Persija vs Persita tak jadi digelar, sekelompok oknum Jakmania berulah merusak fasilitas umum di sekitar Gelora Bung Karno. Oknum atau siapapun pelakunya, yang pasti, Persija langsung kena getahnya. Laga lawan Persijap yang rencananya digelar Jumat (1/8) ini di Stadion Utama Gelora Bung Karno, akhirnya tak mendapat izin dari Polda Metro Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga contoh di atas hanya sebagian kecil dari ancaman kekerasan yang masih menghantui sepak bola kita. Masih banyak lagi ancaman kekerasan lain dengan beragam bentuknya. Seperti dikatakan Mister Platini, itu tak boleh dianggap enteng. Dan kita perlu bersatu dalam satu visi dan misi: melawan semua praktik jahat itu! *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-8095539420752512543?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/8095539420752512543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=8095539420752512543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8095539420752512543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8095539420752512543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/benar-mister-platini.html' title='Mister Platini Benar, Sepak Bola Sedang Terancam'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2388303960861637862</id><published>2008-08-01T14:35:00.000+07:00</published><updated>2008-08-01T14:37:14.219+07:00</updated><title type='text'>Politisasi Sepak Bola Sangat Berbahaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;APA&lt;/strong&gt; yang dikhawatirkan banyak pihak mulai terbukti. Sabtu (7/6) malam lalu, Polisi Austria resmi menahan tujuh suporter Jerman di Klagenfurt. Mereka disangka sebagai “dalang” kerusuhan yang melibatkan seratus penggemar sepak bola di ibukota negara bagian Carinthia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi-aksi provokatif ketujuh pria itu telah menyulut terjadinya tawuran antara pendukung Jerman dan Polandia. Tak hanya baku hantam, suporter kedua tim peserta putaran final Piala Eropa 2008 itu bahkan saling serang dengan botol-botol bekas minuman. Untunglah kerusuhan lebih besar bisa dihindari setelah polisi Austria turun tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, insiden di Klagenfurt sudah diperkirakan banyak kalangan. Sejak munculnya gambar Leo Beenhakker menenteng kepala Michael Ballack dan Joachim Loew di tabloid &lt;em&gt;Super Express&lt;/em&gt;, pekan lalu, ancaman kerusuhan itu sudah terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan apa-apa. Jerman dan Polandia memang sudah enam abad terlibat suasana “panas-dingin” yang tak kunjung usai. Bahkan, di mata kebanyakan orang Polandia, Jerman begitu melekat dengan citra sebagai penjajah dan agresor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, ketika diangkat jadi kanselir pada November 2005, salah satu prioritas Angela Merkel adalah merekatkan kembali hubungan persahabatan Jerman dan Polandia, negeri tetangganya. Sayangnya, tabloid &lt;em&gt;Super Express&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Fakt&lt;/em&gt; kemudian menelikung upaya tersebut. Demi kepentingan sesaat, mereka mempolititasi duel Jerman lawan Polandia di Piala Eropa 2008 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh suporter Jerman yang dicokok di Klagenfurt itu sesungguhnya hanya korban. Mereka terprovokasi oleh politisasi &lt;em&gt;Super Express&lt;/em&gt; yang pada mulanya mungkin dimaksudkan untuk memacu semangat juang para pemain dan suporter Polandia. Mereka mungkin tak pernah berpikir dampaknya akan sejauh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal mendasar yang mungkin terlupakan oleh para pengelola &lt;em&gt;Super Express&lt;/em&gt;. Mereka lupa bahwa politisasi olahraga –tak terkecuali di cabang sepak bola— acapkali sangat sulit dikendalikan dampaknya. Manfaat yang didapat kadang tak sebanding dengan efek negatif yang menyertainya. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, edisi 9 Juni 2008)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2388303960861637862?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2388303960861637862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2388303960861637862' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2388303960861637862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2388303960861637862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/08/politisasi-sepak-bola-sangat-berbahaya.html' title='Politisasi Sepak Bola Sangat Berbahaya'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-8555287603621419515</id><published>2008-07-30T19:15:00.000+07:00</published><updated>2008-07-30T19:17:11.573+07:00</updated><title type='text'>Lagi, Pertandingan ISL Ditolak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;HARI&lt;/strong&gt; kelabu bagi Persija Jakarta. Duel lawan Persita Tangerang yang semestinya digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (28/7) lalu, akhirnya dibatalkan. Hingga pukul 10.00 WIB hari itu, izin dari aparat keamanan belum juga turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu hanya sepekan, ini untuk kedua kalinya tim asal Jakarta mengalami kesulitan menggelar pertandingan di ajang ISL 2008/2009. Sebelumnya, Persitara Jakarta Utara juga hampir gagal menjamu Persela Lamongan di Stadion Si Jalak Harupat Bandung, Minggu (20/7) lalu. Hanya karena kenekatan Manajer Harry Ruswanto laga tersebut akhirnya bisa digelar. Meskipun kemudian berbuntut “pengusiran” Persitara dari Soreang ke Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, dalam kasus Persitara, kegagalan itu terjadi karena ketidaksiapan “Si Pitung” menanggung ongkos sewa stadion dan penerangannya. Dalam kasus Persija, aparat keamanan beralasan laga tersebut rawan bentrokan massa yang bisa mengganggu ketenteraman umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, izin serupa justru pernah diberikan pihak berwajib kepada PSMS Medan yang “numpang” jadi tuan rumah di SUGBK. Bahkan PSMS sudah menggelar dua pertandingan –yang sayangnya sepi penonton— tanpa kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasannya, penolakan terhadap Persija merupakan isyarat yang perlu disikapi secara arif oleh semua kalangan. Tak hanya oleh pengelola Persija tapi juga barisan suporternya yang tergabung dalam Jakmania serta Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) selaku operator ISL 2008/2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurus Persija sudah bersikap bijak dengan menerima kenyataan itu dan fokus mengurus izin untuk duel berikutnya lawan Persijap Jepara, Jumat (1/8). Namun sekadar pasrah menerima kenyataan tentu tak memecahkan persoalan. Harus dicari solusinya agar penolakan semacam ini tak terjadi lagi pada masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, konon, Persija sudah mengantongi semua persyaratan untuk menggelar laga kandang di SUGBK. Tak hanya ongkos sewanya, tapi juga katebelece dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault yang mengizinkan Bambang Pamungkas dan kawan-kawan bermain di Senayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dukungan dari pejabat sekelas Menegpora pun tak cukup untuk menerbitkan izin pertandingan, lalu apa jadinya kompetisi ISL 2008/2009? Penundaan demi penundaan yang dialami Persija –dan mungkin tim-tim lain, kelak— akan membuat BLI kelimpungan menyusun ulang jadwal pertandingan. Belum lagi benturan dengan agenda politik semacam Pilkada dan akhirnya Pemilu (legislatif) 2009, 9 April mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ini bukan lagi persoalan diakui atau tidak diakuinya eksistensi Persija di Ibukota. Dengan perspektif yang lebih luas, penolakan ini harus dibaca pula sebagai isyarat ketidaknyamanan atau ketidakpuasan Pemerintah –dalam hal ini Polri selaku aparatur keamanan— terhadap penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata pihak kepolisian, ISL 2008/2009 yang mengusung semangat profesionalisme itu dianggap belum beranjak dari paradigma lama. Masih rawan tawuran, rawan bentrokan antarsuporter, dan berpotensi mengganggu ketenteraman umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, tidak adil jika Persija atau tim manapun yang mengalaminya dibiarkan sendirian menghadapi persoalan ini. Sudah sepantasnya BLI juga ikut turun tangan membantu meyakinkan pihak berwajib. Lebih dari itu, BLI juga harus bisa membangun saling pengertian baru di kalangan semua peserta ISL agar masing-masing tim lebih mampu mengendalikan suporternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan anggap enteng penolakan terhadap Persija ini sebagai permasalahan internal yang harus diselesaikan sendiri oleh “Tim Macan Kemayoran”. Tanpa penanganan yang memadai, penolakan serupa kelak bisa dialami juga oleh tim-tim lain di daerahnya masing-masing. Secara hukum, toh presedennya sudah ada dalam kasus Persija. Dan jika itu terus terjadi, tak mustahil ISL bisa kolaps di tengah jalan. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-8555287603621419515?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/8555287603621419515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=8555287603621419515' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8555287603621419515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8555287603621419515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/lagi-pertandingan-isl-ditolak.html' title='Lagi, Pertandingan ISL Ditolak'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2450783178813025964</id><published>2008-07-30T19:03:00.003+07:00</published><updated>2008-07-30T19:18:43.455+07:00</updated><title type='text'>“Ketakutan” Harry,  Kekuatan BLI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;ADA &lt;/strong&gt;sebuah peristiwa menarik terjadi di Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu. Manajer Persitara Jakarta Utara, Harry Ruswanto, terpaksa berurusan dengan aparat kepolisian (Polres Kabupaten Bandung) seusai timnya menjamu Persela Lamongan di Stadion Si Jalak Harupat, Minggu (20/7) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tak ada kerusuhan atau aksi anarkis mengiringi partai kandang Persitara di “pengasingan” itu. Pertandingan berjalan aman-aman saja, meski Hariman Siregar dan kawan-kawan dipaksa bermain imbang oleh tamunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry rupanya bertindak “nekat”. Meski tidak mendapat izin dari aparat keamanan setempat, ia tetap menggelar pertandingan. Akibatnya, usai pertandingan, Gendhar –panggilan akrabnya— bersama pengurus Persitara lainnya langsung digelandang ke Mapolres guna dimintai keterangan. Untung saja, mereka tidak ditahan dan hanya dikenai wajib lapor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut punya usut, akar kasus ini rupanya masalah finansial. Pengelola stadion milik Pemkab Bandung itu keberatan Persitara menggelar pertandingan sebelum melunasi ongkos sewa laga sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini hanya salah satu dari segunung persoalan finansial yang dihadapi “Si Pitung” –julukan tim dari pinggiran Ibukota itu. Uang panjar kontrak sebagian besar pemainnya belum dilunasi dan mereka pun nyaris tak punya cadangan dana untuk membiayai laga tandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, konon, biaya sewa itu sebenarnya sudah dilunasi pada Jumat (18/7) siang. Namun pihak kepolisian terlanjur mengeluarkan surat larangan dan Persitara mungkin lalai mengkomunikasikannya dengan pihak berwajib. Sehingga terpaksalah Harry yang jadi tumbal dan harus berurusan dengan pihak berwajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, yang paling menarik dari peristiwa ini bukanlah perkara sewa-menyewa Si Jalak Harupat itu. Saya lebih terkesima melihat keberanian Harry terus menggelar laga tersebut. Ia mengaku lebih memilih risiko berhadapan dengan ancaman penjara ketimbang mendapat hukuman dari Komdis dan timnya terkena degradasi (&lt;em&gt;TopSkor&lt;/em&gt;, 21/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, keberanian Harry menunjukkan tanggungjawabnya yang besar terhadap Persitara –tim yang telah dia besarkan dan ikut membesarkan namanya. Namun, di sisi lain, keberanian Harry itu sekaligus menunjukkan besarnya “ketakutan” pengurus klub terhadap Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) selaku operator ISL 2008/2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, “ketakutan” Harry terhadap BLI adalah sesuatu yang positif. Itu menunjukkan betapa kuatnya legitimasi dan kewenangan BLI selaku otoritas penyelenggara kompetisi kasta tertinggi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuatnya legitimasi dan kewenangan BLI mutlak dibutuhkan untuk membangun kompetisi yang profesional dan berkualitas. Dengan memiliki BLI yang kuat, aturan main jadi lebih mudah ditegakkan, interaksi antara klub dan operator kompetisi jadi kondusif, dan tak ada lagi mekanisme “saling gertak” dalam setiap penyelesaian masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, bagi sejumlah klub tertentu, “kekuasaan” BLI kini sudah lebih dari itu. Sehingga, konon, ada segelintir klub Divisi Utama yang ikhlas “memasrahkan” semua urusannya. Dari penunjukan pelatih, perekrutan pemain, pemilihan agen pemain asing, sampai urusan tetek-bengek lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan rumor di atas sekadar isapan jempol. Dan, kalaupun benar ada, moga-moga saja itu sekadar perilaku individual oknum pengurus BLI yang disalahpahami oleh segelintir pengurus klub yang mencoba “cari aman” dengan menempuh jalan pintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, kuatnya legitimasi dan kewenangan BLI tetap penting pada periode transisi menuju ISL yang sepenuhnya profesional. Sama seperti pertandingan sepak bola itu sendiri butuh wasit yang kuat legitimasinya agar pertandingan bisa berjalan tanpa hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan saja, dengan modal legitimasi yang kuat itu, pelan-pelan BLI mulai bisa memainkan perannya sebagai “wasit” yang adil bagi semua klub peserta kompetisi. Lebih dari itu, semoga BLI pun bisa menjadi inisiator dan pendorong modernisasi pengelolaan klub sepak bola di Tanah Air. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor &lt;em&gt;edisi Senin, 28 Juli 2008)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2450783178813025964?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2450783178813025964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2450783178813025964' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2450783178813025964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2450783178813025964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/ketakutan-harry-kekuatan-bli.html' title='“Ketakutan” Harry,  Kekuatan BLI'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-8761231379881959481</id><published>2008-07-28T11:46:00.000+07:00</published><updated>2008-07-28T11:54:10.211+07:00</updated><title type='text'>Ronaldinho dan “Ritual” Olimpiade</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;JIKA&lt;/strong&gt; Anda ke Singapura sekarang ini, mungkin beruntung bisa melihat aksi-aksi Ronaldinho. Tak hanya saat berlatih tapi dalam pertandingan sebenarnya menghadapi tim nasional Singapura, petang hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika Anda menginap di Hotel Mandarin Oriental yang mewah mungkin sempat sarapan bareng bintang yang “murah senyum” itu. Konon, Ronaldinho dan rekan-rekan setimnya sangat menyukai &lt;em&gt;feijao&lt;/em&gt; –sejenis kacang merah khas Brasil. Sehingga pihak hotel harus mengimpornya langsung dari “Negeri Samba” agar selera makan para pemain tak menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AC Milan maupun Barcelona –klub Ronaldinho musim lalu— memang tak punya jadwal melawat ke negeri jiran itu. Yang sedang berkunjung ke Malaysia, tetangga Singapura, justru Chelsea yang pernah ingin meminang Ronaldinho namun kemudian menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Singapura beruntung jadi negeri persinggahan tim nasional Brasil U-23 dalam rangkaian persiapan menuju Olimpiade Beijing yang digelar pada 6-23 Agustus. Bahkan “Tim Samba” muda itu menetap selama sepekan penuh di Singapura dalam rangka aklimatisasi cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa urusannya Ronaldinho, 28 tahun, dengan tim Brasil U-23? Rupanya, ia bersama Thiago Silva (Fluminense) menjadi pemain senior yang memang disisipkan untuk meramaikan persaingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, Brasil belum pernah merebut medali emas di pesta olahraga sejagat itu. Dan pelatih Dunga tak pernah segan mengungkapkan tekadnya merebut satu-satunya gelar yang belum pernah diraih “Tim Samba” itu. Makanya, ia merasa perlu memasukkan pemain sekaliber Ronaldinho dalam skuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi gengsi, emas Olimpiade mungkin masih kalah dibanding gelar juara dunia. Apalagi bagi Ronaldinho yang sudah merasakan hampir semuanya: juara dunia 2002, juara Copa America 1999, juara Liga Champions 2005/2006, dan Pemain Terbaik Dunia 2004-2005. Namun mengapa ia masih mau juga ke Beijing dan bermain dengan “adik-adiknya”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang bukan masalah gengsi. Sekarang ini, tampil di Olimpiade seperti sudah menjadi “ritual” tersendiri bagi para pemain bintang untuk menyempurnakan catatan kariernya. Rasanya tak lengkap gantung sepatu tanpa pernah meraih medali emas –minimal tampil— di Olimpiade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi itulah yang membuat Ronaldinho begitu bersemangat ikut ke Beijing. Bahkan antusiasme itu sudah ditunjukkannya selama menjalani hari-hari kelabu di Camp Nou sepanjang musim lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan antusiasme membela negara di pentas Olimpiade itu tak hanya milik Ronaldinho. Sikap serupa ditunjukkan Javier Mascherano (Argentina) dan Ryan Babel (Belanda), meski mereka sadar keputusan mereka mengecewakan pelatih Liverpool, Rafael Benitez. Juga ditunjukkan oleh pemain veteran sekaliber Roy Makaay yang akan menjadi “mentor” bagi “Tim Oranye” muda di Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai kasus, kengototan pemain ikut Olimpiade bahkan kerap jadi masalah bagi klubnya. Seperti kasus dua bintang Brasil, Diego dan Rafinha, yang nekat tetap ke Beijing meski tak diizinkan klubnya, Werder Bremen dan Schalke. Alhasil, kasus ini besar kemungkinan harus diselesaikan di pengadilan arbitrase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah sikap Ronaldinho dan kawan-kawan mencerminkan egoisme pribadi dan kurangnya rasa tanggung jawab mereka terhadap klub? Bukankah klub yang membayar gaji mereka dan Olimpiade bukan kejuaraan yang masuk kalender kegiatan FIFA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, ini bukanlah persoalan ego atau profesionalisme. Ini lebih dekat dengan persoalan komitmen dan sikap patriotisme. Dan ini sama sekali bukan patriotisme yang melampaui batas. Sebab, bagi sebagian besar pemain, kesempatan tampil di Olimpiade mungkin hanya datang 1-2 kali sepanjang karier mereka. Alangkah bijaknya jika klub-klub merelakan saja kepergian Ronaldinho dan kawan-kawan seraya berharap mereka pulang tanpa cedera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saat ini problematika semacam ini mungkin belum jadi persoalan kita. Tapi, suatu saat nanti, generasi setelah Bambang Pamungkas mungkin akan mengalaminya. Nah, saat masalah itu kelak datang, moga-moga kita sudah tahu bagaimana menyikapinya. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-8761231379881959481?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/8761231379881959481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=8761231379881959481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8761231379881959481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/8761231379881959481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/ronaldinho-dan-ritual-olimpiade.html' title='Ronaldinho dan “Ritual” Olimpiade'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2535901900312301593</id><published>2008-07-28T11:40:00.000+07:00</published><updated>2008-07-28T11:45:49.967+07:00</updated><title type='text'>Mari Mempercayai Wasit Kita</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(Demi Liga Indonesia yang Bermartabat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;APA&lt;/strong&gt; masalah paling memprihatinkan di kompetisi sepak bola kita? Anda mungkin punya jawaban sendiri. Tapi, bagi saya, yang paling bikin prihatin adalah ketidaksiapan semua pihak untuk menerima kekalahan dengan lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak argumen pernah dikemukakan para pakar maupun pengamat. Sebagian mengaitkannya dengan euforia demokrasi pascareformasi yang membuat setiap orang melihat dirinya sebagai pemenang. Dan oleh sebab itu enggan dikalahkan dalam bidang apapun: sepak bola, bisnis, atau pemilihan walikota, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan terhadap kekalahan semakin menguat ketika individu-individu berkumpul bersama jadi sebuah kelompok –entah itu Aremania, Bonek, Jakmania, atau Viking. Mereka makin tak siap menerima rasa sakit berupa kekalahan timnya. Kemenangan berubah jadi semacam keniscayaan –terutama untuk pertandingan kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang mengaitkan sikap “ogah kalah” itu dengan kematangan berdemokrasi yang belum kita miliki. Setelah lebih tiga dekade dalam pasungan Orde Baru, kita dianggap baru melek dan belajar berdemokrasi dalam satu windu terakhir ini. Alhasil, kita masih gagap menerjemahkannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Ogah kalah hanya salah satu bentuk kegagapan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin masih banyak lagi argumen lain yang mendasari munculnya sikap tak mau kalah itu. Namun, apapun alasannya, sikap negatif semacam itu telah membuat pertandingan Liga Indonesia kerap melenceng jadi tindak anarki yang mencemaskan publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, ada satu unsur pertandingan yang hampir selalu dituding sebagai “kambing hitam” oleh pihak-pihak yang kalah: wasit! Coba saja baca koran yang menulis laporan sebuah pertandingan, hampir selalu “dilengkapi” komentar miring pihak yang kalah tentang kepemimpinan wasit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hampir tak pernah membaca komentar pelatih atau manajer tim yang kalah memuji kepemimpinan wasit. Tak peduli wasit memimpin dengan jeli atau tidak, penilaian yang ia dapat selalu seragan: memihak tuan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya khawatir ketidakpercayaan yang prejudice itu terus terbawa pada babak 8 Besar. Padahal, tensi pertandingan di tahapan ini jauh lebih tinggi dibanding saat kompetisi tingkat wilayah. Bahkan juga sangat potensial melibatkan massa penonton jauh lebih banyak –juga berpotensi lebih beringas, tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi massa suporter kita masih banyak dipengaruhi nilai-nilai patrimonialisme. Apapun pendapat tokoh, pengurus, dan bintang andalan timnya kerap begitu saja mereka telan sebagai kebenaran. Tanpa proses mencerna, mengendapkan, dan mengkajinya secara mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentalitas semacam ini jelas berbahaya dalam konteks babak 8 Besar ini. Setiap kali manajer atau pelatih menuding wasit curang –bahkan menunjukkannya langsung di lapangan, maka suporter akan segera mempercayainya. Kompensasinya, mereka kemudian berbuat anarkis pascapertandingan atau mencemooh wasit pada pertandingan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu benar-benar terjadi, maka perhelatan 8 Besar bisa sia-sia belaka. Tujuan melahirkan kompetisi yang bermutu sudah lama kita sadari masih jauh panggang dari asap. Target pembinaan pun tak tercapai karena proses regenerasi macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan yang terbentuk justru stigma-stigma nan memprihatinkan: kompetisi kacau-balau, wasit bisa dibeli, pengurus ikut bermain, juaranya sudah diatur, dan seterusnya. Itulah efek bola salju yang tanpa sengaja dibangun oleh para pelaku kompetisi itu sendiri –pemain, pelatih, pengelola klub, pengurus, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bermaksud menggampangkan persoalan ini. Namun, menurut saya, persoalan ini bukannya tak bisa diatasi. Setidaknya, kita bisa mencoba mulai saat ini juga mengatasinya. Caranya: berikan kepercayaan sepenuhnya kepada wasit untuk benar-benar jadi “pengadil” di lapangan hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya wasit benar-benar jadi “pengadil” yang mandiri, biarkan mereka menjalankan tugasnya tanpa beban, tanpa prasangka, dan tanpa “titipan” ini-itu. Lalu, sesudah pertandingan berakhir, mari kita sama-sama menerima hasilnya dengan lapang dada. Tanpa menuding wasit begini atau begitu. Kalau perlu, jatuhkan sanksi keras bagi pelatih atau manajer yang berkomentar negatif tentang kepemimpinan wasit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa seperti itu, sebetulnya, dengan mudah kita bisa memanggil wasit asing. Niscaya pemain, pelatih, dan para manajer tim Liga Indonesia tak akan curiga lagi. Masalahnya, duitnya –konon— tak ada. Selain itu, kalau apa-apa harus diselesaikan oleh pihak asing, kita tak akan pernah lulus dari status belajar berdemokrasi dan belenggu euforia reformasi. Jadi, mari kita mulai memberi kepercayaan penuh kepada para wasit kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2535901900312301593?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2535901900312301593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2535901900312301593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2535901900312301593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2535901900312301593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/mari-mempercayai-wasit-kita.html' title='Mari Mempercayai Wasit Kita'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-1700638718386077607</id><published>2008-07-25T11:23:00.001+07:00</published><updated>2008-07-25T11:30:08.290+07:00</updated><title type='text'>Tajam di Depan, Rapuh di Belakang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(Evaluasi Kemenangan atas Selandia Baru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NONTON&lt;/strong&gt; pertandingan Indonesia lawan Selandia Baru, kemarin (24/7) sore? Anda mungkin termasuk yang bernasib seperti saya –cuma bisa nonton di layar kaca karena kesibukan dan tuntutan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau bilang apalagi, pertandingan tengah pekan seperti itu kok digelar sore hari. Padahal, biasanya, sengaja dipilih usai jam kerja biar penonton lebih banyak yang bisa hadir di stadion. Tak usah heran jika Stadion Utama Gelora Bung Karno kemarin tampak cukup sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari sepinya penonton, bagaimana Anda menilai penampilan tim asuhan Benny “Bendol” Dollo yang unggul 2-1? Kalau Anda mengaku puas, berarti seirama dengan pengakuan sang pelatih seusai pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar saja kalau Bendol senang sebab kali ini tim asuhannya bisa mencetak lebih dari satu gol. Dan pencetak golnya pun tidak melulu Bambang Pamungkas. Meski kali ini sang striker andalan tetap konsisten menyumbang gol –yang kedua setelah gol pembuka oleh M. Ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri juga senang melihat penampilan Bambang dan kawan-kawan. Khususnya dari segi ketajaman dan variasi serangan yang mereka suguhkan. Saya kira, Bendol cukup berhasil mengekspoitasi kelebihan masing-masing pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ellie Aiboy, seperti biasa, dibebaskan menjelajahi sayap kanan dengan mengandalkan kecepatan dan kelincahannya. Budi Sudarsono juga diberi ruang yang cukup untuk “bermain dengan bola” di sayap kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Firman “Si Anak Emas” Utina memainkan peran bak Steven Gerrard di Liverpool. Menjemput bola, mengalirkan ke depan, dan tiba-tiba muncul di kotak penalti dengan tendangan kerasnya. Saya kira, wajar jika Bendol sangat menyukai permainan Firman dan memberinya kepercayaan penuh di tim apapun yang dia tangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sayangnya, kemajuan dari sektor tengah ke depan itu tak diimbangi sektor tengah ke belakang. Pos gelandang bertahan dan kuartet lini belakang malah jadi titik lemah tim kesayangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bermaksud apriori. Tapi sudah setahun terakhir ini saya melihat Ponaryo Astaman bukan lagi orang yang tepat untuk mengisi posisi &lt;em&gt;holding midfielder&lt;/em&gt; “Tim Merah Putih”. Ia tak lagi cukup gesit dalam berebut bola, sering salah umpan yang elementer, bahkan sering terlihat “kurang terlibat” dalam permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tersisa dari Ponaryo tinggal pengalaman dan kharismanya. Sebagai gelandang jangkar, saya mungkin lebih memilih nama-nama lain: Syamsul Chaerudin, Legimin Raharjo, atau Hariono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang lebih mencemaskan dalam laga kemarin adalah rapuhnya barisan belakang. Bahkan, menjelang akhir babak kedua, berkali-kali kiper Markus Harison seperti “ditodong” harus berhadapan dengan striker lawan yang siap menyundul bola di depan gawangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak mengherankan juga melihat umpan-umpan silang para pemain Selandia Baru begitu mudah jatuh di belakang pertahanan kita. Seperti tak ada filter dan barikade yang menghalangi. Kalau saja anak-anak muda “Negeri Kiwi” itu lebih tenang, mungkin gawang Markus bocor lebih dari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, saya tetap salut untuk sikap konsisten Bendol memberi ruang bagi wajah-wajah baru yang sedang “in” di kompetisi liga, seperti Ilham. Tapi, di sisi lain, ia juga konsisten mempertahankan kerangka tim dengan Charis Yulianto, Firman, dan Bambang sebagai porosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, kita juga perlu mengacungkan jempol untuk Bambang dan kawan-kawan. Di tengah ketatnya kompetisi ISL 2008/2009 yang baru bergulir, toh mereka tetap menyediakan waktu dan tenaga untuk tim nasional. Tetap semangat! *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-1700638718386077607?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/1700638718386077607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=1700638718386077607' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1700638718386077607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/1700638718386077607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/tajam-di-depan-rapuh-di-belakang.html' title='Tajam di Depan, Rapuh di Belakang'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7393228145853142026</id><published>2008-07-25T11:20:00.000+07:00</published><updated>2008-07-25T11:23:11.622+07:00</updated><title type='text'>Jerman “Tanpa” Gelandang Jangkar</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(Bedah Teknis Piala Dunia 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HARI&lt;/strong&gt; ini, Jerman akan memulai perjalanan berat memburu gelar juara dunia keempat kalinya –setelah 1954, 1974, dan 1990. Di Allianz Arena, Muenchen, pasukan tuan rumah akan tampil dalam partai pembukaan melawan tim anak bawang Kosta Rika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbulan-bulan persiapan panjang dan berminggu-minggu pemusatan latihan yang melelahkan, tibalah waktunya bagi Juergen Klinsmann memperlihatkan hasil polesannya. Lalu, akan seperti apa kiranya tim hasil racikan mantan penyerang andal yang dulu sering dikritik gemar melakukan diving itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, tak banyak kejutan yang bisa kita harapkan dari penampilan perdana Jerman di partai pembukaan Piala Dunia 2006. Boleh jadi karena ia telah memperlihatkan hampir semua “kartunya” selama rangkaian uji coba menjelang putaran final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat tayangan pertandingan lawan Amerika Serikat, Iran, Luksemburg, dan Kolombia kita sudah bisa melihat bahwa Klinsmann telah mantap memainkan pola 4-1-3-2. Sebuah varian yang berbasis pada pola klasik 4-4-2 yang kini kembali populer di pentas sepak bola dunia. Menggeser pola 3-5-2 yang sempat sukses membawa Jerman juara dunia, 16 tahun lalu, pada era kepelatihan Franz Beckenbauer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, varian 4-1-3-2 racikan Klinsmann tak bisa disamakan begitu saja dengan 4-4-2 versi Prancis, Kroasia, atau Korea Selatan. Yang lebih mirip dengan varian 4-1-3-2-nya Jerman justru tim asuhan Sven Goran Eriksson, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep permainan yang dikembangkan Klinsmann bersandar pada taktik empat bek sejajar tanpa libero murni. Lalu, di lini tengah, ditempatkan seorang pemain jangkar yang menopang tiga gelandang bernaluri menyerang –tanpa sayap murni. Adapun barisan depannya merupakan kombinasi antara seorang target man dan satu penyerang yang ditugasi masuk-keluar kotak penalti lawan secara aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bergeser dari pola dasar 3-5-2 warisan Beckenbauer, namun sebenarnya ada satu ide yang hendak dipertahankan Klinsmann. Ide itu menyangkut posisi pemain jangkar di lini tengah yang bisa juga dibaca sebagai fungsi gelandang bertahan atau mungkin libero midfielder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era Beckenbauer, peran pemain jangkar itu dilakoni sangat baik oleh Hans Peter Briegel dan kemudian Lothar Matthaus. Dieter Eilts mengambil-alih tongkat estafet dari tangan Matthaus dan Briegel saat membawa Jerman juara Piala Eropa 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Briegel maupun Eilts sama-sama memiliki karakteristik permainan bertahan yang sangat kuat: disiplin di posisinya, tak mudah kalah dalam perebutan bola, &lt;em&gt;tackle&lt;/em&gt;-nya keras, kuat dalam perebutan bola atas, dan staminanya bak tenaga kuda. Itu yang membuat lini tengah Jerman dulu begitu disegani dan sulit ditandingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DALAM&lt;/strong&gt; tim asuhan Klinsmann saat ini, peran sebagai pemain jangkar itu tak pernah jelas betul menjadi tanggung jawab siapa. Meskipun susunan nama-nama pengisi lini tengah tak pernah jauh bergeser dari Bernd Schneider, Michael Ballack, Torsten Frings, dan Bastian Schweinsteiger. Tapi siapa yang menjadi pewaris posisi Briegel dan Eilts?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas bukan Schneider karena ia sosok gelandang lincah yang biasa beroperasi di sayap kanan. Kalaupun main di tengah, ia lebih pas bermain sebagai gelandang serang di belakang duet penyerang. Juga bukan Schweinsteiger karena gelandang Bayern Muenchen ini terbiasa main agak melebar dan biasa meneror kiper lawan dengan tendangan jarak jauhnya yang menggeledek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pilihannya tinggal Ballack dan Frings. Meskipun, boleh jadi, Klinsmann mungkin sering menugaskan keduanya memikul tugas itu secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, meski seorang gelandang, Ballack adalah salah satu tumpuan harapan Jerman untuk urusan mencetak gol. Kebetulan pula ia memiliki tendangan yang keras dan terarah serta piawai dalam duel bola atas. Apalagi naluri menyerangnya juga sangat menonjol sehingga ia seringkali tampak berkeliaran di sekitar kotak penalti ketika muncul kemelut di area pertahanan lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa lain, peran sebagai pemain jangkar itu memang lebih banyak harus dipikul Frings. Ia dituntut selalu menempatkan diri sebagai filter sebelum serangan lawan memasuki daerah pertahanan Jerman. Ia juga diharapkan selalu menahan diri untuk tidak latah ikut-ikutan naik membantu serangan. Lebih daripada itu, ia pun harus cukup kuat untuk tidak mudah kalah dalam perebutan bola di seputar garis tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menurut saya, di situlah pokok soalnya. Frings memang salah satu gelandang terbaik Jerman saat ini –selain Ballack, tentunya. Gelandang Werder Bremen ini juga sudah menjadi salah satu pilar “Tim Panser” sejak Piala Dunia 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, Frings sama sekali bukan sosok seperti Briegel atau Eilts. Frings bahkan seperti duplikat Ballack dalam derajat yang sedikit berbeda. Daya jelajahnya luas, berani berduel, dan lumayan haus gol. Makanya, pada Piala Dunia 2002, Rudi Voller lebih suka menempatkannya sebagai gelandang kanan atau kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang kemudian jadi soal. Karakter permainan Frings yang ofensif sering membuat lini tengah Jerman seperti berlubang dan mudah disusupi pemain lawan dari lini kedua. Apalagi, kalaupun sedang disiplin menjaga posisinya, kemampuan bertahan Frings bisa dibilang tak begitu kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Frings inilah, menurut saya, yang membuat pertahanan Jerman jadi sering tampak rapuh. Karena kuartet barisan belakang seringkali harus langsung menghadapi serangan lawan tanpa bala bantuan dari lini tengah –seperti selalu dilakukan Briegel dan Eilts dulu. Ditambah lagi dengan konsep empat bek yang praktis berdiri sejajar, makin mudah bagi lawan mencari ruang untuk melakukan gebrakan dan terobosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, inilah alasan yang membuat Ballack mengeluhkan keseimbangan permainan timnya yang terlalu berat ke sektor depan. Itu membuatnya jadi sering ragu antara harus maju membantu serangan atau bermain lebih ke belakang menolong Frings.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan lebih pas jika posisi Frings itu ditempati Sebastian Kehl yang lebih kuat kemampuan bertahannya. Bahkan, bagi saya, juga lebih cocok jika diisi oleh Frank Baumann –gelandang Bremen yang tak terpilih masuk skuad Jerman. Sebab kedisiplinan dan daya bertahan mereka yang tinggi akan membuat keseimbangan permainan tim lebih terjaga. Dan Ballack jadi lebih leluasa mengeksplorasi daya gedornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klinsmann tentu punya pertimbangan sendiri di balik keputusannya mencoret Baumann dan lebih memilih Frings ketimbang Kehl. Tapi, jika penampilan Jerman di putaran final nanti tetap tak lebih baik dibanding selama masa uji coba, lemahnya fungsi gelandang jangkar itulah –salah satu— penyebabnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di &lt;em&gt;TopSkor&lt;/em&gt;, Juni 2006)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7393228145853142026?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7393228145853142026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7393228145853142026' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7393228145853142026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7393228145853142026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/jerman-tanpa-gelandang-jangkar.html' title='Jerman “Tanpa” Gelandang Jangkar'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-2120156149985374464</id><published>2008-07-23T09:35:00.000+07:00</published><updated>2008-07-23T09:38:59.958+07:00</updated><title type='text'>Benarkah Maradona yang Terbaik?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;PAOLO&lt;/strong&gt; Maldini membuat pernyataan menarik, Senin (21/7) lalu. Ia mengatakan bahwa Diego Armando Maradona adalah pemain terhebat yang pernah dia hadapi. Tak jauh di belakangnya, ada nama Ronaldo –bukan Cristiano Ronaldo yang sekarang membela Manchester United.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Maldini tersebut sangat menarik. Sebab orang yang dipujinya setinggi langit itu pernah jadi “musuh nomor satu Italia” usai Piala Dunia 1990. Dan Maradona itu pula yang membawa Napoli mengusik dominasi AC Milan dan Juventus di ajang Seri A pada akhir dekade 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menarik lagi karena Maldini menempatkan Ronaldo –mantan striker Inter Milan— di belakang Maradona. Padahal, Milan sendiri punya para bintang legendaris sekelas Marco van Basten, Ruud Gullit, Franco Baresi, atau Dejan Savicevic yang semuanya pernah mencicipi gelar Seri A maupun Liga Champions. Ronaldo justru tak sekalipun merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kebesaran Maldini. Ketajaman daya pikirnya itulah yang membuatnya mampu bertahan di tengah kerasnya kompetisi Seri A hingga 24 tahun. Itu pula yang membuatnya diakui sebagai salah satu pemain belakang terbaik sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, permasalahannya, apa benar Maradona layak mendapatkan predikat terbaik itu? Sebagian orang mungkin lebih memilih Pele yang berjaya pada era 1960 dan 1970-an. Sebagian lagi mungkin menyebut George Best, Michel Platini, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Kenny Dalglish, Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, atau bahkan Fernando Torres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun jadi teringat tulisan saya di majalah &lt;em&gt;Matra&lt;/em&gt;, sekitar delapan tahun silam. Saat itu, saya diminta membuat perbandingan siapa yang terbaik di antara Pele dan Maradona. Isu ini jadi menarik menyusul kontroversi pemilihan Pemain Terbaik Abad XX. Kala itu, jajak pendapat via internet menujukkan keunggulan Maradona, tapi “tim ahli” FIFA lebih condong kepada Pele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui analisis teknis dan nonteknis, akhirnya saya berkesimpulan bahwa Maradona yang terbaik. Alasannya sederhana saja. Secara teknis, kedua pemain ini sama hebatnya. Prestasi mereka pun tak beda jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, menurut saya, Pele dikelilingi oleh para pemain hebat yang membuat suksesnya bersama “Tim Samba” seolah jadi sebuah keniscayaan belaka. Dengan dukungan pemain sekelas Mario Zagallo, Garrincha, atau Rivelino rasanya wajar sekali Pele bisa meraih semua kejayaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan Maradona. Ia meraih berbagai prestasi hebat bersama tim yang kualitasnya “biasa”. Skuat Napoli saat juara Seri A 1986/1987 dan 1989/1990 masih kalah mentereng dibanding Milan atau Juventus. Pemain Argentina pada Piala Dunia 1986 yang terbilang bagus pun praktis hanya Jorge Valdano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang membuat Maradona jadi istimewa. Dengan segala keterbatasan –termasuk postur dan gaya hidupnya, ia tetap bisa menginspirasi dan memimpin orang-orang di sekitarnya untuk meraih kejayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pujian Maldini terhadap Maradona memang beralasan. Apalagi ia pernah berhadapan langsung di lapangan hijau dengan “si bogel” yang jenius itu. Tapi kejernihan pandangan Maldini tentang mantan rivalnya itu sekaligus menggambarkan pula kebesaran dia sebagai pribadi maupun pemain. &lt;em&gt;Saluto Paolo!&lt;/em&gt; *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-2120156149985374464?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/2120156149985374464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=2120156149985374464' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2120156149985374464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/2120156149985374464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/benarkah-maradona-yang-terbaik.html' title='Benarkah Maradona yang Terbaik?'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-4630592651560506119</id><published>2008-07-23T09:30:00.000+07:00</published><updated>2008-07-23T09:31:22.484+07:00</updated><title type='text'>Liga Super dengan Persoalan Lama</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;SEPEKAN&lt;/strong&gt; sudah kita menikmati sajian baru kompetisi sepak bola nasional dengan nama yang sangat keren: Indonesia Super League (ISL) 2008. Inilah kompetisi yang digadang-gadang sebagai liga profesional yang sebenarnya di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sepekan berjalan, sejumlah pertanyaan, kritik, dan keraguan mulai mengalir. Dimulai dengan pertanyaan sederhana: mengapa ISL? Ya, saya setuju. Mengapa para petinggi Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) tak berani memakai nama “Liga Super Indonesia” (LSI) yang lebih membumi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit diterima jika alasannya karena sponsor. Bahkan untuk persoalan nama yang sangat prinsip, mengapa BLI tak punya daya tawar terhadap sponsor? Toh terselipnya kata “super” di tengah nama LSI sudah cukup mewakili eksistensi penyandang dana kompetisi yang diikuti 18 klub ini. ISL ataupun LSI mestinya jadi hak BLI untuk memutuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik serupa pernah saya sampaikan ketika mendengar lahirnya Indonesian Futsal League –mengapa bukan Liga Futsal Indonesia? Bahkan saya juga termasuk yang kecewa berat liga basket kita ngotot mempertahankan nama Indonesian Basketball League –bukannya Liga Basket Indonesia. Saya berkeyakinan bahwa rasa bangga terhadap bahasa dan produk nasional mestinya juga ditumbuhkan di kalangan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari soal nama, sepekan ISL berjalan ternyata belum menjanjikan perubahan yang signifikan dibanding Liga Indonesia musim-musim sebelumnya. Padahal, dengan persiapan begitu panjang dan seleksi sangat ketat, mestinya bisa lahir sebuah liga baru yang jauh lebih berbobot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, kita masih melihat bus tim Persija dilempari batu sampai kacanya berantakan saat menghadapi Persitara di Soreang. Warisan permusuhan Viking dan Jakmania yang merebak pada era Liga Indonesia ternyata dibiarkan begitu saja. Tak ada sikap mental baru yang coba ditumbuhkan oleh BLI maupun masing-masing pengurus tim saat melangkah memasuki panggung megah ISL 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga masih melihat aksi pemain Pelita, Yohan Ibo, pada penampilan perdana timnya di Stadion Si Jalak Harupat. Terekam jelas dalam jepretan kamera bagaimana Ibo begitu “percaya diri” mengancam Robert Gaspar. Bahkan ia sempat dua kali melancarkan serangan kepada pemain asing Persiba Balikpapan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya mental para suporter yang luput dibenahi. Bahkan klub-klub tampaknya juga tak sempat menyuntikkan sikap mental baru kepada para pemain yang berkiprah di kasta tertinggi sepak bola nasional ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang paling menyedihkan adalah pemandangan suasana Si Jalak Harupat saat Persitara menjamu Persija. Begitu juga ketika “tuan rumah” Persita Tangerang meladeni Arema di Soreang. Bahkan juga saat PSMS Medan menjamu Persiwa Wamena di Stadion Gelora Bung Karno yang megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak habis bertanya dalam hati, benarkah saya sedang menyaksikan sebuah pertandingan berkualitas “super”? Kalau iya, kok penontonnya sepi. Ke mana riuh-rendah, yel-yel, dan lagu-lagu dukungan untuk para pemain di lapangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada atau tak ada penonton, siaran langsungnya memang tetap heboh. Bahkan frekuensi siaran langsung ISL 2008 mungkin lebih intens ketimbang Liga Primer, La Liga, atau Seri A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan itu duduk soalnya. Tanpa kemeriahan penonton, dari mana klub mendapat pemasukan untuk menggaji pemain? Bagaimana klub bisa menggaet sponsor jika suporternya sepi? Padahal, tiket masuk dan sponsor –plus hak siar televisi— itulah pilar utama pendaaan tim setelah lahirnya Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59/2007 yang melarang APBD jadi sumber dana klub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini situasi yang tak bisa dibiarkan dan harus segera dicarikan solusinya. Tanpa penanganan serius, saya tak akan kaget jika ada klub yang akhirnya terpaksa mundur di tengah jalan. Dan itu akan jadi preseden buruk yang sangat merugikan bagi kelangsungan hidup ISL itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Tulisan ini pernah dimuat di Harian &lt;em&gt;TopSkor&lt;/em&gt; Edisi 21 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-4630592651560506119?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/4630592651560506119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=4630592651560506119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4630592651560506119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/4630592651560506119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/liga-super-dengan-persoalan-lama.html' title='Liga Super dengan Persoalan Lama'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-7696261349226676376</id><published>2008-07-21T09:09:00.000+07:00</published><updated>2008-07-21T09:15:54.587+07:00</updated><title type='text'>Dua Sisi Bobotoh Persib</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;ADA&lt;/strong&gt; kekecewaan yang menyelinap di dada saya menyaksikan duel Persib lawan Persija di Stadion Siliwangi, Minggu (20/7) malam lalu. Namun itu bukan soal kekalahan 2-3 yang harus diterima Persib sebagai tuan rumah dari tamunya yang notabene seteru bebuyutan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menyita perhatian saya adalah aksi bobotoh Persib! Ya, bobotoh Persib telah menunjukkan dua sikap yang kontradiktif dalam duel menegangkan ini. Di satu sisi, mereka mengawali laga ini dengan sikap yang sangat terpuji. Namun –sangat disayangkan— kemudian mengakhirinya dengan cara yang kurang elegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duel Persib lawan Persija ini memang mendapat perhatian khusus dari para bobotoh. Khususnya, sejak insiden pelemparan bus Persija saat menjalani laga tandang lawan Persitara di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, pekan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, untuk mencegah terulangnya aksi anarkis, rombongan pemain kedua kesebelasan disatukan dalam bus yang sama. Dikawal sekelompok bobotoh senior, kedua kesebelasan akhirnya tiba dengan selamat pada pukul 17.40 WIB di Stadion Siliwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian bobotoh memang masih melontarkan kata-kata kasar kepada pemain Persija. Namun lebih banyak lagi yang menyikapinya dengan melambaikan tangan kepada para pemain kesayangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu bus yang mengangkut kedua kesebelasan hendak memasuki stadion melalui pintu samping utara, sempat terjadi insiden kecil. Bus terhalang selama 15 menit oleh bobotoh yang berkerumun di depan pintu. Namun situasi bisa diatasi pihak kepolisian dari Polwiltabes Bandung yang menurunkan mobil rantis dan satu unit monil antihuru-hara tipe Baracuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stadion Siliwangi pun, untuk sementara, jadi terasa tenang. Padahal, suporter Persib tak hanya memadati Siliwangi. Kerumunan suporter juga menyemut di Jl Lombok, Jl Aceh, dan Jl Manado. Mereka yang berkerumun di seputaran stadion ini adalah para suporter yang tidak mendapatkan tiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, situasi kondusif itu hanya berlangsung hingga menit ke-86. Terhitung sejak Hilton Moreira gagal memanfaatkan eksekusi penalti, keadaaan jadi berbalik. Kerusuhan pecah dan memaksa pertandingan terhenti. Meski akhirnya bisa juga diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih rasanya melihat semua ini terjadi. Padahal, sejak lama saya merindukan terciptanya rekonsiliasi dan perdamaian di antara kelompok-kelompok besar suporter kita. Dan harapan saya sempat meninggi seiring terciptanya suasana awal yang kondusif di Siliwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya sama sekali tidak kecil hati. Bahkan saya tetap optimistis mengingat Liga Super baru saja dimulai dan mungkin masih dalam taraf “menemukan bentuk terbaiknya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kali ini, bobotoh Persib mungkin belum sanggup mewujudkan harapan saya. Namun, setidaknya, mereka sudah menunjukkan sikap terpuji dengan tidak “menyentuh” pemain Persija. Mereka juga layak diapresiasi karena membiarkan pertandingan bisa berlangsung hingga peluit panjang berbunyi. Ini saja sudah merupakan “kemajuan” yang cukup berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, dalam era Liga Super ini, saya berharap semua kelompok suporter berani menumbuhkan sikap mental baru yang lebih produktif dan progresif. Tak ada lagi “suporter musuh”, yang ada hanya “sesama suporter”. Tak ada lagi tim lawan yang harus “diserang”. Yang perlu diperangi justru sikap mental tak siap kalah karena itu hanya merugikan tim kesayangan kita sendiri! *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-7696261349226676376?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/7696261349226676376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=7696261349226676376' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7696261349226676376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/7696261349226676376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/dua-sisi-bobotoh-persib.html' title='Dua Sisi Bobotoh Persib'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7955551962628154520.post-3301694769330200720</id><published>2008-07-21T08:26:00.000+07:00</published><updated>2008-07-21T09:08:35.990+07:00</updated><title type='text'>Bahaya Ideologi Balas Dendam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(Otokritik Suporter Sepak Bola Indonesia) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;ADA&lt;/strong&gt; dua peristiwa menarik dalam persepakbolaan kita yang terjadi beberapa waktu lalu. Kebetulan, kedua peristiwa itu sama-sama diberitakan di halaman yang sama (16), di Harian Olahraga &lt;em&gt;TopSkor&lt;/em&gt; edisi Senin, 5 September 2005.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Peristiwa pertama membuat saya sangat terharu. Para pemain tim sepak bola SMA TBS Tangerang rela menginap di Stadion Merpati Depok –entah di mana tepatnya: emperan, kamar ganti, atau mungkin tribun penonton— demi mengikuti babak empat besar Piala Coca Cola 2005 Region III (Jakarta Selatan, Tangerang, Depok, dan Bogor).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tentu saja, menginap di Stadion Merpati yang sumpek itu sama sekali bukan perlambang kecintaan mereka yang demikian besar terhadap lapangan pertandingan. Tak syak lagi, ini semata soal keterbatasan finansial. Agar persiapan tim tak kedodoran dengan dana yang pas-pasan, jadilah mereka menginap di stadion dengan fasilitas dan akomodasi seadanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Peristiwa kedua terjadi tak jauh dari Stadion Merpati, tepatnya di Lebak Bulus. Di sanalah seharusnya, berlangsung pertandingan pamungkas, penentuan, penuh gengsi, serta sarat emosi antara tuan rumah Persija Jakarta Pusat lawan Persib Bandung. Jika diperbandingkan dengan Liga Italia, mungkin partai ini bisa diibaratkan duel AS Roma lawan Juventus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Alih-alih disuguhi pertandingan seru nan mendebarkan, kita justru mendapat sajian pemandangan yang memprihatinkan. Tak seorang pun pemain Persib menampakkan batang hidungnya di lapangan Stadion Lebak Bulus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sementara itu, pengurus Persija cuma bisa mencak-mencak tak karuan, panitia bingung menetapkan status akhir pertandingan, dan –sementara itu— para Jakmania sibuk menari-nari riang di lapangan. Entah merayakan apa. Sungguh sebuah pemandangan yang tidak saja menggelikan, tapi sekaligus memprihatinkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;SAYA&lt;/strong&gt; tak punya pretensi memberi pembenaran terhadap sikap Persib yang “dengan gagah berani” –seolah menguji ketegasan dan kearifan sikap pengurus PSSI— memilih pulang ke Bandung ketimbang melakoni pertandingan dalam bayang-bayang ketakutan dikeroyok 50 ribu Jakmania. Seperti halnya saya juga tak bisa mempersalahkan alasan manajer Persib yang menyebut pertandingan itu berpotensi “cari penyakit”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Padahal, kubu Persib merasa pertandingan ini seharusnya jadi ajang senang-senang belaka karena mereka tahu hampir mustahil lolos ke delapan besar. Berharap PSMS –pesaingnya menuju babak delapan besar— kalah atau ditahan seri Persekabpas di Medan, itu sama saja dengan mimpi di siang bolong. Ini Medan, Bung! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Namun, satu hal yang terasa mengganjal di hati saya, mengapa Persib berani memperlakukan pertandingan penting dan besar ini begitu sepihak. Dan ini bukan kejadian pertama dalam kompetisi kita. Beberapa pekan lalu, Persikabo Kabupaten Bogor juga “kabur” dari Dumai sehari menjelang dijamu tuan rumah Persemai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tampak jelas di sini bahwa semangat persahabatan serta persaingan yang sehat telah hilang dan tergantikan oleh semangat menyelamatkan hidup. Sungguh kontradiktif dengan hakekat dan tujuan dasar kompetisi itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Persija bisa dibilang masih beruntung karena keengganan Persib tak mempengaruhi lolosnya mereka ke babak delapan besar. Persemai justru kena getahnya. Dengan mengantungi kemenangan “hanya 3-0” atas Persikabo yang memilih kalah WO, mereka tak bisa mengejar posisi Persitara yang akhirnya meraih tiket promosi ke Divisi Utama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita petik dari rangkaian peristiwa tersebut. Yang pertama, tentu saja, terlihat jelas semakin pudarnya nilai-nilai sportivitas dalam persepakbolaan kita. Kemenangan kadang jadi tujuan yang mati-matian diperjuangkan dengan menghalalkan segala cara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tapi, pada saat lain, kemenangan seolah jadi tak punya makna lagi manakala lawan dengan serta-merta memberikannya begitu saja secara cuma-cuma. Kalah dan menang telah kehilangan makna dalam kompetisi sepak bola kita. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pelajaran kedua yang bisa dipetik sekaligus makin kita sadari adalah kian lumpuhnya fungsi dan legitimasi PSSI beserta organ-organ di bawahnya. Bayangkan, menyikapi kasus di Lebak Bulus itu saja mereka bingung harus berbuat apa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sampai Ahad larut malam, tak jelas bagaimana status pertandingan Persija-Persib itu. Siapa menang, siapa kalah, berapa skornya? Padahal kita sudah punya Badan Liga Sepak Bola Indonesia yang –katanya— dibentuk dan disahkan “secara kilat khusus” untuk mengatasi begitu banyaknya persoalan dalam kompetisi kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Padahal, logika dan aturan pertandingan dalam sepak bola juga sangat jelas. Tim yang tidak hadir atau terlambat tiba di tempat pertandingansetelah sekian waktu –di Lebak Bulus, Persib sudah ditunggu sampai tiga jam— langsung saja dinyatakan kalah WO 0-3. Dan presedennya sudah ada ketika Persikabo diputuskan kalah 0-3 dari Persemai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Memang, Persib dan Persikabo tak boleh dibiarkan bersikap sepihak dan perlu mendapat peringatan karena bersikap tidak sportif dengan menolak bertanding. Nah, di situlah baru Komisi Disiplin dan kemudian Komisi Banding memainkan perannya setelah mendengar pembelaan dari kedua belah pihak. Namun itu sama sekali tak ada urusannya dengan status pertandingan: tetap kalah! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mengapa masalahnya kemudian jadi ruwet dan seolah semua perkara harus dilemparkan ke Komisi Disiplin? Karena memang pola semacam itulah yang selama ini dilakukan PSSI sehingga –secara tak sadar— mereka telah mengebiri fungsi dan legitimasi organ-organnya sendiri. Terutama mereka yang terlibat urusan teknis di lapangan, semacam wasit atau pengawas pertandingan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada satu lagi pelajaran penting yang juga bisa kita petik dari rangkaian peristiwa tersebut. Dan ini agak mengerikan: tumbuh dan membaranya semangat balas dendam yang berlebihan di kompetisi kita. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akar kejadian di Lebak Bulus tak lain adalah permusuhan kelompok suporter Jakmania dan Viking Bandung yang dibiarkan tanpa kendali. Apalagi setelah “insiden 13 Maret 2002” ketika beberapa bobotoh Persib dikeroyok belasan Jakmania yang baru saja mereka kalahkan dalam permainan &lt;em&gt;Kuis Siapa Berani&lt;/em&gt; di Indosiar. Setelah insiden itu, kerusuhan dalam pertandingan Persib lawan Persija dan sebaliknya seolah jadi tradisi baru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sampai muak rasanya dalam tiga tahun terakhir ini kita mendengar kasus saling serang, baku pukul, dan teror mental terjadi di antara mereka. Sangat disayangkan, tak pernah ada upaya yang sungguh-sungguh dari pengurus Persib, Persija, apalagi PSSI untuk menangani masalah ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mereka seolah membiarkan saja “ideologi balas dendam” itu bersemayam di dada para pendukung masing-masing tim. Maka tak usah heran jika konflik dan kerusuhan itu akhirnya meluas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jakmania yang dulu sering dipuji sebagai kelompok suporter paling tertib dan terkendali, kini seakan berubah jadi musuh siapa saja. Saat Persija bertandang ke Persebaya, akhir musim lalu, mereka dicekal tak boleh masuk Surabaya. Antara pendukung Persija dan Arema, Persita, serta Persikota kini juga terbangun suasana panas gara-gara kerusuhan yang terjadi pascalaga di Lebak Bulus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bukan rahasia lagi, penonton sepak bola kita memang tidak seluruhnya datang ke stadion untuk menikmati pertandingan. Lebih banyak lagi yang datang sekadar untuk kumpul-kumpul bersama teman-temannya, mencari kegiatan untuk ajang ekspresi dan pembentukan identitas, atau sekadar menyalurkan agresivitas terpendam lewat cara yang “bisa dipahami” publik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Inilah bahayanya. Sikap agresif yang diselimuti ideologi balas dendam akan sangat destruktif bagi masa depan sepak bola kita. Itu akan membuat stadion jadi tempat eksklusif bagi segelintir massa yang merasa “memiliki” tim tuan rumah dan enggan berbagi dengan pihak lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mereka tak mau melihat stadion dihuni kelompok dengan identitas dan sikap yang berbeda, apalagi berseberangan. Akibatnya, suatu masa nanti, tak mustahil kita akan melihat stadion-stadion berubah jadi semacam coloseum, tempat “pembantaian” tim tamu –di sana mereka harus kalah dan pendukungnya tak boleh menampakkan diri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Para pemain tuan rumah nantinya tak lebih jadi semacam gladiator yang harus bisa menghabisi setiap lawan yang datang. Dengan cara itulah ideologi balas dendam mereka terpuaskan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kelak, hanya boleh ada satu kor yang terdengar di seisi stadion: “Habisi lawan! Habisi lawan!”. Tak ada bunyi yel-yel atau paduan suara yang datang dari pihak lain karena mereka memang tak diundang dan tahu sendiri akibatnya kalau berani menyusup atau menampakkan diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saat ini, gambaran seram itu mungkin belum sampai terjadi. Dan mungkin juga saya agak berlebihan membayangkannya. Tapi jangan pernah bilang itu mustahil terjadi di sini. Apalagi menganggap kekhawatiran saya sama sekali tak beralasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya cuma tak ingin sepak bola kita kembali ke masa silam yang “primitif”. Saya ingin sepak bola kita beranjak maju, lepas dari lagu lama soal tawuran, sistem kompetisi yang amburadul, dan pengaturan skor. Mau dikemanakan masa depan anak-anak Tangerang yang sudah rela bermalam di emperan Stadion Merpati Depok itu? Jangan kita khianati cita-cita dan masa depan mereka. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini pernah dimuat di&lt;/em&gt; TopSkor&lt;em&gt;, September 2005)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7955551962628154520-3301694769330200720?l=bungkusnaeni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/feeds/3301694769330200720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7955551962628154520&amp;postID=3301694769330200720' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3301694769330200720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7955551962628154520/posts/default/3301694769330200720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkusnaeni.blogspot.com/2008/07/bahaya-ideologi-balas-dendam.html' title='Bahaya Ideologi Balas Dendam'/><author><name>Mohamad Kusnaeni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16055333138720009786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
